29. Arziel

Jika dinda sedang bersama Rayhan di dalam salah satu ruangan yang ada di rumah sakit ini, maka lain halnya dengan Raka, pria berkepala tiga itu tengah asik mengobrol dengan seseorang.
Tadinya, ia akan ikut masuk ke dalam. hanya saja, ada seseorang yang memanggil nya, membuat ia harus mengurungkan niat nya untuk melihat keadaan putranya. Meladeni seseorang itu dulu padahal tadi dirinya begitu panik melihat Ray yang merintih kesakitan.
"Lu Raka kan?" tanya pria asing itu.
Raka mengernyitkan keningnya bingung, "gue? Lo nanya sama gue? Tanya nya sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, gue nanya sama lo," balas pria itu.
Batin raka berkata "nih orang siapa deh, napa mengenal gue. Gue aja kagak kenal sama tuh orang asing."
"Iya. Gue Raka," kata raka masih berusaha sopan. Ia memandangi wajah pria yang cukup tampan tapi Raka lebih tampan tentunya. Pria itu asing namun tampak familiar bagi Raka.
"Raka Aprilio Dhian?" tanya nya lagi.
Sedang si pemilik nama itu, makin heran. Kenapa dia juga tahu nama lengkap nya. Apakah wajah dan namanya pasaran atau kah karena ia memang terkenal.
"Iya gue Raka Aprilio Dhian, cowok tertampan di sejagat raya ini," kata Raka kelewat pede dan rasa malu sedikitpun.
Pria itu mendengus mendengar ucapan dari si pemilik nama yang ia yakini orang yang begitu ia kenal.
"Lo lupa sama gue?" tanya si pria sambil memegang bahu Raka namun Raka malah menepis nya.
"Lo emangnya siapa? Apa kita pernah bertemu, gue gak pernah ingat wajah lo itu pernah singgah di memori gue," balas Raka meneliti wajah si lawan bicara.
"Astaga Raka, gue gak nyangka lo lupa sama gue. Gue Arziel putra pratama," kata si pria memperkenalkan diri.
"Siapa? Arziel, sorry gue gak kenal sama lu," ucap Raka acuh.
"Masa lo lupa sama sabahat kecil lo ini, yang berjuang sehidup semati demi mendapatkan nilai C. Dari kelas 1 sampai 6 kita kagak pernah dapatin nilai C, paling bagus yah D."
Raka yang sebenarnya tak percaya dengan seseorang yang mengaku dirinya sebagai Azriel ini, adalah sahabatnya dulu, ia seperti tak mengenal pria yang berdiri di hadapan nya kini.
"Perasaan gue kagak goblok goblok amat deh. Tapi waktu SD, gue lupa sih gue dulu goblok apa kagak," gumam Raka sambil mengingat ingat masa lalunya.
"Lu lebih goblok dan bodoh dari gue. Kalo lo lupa biar gue ingetin seberapa bodoh dan nakal nya lo dulu," ucap Azriel dengan tatapannya yang tak pernah lepas dari sahabatnya itu.
"Lo siapa sih? Napa lu malah bahas  Kegoblokan gue waktu kecil," kata Raka risih dengan apa yang pria itu katakan. Mau di taruh dimana muka Raka kalo sampai ada yang dengar.
"Yah karena gue sahabat kecil lo, gue Arziel sahabat lo yang pergi ke London setelah lulus dari kelas 6 SD," jelas Arziel kesal karena Raka yang tak kunjung mengingat dirinya.
Raka kembali diam, mencoba mengingat apakah yang di bicarakan si pria itu memang benar.
"Apa.omongan lo harus di percaya?" tanya Raka yang masih ragu dengan apa yang dia ucapkan.
"Tentu saja. Emang tampang gue kek pembohong apa."
Raka menatap Arziel dari bawah sampai atas,  kemudian ia berkata "Gue emang punya sahabat yang namanya arziel, cuma yah wajah nya beda benget sama lo, sahabat gue itu, dekil, buluq dan tentu nya bandel banget, melebihi nakalnya dari gue dulu," ucap Raka mengingat Arziel sahabat sehidup semati nya itu.
"Iya itu gue. Terserah lu mau bilang gue apa, yang penting lo udah ingat sama gue," balas Arziel sambil memutar bola matanya malas karena apa yang diingat okeh Raka adalah semuanya buruk.
"Tapi seriusan lo si ziel?" tanya Raka yang masih tak percaya.
"Iya gue beneran ziel, wahai Raka Aprilio Dhian," kata Arziel kesal.
"Ya kan siapa tau aja lo cuma ngaku ngaku."
"Serah lu lah. Ini buktinya kalo lo masih gak percaya."
Arziel menunjukkan foto dua orang bocah yang sedang tersenyum ke arah kamera tak lupa mereka berdua yang saling merangkul menunjukkan seberapa sayang nya mereka satu sama lain.
Melihat foto itu, akhirnya Raka percaya dengan omongan Arziel.
"Dari tadi kek," ketus Arziel.
"Gue kan gak bisa percaya sama sembarangan orang."
"Btw lu kapan balik?" tanya raka sambil memeluk sahabat nya yang begitu ia rindukan sampai sampai ia lupa dengannya saking lamanya mereka tak bertemu dan memberi kabar.
"Dua bulan yang lalu," kata Ziel.
"Wah hebat dong, sekarang lo udah jadi pak dokter."
"Iya dong. Lu sendiri kerja di mana?"
"Gue mah kagak kerja tetap ngalir duit gue," kata Raka sombong.
"Elu mah, cuma ngeharapin duit orang tua. Kayak gue dong mandiri."
"Iya mandiri, tapi gak ada pasangan," ejek Raka.
"Gue kan membahagiakan orang tua dulu, habis itu baru deh cari pasangan yang cocok sama gue."
"Ok deh, gue doain lu cepat nikah. Kasian gue liat lu jomblo."
Arziel cuma menghela nafas sabar, udah biasa dia di giniin sama Raka waktu kecil dulu.
"Btw lu ngapain di sini?" tanya Arziel mengalihkan topik.
"Anak gue sakit."
Arziel membulatkan matanya
"Lu udah punya anak?" tanya nya terkejut.
"Iyalah, hebat kan gue."
"Lo duluin gue, padahal gue lebih tua dari lo."
"Lebih tua apaan cuma terpaut dua minggu doang."
"Kan tetap aja, kan yang penting gue lebih tua dari lo," kata Arziel tak mau kalah.
"Terserah lah."
"Sakit apa anak lo?"
"Demam, tadinya gue mau masuk ke ruangannya tapi lo manggil. Yaudah deh gak jadi gue."
"Pasti anak lo lucu kan, gemesin," ucap Arziel.
"Anak lu pasti cewek kan?" tebak Arziel dengan senyum lebar.
Raka menggelengkan kepalanya "bukan. Anak gue cowok."
"Serius? Kan lu pengen punya anak cewek dulu," kata Arziel.
"Iya sih, tapi kalo Tuhan ngasih gue cowok, yah gue harus nerima dan sayangi dia dong. Kan bukan gue yang nentuin anak gue nanti cewek atau pun cowok. Lagian setelah kehadiran dia, gue juga udah gak menginginkan anak cewek lagi," kata Raka.
"Pasti anak lu ganteng banget, melebihi elu kan," kata Arziel.
"Anak gue ganteng banget, soalnya kan turunan dari gue si pangeran tampan yang gak ada duanya."
"Kok lo pede banget si Rak, gak pernah berubah dari dulu."
"Kan emang kenyataannya," balas Raka.
"Iyain deh. Semoga cepat sembuh buat anak lo sorry gak bisa jengukin. Gue ada jadwal operasi, lain kali aja ya."
"Thanks buat doanya. Lu bisa jengukin anak gue lain kali. Kayaknya dia bakal nginap deh," kata Raka.
"Ok, gue pergi dulu yah. Rawat anak lo baik baik, dia titipan Tuhan."
"Ya gue ngerti kok."
Setelah Arziel menjalankan kewajiban nya, raka pun dengan segera masuk ke ruang rawat Rayhan.

Komentar Buku (1038)

  • avatar
    Viraa

    baguss bangettt

    4d

      0
  • avatar
    SahajiAlfin

    bagus

    17d

      0
  • avatar
    Agistia Nurhidayah

    Keren

    25d

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru