logo text

#52. Pasti Bertemu Kelak

Sallyana sampai ke rumah besar milik Keluarga Xiao. Perempuan itu masih memeluk kelinci putik gemuk digendongan. Leon tertidur terlalu nyaman hingga tidak bangun-bangun walau hanya ngelantur sebentar.
Madam Xiu berdiri di depan pintu, berjaga bersama beberapa barisan maid senior yang sudah sedari lama bekerja di sini untuk waktu lama. Mereka semua menunduk hormat begitu Sean dan Sallyana tidak berada jauh dari pintu.
"Selamat datang Tuan Muda dan Nona Muda."
Nyonya Xiao berhenti menata piring berisi makanan ke meja. Dia sengaja memasak sendiri semua masakan kali ini karena Sallyana pasti lapar setelah menaiki pesawat dan terbang kemari. Nenek Zhou bilang cucu kecilnya satu ini sangat suka makan dan porsi makannya agak keterlaluan seperti tukang kuli bangunan. Alhasil Nyonya Xiao memasak cukup banyak makanan.
Perempuan paruh baya itu berlari ke depan dan tersenyum lebar menyambut Sallyana.
Sean mencium sebelah pipi sang Ibu, "Aku masuk dulu."
"Jangan buru-buru masuk kamar, temani Sallyana makan malam. Dia pasti lapar, Ibu perlu kembali menemani Ayahmu yang badannya tiba-tiba panas."
"Panas?" Sontak kening Sean berkerut bingung. Dia rasa Ayah baik-baik saja selama satu hari ini. Bahkan sore tadi Ayah masih bisa bersepeda selama dua jam penuh. "Bu, bukannya Ayah sebelumnya—"
"Sean, orang sakit tidak bisa diprediksi kapan sakitnya, aku benar kan Sallyana?" Nyonya Xiao beralih ke anak gadisbdi depannya yang selalu diam.
"Uh? Biasanya kalau tiba-tiba suhu badan menjadi tinggi kata Mama karena kebanyakan minum es. Mungkin Paman kebanyakan minum es sebelum tidur dan berakhir panas."
Sean mengangguk, sebelum tidur Ayah memang suka meminum kopi susu dicampur es batu. Dia sudah ratusan kali memberi peringatan untuk menghilangkan kebiasaan ini tetapi Ayah terlalu keras kepala. "Ibu jaga Ayah, biar Sean yang nemenin Sallyana makan malam."
"Nah, bagus. Madam Xiu, tolong kamu bawa koper sama tas Sallyana. Bawa ke kamar kosong disebelah kamarnya Sean." Titah Nyonya Xiao pada perempuan tua didekat pintu, lalu berpaling ke Sallyana, "Nak, aku adalah Ibunya Sean. Kamu bisa memanggil aku dengan sebutan Ibu, anggap saja seperti rumah sendiri. Ibu naik ke atas dulu."
"Iya, Ibu. Makasih udah kasih izin ke Sally buat tinggal di sini dan ngerepotin kalian."
"Enggak, enggak repotin sama sekali. Sana ke meja makan bareng Sean, kalau mau cuci muka minta anter ke salah satu maid. Ibu naik dulu."
Sallyana melambaikan tangan pada Nyonya Xiao. Lantaran pegal menggendong kelinci gemuk dikedua tangannya sedari lama, dia menyerahkan kelinci ke salah satu maid agar dibawa ke kamar bersama kandang besinya yang dibeli dadakan oleh Amaranggana selama perjalanan menuju bandara.
"Mau cuci muka dulu atau makan?" Sean bertanya sembari melepas jaket hitam miliknya lalu menyerahkan ke maid untuk dibawa ke kamar.
Sejenak, Sallyana diam seribu bahasa. Ekspresinya agak takut-takut sebelum berkata, "Serius kan Sally boleh anggap rumah ini seperti rumah sendiri?"
Kepala Sean sedikit miring ke kiri karena heran, "Boleh." Untuk apa bertanya mengenai hal demikian?
"Kalau gitu—mau makan!" Tanpa buang waktu lagi gadis tinggi itu langsung berlari ke meja makan yang dekat dengan ruang tamu. Berlari senang menghampiri anak-anaknya yang sudah selesai dimasak dan siap disantap. Huhu, dia sangat lapar selama penerbangan kemari apalagi lidahnya tidak cocok dengan makanan dipesawat!
Sean dan Madam Xiu dibuat terkejut oleh kecepatan Sallyana dalam berlari, lebih terkejut legi sewaktu melihat Sallyana mulai memakan segala hidangan yang tersedia di atas meja makan.
"Madam, apa kau berpikiran hal yang serupa seperti yang sedang aku pikirkan?"
Madam Xiu mengacungkan jempol, "Tentu saja Tuan Muda."
"Aku rasa aku telah membawa seekor anak panda dengan porsi makan mengerikan. Ini, ambilah Madam." Sean tiba-tiba merogoh saku celana tidurnya dan mengeluarkan kartu kredit yang dia bawa ketika berangkat ke bandara tadi. Sean memberikan kartu itu ke Madam Xiu, "Besok pagi mintalah beberapa maid belanja lebih banyak stok makanan. Jangan sampai keluarga kita kehabisan stok bahan makanan karena menampung satu anggota keluarga baru. Aku pikir itu akan memalukan andai saja Kakek mendengarnya."
Madam Xiu menangis haru, ini kali pertama Tuan Muda ikut menyokong uang belanja bulanan bahan makanan. "Baik, baik, saya laksanakan. Saya berjanji keluarga ini tidak akan pernah kelaparan atau kekurangan bahan makanan meski terdapat satu anggota keluarga baru."
Selang setengah jam, Sallyana selesai makan banyak hidangan makanan. "Hik!" Cegukan muncul tanpa dia minta. Iris karamelnya terangkat untuk melirik Sean yang ternyata juga menatap dirinya setelah mendengar suara cegukan. Pria di seberang menahan tawa dan kembali menghadap laptop.
Telinga Sallyana memerah karena malu. Ia beranjak dari kursi, "Sally mau pergi tidur dulu, makasih atas makanannya Kak Sean. Makasih juga Madam Xiu dan yang lain udah bantu nata barang-barang Sally." Tubuh tingginya sedikit menunduk.
Madam Xiu membantu gadis muda tersebut berdiri tegak, "Nona Muda tidak perlu sungkan, anda adalah tamu penting Tuan dan Nyonya. Ini sudah menjadi bagian dari tugas kami." Perempuan tua Xiu diam-diam melirik Sallyana dan Sean. Dia telah lama menunggu kelahiran seorang anak kecil dirumah besar ini. Aiyo, Nyonya Xiao dan Nenek Zhou sangat pandai mendekatkan dua pasangan yang kelak akan berjodoh ini.
Agaknya mimpinya ingin melihat seorang bayi lahir akan terwujud tidak lama lagi.
Sallyana buru-buru berlari ke kamar tamu yang akan menjadi miliknya selama tiga hari ke depan. Kamar ini pun berhadapan langsung dengan ruang tamu. Terlalu bagus dan mewah untuk dijadikan kamar tamu.
Walau kehidupannya bersama Amaranggana dan bersama Kakek sangat berbeda jauh. Hidup mewah tanpa ditemani keluarga nyatanya terasa sangat sepi. Untuk apa tinggal dirumah besar dan bagus bila tidak ada orang-orang yang kita cintai berada disekitar kita dan menemani kita?
"Gak boleh sedih, cuma beberapa tahun dan Sallyana bisa hidup bareng Papa, Mama, dan Kak Sella lagi!" Semangatnya pada diri sendiri. Bagaimana pun juga dia belum pernah hidup jauh dari keluarga. Itung-itung belajar mandiri tanpa mendapat bantuan Asley dan Amaranggana bila terjadi sesuatu.
Sallyana memandang langit-langit kamar, Leon tertidur di sisi kiri kepalanya dan belum mau bangun meski sudah di colek-colek perut gendutnya. "Huft," helanya bosan.
Selama lima belas menit Sallyana hanya memandang langit-langit kamar. "Sekarang Sallyana udah dewasa, sebentar lagi masuk ke dunia perkuliahan. Harus lebih mandiri, harus lebih pinter, harus bisa sukes kaya Kak Sella. Semakin dewasa seseorang, semakin banyak beban yang perlu dipikul pada kedua pundak."
***
"Alea, maaf jika ini menyakitkan, tapi Januar mau jujur ke kamu. Cinta ini benar-benar telah terbagi untuk kamu dan Sally. Dini hari Sally pergi tanpa pamit dan waktu aku bangun, dia udah pergi ke Shanghai. Sedari awal, aku udah tahu hal ini pasti terjadi karena alasan kita kembali berhubungan hanya sekedar untuk menambah kenangan bersama. Tapi, Januar tetap merasa kehilangan."
Ruang rawat rumah sakit dipenuhi oleh aroma obat khas. Seorang anak gadis berkulit putih pucat dengan tubuh kurus terbaring di atas bankar rumah sakit kurang lebih dua tahun itu belum kunjung sadar dari koma.
Januar terbangun dari tidurnya ketika hari sudah mulai siang. Dia sempat marah-marah ke pengawal yang berjaga di depan karena membiarkan Sallyana pergi begitu saja tanpa membangunkan dia lebih dahulu. Sallyana benar-benar pergi tanpa sepatah kata terakhir, meninggalkan Januar sendirian dan menyisakan seekor kucing yang masih tertidur dikamar.
Seorang dokter memasuki ruangan dan menepuk pundak Januar pelan, "Pasien siap untuk dipindahkan."
"Ya," balas Januar tak bertenaga. Paras tampannya pucat dan lesu. Untuk saat ini dia perlu fokus ke kesehatan Alea dan mencari tahu dalang dibalik kecelakaan yang menimpa Alea di masa lalu. Masalahnya dengan Sallyana—dia yakin takdir akan memberikan mereka berdua kesempatan bertemu kembali di masa depan. Januar yakin itu. Dia dan Sallyana pasti akan bertemu kembali suatu saat kelak.

Komentar Buku (507)

  • avatar
    AfianiIrma

    Hii...sudah aku kasih bintang lima .🥰 semangaat yaaa

    12/04/2022

      6
  • avatar
    Auliaa Auliaa

    hihii aku sudah kasih bintang lima cara bikin kaya gini gimana ya kak author

    10/08

      0
  • avatar
    Rino Juni

    bagus alur cerita nya

    19/07

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru