logo text

24. POTRET YANG BEN PINTA

"Aku tidak tahu, Tante."
Liana menatap bocah lelaki yang sudah ia pakaikan helm. Dahinya jadi mengerut saat Ben menjawab ia tak tahu siapa yang akan dirindukannya jika pergi karena Liana tahu, Sinu akan membawa Aline dan Ben pergi.
Dengan atau tanpa restu ibunya, wanita paruh baya yang terlalu sering berteriak, mengamuk bahkan melampiaskan kekesalannya pada benda-benda di dalam rumah yang akan jadi berserakan setelah Laksmi banting.
'Ibu, kenapa kau tak bisa melihat kami sudah bisa memutuskan jalan hidup yang ingin kami jalani?'
Liana menarik nafasnya dalam, ia kembali mendengar suara barang pecah, bibirnya tersenyum membayangkan apa yang mungkin dilempar Laksmi diantara teriakan yang satu arah itu.
Kembali ditatapnya bocah lelaki kecil yang begitu irit kata di hadapan. Keponakan pertamanya ini tidak suka berceloteh layaknya anak-anak lain yang sering ia lihat. Ben tersenyum, tapi keponakannya ini tidak pernah memperdengarkan tawa cekikikan yang akan membuat mata lain ikut tertawa.
Zreett!
Liana menurunkan resleting jaket yang ia pakai, melepasnya lalu ia pakaikan pada tubuh Ben yang bisa melihat jalinan tangkai bunga mawar berduri di perut Liana yang bertato.
"Haaah, tumbuh di dalam rumah ini dan mendengar teriakan setiap hari pasti berpengaruh padamu, bukan?"
Ben hanya menatap tantenya dalam diam, entah ia mengerti atau tidak maksud ucapan Liana yang naik ke motornya lebih dulu, "well, kalau tak ada yang akan kamu rindukan itu lebih baik, Ben."
Bocah lelaki yang sudah bisa mengatakan r dengan jelas ini menatapi Liana, "ayo naik, sebelum eyang keluar dan membawamu masuk."
Ben menoleh ke dalam, entah siapa yang sedang dilihat mata bulat nan jernih itu. Ia menunduk, mengeratkan tangan kecilnya dalam bisu lalu naik ke atas motor besar yang pengemudinya tak menggunakan helm karena helm-nya sudah dipakai Ben.
"Pegangan yang erat, Ben, atau kamu bisa kelempar nanti."
Tangan Ben memeluk perut rata Liana yang berotot. Jemari-jemari kecilnya yang rapat terjalin menyentuh tato bunga mawar dengan banyak duri di kulit Liana yang putih bersih.
Deru sepeda motor yang Liana kendarai memecah keheningan komplek perumahan asri yang pagarnya tinggi-tinggi. Ia bahkan menerobos lampu merah sementara bocah kecil yang ia bonceng matanya seakan tak ingin berkedip melihat secepat apa pergerakan segala hal yang ia lewati di atas boncengan motor tantenya yang serunya gahar.
Meski tangan Ben kuat memegang jalinan tangannya sendiri karena ia tak ingin terlempar lalu jatuh. 'Itu akan sangat menyakitkan'. Setidaknya otak pintar Ben yang akan terus berkembang tahu.
Ben menatap punggung Liana yang laju motornya memelan lalu berhenti, mata bulatnya memperhatikan gedung yang ia kenali.
"Sampai," ucap Liana menepuk tangan Ben yang terlepas lalu turun lebih dulu tanpa bantuannya.
"Dari pada ngeliat eyang yang menggila lebih baik kita beneran lihat orang waras yang jadi gila beneran di sini."
Kepala Ben mendongak, wajahnya menunjukan kalimat tidak setuju meski ia hanya diam.
"Ok, Tante tahu, Ben. Maaf sudah bicara seperti itu."
Ben mengangguk kali ini, ia kembali menatap gedung tempat om Bima bekerja. Sementara Liana merogoh kantong celana untuk mengambil ponsel yang langsung ia tempelkan pada telinga. "Hei, mas. Aku di depan sama Ben."
Ben menoleh pada Liana yang bicara sendiri. Ia yang tahu tantenya ini pasti sedang menghubungi om Bima hanya menunggu sampai Liana selesai dengan apapun yang ingin ia sampaikan.
"Ok, aku tunggu di ruanganmu aja kalau gitu." Liana mengantongi ponselnya ke saku celana. Matanya menunduk menatapi punggung kecil dengan helem kebesaran di kepala Ben.
Ada kata yang tak terucap dari bibir Liana, sampai tangannya menyentuh kepalanya yang plontos tanpa rambut panjang yang rasanya masih bisa ia rasakan.
Hari masih siang namun langit seakan kelabu, seolah mengukirkan perasaanya saat ini.
"Tidakkah seharusnya kamu pamit padaku lebih dulu?" ucap Liana pelan, ia tak ingin telinga kecil Ben mendengar apa yang ia katakan. Kalimat yang memang seharusnya tidak didengar siapapun termasuk dinding bisu gedung perawatan mental tempat kakaknya bekerja mengabdikan diri.
"Haaaah." Ditariknya nafas begitu dalam sebelum duduk di samping Ben yang membiarkannya melepas helm.
Ben hanya diam saat Liana memperhatikan wajah berkeringatnya begitu lekat, seolah sedang mencari sesuatu atau seseorang dalam diri Ben.
"Kalian mirip sekali," ucap Liana mengusap kepala kecil yang hanya menatapinya dengan bingung. "Panas, ga?"
"Ng," jawab Ben membiarkan Liana melepas jaket kulitnya dari tubuh kecil Ben.
"Ayo, masuk."
"Ng."
Ben meraih tangan Liana yang berjalan lebih dulu, ia melangkah cepat menyesuaikan diri dengan kaki Liana yang langkahnya lebih panjang. Menyusuri lorong juga undakan-undakan tangga dan baru berhenti melangkah di depan ruangan dokter Bima yang pintunya tertutup.
"Oh, akhirnya tempat yang dingin, Ben," canda Liana langsung merebahkan tubuhnya di atas brankar tempat sang kakak melakukan pemeriksaan sementara Ben hanya berdiri.
"Tante mau tidur dulu, kamu jangan jauh-jauh kalau mau main keluar, ok?" ucap Liana dengan mata tertutup dan langsung tidur membiarkan dinginya AC menyentuh permukaan perutnya yang bertato.
Ben masih berdiri. Mata bulatnya memperhatikan Liana yang suara nafasnya sudah teratur, ia yang tak tahu harus apa memilih mendekati meja dokter Bima.
Mata bulat nan jernih Ben begitu tertarik pada potret-potret dalam figura kecil yang rapi tersusun, ia tak lagi perlu menggunakan kursi untuk bisa memegangi figura yang potretnya begitu menarik hati.
Tawa, Ben menatapi tawa gadis kecil yang begitu gemar memberi permen pada parade semut yang mereka lihat berdua. Nuri, sahabatnya itu sedang tersenyum lebar bersama wanita asing yang wajahnya tidak Ben kenali.
"Itu mamanya Nuri."
Ben mendongak saat tangan dokter Bima menunjuk wanita dalam potret yang sedang ia pegangi. Ia tidak sadar kapan omnya ini masuk.
"Hai jagoannya Om," ucap Bima mengusap kepala Ben yang mengangguk.
Hanya itu balasan yang dokter Bima terima tapi ia tak masalah karena tahu keponakannya ini begitu irit kata.
"Mama Nuri?"
"Iya, Ben. Cantik, kan?"
Sekali lagi Ben menatapi wanita dalam potret. Dokter Bima yang meletakkan snelli duduk lalu memanggil Ben agar duduk di pangkuannya. Ben menurut saja saat tubuh kecilnya yang sudah semakin berat itu diangkat dalam pangkuan Bima.
"Ini potret Nuri pas umurnya dua tahunan," Ben menoleh pada dokter Bima, "mamanya Nuri, udah sakit pas foto ini di ambil kurang lebih hampir bersamaan sama usianya Nuri."
"Beda banget sama Tante Nita yang kamu lihat, kan?"
Ben menatap potret wanita yang membuatnya mengingat wanita kurus yang terbaring di atas brankar. Infus, selang makan, keteter dan entah apalagi yang bisa ia lihat saat pertama kali bertemu Nita. Hari yang sama ia mengenal Nuri yang begitu semangat mengenalkan dirinya pada sang mama.
Tante Nita, istrinya om Sam. Wanita yang kata om Bima tidak akan lagi bisa tersenyum seperti lelaki tua yang menggendong boneka bernama Gendhis.
"Om, apa penyakit mamanya Nuri obatnya udah ketemu?"
"Belum," jawab dokter Bima pada Ben yang memperhatikan dengan wajah serius.
Ben jadi diam, ia memperhatikan lagi potret dalam genggaman tangannya itu, "Om, foto ini ... boleh buat aku, ga?"
Bibir Bima tersenyum, tangannya mengusap kepala Ben yang menatapnya penuh harap. Baru kali ini Ben meminta sesuatu padanya dan yang ia minta adalah potret gadis kecil bersama mamanya yang tampilannya tidak seperti dalam ingatan Ben.
"Apa kamu mau ketemu Nuri sebelum pergi sama papa dan mamamu?" tawar Bima pada keponakannya yang irit kata.

Komentar Buku (218)

  • avatar
    hertiyanisheni

    kerennnn

    18d

      0
  • avatar
    Rhena Kiw

    pliss lanjut donk kak seru bgtt ihh

    01/12

      0
  • avatar
    M Nafii

    terimakasih

    18/11

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru