21. Sahabat baru

Rayhan pingsan di dekat keempat remaja tadi. Mereka berempat sangat kaget karena murid baru yang tak di ketahui namanya itu tak sadarkan diri.
Mereka berempat segera mendekati Rayhan yang sangat pucat.
"Gimana nih?" Tanya Rafael pada temannya.
"Bawa ke UKS lah," kata Rafi.
"Tapi kan kita lagi di hukum?"
"Lu tega Liat anak orang kek gini, gimana kalo seandainya lu yang ada di posisinya dan gak ada yang mau nolongin," omel rasnya.
"Yuk buruan ke UKS," kata Arga.
Arif berjongkok dan menggendong Rayhan di punggungnya lalu setelah itu mereka segera berlari ke UKS yang terletak di lantai dua.
Setelah sampai di UKS mereka langsung masuk dengan wajah panik mereka.
Di dalam ruangan ada dua siswa perempuan yang memang bertugas di UKS. Rani mendekat pada kasur yang memang di sediakan di ruangan itu
"Kenapa Rif?" Tanya Rani pada Arif yang membawa Rayhan tadi.
"Tadi kita di hukum terus dia pingsan."
"Dia siapa? Kok gue belum pernah liat dia," kata Luna.
"Anak baru keknya," kata Rafael menjawab ucapan Luna.
"Bu Nadya mana?" Tanya Arga.
"Bu Nadya tadi pulang, ada urusan penting."
"Yaudah kalo gitu kan lu berdua udah berpengalaman jadi tolong lu periksa dia kenapa," suruh Arsya.
"Berpengalaman apaan, gue bukan dokter," kata Luna.
"Kan calon," kata Arsya membuat Luna tersipu malu, karena Luna memiliki cita cita jadi dokter seperti orangtua dan kakaknya.
Tanpa berkata apa-apa lagi mereka mulai memeriksa penyebab dia pingsan.
"Gimana? Dia gak papakan?" Tanya Arif tak sabaran.
"Tenang aja, dia cuma kecapean dan sepertinya maagnya tadi kambuh," kata Rani menjelaskan.
"Syukurlah," kata mereka berempat.
"Kalian mau ke kelas?" Tanya Luna menatap teman temannya.
"Gak, gue mau jaga dia aja," kata Arif.
"Kalo si Arif mau tetap disini, kita juga tetap disini. Lagian sekalian istirahat juga. Capek banget tadi untung aja gue kagak gosong," kata Arsya.
"Ok kita berdua ada urusan. Setelah dia bangun suruh dia minum obat" kata Luna.
"Sipp."
Rani dan Luna keluar dari UKS meninggalkan ke empat remaja yang masih terbaring dengan wajah pucat.
"Dia siapa yah kira kira," kata Arga.
"Entah, kita aja baru ketemu sama dia."
"Eh tapi bisa aja dia murid baru yang membuat para murid heboh karena ia datang dengan kak Dinda dan tadi juga kak Dinda yang nganter dia."
"Cuma Dateng bareng aja, kok sampe heboh banget."
"Iyalah, kak Dinda kan guru paling cantik di sekolah ini bahkan semua siswi perempuan disini gak ada yang bisa ngalahin kecantikannya."
"Lebay lu."
"Itu kenyataan, gue aja naksir sama dia."
"Hahah lu naksir sama kak Dinda, itu bagai langit dan bumi bro."
Arsya yang hendak membalas ucapan Rafael harus ia urungkan ketika Rayhan mulai sadar.
Rayhan membuka padanya perlahan dan hal pertama yang ia lihat adalah keempat remaja yang di hukumnya tadi sedang tersenyum padanya.
"Perut lu masih sakit?" Tanya Arif yang duduk di sampingnya.
Rayhan menggelengkan kepalanya pelan seraya tersenyum tipis meyakinkan mereka kalo ia baik baik saja.
Rayhan bersyukur ternyata masih ada orang baik yang menolongnya ia kira tak akan ada yang mau peduli padanya.
Arga mengambilkan air minum pada Rayhan "nih minum dulu," katanya menyerahkan segelas air mineral.
Rayhan menerimanya agak ragu, Tante megan mengajarinya untuk tidak menerima barang apa lagi itu makanan dari seseorang yang tak ia kenal.
"Ambil aja, gue bukan orang jahat," kata Arga karena tahu apa yang dipikirkan Rayhan.
"Ma..kasih," kata Rayhan.
"Hmm masama."
"Btw nama lu siapa?" Tanya Arga.
"Rayhan."
"Lu anak baru itu kan?" Tanya Rafael.
Rayhan hanya mengangguk kepalanya tanda membenarkan.
"Apa hubungan lu sama kak Dinda?" Tanya Arsya tiba tiba.
Rayhan tak tahu harus berkata apa,
Mana mungkin Rayhan bilang kalo Dinda itu mamanya yang ada mereka membocorkan pada yang lain.
"Gak usah di jawab pertanyaan dari Arsya," kata Arga membuat Arsya kesal.
"Kenalin nama gue Arif, murid kelas 11 dan wakil ketua OSIS."
"Gue Arga yang paling tampan di antara mereka.
"Gue Rafael teman dari 3 orang itu."
"Gue Arsya, fanboy nya kak Dinda. Tapi jangan bilang siapa siapa yah, gue sebenernya naksir sama kak Dinda sejak kelas 10."
Rayhan membulatkan matanya mendengar orang yang bernama Arsya ternyata naksir pada mamanya.
Ingin sekali Rayhan berkata mamanya itu udah punya suami dan anak. Dan anaknya itu Rayhan.
"Terima kasih udah nolongin Rayhan tadi. Dan maaf merepotkan," kata Rayhan menatap mereka.
"Santai aja, kan sekalian mencari amal," kata Arif.
"Kak boleh Rayhan ke kelas sekarang?" Tanya Rayhan karena istirahat memang udah selesai.
"Tapi lu masih pucat."
"Ray gak papa."
"Yaudah tapi kita anter sampe kelas lu."
"Gak usah kak, Ray bisa sendiri."
Rayhan bangun dari kasur dan mulai berjalan dengan pelan sedangkan Arif, Arga, Arsya dan Rafael cuma memperhatikan sampe akhirnya Rayhan udah gak ada di UKS.
Rayhan menambah kecepatan berjalannya saat melihat guru guru udah masuk ke kelas untuk mengajar.
Tapi untunglah belum ada yang datang ke kelasnya, Rayhan segera duduk di tempatnya dan menaruh tasnya yang agak berat.
Rayhan menatap ke samping dimana Samuel berada, dia tampak tak peduli dengan kehadirannya.
Rayhan menoleh ke belakang dan tatapannya bertemu dengan tatapan tak suka dari Aldi seperti saat di gerbang tadi.
Rayhan kembali menghadap ke depan dan mengambil bukunya sekedar untuk membaca sembari menunggu guru yang akan mengajar, namun Rayhan gak bisa fokus saat ia kembali mengingat papanya.
Ia benar benar tak tahu bagaimana caranya mendapatkan yang 200 juta.
Bu sari datang ke kelas.
"Assalamualaikum wr wb."
"Waalaikum salam wr wb."
"Ada hal penting yang ingin ibu sampaikan pada kalian."
"Akan diadakan lomba olimpiade di sekolah kita tapi bukan semua murid bisa ikut. hanya murid yang cerdas dan hanya 2 yang akan mewakili sekolah ini."
"2 siswa masing masing mewakili sekolahnya dan kemungkinan ada sekitar 60 sekolah yang akan ikut itu artinya kalian akan melawan murid dari sekolah lain sekitar 120 orang. Dan akan di laksanakan 3 hari lagi."
Semua murid tak percaya bagaimana mungkin mereka akan mengikuti olimpiade jika waktunya hanya 3 hari.
"Saya harap siapa pun yang ikut bisa menang walaupun hanya juara tiga, kami benar benar berharap pada kalian, karena cuma di kelas ini yang saya belum datangi. Semua murid menolak karena waktunya tidak cukup untuk belajar, mereka takut kalah dan mengecewakan guru guru serta kepala sekolah."
"Juara pertama nanti akan mendapatkan uang 200 juta
Dan juara kedua 100 juta
Serta juara ketiga 50 juta."
Rayhan yang tadinya tak tertarik kini mulai memperhatikan bu sari yang menjelaskan. Ia tertarik ketika tahu hadiahnya lumayan besar. Dan kalo dia memang ia bisa membeli ponsel baru untuk papanya.
"Siapa yang ingin silahkan acungkan tangan."
Di antara semuanya cuma Daniel si murid cerdas yang mengangkat tangannya.
"Apa masih ada?" Kata Bu sari penuh harap karena ia sangat membutuhkan 1 orang lagi.
Dengan ragu ragu Rayhan mengangkat tangannya
Semua murid melihatnya dengan tatapan mengejek "lu yakin?" Tanya Wulan. Rayhan menggangguk ragu.
"Baiklah, terimah kasih untuk kalian berdua yang udah mau ikut. Dan saya harap kalian tidak akan mengecewakan sekolah kita."
"Apa ini keputusan yang tepat? Gimana kalo Rayhan gak bisa menang" batin Rayhan cemas.

Komentar Buku (1038)

  • avatar
    Viraa

    baguss bangettt

    5d

      0
  • avatar
    SahajiAlfin

    bagus

    18d

      0
  • avatar
    Agistia Nurhidayah

    Keren

    26d

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru