Di malam bersuhu dingin, taman kota banyak di padati masyarakat lalu-lalang. Semua orang fokus pada urusan masing-masing. Sally berjalan berdampingan dengan Angkasa, keduanya melangkahkan kaki menuju kursi dekat pohon bunga azaleas. Di tangan keduanya terdapat sebotol cup kopi hangat. "Lo kenapa dulu nggak bilang sama gue kalau udah pacaran sama Januar?" Angkasa memulai pembicaraan mereka. Membuat sunyi kembali pergi karena tidak berhasil menghinggapi. Sally meminum kopinya sebentar, menoleh kemudian, "Kenapa harus bilang sama Angkasa? Kan bukan siapa-siapa." "Itu mulut masih sama aja, ngomong selalu blabas tanpa di filter. Nusuk-nusuk di dalam hati." Keluhnya setengah kesal. Meminum kopinya sendiri untuk pengalihan rasa kesal. "Btw, Kak Sella selalu pulang larut?" "Em. Banyak lembur di kantor. Hari ini mungkin juga pulang larut malem lagi kayak biasanya." Diam sejenak. Keduanya beradu dengan pikiran masing-masing. Suara hiruk-pikuk orang-orang tidak membuat lamunan mereka pecah sedikitpun. Angkasa mendongak, menatap ke depan tepat pada keramaian, berujar rendah, "Gue masih ada tanggungan ke elo, Sal." "Tanggungan?" Beo Sally, memang Angkasa punya hutang budi apa pada dirinya? Ia menyambung sebelum Angkasa membuka mulut, "Emang kamu ada hutang budi ke Sally? Kok lupa." "Sewaktu lo sama Om bantuin gue di waktu sekarat. Lo juga minta gue janji buat selalu ada di sisi lo ketika sedang membutuhkan bantuan." "Oh, itu, Sally sekarang aja sampe lupa. Yaudah, simpen aja janjinya, ya? Sally saat ini lagi nggak butuh, jadi lain kali Angkasa harus siap sedia buat Sally waktu butuh sesuatu. Gak boleh nolak." "Jiwa raga juga gue kasih nih." "Mulai gombalnya, udah ah, ayo pulang. Sally kedinginan, takut besok demam terus di marahin Mama." "Beli makanan dulu buat orang rumah, nanti gue tidur di kamar lo, ya?" "Enak aja!" Memberikan tatapan horor, bibirnya mencibir, "Bisa-bisa kamu macem-macem sama Sally. Manfaatin keadaan Sally pas enggak sadar. Gak boleh! Tidur di ruang tamu pokoknya!" Angkasa cemberut. Keberuntungannya sedari dulu memang cukup kurang baik. Bisa di sebut dia jarang mendapatkan keberuntungan. Dia harus memeriksa horoskop perbintangan tanggal lahirnya setelah pulang dari acara menginap di rumah keluarga Amaranggana. Angkasa mencekal satu lengan Sally, rasanya sungguh dingin. Kepalanya menoleh ke belakang, "Dingin banget?" "Lumayan." "Kenapa nggak bilang dari awal kalau lo nggak kuat dingin?" "Kita main bareng pertama kali, Sally takut ngecewain Angkasa. Apalagi jarang banget bisa main berdua bareng. Kamu pasti selalu sibuk pas di ajak pergi main." Menarik nafas ringan. Angkasa merangkul pundak Sally, "Masih dingin bilang, gue peluk lebih erat lagi." "Makasih, Angkasa. Udah hangat." *** Sella membuka pintu rumahnya. Keadaan di dalam sudah sangat sepi. Lampu ruang tamu pun juga telah mati. Semua orang pasti tidur di jam begini. Melepas sepatu beserta kaos kaki, ia menyampirkan jaket tebalnya di tempat khusus dekat pintu. Berjalan masuk, tak lupa mendorong tombol lampu. Seketika ruangan menjadi terang benderang, manusia tertidur di atas sofa membuat dia hampir terjungkal karena terkejut. Pola tidur Angkasa begitu berantakan. Kepala menjulur ke bawah, kaki berada di atas punggung sofa, menggantung di sana. Selimut juga jatuh ke lantai, tidak menutupi tubuh Angkasa sama sekali. Di meja makan ada ayam, kimchi timun, dan kimchi sawi. Dia malas makan, tapi perutnya akan sakit bila tidak di beri sedikit pasokan. Masalah lebih rumyan jika dia benar jatuh sakit. Bos di kantor akan marah pada dirinya. "Kak Sella?" "Hm?" Wajahnya menyamping, mengambil bungkus mie di ranjang rotan atas kulkas. "Ngapain bangun?" "Kebangun aja, baru pulang?" "Hm." "Dari tadi hm mulu," Angkasa duduk di kursi meja makan, menjumput satu kimchi sawi. Manik matanya menatap Sella nyang sibuk memasak mie sepertinya. "Masak banyak sekalian Kak, gue juga mau." "Masak sendiri, gue capek." Usai bicara. Sella merasakan pijatan di kedua bahunya. Dia menatap Angkasa yang berada di belakang. Mata pemuda itu bahkan belum terbuka sempurna, mulutnya masih mengunyah kimchi sawi. Kekehan ringan lolos dari bibirnya. Mata lebarnya menyipit. Di bandingkan dengan Sally, mata Sella berukuran lebih lebar, iris caramelnya juga terlihat lebih jernih dan bening. "Duduk aja di kursi, gue masakain. Nggak perlu mijitin, Sally udah tidur dari tadi?" "Udah, sempet bersin-bersin, badannya juga panas. Gua baru tahu dia sensitif sama hawa dingin, Sally juga cuma diem ga ada bilang sama gue. Tante tadi pergi jadi nggak ada yang ngasih tahu, Om juga baru balik kerja barengan waktu kita pulang main dari luar." "Kasih obat belum? Biar gue beliin keluar kalau belum, suruh anaknya bangun." "Gak perlu. Gue udah beliin tadi. Bentar, gue cek suhu tubuhnya lagi." Dengan begitu kakinya melenggang pergi, mengambil langkah panjang menaiki undakan tangga satu persatu, menuju pintu bertuliskan nama lengkap Sally. Angkasa mendorong pintu perlahan, membuka pintu tanpa menimbulkan suara gaduh. Telapak kakinya menapak hati-hati di atas lantai, berjongkok rendah sesampainya di dekat ranjang. Tangan kanannya terulur menyentuh kening Sally, "Mendingan," gumamnya senang. Tatapan teduhnya ia berikan ketika menatap wajah damai Sally. Gadis itu terlihat sangat jinak ketika tidur, tidak ada beda dengan bayi kucing pada umumnya. Bulu mata lentik di bawah bergetar, bibir ranumnya mengigau, "Januar ...." Senyum Angkasa luntur. Sosok Januar pun tetap merajai hati Sally meski di dunia mimpi. Sekuat itukah pengaruh Januar di hati Sally? Angkasa bangkit dan pergi. Menutup pintu bersama kegelisahan hati. Januar mempunyai keberuntungan yang sangat bangus. Bisa meluluhkan Sally di waktu sesingkat itu. Mendominasi seluruh ruang hati Sally tanpa menyisakan sedikit celah sedikitpun. Bulan sabit menggantung di langit malam bersama gemerlap emas kecil. Bulan saling bertukar sapa dengan Matahari. Waktunya berganti tugas. Fajar menyingsing menembus melalui celah bagian atas jendela kaca kamar Sally. Menerobos masuk menginvasi seluruh ruangan di dalamnya. Teriakan Asley menggema dari lantai dua. Membangunkan Sally sedetik kemudian. Gadis tersebut duduk, selimut melorot ke bawah. Asley berteriak lagi, "SALLY BANGUN! DI TUNGGU JANUAR!" Mata kucingnya membola sepenuhnya, beranjak dari ranjang tergesa, melupakan kondisi badai rambutnya setelah bangun tidur. Menuruni anak tangga setengah berlari, Sally melihat Januar duduk di sofa ruang tamu. Berhadapan dengan Angkasa. Tatapan mereka sangat sengit. Seolah ingin membunuh satu sama lain melalui tatapan tajam itu. Sudut mulut Sally berkedut, pertikaian mungkin akan terjadi jika Mama tidak ada di sini. Angkasa mendongak, tersenyum duluan melihat Sally, namun senyumnya berubah menjadi tawa terbahak-bahak, "Muka lo, Sal! Hahahaha! Abis kena badai dimana?" Januar ikut menoleh, keadaan Sally terbilang sangatlah kacau. Kunciran tidak beraturan, mata kirinya masih menutup sedang mata kanan sudah terbuka lebar. Kancing piyama terbuka dua di bagian atas, kemudian celana bagian kirinya terlingkis mencapai lutut. Patut di sebut gembel. Meski begitu, Januar tidak tertawa. Mengerutkan kening sekilas melihat keadaan kacau gadisnya. Asley ikut malu melihat penampilan modal-madul putri bungsunya, "Cepet mandi! Papa sama Kakak kamu berangkat pagi banget jadi nggak sempet bangunin kamu, Mama juga bangun kesiangan nggak sempet bangunin kamu. Angkasa udah bangunin kamu tapi kamunya nggak mau bangun. Ini udah jam tujuh Sally!" "Hah? Jam tujuh, Ma?!" Sally langsung berlari kembali, masuk ke dalam kamar. Mengambil handuk kemudian berlari ke kamar orang tuanya, shower kamar mandinya sedang rusak dan belum di perbaiki. Di dalam kamar mandi, Sally hanya mandi bebek. Memakai seragam, menyisir rambut, berkaca, tidak memakai riasan apapun. Wajah pucatnya tidak tertutupi, efek demam singkat malam masih tertinggal di wajahnya yang terlihat lesu. "Ma, Sally langsung berangkat aja, ya? Sini mau cium Mama dulu," kedua tangannya terentang meminta pelukan. Asley mendekat sembari membawa panci berisi sup di tangannya. Membiarkan putrinya mencium kedua pipinya bergantian. Menoleh ke dua anak muda di sofa, "Januar, nitip Sally, ya? Kalau cerewet langsung gulingin aja ke jalan." Sally mendengus, berjalan menghentak menuju ruang tamu. Angkasa tiba-tiba mengangkat tangan, "Sama Angkasa aja Tan, di jamin aman mulus sampai di tempat." Dari dapur, Asley terlihat menggeleng sebagai tanggapan, "Sekolah kamu beda sama Sally, jaraknya juga jauhan sekolahan Sally dari sini. Mending kamu langsung berangkat ke sekolah kamu sendiri. Biar nggak telat, jangan bolos." Angkasa ikut cemberut seperti Sally. Menatap Januar menggandeng tangan Sally, ia semakin mendelik kesal pada wajah mengejek musuhnya. "Tante, kami berangkat," kata Januar tenang, di akhir kalimat dia memberikan senyuman. Sally menutup matanya. Tidak ingin melihat senyum itu. Terlalu manis, Sally tak akan kuat, hatinya terlalu lemah untuk menerima hantaman keindahan semanis itu. Angkasa berjalan di belakang keduanya. Menatap ke bawah memperhatikan jalinan tangan Januar dan Sally. Hidungnya mendengus lagi, kali ini sengaja dia keraskan. Kurang nyaman mendengar dengusan Angkasa, Sally berbalik, berkacak pinggang kesal, "Angkasa mau jadi babi apa gimana? Dengusnya keras banget, mirip babi mau nyruduk orang." Januar tersenyum sinis melihat muka asam Angkasa. Yang terakhir merasakan tatapan mengejek Januar untuk dirinya. Tentu saja ia tidak terima dan tidak melepaskan hal itu dengan mudah. Angkasa sengaja menarik tangan Sally tanpa memberikan aba-aba lebih dulu, memeluk Sally erat, sengaja menghirup dalam aroma lembut wangi dari surai gadis yang dia sukai. Januar melotot melihat itu, mendesis kejam, "Sally, kembali ke sini." Sally mendorong Angkasa, memberikan juluran lidah baru kemudian berlari mendekati kekasihnya. Januar memakaikan helm untuknya. Memberikan usapan pada rambut belakangnya yang tergerai panjang hari ini. Iris hitamnya memberikan tatapan tajam pada Angkasa. "Januar, ngapain usap-usap rambut belakang Sally?" "Bersihin rambut gadis aku dari kotoran, Sally harus selalu bersih."
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (507)
AfianiIrma
Hii...sudah aku kasih bintang lima .🥰
semangaat yaaa
12/04/2022
6
Auliaa Auliaa
hihii aku sudah kasih bintang lima
cara bikin kaya gini gimana ya kak author
Hii...sudah aku kasih bintang lima .🥰 semangaat yaaa
12/04/2022
6hihii aku sudah kasih bintang lima cara bikin kaya gini gimana ya kak author
10/08
0bagus alur cerita nya
19/07
0Lihat Semua