19

Beberapa hari telah berlalu, tak terasa sudah di penghujung bulan. Novel Rinai sudah selesai, kini perempuan berumur 25 tahun tersebut mempunyai banyak waktu luang. Satu yang membuat dia suka naik darah, sampai sekarang Aksa masih tinggal di rumahnya karena Maya beserta Angga belum bisa pulang.
Dan satu hal yang baru Rinai pahami dari Aksa, mantannya tersebut mempunyai kebiasaan mandi di malam hari.
Hari ini juga perempuan berwajah mirip Shin Min Ah itu kembali diajak keluar oleh Kevin.
Setelah melalui perdebatan yang cukup panjang akhirnya dia berhasil mengantongi izin kedua orangtuanya.
"Udah wangi gini jangan sampai di PHP-in lagi," gumamnya sambil mengendus ketiak yang barusaja dia semprot parfum.
Setelah mengambil tas berwarna putih dia segera turun ke lantai bawah. Ternyata Kevin sudah datang, laki-laki tersebut duduk berhadapan dengan papanya dan Aksa. Ya, salah satu syarat supaya dia bisa pergi yaitu Kevin harus menjemput dan meminta izin langsung.
"Pa ...." Rinai mendekat.
"Ingat pesan saya tadi. Satu lagi, kalau kamu nggak bisa antar Rinai pulang tolong telfon Aksa saja," ucap Brama yang seperti tak mendengar panggilan anaknya.
Kevin mengiyakan sambil tersenyum sopan, tapi entah kenapa Aksa merasa laki-laki di depannya ini bukan orang baik.
***
Sepasang laki-laki dan perempuan dewasa sedang berbincang sembari sesekali tertawa di sebuah restoran, sedangkan di kursi lain yang letaknya tidak jauh dari mereka terdapat seorang laki-laki bermasker yang sedari tadi terus memantau. Dialah Aksa, ternyata orang tua Rinai tidak terlalu yakin apabila membiarkan anaknya keluar seorang diri bersama lelaki asing.
"Berasa jadi stalker," ucap Aksa sesaat sebelum mengikuti Rinai tadi.
Dengan isengnya dia memanggil nomor ponsel Rinai berkali-kali hingga kencan pertama perempuan itu menjadi tak tenang. Sambil menyeruput ice drink miliknya, Aksa dapat melihat Rinai yang terlihat kesal.
5 menit kemudian perempuan yang sudah berstatus sebagai mantannya itu keluar bersama Kevin, entah kemana mereka akan pergi.
Aksa segera berdiri dan menyusul.
Selama Rinai dan Kevin bersenang-senang, selama itu pula Aksa selalu berulah. Mulai dari menelfon, dan lain sebagainya, hingga terakhir mengirim pesan supaya perempuan itu segera pulang karena disuruh orang tuanya.
"Ayo pulang!" Aksa yang sudah melepas penyamarannya segera menghampiri Rinai yang hendak masuk ke dalam mobil Kevin.
"Kamu ngapain disini? Ngikutin aku, ya?" Tanya Rinai dengan ketus.
Raut wajahnya menunjukkan ketidaksukaan.
"Enak aja, habis dari restoran tiba-tiba lihat kamu," sanggah Aksa.
"Biar Rinai saya aja yang ngantar," sela Kevin.
"Tuh, dengerin! Udah pulang sana."
Aksa berdeham.
"Sekalian aja, lagian tadi orangtuamu nelfon biar pulangnya barengan," sahut Aksa tanpa memperdulikan ucapan Kevin.
Perempuan berbaju warna pastel itu menggeram kesal, selalu saja seperti ini. Pantas dia selalu jomblo. Begitupula dengan Kevin, meski tersenyum laki-laki tersebut tetap menyimpan rasa kesal.
Sejak awal Aksa adalah penghalang, lelaki yang pertama kali ia lihat saat dulu dirinya bertabrakan dengan Rinai selalu saja merecoki hari-harinya bersama gadis manis itu.
Orang tua Rinai juga seperti tidak menyukainya. Sejak awal mereka sudah mengatakan kalau apapun yang berhubungan dengan Rinai maka akan berhubungan juga dengan Aksa.
"Ayo, buruan!" Aksa menarik tangan Rinai dengan tidak sabar.
Mau tak mau gadis itu mengikuti langkahnya menuju mobil. Selama perjalanan dia hanya diam memandang keluar, begitupula dengan Aksa. Laki-laki bermata tajam tersebut sama sekali tak berniat membuka percakapan.
Sesampainya di rumah Rinai langsung turun, langkahnya terhenti ketika melihat sang mama yang duduk santai di depan televisi.
"Mama apaan sih nyuruh aku cepet pulang segala, mana sama Aksa lagi?!" Tanya Rinai dengan kesal saat menghampiri mamanya.
Perempuan itu melempar tas putihnya ke sofa dengan asal.
Aksa sampai geleng-geleng melihatnya. Dia baru tau kalau gadis yang menyandang predikat sebagai mantan ini lebih manja dari dugaannya.
"Mama nggak suka ya lihat kamu pergi sampai lupa waktu sama temen barumu itu. Kamu itu perempuan, wajar kalau Mama khawatir, kalau dia macem-macem gimana coba?"
"Macem-macem gimana sih, Ma? Pasti Aksa ngadu yang enggak-enggak kan?" Rinai menoleh ke belakang dengan tatapan mematikan, namun sayangnya lelaki yang dia cari sudah pergi ke lantai atas.
Aksa kurang ajar!
"Gak usah nuduh Aksa kayak gitu, dia Mama minta buat jagain kamu."
"Jagain dari siapa, kalau kayak gini terus gimana aku mau punya pacar coba?" Tanya Rinai dengan kesal.
"Buat apa nyari pacar, toh sebentar lagi kamu nikahnya sama Aksa," jawab Nita membuat sang anak menghentakkan kaki dan berlalu dari sana.
Wanita itu menghela napas lelah, tampaknya dia memang terlalu memanjakan Rinai. Putrinya itu gampang sekali merajuk, untuk urusan bersih-bersih seperti mengepel pun bisa dibilang tidak bisa.
Yang membuat dia bersikeras menjodohkan Rinai dengan Aksa adalah karena merasa hanya laki-laki muda tersebut yang mampu mengimbangi sifat anaknya. Rinai suka marah-marah dan Aksa yang penyabar. Rinai ceroboh dan banyak yang tidak bisa dia lakukan, sedangkan Aksa pandai dalam segala hal.
Apa dia harus mempercepat perjodohan ini?
Ah, tidak, tidak! Wanita itu menggeleng, dia sudah sepakat dengan Maya, apabila salah satu anaknya ada yang berencana untuk menggagalkan perjodohan ini maka mereka yang akan bertindak. Mereka yang akan menggagalkan usaha anak-anaknya.
Dilain sisi, Rinai yang baru masuk kamarnya begitu terkejut ketika mendapati Aksa yang juga berada di ruangan pribadinya itu. Lelaki tersebut tengah berdiri disamping meja kerjanya.
"Ngapain kamu kesini?" Tanya Rinai dengan curiga.
"Pinjem laptop, tadi udah ngomong sama Om Bram terus disuruh ngambil sendiri," jawab lelaki itu dengan enteng.
"Itukan laptopku ya izinnya sama akulah, ngapain sama Papa coba?"
Rinai berjalan mendekat, mencoba mengambil kembali laptopnya yang sidah berada di tangan Aksa.
"Balikin, nanti aku nulisnya sama apa kalau laptopnya kamu bawa?" Tanyanya dengan kesal.
Aksa tak mau mengalah, dia justru mengangkat laptop putih itu tinggi-tinggi.
"Libur nulis dulu kenapa sih? Lagian kontrak kamu tinggal non-eks," ucapnya tak kalah kesal.
Tadi laptopnya tiba-tiba mati hingga dia berinisiatif untuk meminjam benda serupa ke Brama, siapa tau sedang tak digunakan, namun tanpa disangka-sangka pria seumuran papanya itu malah menyuruhnya mengambil laptop Rinai.
"Ada syaratnya." Pada akhirnya Rinai mengalah.
"Apa?" Tanya Aksa dengan kening berkerut, tak biasanya gadis di depannya ini mau mengalah.
"Kalau aku lagi jalan sama gebetan terutama Kevin, kamu nggak boleh ngerecohin, apalagi ngadu ke Mama kayak tadi."
Aksa mengangguk-angguk, namun sesaat sebelum menutup pintu dia kembali mengatakan 4 kata yang berhasil memancing amarah Rinai.
"Oke, kalau nggak lupa."
Aksa sialan!

Komentar Buku (139)

  • avatar
    Shikhah Afiyah04Nazla

    bagus

    09/04

      0
  • avatar
    Sehi natalia Missa

    sangat bagus

    24/11

      0
  • avatar
    HalwaHezer

    sangat bagus, dan cepat menghasilkan uang

    25/04/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru