#17. Pelampiasan?

Rama menyemburkan jus di dalam mulutnya sebagai reaksi terkejut sehabis di beritahu langsung oleh Januar bahwa cowok itu telah memutuskan untuk membangun sebuah hubungan dengan Sally.
Alvin bermain mainan kotak warna, menyambungkan warna putih dengan kelompoknya dan kemudian beralih membuat semua warna biru menggabung. Berfikir sesuatu di dalam pikirannya.
Vernon mengerutkan alis, "Lo yakin?"
Januar melepas jas merahnya, membuang ke punggung sofa, depan tv dekat rak buku dan DVD. "Ya, gue serius."
Galen berkata tidak percaya, "Bukan buat lo jadiin mainan, kan?"
"Untuk saat ini, gue cuman ngerasa tertarik dan pengen selalu deket sama Sally," balasnya. Merebahkan tubuh di sofa tunggal lain dekat meja kasir.
"Ketertarikan lo di picu dari kemiripan mereka berdua?" Alvin menebak tepat sasaran tanpa harus di beritahu alasan di baliknya.
Ekspresi Januar seperti tengah menerawang suatu kejadian yang tersimpan dalam memorinya, menjawab setengah sadar, "Mungkin. Kejadian di malam dia keculik dan lihat kondisi dia, gue selalu bayangin Alea waktu liat wajah ketakutan itu."
Rama berjalan mendekati kursi konter, duduk dan mengulurkan gelas kosong ke pelayan. Meminta untuk di isi ulang. Baru kemudian dia menimpali, "Obsesi lo terlampau kuat untuk Alea."
Galen menopang dagu, "Udah lah, jangan dibahas lagi. Yang penting bos sekarang udah punya gandengan, kita wajib jaga ibu bos biar selalu aman. Wajahnya kelewat cantik, modelan Darken aja bisa kepincut, apalagi yang laen. Lepas dari mata bisa-bisa ke culik lagi itu anak."
Januar melepas dua kancing seragam melonggarkan rasa mencekik di leher, berkata, "Gue udah kasih dia ponsel baru, semua informasi di ponsel dia muncul di ponsel gue. Kemanapun dia pergi, gue bisa lacak lokasinya. Jadi bukan masalah, penculikan gak akan terulang lagi."
Rama dan Galen menggeleng, Vernon tersenyum kecil sudah paham mengenai sifat Januar, dan Alvin tidak habis pikir dengan pola pikir bosnya. Sekali seorang gadis menjadi milik Januar, maka jangan harap bisa bergerak bebas.
Januar selalu memegang prinsip kuat ketika sudah menyangkut permasalahan hati.
Kamu milikku, patuhi perintahku. Posesif dan cenderung mengekang di dalam hubungan.
Memang, Alea gadis tersabar yang pernah Alvin jumpai. Dia saja tidak kuat menahan untuk bergidik ngeri melihat kelakuan manja Januar kepada Alea dulunya.
Mereka berlima sepakat untuk pergi ke markas luar, menyeleksi murid baru dari SMA Galaksi yang ingin bergabung dengan geng mereka.
Walau anggota mereka bisa di bilang sudah cukup banyak, dari sekian banyak itu hanya sedikit yang aktif dan benar-benar berani untuk ikut berkelahi.
Awal mereka mendaftarkan diri semangat kuat begitu terlihat dan bibir mereka pintar membual, tetapi baru setengah jalan, mereka mundur atau beralasan ingin menjadi anggota cadangan saja. Atau anggota bersih-bersih dan baksos.
Benar juga. Akhir Desember nanti mereka ada jadwal baksos. Ujian kenaikan kelas juga sudah mulai dilaksanakan tanggal 4-15 desember, lewat satu minggu maka tiba masa liburan tahun baru, liburan kenaikan kelas, dan liburan khusus. Tidak heran di masa tahun baru setiap orang memiliki banyak waktu bersantai.
***
Di dalam laboratorium, Sally memutar lensa mikroskop di antara ibu jari dan dari telunjuknya. Mempertegas penglihatan, memeriksa secara teliti bagaimana bentuk zat yang ia jadikan objek observasi.
"Lo beneran ditembak Januar?" Tanya Mina, sudah puluhan kali cewek itu menanyakan hal ini. Bukannya Mina ingin bersikap menyebalkan, tapi berita ini sangat mencengangkan. Dia menakutkan akan satu hal.
Sally hanya pelampiasan.
Mina juga mengetahui hubungan Januar dengan Alea. Dua sejoli ini termasuk salah satu pasangan saling mencintai dengan cinta paling kuat menurut Mina.
Sepupunya juga tipikal pemuda setia, tidak mudah untuk jatuh cinta dalam waktu sesingkat itu. Dia takut Januar hanya ingin mejahili Sally mengingat lugunya sifat Sally, sungguh, temannya ini naif.
Mina juga tidak habis pikir, sepertinya Januar dan Sally bagaikan kucing bertemu tikus. Lalu kenapa sekarang malah menjadi seperti Romeo dan Juliet?
"Kamu udah tanya dengan kalimat yang sama sebanyak dua puluh kali, harus pakai cara apa biar Mina percaya Sally pacaran sama Januar?"
"Sesuatu yang spesifik. Alasan kuat tanpa memiliki celah untuk di sangkal."
"Nih, liat sendiri. Setelah Januar minta Sally jadi gadisnya, tiba-tiba ada sopir dateng sampai ke rooftop nyusul Sally sama Januar. Ternyata bawa ponsel. Januar minta Sally buat pakai ponsel ini mulai sekarang. Jadi, ya, nurut aja."
Mina menyambar ponsel sodoran tangan Sally. Pasti ini hasil pembelian dari kakak laki-lakinya, Max.
Januar dulu memesan beberapa ponsel rakitan yang bisa tersambung dengan ponsel pribadinya. Hal itu di lakukan demi terus memantau lokasi Alea dulunya.
Kalau tidak salah ingat, Januar meminta untuk di carikan 5 ponsel rakitan semacam ini. Berjaga-jaga bisa saja ponsel pemberiannya hilang dari tangan Alea, sehingga dia bisa langsung memberi yang baru.
Naasnya, ponsel Alea rusak bersamaan dengan rusaknya hidup gadis tersebut.
Jika telah di berikan satu kepada Sally. Pasti hanya tersisa tiga ponsel rakitan simpanan di tangan Januar.
Sekarang Mina percaya, Januar serius akan menjalin hubungan dengan Sally. Benarkah pemuda itu membangun hubungan karena ketertarikan? Bukan pelampiasan?
Mina memandang Sally dari tempat duduknya, hah, gadis ini. Dia tidak mau banyak berkomentar. Suatu saat nanti jika Januar benar-benar mencampakkan Sally. Jangan salahkan dia yang keblabasan memukul wajah tampan sepupunya.
***
"Baik anak-anak, setelah kalian selesai dengan tugas kelompok dua orang. Ibu akan membentuk kalian menjadi kelompok berisi empat orang, tapi ada satu kelompok ganjil dan hanya berisi tiga orang karena Januar tidak masuk kelas seperti biasanya."
Bu Lia berkata lantang di depan, berdiri di lantai yang membentuk persegi panjang dengan tinggi 10 centimeter dari lantai bawah.
Semua kelompok sudah di sebutkan, Sally, Mina, dan Fero berada di dalam satu kelompok.
Banyak anak gadis cemburu pada Mina dan juga Sally karena bisa berada satu kelompok bersama cowok seperti Fero. Tampan, lembut, baik, pintar lagi.
Salah satu anak laki-laki pemilik tanda tahi lalat kecil di bawah mata merogoh ponsel, mengirimkan pesan kepada seseorang. Begitu pesan terkirim, ia kembali menyimpan ponselnya.
"Buat lo," ucap Fero lembut. Menyodorkan sebotol minuman setengah dingin berisi jus susu strawberry.
Sally menerimanya, "Tahu darimana Sally suka jus susu strawberry?"
"Lo sering minum itu di kelas, semua orang juga pasti tahu jus susu strawberry minuman kesukaan lo."
Sally meringis, tersenyum malu. Menarik botol minuman berisi jus susu strawberry favoritnya ke dalam pelukan.
Mina mencolek bahu Fero, menimbulkan reaksi berupa tolehan oleh sang empu. "Apa?"
"Minta nomor Xuero dong," pinta Mina. Mengedipkan mata lima kali berusaha terlihat manis, berharap Fero mau memberikan nomor pemuda berdarah cina dari kelas 11-4 tersebut.
Xuero memang friendly dan sangat humble, minusnya cuma satu, nomornya tidak sembarang orang bisa memiliki. Banyak anak gadis berulang kali mencoba meminta nomer maupun line, berakhir ditolak secara halus di sertai candaan.
Membuat para gadis tidak bisa marah hanya karena Xuero sangat pelit di mintai nomer.
"Nanti gue kirim lewat line." Kata Fero. Mulai membuka kembali buku catatan, siap mencatat hal-hal penting yang untuk kemudian di buatkan kesimpulan hasil penelitian.
Mina memekik girang, "Thank Youuuuuu."
Hampir kelepasan menguyel Fero, Sally berdehem. Menggerakan kornea matanya memberikan sebuah tanda, Bu Lia tengah menatap kelompok mereka. Siap mencatat siapa saja yang tidak serius di saat sedang bekerja kelompok.
Mina membenahi diri. Berdehem dan memulai kembali meneliti zat menggunakan mikroskop.
15 menit berlalu begitu cepat, keramaian memenuhi ruangan laboratorium. Para anak-anak berteriak cie-cie kepada wakil ketua kelas dan Bu Lia.
Guru dan murid tidak sengaja bertabrakan.
Mereka terlihat cocok, badan Bu Lia itu kecil dan sangat langsing. Wajahnya imut dibumbui awet muda. Umurnya juga baru 25 tahun. Masih belum terlalu tua, bolehlah berpacaran dengan teteh-teteh geulis.
"Diem atau nilai kalian Ibu kurangi!" Acaman Bu Lia membuat semua anak kicep.
Sally dan Fero fokus meneliti senyawa mikro berwarna sedikit kebiruan di lihat dari kaca khusus. Pemuda itu menyentuh tangan Sally, memutarnya sedikit, "Puter sampai dapat objek yang jelas, bilang aja kalau kurang deket. Nanti gue benerin bagian kunci skrupnya biar rada ke bawah."
Sally mengangguk, "Iya, makasih Fero."
"Sama-sama."
Tak selang lama, pintu dari sisi dekat papan putih terbuka, memunculkan sosok Januar di ambang pintu. Tidak memakai jas sekolah, membolos, dua kancing bajunya terbuka. Rambut hitam sedikit panjang tergerai berantakan.
Anak perempuan memekik.
Iblis Menawan SMA Galaksi memang tidak ada duanya. Mina menggeleng pelan, sepupunya memang tampan. Andai perilakunya tidak sialan. Pasti sudah menjadi pacar idaman. Oh tunggu, dengan adanya perilaku sialan juga semua anak perempuan masih berharap bisa menjadi kekasih Januar.
Bu Lia terlonjak, pintu tadi setengah di dobrak. Merasa aneh melihat Januar ada di laboratorium, apa anak muridnya satu ini sudah mulai taubat membolos?
Tidak memperdulikan tatapan semua orang, Januar melangkah maju, berhenti di meja Sally. Menarik satu kursi berbahan alumunium tidak terpakai, lalu mendudukinya.
"Ngapain berhenti? Lanjut aja nelitinya," ujar Januar. Ekspresi wajahnya tetap keras. Bertolak belakang di bandingkan suara lembutnya.
Terlihat mengerikan.
Namun Sally tetap merasa lumayan senang di dalam hati, Januar mau masuk kelas walau di jam-jam terakhir pelajaran menjelang istirahat.
"Rambut kamu benerin dulu."
"Kamu yang benerin."
Fero tidak meluputkan pengamatan sedetik pun, menangkap semua interaksi Januar bersama Sally.
Alisa berbisik pada Lera, "Lo mikir ada sesuatu antara mereka berdua?"
Lera menjawab, menggunakan bisikan juga, "Ngerasa sih, tapi masak mereka pacaran? Mereka aja kenal baru dua mingguan, awalnya juga suka berantem."
Nio menggeplak meja lima kali, membawa atensi Alia dan Lea mengarah pada dirinya. Mendesis kesal, "Gak usah bahas atau kepo masalah apapun yang bersangkutan sama Januar."
Lera mencibir, "Sewot aja. Kita kan cuma nebak-nebak. Bilang aja lo suka sama Sally dan kesel karena kalah sama Januar."
Alisa setuju, mendukung Lea, "Bener tuh, salah sendiri jadi cowok kurang berani. Mendem perasaan dan terus mikir suatu saat ada kesempatan, telat banget. Kebanyakan mikir lo, Sally keburu jadi rebutan Fero sama Januar. Dan kayaknya Januar yang dapetin Sally."
Wajah putih Nio merah padam, kesal, marah, dan sedih, kehilangan banyak langkah dari dua primadona sekolah. Fero serta Januar. Memikirkan bersaing dengan mereka, Nio memilih mengamati gadis yang dia sukai secara diam-diam. Setidaknya itu sudah cukup untuk membuat dia senang.
Bu Lia menenangkan kembali anak muridnya. Menyuruh semuanya agar kembali fokus ke pekerjaan di kelompok masing-masing.
Mina mengusap leher belakangnya, merasakan hawa dingin menusuk semenjak Januar datang. Irisnya mendongak, menatap Januar lalu ke Fero bergantian, kemudian menempatkan tatapan terakhir ke Sally.
Bagus, anak itu telah membuat dua musuh bebuyutan berada dalam satu meja. Memberikan aura mencekik di sekitar. Mina sampai kesusahan menelan salivanya sendiri.

Komentar Buku (507)

  • avatar
    AfianiIrma

    Hii...sudah aku kasih bintang lima .🥰 semangaat yaaa

    12/04/2022

      6
  • avatar
    Auliaa Auliaa

    hihii aku sudah kasih bintang lima cara bikin kaya gini gimana ya kak author

    10/08

      0
  • avatar
    Rino Juni

    bagus alur cerita nya

    19/07

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru