Beranda/HAI, PAPA! I AM OK/
16. TAWARAN KEMBALI DENGAN SYARAT
"Apa kabar, Ibu?" ucap Sam meraih tangan wanita ningrat yang menatap gadis kecil dalam gendongannya.
Gadis kecil yang kepalanya kini manggut-manggut karena kantuk lelah tertawa dan bermain setelah berkunjung kemakan Nita bersama Ben dan Bima.
Ningrum hanya melirik gadis kecil yang rambut panjang bergelombangnya mengingatkan dirinya pada wanita rendah yang berani menaruh hati pada putranya. Putra sulung kebanggannya yang memilih kehidupan lain.
Sam yang melihat pandangan sang ibu, menarik ujung bibirnya, "namanya Nuri, Ibu, tidakkah putriku sangat cantik, Bu?"
Ningrum bahkan tak memberi tanggapan kecuali melirik Sam yang mengusap kepala Nuri lalu ia arahkan untuk bersandar pada dadanya yang bidang. Diperhatikannya wajah gelap sang putra yang dahulu begitu menjaga penampilan.
"Lihat kamu sekarang," ucap Ningrum yang suaranya seolah mengandung duri.
Sam yang mengusapi kepala Nuri menatap sang ibu. Rasanya ia tahu apa yang sedang dipikirkan wanita berbadan gemuk yang sanggulnya selalu paripurna, kebaya dengan kemben, jarik yang terbuat dari jalinan benang emas, perhiasan yang tidak besar ukurannya tapi harganya selangit.
Rasanya tidak ada yang berubah dari ibunya yang rambutnya masih hitam lebat. Ia jadi bersyukur putri kecil kesayangannya ini tertidur dan berharap telinga kecil yang begitu cepat menyambut mimpi tak akan mendengar suara keras dari mulut sang ibu.
"Iya, Bu, lihatlah aku sekarang. Aku sudah menjadi seorang ayah-"
"Tanpa istri," potong Ningrum cepat.
Sam tidak merasa heran ataupun ingin bertanya bagaimana ibunya ini tahu, 'tentu saja Ibu tahu.'
"Iya, Bu, istriku sudah meninggal setahun yang lalu."
"Huh!" Dengus Ningrum, "setahun lalu? Bukankah ia sudah mati lebih lama dari waktu yang kau sebutkan itu, Sam? terbaring di rumah perawatan mental tanpa bisa melakukan apapun sendiri bahkan tak mengingat dirimu. Sampai ia harus hidup dengan bantuan mesin."
Sam menarik ujung bibirnya, "istriku meninggal satu tahun yang lalu ibu. Hari ini adalah tepat satu tahun ia pergi meninggalkanku dan putri kami," jawab Sam tidak tersulut emosinya.
"Tinggalkan anakmu dan pulanglah."
Wajah Sam berubah seketika, ia tak menyangka akan mendengar ucapan seperti itu dari ibunya.
"Tempatkan dia di panti asuhan manapun yang kau mau, lalu pulanglah ke rumahmu," Ningrum tentu bisa melihat perubahan wajah Sam, sang putra yang sudah enam setengah tahun lalu pergi dan lebih memilih wanita rendahan yang namanya saja tak pantas keluar dari mulutnya yang bergincu.
"Lupakan kehidupan menyedihkanmu ini, dan kembalilah ke rumah. Tempat yang paling pantas untuk seorang Adijaya."
"Adijaya?" Rasanya menyebut nama yang begitu berat saat ia ucapkan itu membuat Sam tersenyum lalu dipandangnya wajah sang putri, "rumahku di sini, Ibu, bersama putriku."
Ningrum melirik tajam gadis kecil yang bergerak gelisah dalam tidurnya seakan tahu ia sedang mendapat tatapan tidak ramah.
Tangan kasar Sam mengusapi lengan sang putri yang jadi tak tenang seolah ada yang mengganggunya dalam mimpi, "papa di sini, Sayang, Papa disini."
Begitu lembut usapan tangan kasar Sam terasa, sampai membuat gadis kecil yang seakan melihat mimpi buruk kembali tenang, meski genggaman jemari kecilnya tetap bertahan pada baju Sam yang aromanya membuat tenang.
Ningrum tahu, akan percuma menyuruh Sam melakukan apa yang ia kehendaki. Dulu ia sudah membuat putra kebanggannya ini sulit mencari penghidupan di kota mereka tinggal, ia memastikan Sam akan menyesal sudah memilih anak yatim piatu yang membuat darahnya mendidih hanya dengan mengingat wajah anaknya yatim piatu itu!
Seluruh diri Ningrum membenci wanita rendahan yang sudah membuat putra kebanggannya ini membangkang, menorehkan noda dalam kehidupan sempurna yang sudah ia siapkan untuk Sam.
Namun, melakukan hal sama? Itu tidak akan mengubah apapun. Ia justru akan membuat Sam makin antipati terhadap dirinya.
"Kalau begitu bawa serta putrimu dan kembalilah ke rumah."
Kini Sam menatap Ningrum tak percaya, ia bisa melihat bibit-bibit kebencian yang nyata di mata sang ibu. Bibit-bibit yang rasanya akan tumbuh begitu subur tanpa bisa dipangkas meski oleh sang waktu.
Sam sangat mengenal Ningrum, bukan hanya karena ia ibu yang sudah melahirkannya. Tetapi, Sam tahu bagaimana sikap dan sifat sang ibu. Wanita yang tak akan mengedipkan mata sekalipun ada seseorang yang mati di hadapan mata kepala Ningrum.
Ia tahu, ibunya tidak pernah dan tak akan pernah menerima Nita, bahkan setelah Nita tiada. Apalagi menerima gadis kecil kesayangannya yang di dalam tubuhnya mengalir darah Nita.
Darah Sam juga Adijaya yang mengalir dalam urat nadi Nuri tidak akan berarti apapun bagi sang ibu. Ia terlalu mengenal siapa wanita yang mengucapkan kalimat berbeda meski waktu belum lima menit berselang.
"Ibu, apa ibu mau datang ke rumah kami?"
Sam melihat sekuat apa jemari Ningrum memegangi kipas yang selalu turut serta kemanapun Ningrum pergi. Kipas bambu yang ukirannya begitu indah dengan kain berlapis emas yang menambah keelokan.
Ningrum tahu apa arti kata 'kami' yang Sam maksud. Putranya yang sudah jatuh cinta ini menyertakan wanita rendahan yang sudah mati bahkan melupakan keberadaan Sam. Melupakan segalanya sampai nyawanya tercabut.
"Mungkin ini karmamu karena sudah membangkang kepadaku, Sam."
Sam yang mengerti maksud ucapan Ningrum sorot matanya berubah, ada luka yang tidak ia katakan, ada kerinduan yang tidak ia sampaikan, ada cinta yang tak akan pernah luruh oleh waktu dan Ningrum tahu itu, hanya saja ia memilih untuk tidak melihat.
Putranya, putra yang ia besarkan dan didik dengan segala hal terbaik yang akan jadi mimpi bagi banyak orang, berubah jadi lelaki bodoh yang membuatnya malu!
"Aku akan datang lagi, pikirkan ucapanku baik-baik."
"Aku akan menunggu kedatanganmu, Bu, karena rumahku di sini."
Ningrum mengalihkan pandangannya dari tatapan sang putra yang begitu lurus. Putranya yang sudah memilih ini begitu teguh pada pendirian, tidak mudah goyah ataupun digoyahkan.
Hasil ajaran dan didikannya begitu terpatri dalam diri Sam. Hanya saja Sam memilih jalan lain bukan jalan yang sudah ia susun. Jalan yang akan membuat Sam disegani siapa pun yang mengenalnya. Tapi, wanita rendahan yang sudah mati itu masih begitu mengendalikan sang putra.
Ningrum melirik gadis kecil yang begitu nyaman tidur di pangkuan Sam. Ia memperhatikan wajah cantik yang membuatnya meremas kuat kipas di tangan. Begitu miripnya wajah kecil itu dengan wajah Sam dari sisi manapun ia melihat. Namun ia juga bisa melihat wanita rendahan yang membuatnya merutuk setiap kali dalam wajah terlelap Nuri.
"Sungguh disayangkan," pelan Ningrum berucap, Sam ikut berdiri menyentuh lagi tangannya yang Sam cium.
"Terimakasih sudah datang, Bu."
Ningrum tidak menjawab apapun, ia hanya menarik tangannya setelah dicium Sam.
"Pikirkan apa yang kukatakan, Sam. Kau masih sangat muda dan anak ini masih terlalu kecil."
"Selamanya Nuri akan menjadi putri kecilku dan Nita, Bu. Sebagaimana aku akan tetap menjadi putramu meski kita tidak bersama."
Ningrum hanya menatap Sam tanpa jawab ataupun balas.
"Apa Ibu tak ingin mengusap kepala putri kami?"
'Kami?' Ningrum geram setiap Sam menyebut kami.
"Tidak!" Jawab Ningrum melangkah masuk ke dalam mobil yang menunggu lalu melaju meninggalkan deru yang membuat Sam menarik dalam nafasnya.
Ia tahu, ibunya tidak akan menyerah. Tapi, begitu juga Sam, ia tidak akan pernah menyerah apalagi menyerahkan putrinya untuk diurus orang lain.
"Anak kesayangan papa dan mama," ucap Sam mengusap pipi gembil Nuri. Gadis kecil yang akan tumbuh dewasa lebih cepat dari usianya. Karena kehidupan mengajarkannya untuk bersikap dewasa.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (218)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
kerennnn
19d
0pliss lanjut donk kak seru bgtt ihh
01/12
0terimakasih
18/11
0Lihat Semua