Beberapa hari kemudian... Kondisi Rayhan sudah membaik, dan selama di rumah sakit Rafa dan Rafi selalu menemani Rayhan di rumah sakit. Hanya mereka berdua, karena Dika dan Megan sudah pulang beberapa hari yang lalu. Saat ini memang hanya tinggallah mereka bertiga di ruangan ini, Dinda kembali ke sekolah dan Raka yang sedang ada urusan. Rafa sibuk dengan novelnya, ia begitu tenang ketika membaca novel, hal yang mungkin jarang di lakukan oleh remaja laki laki pada umumnya. Rayhan dan Rafi yang sedang bermain game di ponsel masing masing. Rayhan begitu lihai memainkan gamenya seolah ia sedang tak sakit saat ini. Kondisinya sudah membaik namun belum di perbolehkan untuk pulang oleh dokter yang menanganinya. "Eh Ray, udahan yuk gue capek nih," ujar Rafi meletakkan ponselnya. Rayhan yang bingung hanya bisa melakukan hal yang sama di lakukan oleh Rafi. Meski sedikit kecewa karena ia masih ingin bermain. Tetapi Rayhan sudah janji akan menjadi anak yang penurut untuk hari ini. Hanya hari ini. Setelahnya, mereka berdua sama sama diam. Membuat ruangan menjadi sunyi. Rafa yang merasakan suasana menjadi hening kini mengalihkan pandangannya dari novel ia baca kepada dua bocah itu. "Lo berdua kenapa jadi diam diam an?" Rafi memandang Rafi, lalu dengan sebuah tarikan nafas yang lumayan panjang, Rafi membalas pertanyaan Rafa. "Wahai kakak kembar ku Rafi, yang memiliki wajah yang sama persis dengan ku, tetapi tetap saja aku yang paling tampan. Apakah salah jika kami berdua menjadi diam dan tenang? Mengapa engkau harus mengurusi kita wahai kembaran ku, terserah kami mau guling, lari, teriak dan jungkir balik pun, engkau tak harus ikut campur. Bukan kah dengan kami diam dan akur, dunia akan aman?" ujar Rafi mendramastis. Rafa memutar bola matanya malas mendengar ucapan Rafi. Sedangkan Rayhan menatap jijik pada Rafi. Rafi yang di pandangi oleh mereka mendadak salah tinggi. "Eh kenapa lu berdua liatin gue kayak gitu. Kenapa? Gue kegantengan ya? Terlalu tampan?" ujar Rafi dengan percaya dirinya yang sudah tingkat dewa. "Gue lagi liat anak stress, terlalu kepedean. Kasian banget," balas Rafa dengan tatapan datarnya. "An-" Ucapan Rafi terpotong karena kedatangan seorang dokter. Dia langsung memasuki ruangan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, bukan kah itu adalah hal yang tidak sopan. "Maaf dok. Apa ini waktunya pemeriksaan?" tanya Rafa menghampiri sang dokter yang memakai masker putih. Dokter dengan nama tag samudra itu tidak menjawab ucapan Rafa. Ia hanya langsung melakukan pemeriksaan pada Rayhan. Lalu setelahnya memberikan sebuah obat dan langsung di ambil oleh Rafa. "Dok, ini obat apa? Kenapa ada tambahan obat lagi, bukankah Ray sudah di kasih obat?" protes Rafi mengambil obat yang ada di tangan Rafa. "Gak usah banyak protes, suruh saja dia meminumnya," ujar dokter Samudra dengan dingin. "Eh mana bisa gitu. Saya ini sepupunya dan saya gak mau Rayhan sampai kenapa napa. Tolong ngasih obat tolong di perjelas ini tuh obat apa, kegunaanya untuk apa." Dokter itu menghela nafas kasar. Jelas dia sangat tidak suka dengan sikap Rafi. "Itu hanya vitamin," balasnya acuh. "Dokter kok aneh sih. Mana ada vitamin kayak gini. Malah bentuknya aneh lagi," ujar Rafi tanpa sadar ia mengatai sang dokter. Rafa refleks menginjak kakinya dengan keras. Rafi sangat tidak sopan pada dokter itu. Bagaimana bisa i berkata demikian pada seorang dokter. "Awh. Sst, sakit tau!" protes Rafi tak terima. "Lo diam! Lo gak seharusnya ngomong gitu tadi," bisik Rafa pada Rafi yang kesal. "Gue khawatir sama Rayhan." "Iya. Gue tahu, ta-" "Untuk kamu," ujar Dokter Samudra menunjuk pada Rafa. "Ajarin dia untuk menjaga ucapannya," ujarnya lalu pergi. Setelah dokter itu tak terlihat lagi, Rafa segera melayangkan tatapan tajamnya pada Rafi. "Rafa natap nya biasa aja dong," ujar Rafi risih. "Gue capek tau. Apa lo gak bisa menjaga ucapan lo pada dokter tadi. Gimana juga, lo gak seharusnya berkata kayak tadi. Lihat kan dia sekarang marah. Lo bis gak sih hargai orang." "Rafa bukan gitu maksud gue. Gue khawatir sama Ray. Apa lu gak curiga sama tuh dokter. Dia itu aneh banget. Lo liat kan tadi, perilakunya itu dingin sama sekali gak mencerminkan seorang dokter, malah lebih ke psikopat," ujar Rafi mengeluarkan unek uneknya. "Mana mungkin ada psikopat yang jadi dokter. Lu tuh yang aneh Rafi! Bagaimana bisa lo menyimpulin kalo dokter tadi itu adalah psikopat. Jelas jelas dia itu dokter tugasnya menyelamatkan banyak nyawa bukan membunuh orang," balas Rafa. "Emang lo gak sadar sama auranya, tatapannya, sikapnya. Gue tuh curiga. Kebanyakan ya dokter itu ramah, baik bukan kayak tadi." "Mungkin itu memang karakteristiknya." "Kalo karakteristiknya seperti itu, ngapain jadi dokter. Yang ada bukannya sembuh malah banyak pasien yang takut," ujar Rafi yang ada benarnya. Jika kedua sepupunya sibuk berdebat, justru Rayhan malah sibuk dengan handphonenya. Ya dia sedang chattingan dengan Dinda, mengabarkan jika Rafi dan Rafa sedang berdebat lumayan lama. Sambil cekikikan. Lucu aja melihat mereka berdua berdebat. Hal yang paling menyenangkan untuk di tonton oleh Rayhan. "Kak Rafa, kak Rafi, udah dong debatnya. Kalo enggak, Ray laporin mama loh," katanya bermaksud mengancam. Padahal Kan tadi, Rayhan udah lapor ya. "Adik Rafi yang paling lucuuu. Menurut kamu disini siapa yang salah?" tanya Rafi mengalihkan pandangannya pada Rayhan. "Mmm. Kalo menurut Ray sih, apa yang di omongin kak Rafi itu kayaknya gak mungkin. Bagaimana pun juga dokter tadi itu mungkin lelah aja makanya ia bersikap kayak tadi kak," ujar Rayhan dengan tatapan polosnya. "Lelah apaan Ray, jelas jelas setiap dia kesini pasti sikapnya gitu terus. Gak ada tuh sifat baiknya tuh dokter," balas Rafi tetap keukeh bahwa Dokter tadi adalah dokter jahat dan patut di curigai. "Kak Rafi please deh, jangan ngomongin orang baik. Nanti kakak dapat karma loh!" "Udah deh. Lu berdua sama aja. Gak ada yang percaya sama omongan gue. Jangan nyesal jika apa yang gue curigai bakal terjadi. Feeling gue tuh gak pernah salah," balas Rafi ngambek. "Mending gue pergi aja, malas disini," Rafi keluar dari ruangan dengan wajah cemberut. "Kayak bocah," gumam Rafa. Sedetik kemudian, pintu ruangan itu kembali terbuka, dan datanglah Rafi masih dengan wajah kesalnya. "Kenapa? Katanya mau pergi. Kenapa balik lagi," ujar Rafa ingin tertawa saja dengan kelakuan kembarannya itu. "Handphone gue ketinggalan," balas Rafi lalu mengambil ponselnya yang terletak di atas meja di ruangan itu. Lalu setelahnya ia kembali pergi. "Jangan cepat cepat baliknya," ujar Rafa masih bisa di dengar oleh Rafi.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
baguss bangettt
15d
0bagus
28d
0Keren
10/09
0Lihat Semua