"Dimana hadiahnya?" tanya Rayhan dengan antusias. Tatapan anak itu memancarkan kebahagiaan, merasa tak percaya jika sang papa akan memberinya hadiah impian, meski kini usianya belum cukup umur. Tapi memiliki mobil pribadi sebelum memiliki kartu SIM, itu tak masalah 'kan? Raka juga ikut tersenyum, melihat Rayhan yang tampak senang. Sungguh, Raka tak menyangka jika ide sahabatnya itu patut di acungkan jempol. Meski sebenarnya Raka tak begitu yakin, tadinya. "INI.. SURPRISE!" teriak Rizal dengan sangat semangat. Pria itu menyerahkan dua paper bag berisi hadiah untuk Rayhan. Rayhan menerimanya dengan gerakan pelan. Menatap kearah Raka dan Rizal dengan bergantian. "I-ini?" tanya Rayhan. Anggukan antusias Rizal dan Raka berikan. Berbeda dengan Rayhan yang tampak ragu dengan 'mobil' yang dimaksud dengan om Rizal itu. Karena tak ingin dilanda penasaran. Dan menerka-nerka, akhirnya Rayhan membuka paper bag itu. Setelah melihat isinya, senyuman Rayhan langsung pudar, ternyata yang dimaksud 'mobil' oleh om Rizal adalah sebuah mobil-mobil mainan. Sungguh. Rayhan sudah berekspektasi tinggi, mengira Raka adalah orang yang peka dan mengerti keinginannya. Namun, sayangnya ayahnya itu tak pernah mengerti apa yang diinginkan oleh Rayhan. "M-makasih," lirih Rayhan singkat. "Ray kenapa? Gak suka sama mobilnya?" tanya Rizal dengan nada lembut saat melihat, wajah Rayhan yang murung. Rayhan menggeleng, dengan senyuman yang ia paksakan. "Ray suka sama hadiahnya, suka banget. Makasih udah di beliin, tapi kepala Rayhan lagi pusing, jadi mau istirahat." Rayhan menaruh mobil-mobil mainan itu, di atas nakas, lalu membaringkan tubuhnya. "Yasudah, Ray cepat sembuh ya. Kapan-kapan main sama om Rizal ya, dek, nanti om beliin banyak mainan, makanan, apa pun yang Ray mau," ujar Rizal dengan mengusap suatu hitam Rayhan dengan lembut. "Iya om." "Nanti kalau Ray udah sembuh, om ajakin jalan-jalan gitu, atau liburan ke-" Raka yang berdiri di samping, memutar bola matanya malas, mendengar penuturan Rizal. Jika dibiarkan Rizal mengoceh, bisa sampai petang pun gak akan selesai. "Yuk, buruan, keluar! Anak gue mau istirahat tuh, jangan di ganggu," ketus Raka. "Iya deh, iya," balas Rizal dengan malas. "Dadah kesayangan om Rizal yang paliiiiiiing tampan sejahat ra-" "BURUAN!" "Sabar anj-" "Ngumpat, gue tendang lu dari apartement gue!" peringat Raka di depan pintu kamar. "Iya deh, ampun pak bos," jawab Rizal, berjalan kearah pintu keluar. "Yaudah, gue sekalian pamit ya." "Hmm. Kalau ada info dari anak-anak, lo kabarin gue." "Sip brother." ***** Di lain tempat, Aldi, Samuel, dan Daniel telah berada di rumah masing-masing. Aldi merebahkan dirinya di kasur, setelah tadi memastikan ibunya dalam keadaan baik-baik saja. Pikiran anak itu melayang, kembali mengingat apa yang baru saja ia alami selama ia hidup. Dirinya baru saja di culik dan di ancaman oleh seseorang, namun anehnya mereka sama sekali tak melakukan hal apapun kepadanya atau pun pada Samuel dan Daniel. FLASHBACK. Beberapa bodyguard berwajah sangar, menyeret ketiga anak berseragam sekolah itu. Membawanya ke sebuah ruangan, yang menyeramkan. Mereka bertiga diikat, dihadapan seorang pria bertopeng. "Lepas!" teriak Daniel. Yang merasa tak nyaman dengan posisinya. Bisa-bisanya mereka terjebak di situasi seperti ini, di saat Daniel yang seharusnya berada di tempat les, belajar berbagai ilmu pengetahuan tambahan. "Lepasin gue anj*ng," Samuel juga ikut berteriak, suaranya yang melengking membuat pria itu mengacungkan pistol nya ke arah mereka. Samuel yang melihat pistol itu, sontak saja mengeluarkan air matanya. Dirinya belum ingin mati, masih banyak keinginan yang ia ingin capai. Pria bertopeng itu menembak, hingga menyebabkan bunyi yang cukup keras. Membuat mereka bertiga refleks menutup mata, dan pasrah jika peluru itu akhirnya mengenai salah satu diantara mereka, atau mungkin ketiganya sekaligus. Namun setelah beberapa saat, tak ada suara rintihan, teriakan kesakitan ataupun luka di antara ketiganya akhirnya membuka mata. Mereka bertiga menghela nafas lega untuk sesaat, ternyata peluru itu mengenai tembok. Raja yang baru datang, langsung menertawakan mereka yang sangat ketakutan. Aldi yang berjiwa bad boy itu juga sudah pucat wajahnya, ternyata kematian adalah sesuatu yang sangat mereka takutkan. "Buat apa kamu membawa bocah-bocah ingusan, tak berguna itu!" suara itu berasal dari pria bertopeng. "Hanya untuk bersenang-senang," jawab Raja dengan santai. "Tidak ada waktu untuk bersantai-santai," tegas pria itu. Raja memutar bola matanya malas. "Kau tenang saja, aku tahu apa yang aku lakukan. Bermain-main dengan mereka tak akan mengubah rencana yang kita buat, lagi pula aku juga ingin menjadikan mereka sebagai umpan." "Tapi target kita bukan lah dia," pria bertopeng itu berjalan ke arah Aldi, Samuel dan Daniel. Lalu dengan tangannya ia mencengkram dagu Aldi dengan cukup keras. "Gak ada gunanya membawa sampah, tak berarti," ujarnya. Aldi yang diperlakukan demikian hanya mampu merintis dan mengepalkan tangannya. Sungguh cengkraman itu sangatlah sakit. "Aku tahu mereka bukanlah target kita. Anda tak perlu khawatir, percayakan saja padaku." Pria itu melepas cengkraman nya pada Aldi, lalu menyerahkan pistol itu pada Raja. "Lakukan sesukamu pada mereka. Tapi ingin rencana itu tak boleh sampai gagal sedikitpun." Pria itu meninggalkan ruangan setelah mengatakan hal tersebut. Raja duduk di sebuah kursih menghadap mereka. "Tutup mulut mereka," perintah Raja, para bodyguard langsung menjalankan tugas yang diberikan oleh Raja. Raja, anak itu memainkan pistol. Lalu menembakkan ke segala arah, setelah puas melihat wajah ketakutan mereka, dan teriakan histeris dari Samuel, yang sebenarnya tak terdengar karena mulutnya yang tersumpal. Raja mengambil sebuah cat yang isinya adalah darah, anak itu segera menulis di sebuah dinding kumuh dan usang itu. Ia menulis kata, 'SAY WELCOME TO ME. SELAMAT DATANG DI NERAKA. INI HANYALAH PERMULAAN, BERHATI-HATILAH MULAI SEKARANG!" Sebagai peringatan bagi mereka yang akan datang. "Gue gak akan nyakitin kalian. Gue cuma mau main-main sebentar, sekaligus memperingatkan. Kalau gue itu bukanlah orang 'biasa.' jadi, turuti keinginan gue, kalau lo bertiga gak ingin berakhir dengan mati." Aldi, Samuel, dan Daniel. Dari tatapannya tentu menolak, atas apa yang Raja ucapkan. Tapi apakah Raja akan benar-benar membunuh mereka, jika seandainya tak menuruti perintah si murid baru itu yang ternyata berhati psikopat. "Gue udah nelpon, kakak lo. Dan sebentar lagi, mereka akan datang. Gue gak menuntut banyak, lo bertiga cukup tutup mulut. Saat mereka bertanya, bagaimana dan siapa yang telah membuat kalian berada di tempat ini. " "Jika sampai kalian, berkata jujur, salahkan gue kalau ibu, kakak dan orangtua kalian bakal gue bunuh, semua. HAHAHA." Raja pergi setelah mengatakan itu, diikuti oleh para bodyguard menyusul. Dan tinggallah mereka bertiga di rungan tempat kematian beberapa nyawa di 7 tahun lalu.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
baguss bangettt
14d
0bagus
26d
0Keren
10/09
0Lihat Semua