logo text

#59. Pembatalan Pernikahan

Semua pegawai perusahaan tertunduk usai perempuan dengan perawakan ramping masuk dari pintu depan. Javira tersenyum lembut dan membantu beberapa pegawai untuk bangun, dia juga memberikan semangat untuk para pekerja hingga para pekerja menjadi lebih semangat bekerja.
Melani masuk ke ruangan pribadi Presdir setelah resepsionis menelfon dari lantai satu dan memberitahu bahwa Javira sedang dalam perjalanan ke lantai atas dan kemungkinan ingin bertemu Presdir.
"Tuan, Nyonya Javira datang ke kantor dan kemungkinan akan datang kemari menemui anda karena tidak ada jadwal rapat yang mengharuskan beliau turut serta." Lapor Melani begitu masuk dan berdiri anggun didekat pintu.
Januar melepas kaca mata dari wajahnya, meletakan pena kemudian beranjak. "Biarkan Mama langsung masuk bila ingin bertemu. Kamu ambil semua dokumen ini, cek kembali apa masih ada yang terlewat, jika ada tandai saja dan letakkan kembali dimeja."
"Baik, Tuan."
Melani mendekati meja kerja Januar, meraih tumpukan dokumen yang jumlahnya sangatlah banyak, mengingat dokumen hasil rekapan selama setahun tidak sedikit, Melani cukup kesusahan namun berhasil membawa semuanya sekaligus.
"Melani, lama tidak berjumpa!" Sapa Javira dari kejauhan dilorong yang menghubungkan dengan ruangan Presdir seorang.
Melani terkejut dan segera sedikit membungkuk. Nyonya benar-benar cepat sampai kemari. "Lama tidak berjumpa juga Nyonya. Anda semakin cantik dan selalu terlihat awet muda seperti biasa. Bagaimana kesehatan anda akhir-akhir ini?"
Tertawa kecil sembari menepuk bahu Melani, Javira menjawab dengan keluhan, "Agak buruk karena putraku sering membuat aku berpikiran tentang hal-hal yang tidak perlu. Anak itu juga berani menjadikan Nona Zhou sebagai ambassador tetap Lavana tanpa meminta persetujuan dariku. Aku masuk dulu."
"Ya, Nyonya, saya harap anda selalu sehat dan baik-baik saja."
Javira melenggang pergi meninggalkan tempat sekretaris utama. Berlalu menuju ruang kerja pribadi Januar yang dulu adalah tempatnya bekerja juga selama masih menjabat sebagai Presdir Lavana. Saat pintu terbuka, punggung putranya adalah pemandangan pertama yang menyambut.
"Januar."
"Mama ada perlu apa datang kemari?"
Keduanya berbicara bersamaan.
Januar menyentuh dahi, balik badan kemudian berjalan ke sofa. Duduk di sana dengan kaki tersilang, tangan kirinya menepuk sisi yang masih kosong, "Mama duduk sini."
Javira berjalan ke sofa dan duduk di sana, menaruh tas dulu ke meja baru mulai bertanya, "Aku dengar kamu ingin menjadikan Nona Zhou sebagai ambassador tetap di Lavana kita?"
"Dari mana Mama tahu? Hal itu masih privasi, cuma Januar, Melani, dan beberapa orang yang tahu. Rencananya aku mau mempublikasikan informasi ini bulan depan."
Mencubit setengah tenaga kulit tangan putranya, Javira mulai marah-marah, "Bagaimana bisa kamu mengundang model lain disaat tunanganmu sendiri adalah seorang model? Alea cocok dengan citra Lavana! Kamu juga tidak berunding dengan Mama untuk bekerja sama dengan XO Entertainment!"
Cubitan Javira tidak terasa sama sekali pada kulit keras Januar. Pria tersebut menarik lengan kirinya agar tidak mendapatkan cubitan lagi. "Mama sudah pensiun. Urusan kantor biar Januar yang urus. Mama bilang Alea cocok? Tapi bagi Januar, Nona Zhou lebih cocok dengan citra Lavana kita. Bulan Desember adalah puncak promosi dan Januar yakin kerja sama kali ini akan mendapatkan respon baik. Nona Zhou terkenal di Benua Asia dengan jumlah fans dan pengikut melebihi angka lima puluh juta jiwa. Mama masih berniat menolak?"
"Lebih dari lima puluh juta fans?"
"Benar, itu adalah perkiraan fans yang berasal dari Benua Asia, karena Nona Zhou belum debut sebagai model internasional, minim orang dari Eropa mengetahui tentangnya namun Nona Zhou juga punya sepuluh sampai lima belas juta fans dari Benua Eropa."
Alea tadi pagi pergi ke rumah dan mengadu ke Javira, oleh sebab itu dia langsung datang kemari ditengah kegiatan bersantai. Tidak disangka pilihan anaknya ternyata adalah model dengan jumlah fans sebegitu banyak. Bahkan jumlah fans melebihi milik Alea. Bila memandang dari segi bisnis, Javira harus setuju dengan Januar, tapi bila memandang dari sudut Ibu Menantu, dia harus membantu Alea.
Januar tahu seberapa cinta Javira pada dunia bisnis dan Lavana yang sudah dianggap sebagai anaknya sendiri. "Nona Zhou juga dijuluki sebagai Sold Out Queen karena setiap baju yang dia pakai dan benda yang dia gunakan akan cepat terjual habis dipasaran. Untuk pakaian berharga tinggi akan ludes dalam waktu satu mingguan sedangkan untuk pakaian dengan harga sedang bisa ludes dalam waktu satu hari dan setelah produsen melakukan produksi ulang, barang akan langsung habis pada hari yang sama setelah informasi re-stock tersebar."
"Berapa lama dia berkarier?" Javira mulai tertarik dan kemungkinan akan setuju membiarkan Nona Zhou menjadi wajah baru bagi Lavana yang menjadikan warna putih sebagai warna lambang. Yang berarti mencerminkan kesegaran serta kesan elegan yang minimalis dan sopan.
"Kurang lebih hampir delapan tahun." Balas Januar santai. Lengan kanannya menarik majalah yang tersimpan dibawah meja. Dia menyerahkan majalah itu ke Javira, "Ini sempel dari brand terkenal di Tiongkok yang sempat berpromosi awal musim semi lalu dan menjadikan Sallyana sebagai model mereka."
Javira menerima majalah pemberian Januar. Ia langsung terpikat dengan aura elegan dan sopan milik Nona Zhou yang berada dalam balutan gaun berwarna merah muda. "Dia memang lebih cocok. Tenangkan Alea dulu atau dia akan mengganggu Mama terus. Mama setuju dengan pilihan kamu. Perkenalkan kami berdua ketika Nona Zhou sampai di Paris."
Januar tersenyum senang. "Ya, Mama bisa tenang."
***
"Pernikahan akan dilaksanakan pada awal musim semi, ini kesepakatan bersama dan keputusan sudah diambil!" Kakek Xiao memandang bergantian antara Sallyana dan Sean. "Kalian ini sudah lama tunangan tetapi terlalu lama menunda pernikahan! Aku ingin gendong cucu tahu!"
Perhatian semua orang beralih pada meja makan tempat ketiganya berada. Sean tersenyum canggung dan meminta maaf secara sopan karena telah mengganggu acara makan orang lain. Pria itu beralih ke Kakek Xiao, "Baiklah, kami akan menikah di awal musim semi tahun besok. Tapi Kakek tenangkan diri dulu, semua orang memandang kita."
"Benar, Kek. Lagian kakek juga sudah tua, jangan sering berteriak-teriak atau gigi kakek bisa copot semua," imbuh Sallyana dengan ekspresi serius.
"Kamu gadis kecil! Pintar sekali meledekku!"
Sean menahan tawa, hanya Sallyana yang berani mengejek kakek secara terang-terangan di depan wajahnya langsung.
"Lebih baik kita makan, makanannya bisa dingin."
Kakek Xiao tiba-tiba beranjak, "Aku lupa ada urusan yang belum di urus!" Tanpa menunggu respon lawan bicara, pria tua tersebut lantas berlari kencang meninggalkan kawasan restoran. Menyisakan Sallyana dan Sean saja dimeja makan.
"Aku rasa ini rencana Kakek untuk kita? Akhir-akhir ini semuanya tahu kita jarang menghabiskan waktu berdua karena sibuk bekerja," kata Sean sambil memotong daging panggang dipiring putihnya.
Sallyana angguk sekali, "Bisa jadi. Apa kakak benar-benar sanggup menikahi aku awal musim semi tahun depan?"
"Tentu, kakak sudah siap."
"Tapi aku rasa tidak, selama tujuh tahun ini kita jarang melakukan hal romantis selayaknya hubungan asmara antara lawan jenis. Setiap kita bertemu, kakak membahas bisnis dan binis, pada akhirnya setiap bertemu kita hanya akan berbicara dengan topik seputar bisnis."
Gerakan tangan Sean berhenti diudara sebelum pisau bisa menyentuh permukaan daging. Wajahnya menatap lurus ke depan, melihat Sallyana yang tersenyum simpul padanya. "Aku tahu, aku minta maaf." Ketertarikan Sean diawal pertemuan mereka ternyata hanya karena Sallyana adalah sosok tulus yang terbuka dan bukan tipikal perempuan penuh siasat yang pernah dia temui di masa lampau.
Sallyana berinisiatif untuk menyentuh tangan kiri Sean yang berada di atas meja. "Kalau kakak belum bisa mencintai, jangan mencoba untuk menikahi."
"Kamu mencintai aku?"
Pertanyaan Sean yang mendadak sedikit mengejutkan Sallyana. Ini kali pertama seorang Xiao Sean bertanya apa dia mencintainya. Dengan lugas, Sallyana menjawab mantap, "Aku akan mencintai seorang pria yang juga bisa mencintai aku dan menghormati aku secara pantas."
"Lalu dari mana kamu menebak kalau kakak tidak menaruh perasaan ke kamu?"
"Sorot mata waktu memandang. Sallyana bukan gadis polos yang belum pernah berpacaran. Dulu pun Sally pernah merasakan rasanya dicintai dan dimanjakan oleh seorang pemuda. Sally tahu betul jenis tatapan lelaki yang sedang mencintai."
Untuk satu ini, Xiao Sean baru tahu jika Sallyana pernah berpacaran. Ia pikir gadis didepannya tidak akan menyentuh dunia asmara para remaja karena sifat Sallyana yang lebih suka bersenang-senang atau bermain.
Sean menaruh kembali pisau dan garpu ke tempatnya. Kedua lengannya yang dilapisi jas—tersilang diatas meja. Kepala Sean menunduk dan helaan nafas terdengar keluar dari bibirnya, "Kakak sayang kamu, tapi belum ke tahap cinta."
Tidak ada perasaan kecewa dihati Sallyana karena sejak awal dia tidak pernah berpikir akan jatuh cinta lagi setelah tersakiti oleh rasa tersebut sebanyak dua kali di masa muda. Namun jika memang dia harus menikah, maka dia akan mencoba mencintai suaminya sebab itu ialah tugasnya. Namun bila pria yang akan menjadi suaminya tidak mencintainya, maka Sallyana juga tidak akan berusaha mencintai.
"Mungkin pembatalan pernikahan terdengar bagus. Aku nggak mau ketika kita menikah nanti, kakak tiba-tiba menemukan perempuan yang kakak cintai dengan serius. Jika itu terjadi, cinta yang coba aku bangun untuk kakak hanya akan berakhir dengan kesia-siaan yang percuma."

Komentar Buku (507)

  • avatar
    AfianiIrma

    Hii...sudah aku kasih bintang lima .🥰 semangaat yaaa

    12/04/2022

      6
  • avatar
    Auliaa Auliaa

    hihii aku sudah kasih bintang lima cara bikin kaya gini gimana ya kak author

    10/08

      0
  • avatar
    Rino Juni

    bagus alur cerita nya

    19/07

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru