Beranda/Gadis Lugu untuk Tuan Muda Galak/
#70. Karena Kamu, Aku Datang
Xiao Sean duduk bersila diatas ranjang dengan kepala tertunduk. Pria itu terlihat bagaikan anak kecil ketakutan setelah ketahuan banyak jajan oleh sang Ibu. Dan berakhir akan menerima hukuman tapi masih berusaha bertindak sebagai anak baik supaya tidak jadi menerima hukuman.
"Jadi?" Sallyana menaikan sebelah alisnya saat bertanya. Gadis tersebut duduk ke kursi yang tersedia didekat meja baca. Sekarang mereka berdua sedang berada dikamar pribadi Sallyana. Setelah pulang kerja tadi, Yi Zhi, Li Chu, dan Wen Luxia sedikit aneh. Ternyata alasan keanehan mereka karena ketiganya ikut membantu Xiao Sean membuat kejutan teruntuk Sallyana.
Namun bukannya senang, Sallyana justru marah dan kesal karena Xiao Sean nekat sekali menyusul dia ke Paris.
"Karena kamu, aku datang ke Paris."
"Aku tahu kakak datang ke Paris karena aku, kalau bukan karena aku. Lantas karena siapa? Mustahil bukan bila kakak punya selingkuhan dibelakang?"
Buru-buru Xiao Sean berdiri dan menggeleng cepat. "Kakak mana mungkin berani selingkuh!"
"Sally juga tahu," jawab perempuan dikursi sambil menghela nafas panjang. "Intinya, tujuan kakak datang kemari itu apa selain karena kangen sama Sally?"
"Kakak mau jagain calon istri kakak."
"Ha?" Melongo usai mendengar penjelasan absurd Xiao Sean. Sontak Sallyana menepuk jidat, "Kakak pikir aku barang jualan yang bisa dibeli dan dimiliki orang lain dengan sembarangan? Orang-orang di Lavana tahu kalau Sally sudah punya kakak sebagai tunangan."
"Pokoknya kakak akan terus menetap di Paria sampai semua pekerjaan kamu selesai!" Keukeuh Xiao Sean, mencoba keras kepala untuk pertama kalinya.
Ekspresi Xiao Sean saat ini sungguh terlihat lucu dan manis. Sangat menyenangkan ketika pria yang biasanya bertindak penuh sopan santun, akan bersikap kekanakan dan lucu. Sallyana menahan tawa, "Memang siapa yang berani rebut aku dari kakak?"
"Presdir Lavana!"
Giliran Sallyana yang terdiam dengan raut muka tertegun, terkejut karena Xiao Sean secara dadakan mencurigai Presdir Lavana. Seingatnya, Sean belum pernah mengetahui kisah mudanya, Sean juga belum tahu rupa Presdir Lavana, pun—Sean belum tahu siapa mantan kekasihnya di masa lalu. Lantas dari mana kecurigaan dan kepanikan Sean bisa tumbuh hingga menjadikan Presdir Lavana seperti sosok perebut calon istri orang?
"Kamu menutupi masa lalu kamu dari kakak. Jika memang masa lalu kamu buruk, kakak nggak akan marah sama sekali meski kamu menutupinya, karena kakak tahu bahwa untuk menceritakan sebuah kisah lama penuh luka itu menyakitkan." Sean berujar lembut begitu melihat perubahan besar diekspresi Sally. "Kakak ... kakak tahu semuanya dari Jenuar, kakak harap setelah ini kamu lebih terbuka karena sebentar lagi kita akan menjadi sepasang suami-istri."
"Kakak tahu semuanya?"
"Ya, kakak tahu semuanya."
"Bahkan sampai konflik antara aku Januar dan Alea?"
"Kakak juga tahu konflik itu. Jenuar sudah menjelaskan secara detail. Kakak ngerasa Presdir Lavana berniat lain ke kamu lewat kontrak kerja sama ini. Andai kakak tahu Presdir Lavana adalah dia, kakak akan menolak tawaran kerja sama dari mereka tanpa memberitahu kamu dulu! Pria seperti itu tidak pantas mendapatkan cinta atau rasa sayang kamu!"
Bibir Sallyana menipis menbentuk senyuman lembut. Perempuan tersebut berdiri dari kursi, "Terus siapa pria yang pantas dapat cintanya Sally?"
Xiao Sean menunjuk batang hidungnya sendiri.
Tak kuasa lagi manahan tawa akibat perilaku lucu dan manis milik seorang Xiao Sean, perempuan bersurai coklat panjang itu berjalan mendekati ranjang. Duduk ke tepian kemudian tubuhnya condong ke depan, mencium sekilas bibir Xiao Sean. "Tapi Sally belum bisa mencintai kakak sepenuh hati, bagaimana ini?"
Telinga putih Xiao Sean berganti warna menjadi merah muda kesemuan karena malu. Ini pertama kalinya Sallyana berinisiatif mencium bibirnya meski hanya sekilas. "Kakak—kakak janji akan berusaha lebih keras."
Terkadang, Xiao Sean bagaikan pria berkepribadian ganda. Kadang kala bersikap penuh martabat dan mencerminkan sosok keturunan bangsawan yang sempurna, di satu sisi, Xiao Sean bisa menjadi begitu manis karena keluguan dan kepolosannya tentang cinta atau pun tentang dunia asmara antara lawan jenis.
Entah mendapat dorongan dari mana, Sallyana mendorong bahu Xiao Sean dan menindih tubuh pria tersebut. Bisa terlihat jelas seberapa gugup dan malu pria di bawahnya ini.
"Sal—sally, kita belum—ekhm, kita belum menikah. Kita dilarang melakukan hubungan su—"
"Kak, kamu pikir Sallyana mau ngapain?"
Refleks Xiao Sean menutup wajahnya sendiri yang memerah karena terbakar oleh api malu. Sepertinya dia salah tangkap maksud tindakan Sallyana barusan. Yah, laki-laki mana yang tidak berpikir kotor saat seorang perempuan mendorongnya lalu menindihnya? Apalagi momen seperti ini baru pertama kali bagi seorang Xiao Sean si bujang lapuk.
Sallyana menarik telapak tangan Xiao Sean dari wajah tersipu pria itu. Ia mencium pipi tunangannya, "Kakak tahu? Kakak kelihatan manis waktu malu. Mungkin kalau kakak sering-sering begini, Sally bisa mudah jatuh cinta ke kakak."
"Kamu—kamu pergi dulu dari atas tubuh kakak, setelahnya baru kita lanjut bicara."
"Kalau Sally menolak?"
Xiao Sean jadi bingung sendiri. Ia tidak bisa berjanji untuk menahan diri bila kondisinya terus seperti ini. Ingat Sean, kamu belum bisa menyentuh perempuan yang saat ini menindihmu.
Sallyana menundukkan kepala lalu menarik bibir bawah Xiao Sean agar mulut pria tersebut terbuka. Tak ingin membuang waktu lagi, Sallyana melesatkan lidahnya ke mulut Xiao Sean, membelai seluruh sudut mulut Sean dengan lembut dan manis.
Xiao Sean jelas terkejut. Sebelumnya dia hanya mencium bibir Sallyana sekilas, bukan ciuman seperti ini. Namun Sally berinisiatif untuk memulai ciuman yang lebih intim. Pria itu tak akan menolak sama sekali. Kedua lengannya bergerak memegangi pinggang ramping Sallyana, membiarkan sang tunangan memimpin ciuman.
Lima menit berlalu, Sallyana menarik lidahnya keluar. "Ini baru ciuman, ciuman yang dilakuin kakak waktu itu belum bisa disebut ciuman."
"Bukan begitu," Sean menoleh ke dinding. "Kakak belum berani karena kakak masih berstatus sebagai tunangan kamu."
"Kakak terkadang kolot mirip Nenek."
"Bukan, bukan begitu, kakak—"
"Ss," telunjuk Sally menempel diatas bibir Sean. "Aku tahu, kakak adalah lelaki terbaik dan paling sempurna yang pernah aku temui selama hidup."
Sallyana kembali mencium bibir Sean sekilas dan saat dia hendak menarik kepalanya, posisi mereka berdua tiba-tiba berubah. Giliran Sean berada di posisi atas. Sallyana terkekeh, "Jadi kakak mau gantian posisi?"
"Sally!" Rona kemerahan telah membungkus sempurna kedua telinga Sean.
Si perempuan masih terus tertawa dan baru berhenti tatkala Sean membungkam bibir Sallyana dengan mulutnya. Sean tidak lagi sungkan dan menghisap lidah Sallyana seolah tidak akan pernah ada hari esok.
Ciuman panjang tak bisa terelakkan, Sallyana kewalahan dan kehabisan nafas. Dia tidak akan berani menggoda Sean lagi! Laki-laki ini ternyata pandai menyiksa! Nafasnya habis terus-terusan karena ciuman intens Sean!
"Kak, berhenti!" Peringat Sallyana saat dia merasakan jemari kokoh panjang membelai bagian bawah perutnya.
Sean terbelalak dan tersadar bahwa dia telah dikuasai oleh nafsu yang selalu dia kunci dalam-dalam selama bertahun-tahun. Namun akhirnya kunci tersebut dibuka oleh gadis yang sedang berbaring dibawah tubuhnya saat ini.
Sean memeluk Sallyana lebih erat, menenggelamkan wajahnya pada lekukan leher indah berkulit putih. Sean menghirup aroma wangi dari tubuh Sally dengan rakus. Dia nyaris membiarkan nafsu menguasai dirinya, beruntung Sallyana masih bisa berpikir sehat disela ciuman intens mereka berdua.
"Maaf, kakak lepas kendali."
Sallyana hanya diam karena nafasnya tersengal setelah berciuman selama setengah jam tanpa jeda. Pria Xiao ini benar-benar berniat membuat dia pingsan!
Li Chu dan Wen Luxia menutup bibir mereka rapat-rapat agar tidak berteriak girang. Dilantai bawah, Yi Zhi geleng-geleng kepala melihat Li Chu dan Wen Luxia menguping diluar kamar Sallyana.
"Mereka sangat manis, aku semakin rindu pacarku," keluh Wen Luxia dengan suara pelan sekali.
"Masih mending kamu memiliki pacar, aku tidak punya sama sekali."
"Ajak saja Kak Zhi berkencan."
Li Chu seketika menoleh ke bawah, melihat Yi Zhi yang juga menatap area lantai dua.
Seolah bisa bertukar pikiran lewat telepati. Yi Zhi menyilangkan kedua tangan di depan dada, menolak Li Chu lagi dan entah sudah penolakan yang keberapa kalinya.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (507)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
Hii...sudah aku kasih bintang lima .🥰 semangaat yaaa
12/04/2022
6hihii aku sudah kasih bintang lima cara bikin kaya gini gimana ya kak author
10/08
0bagus alur cerita nya
19/07
0Lihat Semua