3

Sepulang dari cafe, Rinai langsung membeli kuota. Terpaksa! Ini semua gara-gara Aksa menyuruhnya mengganti cover. Bisa dipastikan beberapa hari kedepan dia tidak akan fokus menulis.
Sampai pukul 1.12 dini hari gadis itu tetap terjaga, beberapa cover telah selesai ia buat sesuai arahan editornya sewaktu di cafe tadi. Besok tinggal menunjukkan pada Aksa dan membiarkan laki-laki itu yang memilihkan.
Beberapa kali ia menguap, matanya pun sudah terasa perih, namun sayangnya walau sudah berusaha terpejam tetap tidak bisa tidur, mau menulis tapi badannya juga sudah terlanjur lelah.
"Ya ampun ... perasaan udah baca doa. Kenapa tetep gak bisa tidur sih?" gerutunya sembari menendang-nendang guling.
Salah satu kebiasaan buruknya saat kesal yaitu suka menendang semua barang yang ada di dekatnya, termasuk panci milik Mamanya yang juga pernah menjadi sasaran, walau setelah itu dia harus mendapat ceramah habis-habisan. Disuruh masak nggak mau, tapi merusak alat masak menjadi kebiasaan nomor 1, tuman!
Kalau sudah seperti itu Rinnai hanya bisa menunduk dan terdiam, menjawab sedikit saja langsung diancam akan dinikahkan dengan Pak Ramli, penjual panci keliling langganan sang mama.
Karena masih tidak bisa tidur, Rinai akhirnya bermain ponsel. Mungkin dia baru akan bisa terlelap setelah jam 4 seperti biasanya.
Beberapa menit setelah menghidupkan data sudah ada pesan masuk.
[Belum tidur?] Aksasetan.
Sengaja dia namai demikian karena memang sifat lelaki tersebut sama dengan makhluk gaib.
Sebagai jawaban dia langsung mengirim cover-cover yang tadi dia buat, gadis itu berharap setidaknya ada 1 saja yang menurut editornya itu pas supaya dia tidak perlu membuat lagi, capek tau!
[Kayaknya sinyal di rumahku lagi susah, nggak bisa unduh gambar. Besok kesini aja biar aku lihat langsung] Aksasetan.
Sial! Laki-laki itu pasti sengaja mengerjainya.
[Sinyal susah tapi cepet balas chat] Rinai.
[Beda, chat kan penting] Aksasetan.
[Kamu pikir foto-foto kirimanku tadi nggak penting? Buatnya aja tengah malem gini lho!] Rinai.
[Nggak ada yang nyuruh bikin malem-malem] Aksasetan.
Tuh, kan memang setan! Ada aja ulahnya yang bikin Rinai kesal. Apa dia perlu mencari dukun online untuk menyantet Aksa?
[Kenapa belum tidur, nungguin chat dariku ya?] Aksasetan.
[Sesungguhnya terlalu PD itu tidak baik] Rinai.
[Ngaku aja, nggak usah malu-malu. Biasanya juga nggak punya malu] Aksasetan.
Asem! Apa dia sebegitu memalukan hingga mantan pun ikut mengingatkan? Mulai besok Rinai harus mulai alim dan bertobat.
[Mau dengerin aku nyanyi nggak?] Aksasetan.
[Enggak usah, nggak butuh!] Rinai.
Mendengarkan lantunan lagu dari bibir Aksa adalah kebiasaannya dulu saat mereka masih berpacaran. Jadi, sekarang mana mau dia mengulang hal yang sama? Bisa sakit hati dong.
[Beneran? Dijamin tidurmu langsung nyenyak sekaligus mimpi indah kalau aku nyanyiin] Aksasetan.
[Oh, berarti lagu penghantar tidur, ya?] Rinai.
Alih-alih membalas pesannya, laki-laki di seberang rumahnya justru langsung menelfon.
Sengaja Rinai diamkan hingga mati sendiri.
[Nggak usah sok jual mahal. Tinggal pencet tombol warna hijau, dengerin, merem, apa susahnya?] Aksasetan.
Buset! Pedes amat omongan si mantan. Tumben, apa laki-laki itu sudah mulai lelah? Syukur kalau begitu, tapi ... kenapa serasa ada yang tercubit di dalam dadanya? Tiba-tiba dia merasa nyeri bila memikirkan Aksa akan menjauh dan mempunyai pacar baru, lebih parahnya kalau laki-laki itu menikah.
Ponselnya kembali menyala, masih Aksa yang menelfonnya. Ya, iyalah Aksa, memangnya siapa lagi? Rentenir? Tidak mungkin, malas-malas gini dia tidak suka meminjam uang. Orang tuanya juga masih punya banyak duit, jadi untuk apa dia meminjam pada orang lain.
Setengah berdecak ketika jari telunjuknya menyeret tombol warna hijau.
"Kok lama?" Tanya suara dari seberang sana.
"Masih untung dijawab," ketus Rinai.
"Ya udah, taro handphonenya dekat telinga kamu, terus tutup matanya. Aku bakal nyanyi sampai kamu tidur."
Rinai hanya berdeham. Gadis itu lantas melirik jam dinding, hampir jam 2 dini hari.
Di dalam kamarnya, Aksa meletakkan ponsel di pinggiran ranjang, dia sendiri duduk lesehan di karpet bulu. Tangannya mulai memetik senar gitar dan mulutnya mulai mengalunkan sebuah lirik lagu yang dulu sering dinyanyikan saat dia dan Rinai masih berpacaran.
Rinai memejamkan matanya erat-erat. Air matanya mendesak keluar membasahi wajah cantiknya, entah kenapa kenangan masa lalu seolah berputar kembali di otaknya. Gegas dia menggigit bibir, menahan isakkan yang siap keluar.
Dia sudah berusaha sebisa mungkin untuk menghilangkan seluruh cinta pada laki-laki itu, hanya saja rasa rindu bercampur sakit kadang masih mengusiknya.
"Aksa nyebelin! Kenapa dulu harus ngajak putus coba?" Tanyanya disela-sela tangisan.
Banyak kenangan manis yang telah mereka lewati, sejak kecil hingga berpacaran. Hubungan merekapun sebelumnya baik-baik saja, tidak ada tanda-tanda kalau laki-laki itu akan mengakhiri hubungan mereka dengan alasan konyol.
Karen tidak juga berhenti menangis, gadis berambut coklat itu langsung mematikan sambungan telepon, dia tidak perduli walau Aksa masih bernyanyi. Tangisnya seketika pecah.
Sedangkan dari balkon kamarnya, Aksa melihat sang mantan yang menggulung tubuh dengan selimut. Entah lupa atau bagaimana hingga gadis di seberang rumahnya itu tidak menutup gorden kamarnya, lampu yang masih menyala membuat laki-laki tersebut mengetahui pergerakan Rinai.
Aksa sempat terkejut saat sambungan teleponnya tiba-tiba dimatikan, sebelum itu dia juga sempat mendengar suara isakan.
Satu sudut bibirnya tiba-tiba tertarik keatas membentuk sebuah seringai, "dia baper ya?"

Komentar Buku (139)

  • avatar
    Shikhah Afiyah04Nazla

    bagus

    09/04

      0
  • avatar
    Sehi natalia Missa

    sangat bagus

    24/11

      0
  • avatar
    HalwaHezer

    sangat bagus, dan cepat menghasilkan uang

    25/04/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru