24

"Kenapa kamu bisa bilang kalau kami cocok?" Tanya Rinai.
Kevin terkekeh, pandangannya terus fokus ke depan.
"Ya ... kalau dilihat dari rupa, kalian sama-sama good looking. Kamu kayaknya tipenya, dia juga seperti nggak mempermasalahkan soal tinggi badan," ucap lelaki tersebut.
Rinai yang ikut memandang ke depan diam-diam memutar bola mata malas.
"Memangnya kalau laki-laki lain selalu melihat perempuan dari tinggi badan, ya? Kenapa sih, bukannya kayak yang tadi temen kamu bilang? Setiap manusia punya kelebihan dan kekurangan masing-masing," katanya.
"Mau gimana lagi, punya cewek pendek tuh nggak enak, kemana-mana selalu dikira bawa adik. Sering jadi pusat perhatian juga karena perbedaan tinggi, risih lah pokoknya."
Perkataan Kevin yang seolah tanpa beban justru membuat tangan Rinai yang bersembunyi dibawah tas slempang mengepal. Apa laki-laki disampingnya ini tak punya hati sampai tega berbicara seperti itu?
Kalau risih lantas mengapa selama beberapa minggu ini mendekatinya dan sering mengajak pergi bersama?
Ucapan Kevin barusan mirip sekali dengan kata-kata Aksa dulu. Kenapa tinggi badan selalu menjadi permasalahan? Kalau sebelum terlahir bisa memilih, dia juga tidak mau seperti ini, memiliki tubuh dengan tinggi kurang ideal hingga sering diejek teman-teman maupun gebetan.
Sepanjang jalan Rinai terus diam, dia menjadi insecure untuk sekedar bercakap dengan lawan jenis. Sedangkan Kevin, laki-laki tersebut masih terus mengoceh tentang hal yang sama sambil sesekali membanding-bandingkan mantan-mantannya disertai tawa berderai.
Salah apa aku sampai kenal laki-laki gak berhati begini? Batin Rinai nelangsa.
"Makasih. Mau mampir?" Tawar Rinai saat mobil yang mereka kendarai telah berhenti di halaman rumahnya.
"Makasih tawarannya, tapi maaf nggak bisa. Udah jam segini, aku masih ada urusan juga," balas Kevin sembari tersenyum.
Ah, lelaki ini kenapa selalu tersenyum padahal habis mengatakan hal yang menyinggung perasaan?
"Oke, kalau gitu aku masuk dulu. Hati-hati." Rinai turun dan melambaikan tangan disertai senyum paksa di bibirnya.
Setelah mobil Kevin menjauh, gadis itu segera masuk ke dalam rumah.
"Tumben udah balik, padahal masih sore lho? Mama juga nggak nyuruh kamu biar cepet pulang kan?" Tanya Nita dengan heran.
Wanita paruh baya itu sedang duduk di sofa sambil memangku toples berisi kacang dan menonton TV.
"Males. Ma, kayaknya aku nggak bisa bawa cowok lain deh," ucap Rinai seketika membuat mamanya tersedak kacang.
Wanita itu buru-buru meraih segelas jus jeruk dan meminumnya.
"Kok tumben udah nyerah? Tapi ya syukur deh, berarti kamu harus sip nikah sama Aksa," balasnya setelah tenggorokan sudah lumayan lega.
Rinai hanya mengangguk dan meneruskan langkahnya ke lantai atas dengan lesu. Kini, tinggallah Nita yang garuk-garuk belakang kepala karena bingung dengan tingkah tak biasa anaknya.
***
Malam tiba, namun Aksa belum juga kembali.
"Aksa ngapain ya dateng kesana lagi, apa mau jemput Bunda Maya? Ah, tapi kayaknya nggak mungkin 'kan katanya mau pulang seminggu lagi," monolog gadis bergaun tidur warna biru muda yang duduk di depan meja rias.
"Katanya mau bawain empek-empek, tapi sampai jam segini belum pulang juga," keluhnya dengan kedua tangan menopang dagu.
Bunyi ketukan di pintu menarik kembali kesadaran gadis tersebut dari lamunannya. Dia berjalan gontai, memutar kunci dan menarik handle pintu.
"Nih, di bawain Aksa." Nita berdiri di depannya sembari mengulurkan sebuah plastik hitam.
Rinai menerimanya dengan kening mengernyit. Kenapa bukan Aksa langsung yang memberikan?
"Kok Mama yang bawain kesini?"
Mamanya tersenyum disertai tatapan menggoda.
"Kenapa emangnya? Em ... Mama tau nih, kamu pasti kangen sama Aksa, ya? Duh, baru nggak lihat beberapa jam aja udah rindu," kelakarnya.
Rinai melengos, wajahnya tiba-tiba memerah.
"Enggak tuh," ucapnya pelan.
Nita tertawa melihat tingkah malu-malu anaknya.
"Aksa lagi pulang ke rumahnya, nanti juga kesini lagi," katanya kemudian.
Rinai manggut-manggut lalu menanyakan apakah mamanya sudah mengambil empek-empek yang diberikan Aksa atau belum, kalau belum gadis itu akan memberikan sebagian.
"Buat kamu aja, Mama sama Papa udah dibawain sendiri," jawab Nita.
Wanita itu lalu mengatakan akan kembali ke ruang tamu untuk menunggu suaminya pulang.
Setelah meletakkan plastik hitam tersebut ke atas meja, Rinai langsung mengikuti mamanya ke lantai bawah. Bedanya kalau sang mama akan ke ruang tamu, kalau dia akan ke dapur untuk mengambil mangkok.
"Udah dikasih tadi?" Tanya Aksa saat Rinai hendak kembali ke kamarnya dan mereka tak sengaja berpapasan di tangga.
"Udah, tapi itu banyak banget. Enggak mungkin bisa habis sendirian," jawab Rina.
Sebenarnya dia hendak mengajak Aksa makan bersama, tapi ragu apakah laki-laki didepannya ini mau atau tidak.
"Yaudah buat nanti lagi," ucap Aksa.
"Kamu ... udah makan empek-empeknya belum? Mau makan bareng nggak?" Butuh keberanian lebih bagi Rinai untuk mengatakan ini.
Aksa mengulum senyum dengan alis terangkat.
"Boleh, mau makan dimana?" Tanyanya.
Rinai yang sedaritadi menunduk langsung mendongak dengan tatapan tak percaya. Diam-diam dia menghela napas lega karena Aksa tidak menolak, kalau sampai hal itu terjadi entah mau ditaruh dimana mukanya, padahal dia sudah menekan rasa gengsi.
"Disitu aja, aku mau ngambil empek-empeknya dulu." Gadis itu menunjuk sofa di pojok lantai atas, tepatnya disamping jendela, di depan kamarnya dan kamar yang ditempati Aksa.
Beberapa saat kemudian Rinai telah kembali, dia langsung duduk didepan Aksa.
"Kamu mau pakai mangkok apa makan di snacknya langsung?" Tanya gadis itu.
"Kenapa nggak sekalian tuang di mangkok semua?"
"Hah, maksudnya dimasukin mangkok semua terus kita makan bareng gitu?" Tanya Rinai dengan mata melotot.
Aksa mengangguk santai, laki-laki tersebut langsung meraih kresek di tangan Rinai dan menuang setengah isinya ke mangkok. Mau dituang semua ternyata kebanyakan, pantas gadis di depannya ini tadi bilang tidak bisa menghabiskan semua.
"Enak?" Tanyanya.
Rinai mengangguk dengan canggung.
Aksa tersenyum. Malam ini Rinai terlihat lebih cantik dengan gaun tidur berlengan pendek berwarna biru muda.
"Jangan ngelihatin terus," kata Rinai dengan sedikit ketus.
Aksa sontak terkekeh pelan.
"Cantik," ujarnya.
Mendengar satu kata itu membuat pipi Rinai bersemu merah.
Mereka melanjutkan makan diselingi obrolan-obrolan kecil hingga 15 menit kemudian Rinai mulai mengangkat mangkok kotor yang barusan mereka gunakan. Aksa yang awalnya akan membantu mengelap meja yang terkena tumpahan cuka akhirnya masuk kamar setelah dilarang Rinai.
Selesai mencuci mangkok dan membersihkan meja, gadis berambut sepundak itu kembali ke kamar.
Benda pertama yang dia ambil adalah ponsel. Segera saja jemarinya mengetuk aplikasi sosial media berwarna biru yang saat ini sudah jarang dia buka.
Matanya melotot tatkala melihat postingan seseorang dengan caption 'datang lagi nih pelanggan tampan, untung gak sama istrinya yang kayak anak kecil' dan sayangnya orang itu memposting foto Aksa dari arah samping, sepertinya laki-laki itu tidak sadar kalau sedang dipotret.

Komentar Buku (139)

  • avatar
    Shikhah Afiyah04Nazla

    bagus

    09/04

      0
  • avatar
    Sehi natalia Missa

    sangat bagus

    24/11

      0
  • avatar
    HalwaHezer

    sangat bagus, dan cepat menghasilkan uang

    25/04/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru