#27. Sama-Sama Merindu

"Sally!"
Asley memekik senang melihat kepulangan putrinya. Amaranggana yang sedang berada di dapur mengambil minuman langsung keluar terbirit-birit dengan tangan penuh oleh botol minuman serta sepiring kecil berisi kue buatan istrinya.
Sella datang dari undakan tangga lantai dua. Menatap santai kepulangan adiknya, kondisinya basah kuyup, wajah pucat, badan kuyu. Adiknya sedang patah hati jadi biarkan Sally puas-puas menyiksa diri sendiri. Karena jika di tahan, anak itu pasti akan merasa lebih tertekan.
Sella tahu sebab dia pernah mengalami masa muda.
Asley membawa Sally duduk di sofa, berjongkok di depan putrinya. Wajah cantiknya terlihat khawatir oleh kebungkaman mulut putrinya.
"Sayang, kamu kemana aja? Semua telefon Mama dan Papa kamu tolak, kamu lagi sedih atau gimana? Bilang sama Mama dan Papa, kita pasti buat kamu seneng."
Amaranggana setuju, menyodorkan piring berisi kue, "Nih makan dulu, biar ada tenaga kalau mau ngedongeng kisah sedih kamu."
Sally mengerucutkan bibirnya kesal, mendongak memasang wajah merajuk ingin menangis. Sepasang mata kucingnya tergenang air mata.
Amaranggana segera meletakan semua benda di tangannya ke atas meja, "Ulululu anaknya Papa, kebanggaannya Papa, kenapa nangis? Cerita sini cerita, Papa dengerin sayang."
Isakan kecil lolos dari bibir kecil pucatnya.
Asley dan Ranggana memeluk putrinya bersama-sama. Memberikan pelukan penghangat khusus untuk tubuh dingin putrinya. Menyalurkan rasa nyaman dari pelukan penuh kasih sayang.
"Anak cantiknya Mama, jangan nangis, cup, cup, cup ...."
"Jangan nangis sayang, bilang sekarang ke Papa kamu mau beli apa. Papa meluncur sekarang juga, mau Album? Lighstick? Baju baru? Tas baru? Ponsel baru?"
Sella menonton dari meja makan, satu kakinya terangkat bertumpu di kursi, mendengar bujukan Ranggana, dia berseru menggebu, "SAL MINTA PAPA BARU SAL! PAPA BARU!"
Rangga merubah mimik wajah sangat masam dan jelek. Suasana hatinya ikut buruk. Dia ingin merengek pada Asley, menoleh pada istrinya bersiap melakukan rengekan.
Namun Asley memberikan tatapan maut, seolah tatapan itu berkata, "Berani ngerengek kayak anak kecil, aku tepok pantatmu sampai lebam pakai teflon."
Sehingga Ranggana memilih mundur sebelum beraksi. Kembali menenangkan putri bungsunya yang masih setia menangis megap-megap. "Udah dong nangisnya, kamu mandi dulu pakai air hangat. Kita keluar malam ini, mau jajan di luar?"
Melempar kacang ke atas, Sella mendongak, berhasil menangkap kacang langsung masuk ke dalam mulutnya. Menyambung tanpa di undang lagi, "Sewa satu restoran dong Pa buat satu keluarga, biar keliatan kayak orang kaya beneran. Mau Sella pamerin ke story medsos."
"Boleh, Papa masukin nama kamu dulu ke situs prostitusi, hasil kamu ngebaby sugar buat sewa satu restoran."
Sella tersedak kacang, mengambil air minum di tengah meja tergesa-gesa, meminum satu gelas hingga tandas. Mendelik kesal pada ayahnya di ruang tamu, mengumpat pelan, "Alas. Punya Papa nggak berperikemanusiaan banget."
Alas merupakan umpatan china tradisional, bahasa dari tanah kelahiran Ranggana. Bisa berarti Sial, Sialan, dan sejenisnya.
Asley semakin bingung, bagaimana harus menghadapi putri kecilnya ini. Mencolek bahu Ranggana meminta bantuan.
Ranggana mengedikan bahu, "Mana aku tahu caranya," selesai berucap, ia mendapatkan ide. Mengedipkan sebelah mata pada Asley kemudian berjongkok, "Sally jangan nangis lagi, nanti di kasih adek baru, tapi jangan nangis, ya?"
Ajaibnya, Sally benar langsung terdiam. Dia memang menginginkan seorang adik sejak lama. "Janji?"
"Janji. Mulai malam ini sampai satu bulan penuh, Papa genjot Mama kamu sampai teler setiap malam. Biar adiknya cepet muncul."
Meski tidak paham apa yang di genjot. Sally angguk-angguk saja, menurut, asalkan dia bisa punya adik. Kesedihan di hatinya sudah mulai mereda sejak tadi, namun dia merasa nyaman di peluk kedua orang tuanya, berakhir dia keblabasan menangis.
Asley menampar kepala suaminya menggunakan bantal sofa. Membuat Ranggana langsung terjatuh terjerembab ke atas lantai, mengaduh kesakitan atas kekuatan istrinya. Mengeluarkan wajah seolah anak perawan sedang di aniaya dan akan di perkosa oleh lelaki asing.
Sella tertawa terbahak-bahak melihat nasib Ayahnya, "YOK, SEMANGAT YOK! GEBUK PAPA TERUS MA!"
Sally mengusap matanya memakai lengan yang masih terbalut jaket harum milik Alvin. Sontak dia menatap lamat jaket ini, dia lupa mengembalikannya! Alvin tidak mengingatkan dia untuk mengembalikan, jadi Sally juga linglung, lupa kalau kehangatan di tubuhnya hadir karena adanya jaket Alvin.
Rumah menjadi sangat ramai sampai menjelang tengah malam. Encok Rangganana sampai membuat semua tubuhnya pegal-pegal, Sella tertawa puas di tempatnya. Sampai meneteskan air mata saking kerasnya dia tertawa, inilah yang namanya karma datang terlalu cepat.
***
"Januar, kapan Jenuar pulang ke rumah?"
Januar menutup pintu utama. Berjalan lurus, malas menoleh pada wanita di ruang tamu. Melangkahkan kaki ke depan secara tegas.
"Januar, aku bicara sama kamu."
Januar mengabaikan lagi.
"Januar, bisa jawab aku? Aku cuma tanya dan kamu hanya perlu menjawab."
Kesal setengah mati jika harus melihat wajah wanita perusak keluarganya. Januar menjawab tanpa menoleh, "Mulut ini punya gue, jadi terserah gue mau jawab pertanyaan atau enggak. Lo nggak ada hak buat maksa."
Joana dan Jilvy berada di rumah sakit sekarang. Biasanya jika terjadi pertikaian antara Januar dan Airin, Joana selalu hadir menjadi sosok penengah bagi mereka. Mencegah pertikaian berat terjadi. Airin dalam kondisi hamil tua dan siap melahirkan akhir bulan Maret ini.
Berhubung Joana tidak ada. Januar juga tidak akan mengalah, akan membalas semua perkataan Airin dengan jawaban kejam dan terkesan acuh.
"Baik, aku minta maaf kalau udah buat kamu tersinggung dan maksa kamu Januar. Tapi aku juga punyak hak di rumah ini."
Mendengar kata 'hak', Januar seketika tertawa sumbang. Menganggap wanita ini lucu. "Hak? Wanita murahan di larang mendapatkan hak di rumah Abimanggala." Ujarnya sambil lalu, membanting pintu kamar keras. Suara bedebum melonjakkan para maid di dapur.
Airin terduduk lemas terjatuh di atas sofa, merunduk menatap perut besarnya. Dia tidak ingin mengandung anak dari bajingan Revaldi! Dia juga sudah pernah meminum obat aborsi, namun hasilnya gagal. Bayi di dalam perutnya masih tetap hidup dan bertahan, tumbuh sehat sampai sekarang ini.
Jenuar, Jenuar, Jenuar, mendengar berita bahwa lelaki tersebut sadar dari koma tentu saja mendatangkan buncahan rasa bahagia suka cita bagi Airin. Akan tetapi Revaldi melarang siapapun memberitahu Airin dimana alamat rumah sakit yang merawat putra sulungnya, pun Januar dan Joana memang tidak ada niatan untuk memberitahukannya kepada Airin.
Kakak mereka sebaiknya harus menjauh dari Airin agar semua keadaan tidak semakin buruk dan mulai hilang kendali.
Di dalam kamarnya, Januar keluar dari kamar mandi. Tubuhnya di balut handuk jubah, luka di sekitar perutnya telah mengering sempurna menyisakan bekasnya saja. Semua berkat perawatan Sally yang sangat rajin membantu mengobati luka dan mengingatnya supaya menjaga luka tetap kering. Usahakan hindari lukanya dari air ketika sedang mandi.
Ngomong-ngomong, Januar cukup kerepotan dulu, mandi tapi tidak boleh membasahi lukanya atau luka tersebut bisa semakin parah dan membusuk membentuk koreng.
Dia meraih ponselnya di meja komputer, membuka Line. Banyak pesan datang dari Sally, spamnya bukan main, mendekati 1000 pesan. Dia memilih menghindari Sally dan bersikap acuh, ternyata itu bukan hal mudah, melihat gadisnya berjalan dengan tatapan kosong seakan meremat harinya.
Dia merindukan benda manis bertekstur lembut milik sang kekasih.
Ketika bertemu langsung dengan Sally, Januar berusaha menahan rindu di dalam hati. Menghindar, bersikap acuh, dan menjauh sejauh mungkin. Menjaga jarak batas secara jelas di antara keduanya.
Padahal keinginan hatinya saling bertolak belakang dengan keinginan pikirannya. Hatinya berkata, dia harus memeluk Sally sekarang juga, menekannya di dinding, menciumnya hingga kehabisan nafas lalu berbisik mesra di sisi telinga merahnya, "Aku mencintaimu."
Akan tetapi pikirannya menyuruh dia menjauh pergi, menjaga batas, dan wajib bersikap dingin. Dia perlu membuat Sally bosan, jengah, dan marah padanya, dengan begitu, Sally pada akhirnya akan memilih mengakhiri hubungan mereka berdua.
Dan pemikiran Sally berbeda lagi. Mustahil rasanya dia bisa marah pada Januar sekali lagi selain marahan karena hal sepele di masa perkenalan mereka berdua dulu. Untuk saat ini, Sally ingin bersama Januar, menemaninya selalu, jika memang sedang ada masalah pun ia juga siap menjadi pendengar yang baik.
Sally mempunyai satu laki-laki di hidupnya yang perlu dia bahagiakan, yaitu Ayahnya, Ranggana. Dan laki-laki kedua di hidupnya yang perlu dia bahagiakan adalah Januar, dia bukan tipikal gadis mudah menyerah pada hal teramat dia inginkan supaya tetap berada di sisinya.

Komentar Buku (507)

  • avatar
    AfianiIrma

    Hii...sudah aku kasih bintang lima .🥰 semangaat yaaa

    12/04/2022

      6
  • avatar
    Auliaa Auliaa

    hihii aku sudah kasih bintang lima cara bikin kaya gini gimana ya kak author

    10/08

      0
  • avatar
    Rino Juni

    bagus alur cerita nya

    19/07

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru