Sally mencoret-coret pola abstrak di atas kertas buku tulis. Hiasan kepala kucing bergoyang mengikuti kemana tubuh bolpoin bergerak. Mina menghembuskan nafas, dia sedari tadi berbalik menghadap ke sahabatnya dengan niatan ingin mengajak jajan bersama di kantin. Tetapi melihat wajah masam Sally, dia terdiam, menunggu sampai amarah di wajah gadis itu lenyap di telan bumi. "Mina ngapain liat-liat Sally terus? Inget ya, meskipun Sally sakit hati abis di putusin sama Januar, bukan berarti Sally lesbi suka sama perempuan karena trauma. Mina jangan berharap." Rahang Mina jatuh, mulutnya menganga lebar. Dia? Lesbi? Jangan sampai! "Si bodoh, gue masih lurus, masih demen modelan kek Xuero. Gue dari tadi nungguin elo, muka di tekuk asem bener, nusuk-nusuk kertas buku. Kalau gue ngomong ngajak jajan, pasti lo marah." Mata kucing bernetra caramel mendongak, menatap wajah Mina mencari kebenaran. Sepertinya memang benar, Mina tidak menyukai dia- yang notabenenya sesama perempuan. Dia bernafas lega, "Sally males jajan, mau di kelas aja. Latih skill menggambar." "Gambar apaan anjing, lo dari tadi cuma nyoret sana nyoret sini, hasilnya aja belum bisa di bandingin sama tetangga gue yang masih umuran tiga tahun." Kalimat tajam dari Mina merubah tingkat kebahagiaan di dalam hatinya kian semakin menurun. Wajah cantiknya menggembung kesal, mencoret-coret kertas lagi, kali ini menggunakan kekuatan maksimal. Kertas menjadi robek. Mina menggaruk kepala pusing, menarik satu lengan Sally paksa. Menyeretnya agar mau berdiri, "Udah, mending kita makan, isi tenaga lo. Menangis itu perlu tenaga." Sally diam membisu, masih mempertahankan wajah cemberut. Menggosok hidungnya dengan malas, mengikuti kemana Mina menarik dirinya pergi. Kantin sangat ramai, meja makan semuanya hampir penuh. Mia hari ini tidak ikut ke kantin karena mendadak demam tinggi dan sedang beristirahat di UKS. Mina meninggalkan Sally di depan pintu masuk kantin. Memberikan pesan sebelum berlalu pergi, "Lo di sini dulu, gue pesenin makanan. Tenang, gue yang traktir." Mendengar kata traktir belum bisa menggerakkan hati Sally. Dia sedang badmood, mau di beri hadiah berupa satu pulau pun dari Bapak Presiden, dia tidak akan bisa tersenyum atau bersemangat karena moodnya sudah buruk duluan. Tepukan ringan datang dari bahunya. Sally menolehkan kepala ke samping, paras rupawan milik Alvin adalah hal pertama yang memasuki indra penglihatannya. Dia gugup, tersenyum canggung, "Hai, Alvin." Alvin mengangguk singkat, pemuda itu menyerukan namanya, "Sally." "Ya?" "Kamu ada waktu? "A-ah, aku?" Sally mengangkat jari telunjuk, menunjuk batang hidungnya dengan perasaan kurang percaya. Apalagi wajah Alvin masih beku, sedatar dinding sekolahan, sekeras batu. "Sally setelah pulang sekolah ada waktu luang banyak. Emang kenapa? Alvin mau main ke rumah lagi? Mau numpang makan masakan Mama, ya? Pasti nagih sama mie kuah pedes buatan Mama?" Numpang makan? Yang benar saja! Bahkan uang orang tuanya mampu memberikan kotak makan siang untuk seluruh penduduk di Jakarta! Alvin mengerutkan keningnya secara halus. Sudut bibirnya sedikit terangkat menjadi senyuman tipis. Senyuman langka yang jarang tumbuh di paras tampannya. "Gilak!" Mina hampir terjerembab ke depan dan minuman di kedua tangannya- sedetik saja tidak siaga, bisa jatuh tumpah mengotori lantai. Serius? Alvin senyum? Ini lebih menakutkan daripada melihat Januar tawuran sama anak geng sekolah sebelah satu lawan sepuluh! Sally tidak bergeming mendapati senyuman manis dari Alvin. Masalahnya satu- - belum semanis punya Januar, jadi skip dulu. "Aku bukan mau numpang makan, aku mau ngajak kamu main ke rumah ketemu sama Mama Arenia." Mina di buat terkejut lagi, apa-apaan? Aku-kamu? Ketemuan sama Mama si es batu?! Siapapun, tampar muka Mina! Dia yakin ini semua hanya mimpi! Salah satu perempuan yang duduk di meja tidak jauh dari pintu utama kantin, menyipitkan matanya kesal, memandang tidak suka pada sosok Sally. "Ada hubungan apa dia sama Alvin?" Perempuan berambut pendek yang duduk di dekat gadis berambut panjang mengernyit, "Lo tadi bilang apa?" "Bukan apa-apa," sahut gadis berambut panjang. Gadis berambut pendek tidak mau melepaskan, dia memutar mie ke sumpit berbahan aluminium. Menimpali geli, "Benci sama Sally karena dia bisa dapet senyum dari Alvin?" Gadis berambut panjang merunduk, menyembunyikan rona merah di kedua pipi putihnya. Gadis berambut pendek mengira temannya benar-benar sedang malu setelah melihat senyum si beku Alvin, temannya ini memang sudah sejak lama menaruh hati pada pemuda tersebut. Berbeda dari pemikiran gadis berambut pendek, gadis berambut panjang diam-diam menggigit bibir bawahnya, menajamkan tatapan matanya pada makanan di wadah, Alvin hanya boleh dekat dengannya! Dia tidak lain adalah Velia, termasuk jajaran siswi cantik berdarah setengah eropa. Iris birunya menjadi daya tarik tersendiri dan menjadi ciri khas pada kecantikannya. Bahkan Alvin pernah tertarik pada dirinya meski hanya sesaat, sedari dulu dia selalu membuang semua pemikiran bahwa pemuda yang dia sukai tidak menyukai perempuan. Nyatanya, belum lama ini, dia berhasil menggoda Alvin dan bermain bersama di belakang ruangan gudang lantai atas yang jarang di datangi orang. Tetapi Sally datang waktu itu, beruntung dia tidak melihat gadis yang di setubuhi Alvin, atau jika tidak, dia mungkin bisa ember mengenai Velia yang bermain bersama Alvin. Pelayan dari kantin membawakan nampan berisi makanan pesanan Mina. Alvin hanya memesan minuman kemudian tertunduk bermain ponsel di antara telapak tangannya yang lebar. Mina menatap Sally, lalu Alvin. Menatap keduanya bergantian secara rutin, mencoba menyelidiki hubungan apa yang sedang terjadi di antara keduanya. Mina tahu jika Sally super cantik, mendapatkan pemuda tampan baru setelah putus dengan Januar bukan hal sulit. Andai dia jadi Sally, dia sudah pasti akan menjalin hubungan dengan banyak pemuda tampan kaya raya. Bisa di porotin. Hahaha! Namun Sally bukan gadis gampangan! Januar bersama Galen datang memasuki area kantin, keduanya baru saja selesai bermain di Ghost Restauran dan ingin memesan makanan enak dari kantin. Di restauran, makanannya membuat mereka berdua bosan, sekalian ingin mencari Alvin yang pamit pergi tapi tak kunjung kembali setelah keluar lama. Galen orang pertama yang menangkap sosok Alvin duduk bersama Mina dan Ibu Bos. "Jan, Alvin ngapain duduk bareng itu dua ciwi?" Januar malas menoleh karena dia pikir Alvin sedang membahas sesuatu dengan perempuan. Hubungannya dengan Alvin pun semakin memburuk, dia menjauh perlahan, membuat teman-teman yang lain curiga. Berpikir ada masalah di antara mereka. "Mana gue tahu." Galen mengedikan bahunya acuh, berjalan menyusul di belakang Januar. Dia menoleh ke belakang sekali, masih sangat penasaran. Ia bertanya bingung, "Lo yakin? Itu Ibu Bos sama Mina, lho." Sebutan Ibu Bos merampas ketenangan yang semula tertata rapi di wajah Januar. Pemuda itu menoleh ke belakang, menatap tidak senang karena Alvin duduk bersama Sally. Mereka berdua berbicara ringan sambil saling menunjukkan layar ponsel. Sejak kapan Alvin menjadi ramah dan terlihat menjadi pemuda aktif yang banyak bicara? Galen spontan mengerutkan lehernya, mengecilkan tubuhnya di belakang punggung Januar. Aura pemuda di depan terasa dingin, sedikit tidak menyenangkan. Diam-diam dia mengumpati Alvin secara internal. Sialan, si Alvin! Ngapain harus deket-deket sama Ibu Bos!
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (507)
AfianiIrma
Hii...sudah aku kasih bintang lima .🥰
semangaat yaaa
12/04/2022
6
Auliaa Auliaa
hihii aku sudah kasih bintang lima
cara bikin kaya gini gimana ya kak author
Hii...sudah aku kasih bintang lima .🥰 semangaat yaaa
12/04/2022
6hihii aku sudah kasih bintang lima cara bikin kaya gini gimana ya kak author
10/08
0bagus alur cerita nya
19/07
0Lihat Semua