"Udah belum, Rin?" Tanya Nita. Wanita itu menoleh pada sang anak yang dia tugaskan untuk memotong bawang merah. "Belum," jawab Rinai dengan suara parau. Saat ini mereka sedang berada di dapur. Nita sengaja mengajak anaknya untuk memasak sarapan, meski Rinai sudah menolak, namun wanita yang telah melahirkannya itu tatap memaksa. Kalau tidak belajar sekarang, lalu kapan? "Yaampun, Rin ... motong dua biji aja lama banget," ucap Nita dengan gemas. Wanita itu langsung mengambil alih pekerjaan sang anak. "Udah sana kamu kupas kentang aja," titahnya membuat Rinai segera mengangguk sambil mengusap sudut mata yang berair. Selesai mengiris bawang, Nita menoleh. "Mama mau ke belakang dulu ngambil seledri," pamitnya. "Iya," jawab Rinai dengan tangan fokus mengupas kentang. Sesekali gadis itu mendongak. Setelah tangannya mengusap mata tadi, rasa perihnya tidak hilang, justru semakin menjadi-jadi. "Ngapain?" Masih mendongak, netranya melirik Aksa yang mendekat dengan alis bertaut bingung. "Oh ... lagi ngupas kentang, kok nangis? Cengeng!" Ejek laki-laki itu. "Aku habis ngiris bawang tau," ucap Rinai dengan pelan. Sebisa mungkin dia mencoba menahan amarah, jangan sampai pisau yang sekarang dia gunakan untuk memotong kentang tiba-tiba terlempar ke kepala Aksa. "Aw ...!" Pekik Rinai tatkala jari telunjuknya tak sengaja terkena pisau. Aksa yang serang minum menjadi tersedak. Laki-laki itu segera meletakkan gelas dan menghampiri Rinai. "Makanya kalau gunain benda tajam tuh hati-hati, jangan malah lihat atap rumah," omelnya kemudian mengarahkan jari berdarah Rinai ke mulutnya. Gadis itu tercengang, tubuhnya menegang mendapat perlakuan seperti ini dari mantannya. Dia kembali meringis ketika lukanya terkena air kran, Aksa bilang harus dibersihkan dulu sebelum diobati. "Lho, kalian ngapain berduaan gini, Rinai emang udah selesai motong kentangnya?" Tanya Nita yang baru datang sambil membawa seledri di tangan kanannya. "Rinai kena pisau, Tan," balas Aksa. "Kok bisa? Yaudah sini Mama obatin dulu," kata wanita itu dengan khawatir. "Tante lanjutin masak aja, biar saya yang ngobatin." Nita mengangguk. "Kotak P3K nya ada di dalam laci samping TV itu ya, Sa." Aksa mengangguk dan segera membawa Riani ke depan. Laki-laki tersebut sudah mencari di tempat yang Nita maksud, namun tetap tidak ketemu. "Nggak ada, Tan!" Serunya. Nita meletakkan pancinya lalu buru-buru kedepan. "Tante lupa, kayaknya di kamar yang kamu tempati," ucap wanita itu Aksa langsung mengangguk dan segera mengajak Rinai ke kamarnya. "Duduk," perintahnya. Rinai menurut, sepertinya lukanya cukup dalam karena masih terus keluar darah meski tidak sebanyak tadi. Dia menggigit bibir ketiak Aksa mulai membersihkan dengan alkohol. "Jangan gigit bibir!" ucap Aksa pelan namun penuh penekanan. "Perih ...," lirih Rinai dengan mata merah. Aksa menghela napas. Walaupun galak dan suka kasar, tapi gadis di depannya ini sangat cengeng. Sejak kecil dia sudah paham itu. "Jangan nangis," katanya sambil sesekali melirik. Rinai justru kembali menggigit bibirnya dengan mata berkaca-kaca. Tak lama kemudian air matanya mulai berjatuhan. Aksa menghela napas, tangannya menyusut air mata yang membasahi pipi sang mantan. "Udah dibilangin jangan nangis," desisnya. "Emang kenapa sih?" Tanya Rinai sambil sesenggukan. Aksa menangkup kedua pipi gadis itu dan memajukan wajahnya membuat Rinai tersentak dan melebarkan mata. "K--kamu ma--u ngapain?" Tanya Rinai dengan gugup. Laki-laki yang berjongkok di depannya tak menjawab. Pandangan matanya justru jatuh pada bibir mungil yang sedikit pucat itu. Aksa sudah memiringkan kepala, sedikit lagi bibirnya akan menyentuh bibir Rinai. Kriett .... "Sa, udah diobatin belum tang ...." Mulut Nita menganga melihat pemandangan di depannya. Sedangkan Aksa dan Rinai, kedua orang itu langsung menjauhkan diri masing-masing dengan wajah memerah. Apalagi Aksa, niat awalnya hanya menenangkan Rinai yang menangis, namun kenapa harus tergoda? "Kalian ngapain? Udah dibilangin kalau nggak sabar ya langsung nikah, jangan malah nyosor-nyosor sebelum sah!" Teriak Nita setelah kesadarannya pulih. "Ma, ada apa pagi-pagi udah teriak kayak gitu?" Mendengar suara Brama membuat nyali Rinai kian ciut. Kenapa dia tadi harus terbawa suasana sih? Ah, Aksa sialan, pokoknya semua ini salah Aksa! "Ini lho Rinai sama Aksa, pamitnya cuma ngobatin luka pas Mama samperin malah ...." Nita memijit pelipis sambil geleng-geleng kepala. Brama membuka pintu dengan lebar. "Kalian udah ngapain aja?" Tanya laki-laki paruh baya tersebut dengan curiga. "E--enggak ngapa-ngapain, Pa. Tadi Aksa cuma niup mataku yang kelilipan." Secepat kilat Rinai menjawab. "Cuma niup mata kok sampai miringin kepala segala?" Kini giliran Nita yang bertanya dengan tatapan menyelidik. "Beneran, Ma. Kalau nggak percaya coba aja tanya Aksa. Iyakan, Sa?" Tanya Rinai dengan harap-harap cemas. Semoga saja laki-laki itu tidak memberi jawaban nyeleneh hingga membuat dirinya kembali susah. "Iya, Tan. Saya tadi cuma bantu Rinai yang kelilipan," jawab Aksa gugup. Laki-laki muda tersebut mengutuk diri sendiri, bukan itu jawaban yang ingin dia berikan. Saya hampir aja ngambil first kiss anak Tante dan Om, batinnya. Tapi kalau dia mengatakan itu dengan jelas, bisa dipastikan Brama akan langsung melayangkan bogeman ke wajahnya, tak menutup kemungkinan kalau dia dan Rinai akan dinikahkan saat ini juga. "Yaudah kalau gitu cepat keluar, jangan berduaan di kamar nanti banyak setan yang menggoda," kata Brama yang langsung mendapat anggukan dari anaknya dan juga Aksa. Mereka langsung mengikuti kedua orang tua Rinai dari belakang. Diam-dian gadis itu melirik laki-laki disampingnya, sialnya Aksa juga tengah meliriknya. Keduanya langsung melengos karena malu. "Tante sama Om nanti jadi mau jenguk Nenek?" Tanya Aksa mencoba mencairkan suasana yang masih sedikit kaku. "Iya, kamu mau bareng?" Tanya Brama. Aksa menggeleng. "Saya mau ke restoran dulu," jawabnya. "Kalau Rinai, kamu wajib ikut. Nggak boleh ada penolakan!" Tegas Nita membuat sang anak mengangguk dengan terpaksa. *** 1 jam lebih diperjalanan hingga Rinai dan kedua orangtuanya tiba di kediaman nenek Aksa. Rumah sederhana bercat warna hijau, disekelilingnya banyak pepohonan yang semakin menambah asri. Senyum Rinai mengembang, sudah lama dia tidak menyambangi rumah ini. Terakhir sewaktu masih berpacaran dengan Aksa. "Lho, Nita udah datang? Ayo, ayo masuk." Maya baru pulang dari warung untuk membeli gula, dirinya begitu terkejut ketika mendapati mobil tetangganya sudah terparkir di depan rumah mertuanya. "Eh, Maya. Apa kabar, gimana Nek Harni, udah baikan?" Nita segera memeluk tetangga yang sudah lebih dari 2 minggu tidak dilihatnya. Dia memanggil ibu dari Angga dengan sebutan nenek untuk membiasakan Rinai, dan itu juga menjadi kebiasaannya hingga sekarang. "Alhamdulillah sehat, Ibu juga udah baikan. Kayaknya seminggu lagi aku bisa pulang. Ayo masuk!" Ajaknya pada Nita dan keluarganya. Rinai bersyukur karena rumah di depannya terlihat sepi, kalau saja ada tetangga Linda pasti sebelum masuk dia sudah ditanya macam-macam. "Eh, ada Kakak Kecil!" Pekik seorang bocah laki-laki berumur sekitar 5 tahun yang baru muncul dari sebuah kamar. "Kok manggilnya 'kakak' bentar lagi Tante Rinai nikah sama Om Aksa lho, berarti panggilannya diganti 'tante' ya," koreksi Maya. "Oh, iya ya. Kalau gitu manggilnya Tante Kecil aja gimana? Kan badannya masih kecil kayak aku," ucap bocah itu membuat Rinai geram.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus
09/04
0sangat bagus
24/11
0sangat bagus, dan cepat menghasilkan uang
25/04/2025
0Lihat Semua