Beranda/HAI, PAPA! I AM OK/
14. ANAK PECINTA BASO YANG CEREWET
Ting! Ting! Ting! "Baso! Baso!" Ting! Ting! Ting!
Gadis kecil yang rambutnya bergelombang itu kakinya begitu tak sabar, bergerak gelisah, matanya sesekali melongok dari tembok pembatas yang lebih tinggi dari badannya sekalipun ia sudah berjinjit seolah ia bisa melihat pedagang baso keliling yang rasanya enak berkat penyedap rasa dan kaldu dari tulangan sapi.
Wanita tua yang duduk di ruang tamu sambil mengunyah sirih menggelengkan kepalanya tak percaya sudah sebesar apa bayi yang ia bantu rawat karena kondisi sang ibu tak memungkinkan untuk mengurus bocah yang bokong kecilnya terlihat tak sabar.
Mbok Imah ingin tertawa tapi justru matanya berair, sementara lelaki gagah yang keluar sambil membawa mangkuk menatapnya.
"Pedes, kan, mbok?"
"Iya, Le'," jawab mbok Imah menatap punggung Sam yang kehadirannya disambut senyum lebar sang putri.
"Papa, ayo, nanti basonya keburu pergi," ucap Nuri tidak sabar.
"Basoya gak akan pergi, Sayang, tahu anak papa pasti mau," ucap Sam menjulurkan tangan lalu menggendong anak kesayangannya yang sudah bisa ngomong R dengan jelas.
"Lihat, tuh." Nuri yang kini bisa melihat gerobak baso dikelilingi para pembeli memanyunkan bibirnya sementara Sam mengangkat mangkok yang dibalas jempol oleh penjual baso yang berhenti di depan rusun tiga lantai tempat mereka tinggal.
Gadis kecil yang melingkarkan tangannya di leher Sam melongok melihat mang Engkus yang sudah melayani pembeli.
"Ayo, papa, nanti basonya dihabisin sama Komar."
Sam tertawa mendengar sang putri menyebut nama anak berbadan gembul yang kalau makan tak akan cukup 3 mangkuk.
Ia yang ingin mengatakan sekalipun Komar makan sepuluh porsi baso, baso untuk Nuri akan tetap ada lebih memilih melangkah menuruni tangga dengan celoteh gadis kecil yang begitu cerewet dan suka bercerita apa saja yang ia lakukan hari ini karena Sam yang seharusnya libur harus masuk kerja.
Cerita sama yang kadang diulang beberapa kali namun tak sekalipun membuat Sam merasa bosan bahkan seolah ia mendengar cerita baru karena Nuri akan mengatakan hal sama dengan ekspresi berbeda.
"Hai, Mas Sam," sapa gadis dengan tahi lalat di bawah bibir membuat Sam yang sudah menginjak anak tangga terahir mengangguk.
"Hai, kak Leta. Aku mau beli baso, dong," ucap Nuri begitu semangat lalu merosot turun.
"Kamu gak beli baso juga, Dek Leta?"
"Kalo ada yang ntraktir sih mau, Mas, uang jajanku dipotong sama emak."
Sam mengangguk, "kenapa dipotong?" tanyanya.
Yang ditanya malah tersenyum, "aku beli bedak mahal, Mas."
Sam mengernyitkan dahi, wajahnya seolah bertanya semahal apa harga bedak itu sampai bu RT harus memotong uang jajan Leta. Tapi, tarikan tangan Nuri yang tak sabar karena takut semua baso akan dihabiskan Komar membuatnya melangkah, mengikuti kaki kecil yang langkahnya sudah begitu mantap bahkan saat berlari.
"Ayo, Papa, nanti kita gak kebagian baso."
Sam hanya tertawa geli sedangkan gadis dengan pakaian sexy yang menyapanya menghembuskan nafas kesal karena pembicaraannya diganggu.
"Tiga ya, Mas?"
"Iya, Mang, seperti biasa aja," ucap Sam menatap Leta, yang sedang mengalihkan pandangan karena dipanggil ibunya, "tambah satu lagi ya, Mang, tapi jangan bilang dari saya."
Mang Kus langsung menoleh pada gadis dengan tahi lalat di bawah bibir. "Beres, Mas, nanti tak bilang dari penggemarnya yang ada di rusun sebelah."
"Mang! Mang! Aku mau yang pedes tapi gak pedes banget, terus sayurnya yang banyak, gak usah paket mi sama ... eng-?"
"Daun bawang," tambah Sam membuat mang Kus menunjukan dua jempolnya untuk permintaan gadis kecil yang selalu meminta hal sama.
Nuri mendongak, menunjukan senyum lebar pada Sam yang mengusap kepalanya.
"Mang! Mang! Aku mau nambah!" seru Komar membuat Sam tersenyum saat wajah Nuri mengatakan, 'tuh, kan, Pa.'
Suasana rusun selalu ramai apalagi saat sore menjelang, tawa anak-anak yang bermain juga ibu-ibu pecinta gosip berkumpul sampai petang datang.
Hari Minggu adalah hari paling menyenangkan untuk keluarga kecil yang ahirnya memakan baso ditemani celoteh Nuri. Celoteh yang membuat rumah kecil itu selalu ramai meski tanpa kehadiran Nita kecuali potretnya.
Potret wanita ayu tanpa pulasan make up itu terpajang rapi di antara figura-figura lain yang selalu bertambah meski di dalamnya hanya ada Sam, Nuri, dan mbok Imah. Tapi, tak ada seorangpun yang melupakan keberadaan anak yatim piatu yang saat meninggal tak mengingat apapun atau siapapun.
"Papa! Papa!"
Sam yang sedang mencuci mangkuk, menoleh pada putrinya yang keluar tanpa handuk meski rambut dan badannya basah bahkan tangan kecil Nuri sudah menggenggam sabun yang menetes dari sela-sela jari.
"Kenapa sayang?"
"Aku ada PR."
Sam yang sudah memasang telinganya baik-baik berusaha untuk tak tertawa meski dua sudut bibirnya berkedut, "ya- ya kerjain nanti,"ucap Sam berhasil menahan tawa.
"Tapi," Nuri yang menatap Sam tangannya jadi diam berhenti menggosok mamgkok, tangan kecilnya yang terangkat memegang sabun turun bahkan tampak lupa sampai sabun yang ia genggam menetes cepat dari ujung jarinya yang terbuka.
Sam membilas tangan agar busa sabun cuci piring yang menempel, hilang. Ia mendekati Nuri dan menjajarkan pandangan dengan gadis kecil yang sudah bisa mandi sendiri, "tapi?" ulangnya setelah matanya bertemu pandang dengan Nuri.
Nuri menatap mata Sam yang selalu lembut dan menenangkan, gadis kecil cerewet itu menunduk sesaat sebelum mendongak lagi, "aku disuruh nulis cerita tentang mama dan papa, Pa."
Sam yang mendengar tersenyum, lalu menggendong Nuri yang diangkatnya tinggi-tinggi tak perduli bajunya jadi basah.
"Papa perutku pusing," adu Nuri merasakan isi perutnya naik tapi senyumnya kembali tercetak lalu menatapi Sam yang juga memperhatikannya.
"Anak papa cantik seperti mama."
Senyum Nuri langsung tercetak begitu lebar, "terus?" tanyanya ingin mendengar kalimat yang terlalu sering ia dengar.
"Rambut Nuri mirip banget sama mama, panjang, tebal, bergelombang, tapi, sayangnya gak wangi."
"Aku- aku, kan, belum paket sampo, Papa," protes gadis kecil yang terkikik geli saat Sam mengendus kepalanya.
"Masa, sih?"
"Iy-ya, Papa," ucap gadis kecil yang ikut menciumi rambutnya sendiri, "kok- ... kok rambutku bau sabun, Papa?"
Sam tertawa begitu lepas melihat jadi sebingung apa putri kecilnya ini, rasanya ia ingin mengatakan rambut Nuri jadi wangi sabun karena sabun yang tadi Nuri pegang. Namun, ia lebih memilih mengecup pipi gembil Nuri yang begitu suka makan baso tanpa mie, tanpa daun bawang, mintanya baso pedes tapi tidak pedes banget.
"Anak kesayangan mama dan papa."
"Aku dong," balas Nuri lalu mengangguk senang saat Sam berkata akan mengeramasi rambutnya.
"Jangan lama-lama katanya mau ketemu mama."
"Siap, mbok!!" Jawab Nuri dan Sam bersama lalu masuk ke dalam kamar mandi yang jadi ramai dengan celoteh berulang yang tak pernah membosankan.
Rumah kecil dengan dua kamar tidur itu selalu hangat, sehangat penghuninya meski di dalam sana ada mata yang tak bisa melihat wanita yang ia cintai kecuali dari potretnya. Tak lagi merasakan usapan hangat kecuali dari kenangan yang tidak ingin ia pudarkan karena istrinya yang sudah berpulang itu akan terus hidup dalam diri, dalam hati, juga keseharian.
Nita mungkin tak lagi ada di samping Sam dan Nuri. Tapi, tak ada seorangpun yang akan membiarkan gadis kecil cerewet yang begitu riang berceloteh di kamar mandi itu lupa pada keberadaan sang ibu.
Sam dan mbok Imah memastikan itu. Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (218)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
kerennnn
26d
0pliss lanjut donk kak seru bgtt ihh
01/12
0terimakasih
18/11
0Lihat Semua