logo text

#5. Jauhkan Lotus dan Iblis Wajah Poker

"Januar, sarapanlah dulu," ujar perempuan yang pergi ke bidan semalam bersama Januar.
"Nggak perlu, jangan sok baik. Gue ngebantuin lo karena Kak Jenuar bakal lakuin hal yang sama kalau dia ada disini. Jadi, jangan belagak akrab."
Perempuan tadi merunduk, meremas gagang pisau di tangan kanannya. Menahan rasa sesak memenuhi rongga dada, memberikan asap panas membakar hati membuatnya ingin menangis karena rasa sakit. Luka menyakitkan tanpa mengeluarkan darah adalah luka yang lebih mengerikan daripada luka sakit disertai darah.
Januar tidak perduli, melenggang pergi meninggalkan kediaman Abimanggala. Ayahnya jarang sekali pulang ke rumah, kalaupun pulang, pria tua berwajah tampan tersebut hanya mengunjungi perempuan tadi.
Mengunjungi dilanjutkan berbuat cabul tanpa rasa malu di dalam rumah.
Semua masalah di keluarganya hadir karena perempuan tersebut. Mata elangnya memerah, mengatur nafas dan menetralkan emosi yang membara dalam hatinya. Sekeras apapun Januar di luar, dia masih remaja pada umumnya. Selalu mengidamkan keluarga bahagia, bertingkah manja kepada mamanya seperti dia masih kecil dulu.
Tapi takdir tidak mengizinkan, Mamanya di renggut beberapa tahun yang lalu, meninggalkan bekas luka mendalam pada lubuk murni Januar. Mengubah pemuda yang semula baik hati, ramah, dan sopan menjadi anak urakan tanpa aturan. Membuat onar dimana-mana, terlibat tawuran frontal, dan balapan liar.
Januar baru telah lahir dari kekejaman lingkaran takdir, menciptakan sosok tanpa belas kasihan yang memandang rendah manusia sejenis Revaldi- Papanya sendiri.
Tipe manusia penuh pencitraan demi ketenaran dalam dunia hiburan, mencampakkan keluarga demi karier. Bermain banyak wanita di belakang mamanya, menekan kakak sulungnya menjadi orang sukses dan pandai agar namanya tidak tercoreng jika memiliki anak bodoh.
Tapi apa? Setelah semua keinginan sepihak penuh paksaan Revaldi pada Jenuar dan ambisiusnya tercapai dalam menumbuhkan putra sukses dalam dunia politik serta perekonomian, hati hitamnya justru menumbuhkan iri serta dengki pada putranya sendiri.
Merasa benci karena putra sulungnya di puji dimana-mana melebihi dirinya sendiri, di mana ada Jenuar maka pujian tidak akan lagi terpusat pada Revaldi.
Jawab pertanyaan Januar, Ayah mana yang begitu tolol sampai membenci anaknya sendiri? Bukankah keparat tua itu yang memaksa Jenuar untuk berjaya menembus langit secara paksa? Membuat Jenuar sering depresi, tertekan, sampai ingin mengakhiri hidupnya sendiri karena hidupnya selalu di kontrol oleh Revaldi, penuh tuntutan, paksaan, dan wajib mencapai hasil memuaskan.
Ninja merah milik Januar membelah jalanan kota, melaju kencang menyalip kendaraan di depan, lagi-lagi dia mendapatkan umpatan serta kutukan dari pengendara lain.
Ini masih pagi dan moodnya sangat buruk, luka masa lalu terlalu lekat pada ruang memori di otak kecilnya. Membayangi tanpa henti, memutar ulang semua kejadian secara nyata di alam bawa sadarnya, mengingatkan segala kebencian, dendam, dan kedengkian yang dia miliki untuk Revaldi.
Dari perasaan iri Revaldi--lah semua masalah akhirnya muncul, di ikuti perempuan lugu yang paling di benci oleh Januar. Menciptakan masalah hingga mamanya mengalami kondisi drop berbulan-bulan dan menghembuskan nafas terakhir tepat di depan mata Januar. Setelah itu, Kakaknya- Jenuar dengan tubuh penuh warna merah menyala tidak berdaya tepat di depan matanya.
Masalah yang terus hadir membuat dirinya dan kakak perempuannya—Joana depresi. Pada akhirnya Joana memilih tinggal di luar negeri agar tidak melihat Revaldi, berharap bayangan masalah keluarganya hilang jika dia menghindari wajah penyebab masalah terjadi.
Tapi Januar tidak bisa pergi bersama Joana, dirinya memilih tetap disini bersama kenangan penuh hujaman warna indah bersama sang mama dulu. Memilih pola fikir bertolak belakang dari pemikiran Joana.
"Januar!" seru Galen, berlari dari arah parkiran bersama Rama si gendut, Vernon dan Alvin. "Tungguin kita, bro!" tambahnya, dia mengedipkan mata pada guru biologi baru, masih muda dan cantik.
Alvin menoyor kepala Galen dari belakang, "Guru jangan di embat, sopan santun di pake!"
Mendapatkan toyoran dari Alvin, dia memutar bola mata malas. Memangnya kenapa jika yang dia goda adalah guru? Lagipula di saat mereka berada di luar lingkungan sekolah, mereka bisa menganggap Bu Lisa sebagai kakak senior cantik. Bukan guru yang harus di hormati para murid.
Januar terlalu malas untuk menanggapi, tetap berjalan menelusuri lorong menuju kelas. Auara menyeramkan mengelilingi setiap langkahnya, membuat anak-anak dari berbagai tingkat menyingkir saat insting mereka mendapati sinyal bahaya dari Januar.
Memilih menjauh daripada bermasalah dengan iblis tampan berwajah poker—Januar Alghaisan Abimanggala.
"Kenapa itu anak? Susah boker apa gimana? Mukanya ketekuk kayak gitu," tanya Galen, jas sekolah terikat di pinggangnya yang kokoh. Dia adalah cowok yang cukup alay, beruntung wajahnya tampan dengan setuhan baby face. Membuat para gadis-gadis tidak tega jika harus ilfeel pada bayi tampan satu ini meski gesrek dan alay melebihi standart.
Rama mengedot susu kotaknya, "Masalah di keluarganya lagi, kalik? Januar cuma masuk kelas pagi kalau beneran lagi mode mood jelek. Milih ngorok di kelas daripada nongkrong bareng kita."
"Jangan ikutin dulu, dia mungkin butuh waktu sendiri. Gue takut balik-balik muka ganteng kita penyok di jadiin samsak pelampiasan Januar," beo Alvin.
Vernon setuju, "Bener, mending kita juga masuk ke kelas masing-masing. Udah mau kenaikan jangan sering bolos."
Galen merangkul Vernon, kelas mereka sama, "Emang cuma lo di sini yang ngajak di jalan lurus. Ulangan nanti jangan lupa kasih gue contakan, ya?" mohonnya.
Vernon menyapu temannya dengan tatapan dingin seperti biasa, "Gue contekin kalau jam ulangannya udah abis."
"Ya percuma tolol lo ngasih contekan!" kesal Galen.
Alvin dan Rama tertawa terpingkal-pingkal, terasa menyenangkan melihat Galen mencak-mencak kesal seperti monyet kala menghadapi Vernon bermuka es dingin dan selalu datar seperti dinding kelas.
Januar masuk ke kelas, berjalan menuju bangkunya. Aura suram dari tubuhnya semakin menguar membuat kelas yang semulanya ramai menjadi hening, bahkan untuk bergerak tidak berani, takut memancing suara sekecil apapun.
Guru Musik—Bu Jennie berhenti di depan pintu, baru saja kembali dari toilet. Dia ikut menahan nafas, merasakan aura sunyi mencekat, membuatnya ingin lari dan kembali ke ruang guru saja.
Sebagai guru, dia juga ikut takut merasakan aura Januar. Anak itu memiliki aura mematikan ditambah mata setajam elang, menyipit seperti pedang ketika marah. Siap menghunus para musuh hanya dengan mata setajam pisau miliknya.
Sally memakan roti selai strawberry, "Uhuk! Uhuk!"
Semua atensi menuju asal suara, Mina memutar kursi ke belakang, menyodorkan botol minuman pada Sally yang tersedak oleh roti.
Merasakan semua tatapan tertuju pada dirinya, Sally merasa bingung, dia lalu menatap Januar dan Fero yang ikut menatap dirinya, "Apa liat-liat? Ngajak ribut?"
Mina hampir tertawa terbahak-bahak melihat muka masam sepupunya, akhirnya ada yang berani menantang setan satu ini.
Ivan selaku ketua kelas tidak berani melerai, ekor matanya menangkap sosok Bu Jennie. Ia segera mengalihkan tatapan pada guru muda di ambang pintu, memohon untuk melerai dua teman kelasnya.
Bu Jennie justru memberikan gelengan kepala, takut, dua anak itu—Fero dan Januar termasuk anak dari orang penting di SMA Galaksi. Bu Jennie takut kariernya akan di pengaruhi setelah ikut campur urusan dua muridnya ini, apalagi Januar, dia tidak akan berhenti menganggu orang yang telah mengusik amarahnya.
"Lo minggir, ini tempat gue," ucap Januar.
Fero tersenyum ramah, memperlakukan Januar seperti kawan lama, "Kenapa sangat pelit? Sebagai teman harus saling berbagi, bukan?"
"Banci macem lo nggak pantes jadi temen gue, minggir." Januar menarik kerah jas serta kerah seragam Fero sekaligus dalam satu tarikan.
Bu Jennie kabur memanggil guru BK.
Siapapun! Jangan satukan Bunga Lotus kesayangan bersama Iblis Wajah Poker!
Tidak tahan lagi duduk di lingkari aura sunyi mematikan, Sally memasukan potongan terakhir dari roti strawberry kesukaannya.
Mulutnya masih penuh, mengepak rok dan seragam sebelum bangkit. Mina merasa temannya ini akan melakukan sesuatu, segera saja dia bertanya, "Mau ngapain lo?"
"Mau ngelerai dua anak tuyul, di belakang aku aja masih ada bangku kosong satu kenapa pada rebutan dan nggak ngalah?"
Melihat Januar akan beradu pukul dengan Fero, Sally segera berlari menarik ransel sesia dari belakang. Menariknya mundur sebelum pukulan Fero benar-benar maju menghantam wajah tampannya.
Waw, mereka sepertinya akan melihat drama mengasyikan. Batin murid kelas 11-3.
"Jauhin tangan lo! Kenapa lo sibuk ngurus urusan orang?!" tangan kanannya menjepit lengan kurus Sally dalam genggaman kencangnya. Membuat sang empu meringis.
"Jangan kasar sama cewek," cerca Fero.
"Sok jadi manusia suci?"
"Gue serius, lepasin Sally."
"Lo suka sama-ah!"
Januar melepas cekalan, bergegas membuka lengan jas bagian kanan dan menemukan cetakan gigitan gigi berwarna merah terukir di atas kulit putih halusnya.
"Ngapain lo gigit gue?!"
Sally mencebik kesal, tanpa menjawab langsung menarik Januar mundur, tidak menyerah meski badan kokoh di depannya sulit untuk di gerakkan oleh tarikan kecilnya.
Wajah cantiknya mengerut, kedua tangannya tetap menarik ransel Januar agar tubuh pemuda itu sedikit mundur, sial, kenapa badannya jadi berat dan susah di geser meski telah dia tarik?
Melihat kebodohan Sally membuat Januar tidak tahan, dia menjegal kedua kaki ramping dari belakang.
Fero segera menarik tangan Sally sebelum tubuhnya jatuh, merangkap dan menarik ke dalam pelukannya. Memeluk erat tubuh yang lebih kecil dari tubuhnya.
Melihat adegan ganjal di depan mata, Januar menukikan alis sehitam tinta, jika saja dia adalah seorang vampire, maka mata hitamnya akan berubah menjadi merah darah karena menemukan sesuatu yang menarik.
Sepertinya dia menemukan bahan baru mengasyikan untuk membuat alasan kembali bersaing dengan Fero.
"BERHENTI JANGAN BERKELAHI!" Pak Bram selaku guru BK berteriak lantang, bahkan dia belum sepenuhnya masuk ke dalam kelas.
Anak-anak murid menatap Pak Bram, wajah mereka semua masih cengo.
Mata terlindungi kaca mata bulat besar meneliti semua anak murid, mana perkelahian? Tidak ada perkelahian, yang dia lihat justru adegan Fero memeluk tubuh Sally seperti memeluk istri kecil kesayangan.
Pak Bram menatap Bu Jennie, "Bu, mana perkelahian? Malah adanya anak murid pacaran di jam kelas lagi berlangsung, ckckck."
"Loh tadi Januar dan Fero ..."
Kelas kembali berjalan lancar sesudah kesalah fahaman Bu Jennie dengan Pak Bram selesai. Ketika jam kelas musik sudah akan habis, tugas berkelompok dua orang di bagi oleh guru.
"Kalian mendapatkan tugas berkelompok dua orang, di pertemuan kita minggu selanjutnya Ibu mau kalian membawakan sebuah lagu dan wajib menggunakan alat musik jadi tidak boleh bernyanyi di iringi musik dari alat elektronik. Untuk kelompok, Ibu yang akan membagi."
"Baik Bu!"
"Sebelum Ibu membagikan kelompok, akan Ibu tuliskan daftar lagu yang nantinya kalian dapat memilih satu untuk di tampilkan. Jadi musik yang di bawakan pun tidak bebas ya, anak-anak."
"Mengerti Bu!"
Fero sesekali mencuri pandang pada kaki Januar yang mendorong-mendorong kursi Sally dari belakang. Menganggu tanpa henti. Dia sepertinya tau kenapa Januar berubah menjadi usil terus-menerus, mengusik ketenangan cewek cantik baru ini.
Kompetisi perebutan hati seperti dulu dimulai lagi? Tatapan Januar bertemu dengan tatapan Fero, mereka secara bersamaan tersenyum seolah paham pemikiran dan maksud dari satu sama lain.
Sally membalikan badan ke belakang, menemukan sesia a.k.a toge menjengkelkan tengah tersenyum manis padanya seperti anak tk. Jangan bilang cowok ini gila setelah mendapat gigitannya? Mata kucingnya menyipit, apa gigitannya mengandung virus gila?
Kursinya kembali di sentak dorongan kaki Januar dari belakang, kesadarannya kembali, mendesis tajam pada cowok di depannya. Dia mengumpulkan tenaga, mendorong meja di depannya hingga menjepit tubuh Januar, tubuh kokohnya terdorong ke belakang.
Duk!
Kepala kursi terkantuk dengan pintu loker, Januar harus bersyukur karena jika jarak kursi dan lokernya sedikit jauh beberapa centimeter maka tubuhnya sudah akan tumbang dengan memalukan di lantai.
Tidak marah, Januar justru tersenyum mendapatkan perhatian dari teman-temannya bahkan Bu Jennie.
"Januar, kursi kamu kenapa bisa ke dorong sampai belakang? Itu juga, mejanya kenapa jadi mundur banget?"
Januar menunjuk Sally yang meringkas materi dari Bu Jennie ke dalam buku catatan, "Ulah Sally Bu, dia marah karena saya mau ngajak kencan dia di dekat sungai bukan di restoran romantis."
Semua orang menjatuhkan rahang kecuali Fero, matanya menyipit tajam. Januar bergerak begitu cepat, dia juga harus bergerak cepat jika ada kesempatan nanti. Dia pasti akan lebih unggul dari pengrusuh ini.
Bu Jennie bingung harus tertawa renyah atau marah, tapi dia berkata final, "Karena kalian sepertinya dekat, kalian jadi kelompok untuk tugas ini."
Mina menepuk lutut Sally, tangan kanannya sibuk menulis. Memberikan temannya tepukan harap tabah dalam menghadapi cobaan satu ini. Berdo'a saja Januar tidak akan membuat Sally gila setelah satu kelompok dengan iblis tampan kebanggaan gadis-gadis SMA Galaksi.

Komentar Buku (507)

  • avatar
    AfianiIrma

    Hii...sudah aku kasih bintang lima .🥰 semangaat yaaa

    12/04/2022

      6
  • avatar
    Auliaa Auliaa

    hihii aku sudah kasih bintang lima cara bikin kaya gini gimana ya kak author

    10/08

      0
  • avatar
    Rino Juni

    bagus alur cerita nya

    19/07

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru