Beranda/HAI, PAPA! I AM OK/
29. SIAPA YANG MENAHAN DIRI SESUNGGUHNYA?
Tap! Tap! Tap!
Langkah kaki Sinu mantap keluar dari ruangan yang pintunya ia tutup rapat. Wajahnya masih menyisakan gairah yang bahkan dilihat dinding bisu yang tak bisa berkomentar ataupun memberi tanggapan. Sementara wanita yang ia tinggalkan terus menatapi punggungnya tanpa kata meski matanya menginginkan Sinu untuk menoleh meski hanya sesaat.
"!" Sinu berhenti seketika saat sesuatu menyapa hidungnya yang sudah kembali bisa mencium aroma yang rasanya ia kenali. Bahkan seluruh dirinya hafal namun jadi tumpul berkat hasrat gila yang membuatnya berkeringat di dalam ruangan berpendingin udara.
"Ha ha ha!"
Suara tawa yang memang selalu meramaikan gedung perawatan mental mampu telinganya dengar kembali. Instingnya menajam memilah banyak suara sementara mata Sinu menoleh ke segala arah, jantungnya kembali berdetak keras dengan perasaan yang seketika merasa tidak tenang.
Begitu teliti mata Sinu melihat ke segala penjuru lorong dan sudut, tubuhnya bahkan berputar dengan pandangan jauh menatap ke depan tidak ingin melewatkan apapun, bahkan bayangan gelap.
Setiap sudut, setiap tanjakan, bahkan bayangan pohon ia tatapi. Namun, ia tidak mendapati yang ia cari.
"Aline," ucap lelaki yang kembali menajamkan penciumannya. Samar namun tetap tercium. Parfum sang istri yang tentu seluruh dirinya hafal bahkan saat matanya terpejam memang menyapai hidungnya yang kini berjalan cepat meninggalkan ruangan yang menjadi saksi apa yang baru saja ia lakukan pada Liana, kakak iparnya sendiri.
"Bu Aline?" tanya suster yang harus berhenti karena ada yang memanggilnya, "saya tidak lihat bu Aline, Pak Sinu."
Lelaki yang namanya di sebut itu menatapi wajah sang suster, "anda yakin?" tanyanya memastikan.
"Tentu saja saya yakin, Pak Sinu," ucap wanita gemuk yang memasukkan tangannya pada kantong baju, ia terlihat tersinggung karena lelaki yang mencegatnya di tengah lorong ini meragukan penglihatannya yang masih normal bahkan dikatakan tajam.
"Kalau bu Liana tadi datang dengan Ben," ucap suster lain yang keluar dari salah satu ruangan, "saya rasa mereka masih ada di ruangan dokter Bima."
"Tidak, Mbak Nisa. Dokter Bima tadi mengajak Ben keluar, hanya berdua."
"Kapan?"
"Gak lama setelah mereka datang."
"Oh, aku tak tahu kalau yang itu, tapi saya tidak melihat bu Aline datang kemari, Pak Sinu."
"Coba anda hubungi, mungkin saja beliau sedang bersama bu Liana."
Sinu terlihat tak nyaman saat wanita gemuk yang tersinggung dengan ucapannya menyebut Liana dan Aline dalam satu kalimat sama.
"Nanti saya telepon saja, terimakasih dan maaf sudah mengganggu," ucap Sinu pada tiga orang suster yang tidak melihat kedatangan Aline dan kapan perginya.
"Selamat bekerja kembali," ucap Sinu menunjukan senyum meski perasaanya masih tidak tenang.
Tapi, ia adalah lelaki yang sudah memutuskan untuk melakukan apa yang seharusnya tidak ia lakukan. Menyentuh apa yang seharusnya tidak ia sentuh, mengalah pada hasrat dan nafsu memenuhi diri sekalipun ia sendiri tahu itu hal salah untuk dilakukan. Sangat salah!
Tiga orang suster yang mengangguk dengan wajah berbeda itu berjalan meninggalkan Sinu yang masih berdiri, menarik dalam nafasnya. Matanya terpejam rapat seolah ingin memisahkan aroma yang ia kenali dia antara aroma lain yang menyapai hidung.
Samar, sangat samar. Tapi, ia yakin aroma harum yang manis itu memang parfum Aline.
Sampai ia menyerah untuk kebingungannya sendiri lalu mengambil ponsel dalam saku.
"Bima?" ucap Sinu setelah melihat 3 panggilan tak terjawab dari kakak ipar yang sudah keluar dari kediaman rumah Laksmi bertahun-tahun lalu. Rumah wanita paruh baya yang sampai hari ini terus-terusan memandang rendah dirinya yang setiap hari mendapat hinaan yang sama karena nominal gaji yang ia terima tidak memenuhi standar yang Laksmi inginkan.
Mertuanya itu adalaj wanita paruh baya yang selalu memandang dirinya begitu kerdil bahkan kemarahannya memuncak hari ini karena keputusan yang ia ambil untuk keluarga kecilnya. Untuk dirinya, untuk Aline juga untuk Ben. Keputusan yang membuat Laksmi begitu murka dan membanting segala hal yang mempercantik rumah yang tidak pernah menyambut dirinya dengan hangat sejak awal.
Sinu menarik nafasnya begitu dalam, tangannya memencet kontak pertama dalam barisan nama yang membuat jantungnya berdetak semakin cepat.
Tut! Tut! Tut!
Lelaki tinggi yang punggungnya saja tampak tidak tenang itu menunggu dengan gelisah. Menunggu panggilannya dijawab wanita yang selalu mengangkat telepon dalam dering pertama. Tapi, tidak kali ini.
"Lin," Sinu makin tidak tenang saat panggilannya sama sekali tidak terjawab meski tersambung. Langkah kakinya yang ragu semakin cepat bahkan berlari menghampiri mobil yang sudah berisi koper-koper besar.
"Telepon yang anda hubungi tidak menjawab. The number your calling...
Sinu langsung masuk ke dalam mobil yang mesinnya ia nyalakan cepat, secepat lajunya meninggalkan gedung perawatan tempat sang kakak ipar yang usianya hanya terpaut satu tahun dengannya, praktek.
Meski matanya fokus ke jalan, sesekali ia memenceti telepon yang terus menghubungi nomer sama. Nomer yang tersambung hanya saja tidak mau menjawab.
"Aline," ucap lelaki yang sudah menyalurkan hasratnya ini pada kakak sang istri yang ia tinggal tanpa kata ataupun pamit. Wanita pemberontak yang yang hanya lahir lima menit lebih dulu dari Aline.
Sinu makin kuat menekan pedal gas, mobil yang ia kendarai melaju makin kencang meski ia jadi merutuk dan tak sabar memenceti klakson saat lampu merah memaksanya berhenti di antara kendaraan lain yang mengalami hal sama. Kemacetan.
"Angkat teleponku, Lin," pinta Sinu memeluk setir mobilnya kuat dan memilih keluar dari jalan mengular, memutar arah meski jalanan yang akan ia tempuh jadi lebih jauh.
Mobil Sinu melewati gang-gang sempit yang tak bisa di lewati dua kendaraan di saat bersamaan, ia bahkan membuat kumpulan ayam yang sedang bermain mematoki permukaan tanah terbang dengan protes mereka.
Petok! Petok! Petok!
Ramai sekali protes ayam-ayam betina itu menatapi mobil Sinu yang membuat mereka kaget dan kabur tanpa ucapan maaf ataupun penyesalan.
Sinu yang akhirnya bisa keluar dari gang sempit tak lagi menahan diri, diinjaknya lagi pedal gas yang membuat laju mobilnya melesat, meninggalkan deru sampai derunya berhenti tepat di rumah yang baru ia tinggalkan.
Mata Sinu membesar saat melihat Aline keluar dari rumah, menenteng koper dan tidak perduli pada teriakan Laksmi yang mengatakan kalimat sama.
"HIDUPMU AKAN SENGSARA JIKA KAU PERGI! APA KAU SUDAH TIDAK MAU MENDENGARKAN IBU LAGI, HAH!?"
Sinu yang masih duduk di belakang kemudi bahkan mendengar jelas ucapan mertuanya itu, ucapan sama yang artinya juga sama. Ia tidak akan bisa membahagiakan Aline kecuali mereka tinggal di rumah yang selalu dipenuhi denga amukan.
"Aline!" Laksmi menahan koper yang sudah Aline masukkan ke dalam bagasi, "jangan pergi, pikirkan bagaimana nasib Ben jika kau pergi bersama suamimu itu! Gajinya tidak akan bisa mencukupi kebutuhanmu ataupun Ben-"
BRAKK!!
Aline yang menutup bagasi menatap ibunya, entah apa yang diucapkan Aline sampai Laksmi diam dan Sinu turun.
"KAU! BERANINYA KAU MENGINJAKKAN KAKIMU LAGI DI RUMAHKU!"
Seruan Laksmi langsung menggema, membuat Aline menoleh pada lelaki yang sudah ibunya usir.
"PERGI! ANAK DAN CUCUKU TETAP AKAN TINGGAL BERSAMAKU, JADI ENYAHLAH DARI KEHIDUPAN KAMI."
Aline menatap Sinu yang hanya diam memperhatikannya di bawah teriakan Laksmi, rasanya baru kali ini ia benar-benar menyadari lelaki yang menikahinya ini pasti tersiksa pada satu titik dan menahan diri tinggal di rumah tempatnya tumbuh dengan segala kemewahan yang ibunya berikan.
"Aku dan Ben akan pergi bersama mas Sinu, Bu."
Laksmi langsung menoleh pada Aline, tangannya terangkat tinggi menyentuh pipi mulus sang putri kesayangan yang lebih memilih suaminya dari pada dirinya ini.
PLAKK!!Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (218)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
kerennnn
19d
0pliss lanjut donk kak seru bgtt ihh
01/12
0terimakasih
18/11
0Lihat Semua