"Jadi, bagaimana dokter, apa saya subur? Kami sudah menikah lebih dari 3 bulan, tapi aku tak kunjung hamil." Naomi kedengaran seperti seorang yang sedang curhat, wajahnya menekuk kecewa, seraya tangannya memilin ujung dress. Dokter wanita yang mendengarnya hanya senyam-senyum. Beliau paham betul, karena beberapa kali juga mendapat pasien yang serupa. "Apa yang Nyonya rasakan belakangan ini? Apa nyonya mudah merasakan lelah atau pusing-pusing disertai mual?" Naomi tak paham maksud pertanyaan dokter. Padahal dia yang bertanya, tapi dokter malah balik nanya. Gimana sih? Tambah kesal saja. Tapi, karena dokter wanita itu menatapnya serius, Naomi terpaksa mengingat-ingat. Mudah lelah, pusing disertai mual? "Kalau mudah lelah, sih, iya, dok. Naik turun tangga biasanya juga baik-baik aja, kalau sekarang agak ngos-ngosan. Padahal teman bilang, tubuhku bertambah kurus. Entahlah." Naomi mengangkat bahu. Setahunya sih begitu yang ia rasakan. Dokter wanita yang cantik itu terus tersenyum, membuat Naomi bingung. Orang mudah lelah kok disenyumin, bukannya diberikan obat apalah itu atau semacam vitamin biar lebih segar bugar. "Selamat ya, Nyonya. Berdasarkan pemeriksaan dan tes urine yang kita lakukan tadi, Nyonya Naomi dinyatakan positif." Sebagai orang yang baru pertama kali menemui dokter kandungan, sendirian pula, Naomi bingung dan tak mengerti maksud ucapan dokter. Alisnya di kedua sisi menanjak naik, tapi ada hati yang berdebar mendengarnya. "Positif apa nih, dok?" "Ya positif hamil dong, Nyonya." Tegas dokter. HAMIL? Kedua bola mata Naomi melebar, kedua tangannya lalu menutup mulutnya yang ternganga sebelum kemasukan lalat. Ia tidak salah dengar, kan? Hamil? Artinya ada janin hasil hubungannya dengan Adrian di dalam perutnya? Artinya ia akan punya anak buah cinta dengan Adrian? Kedua bola mata Naomi berpendar menandakan akan ada air yang merembes dari sana. Astaga! Bahagia sekali dia mendenagrnya. Sampai ingin menangis. "Sekali lagi, selamat ya Nyonya. Duh, harusnya suaminya ikut untuk mendengar kabar baik ini. Oh ya, selama 3 bulan ke depan, Nyonya akan merasakan yang namanya pusing, mual-mual hingga muntah-muntah. Itu hal biasa ya. Jangan panik. Usahakan istirahat yang cukup, jangan mengambil pekerjaan berat, jangan banyak pikiran juga dan perbanyak minum air putih." "Terima kasih ya, Dok." Naomi tak bisa berkata-kata. Naomi keluar dari ruangan dokter dengan perasaan bahagia yang membuncah. Ingin segera dia menelpon Adrian dan mengabari berita baik ini, tapi begitu dia hendak menekan nomor 1 untuk panggilan cepat di ponsel, ia jadi ragu. Mas Adrian sangat menyebalkan hari ini. Apa aku nggak usah kabari dulu saja? Aku rahasiakan dulu, sampai suasana hati ini membaik. Berpikir sejenak, Naomi kemudian menaruh kembali ponsel ke dalam tasnya. Ah, lebih baik begitu. Panas terik tak membuat Naomi kecapean menunggu taksi di pinggir jalan depan rumah sakit. Daripada menelpon Adrian, belum tentu suaminya itu selesai urusan kantor cepat. Bisa lumutan ia menunggu nantinya. Dan begitu Naomi berhasil menyetop taksi masuk ke dalamnya, dari arah berlawanan mobil Adrian bergerak masuk ke pelataran rumah sakit. Dengan buru-buru dia mencari ke sekeliling, tapi tak menemukan Naomi. Adrian pun bertanya ke resepsionis di mana ruangan dokter spesialis kandungan berada. Tiba di depan ruangan dokter spesialis, Adrian masuk tanpa mengetuk. Pikirnya, Naomi mungkin yang berada di dalam sedang konsultasi. "Ada perlu apa ya, Pak?" tanya si dokter heran, mendapati seorang tak dikenal masuk ke ruangannya sementara masih ada pasien lain. Adrian tersenyum canggung. Ia salah, tidak ada Naomi di dalam. Adrian kembali mencari keberadaan Naomi di sekitar rumah sakit, namun tak kunjung menemukan. Bodohnya dia, tidak kepikiran untuk menelpon. Entah bodoh atau saking paniknya. Begitu Adrian coba menghubungi, panggilan pertama tak dijawab padahal masuk, panggilan selanjutnya ditolak. Adrian memandangi ponselnya dengan perasaan bersalah, seolah ponsel itu ialah Naomi. "Sayang, aku benar-benar minta maaf." Adrian berujar lirih. Beberapa kali dia kedapatan memukul stir mobilnya, kesal pada diri sendiri. Kenapa juga tadi dia begitu bersemangat untuk memarahi Regina sampai mengabaikan Naomi? Padahal mereka telah berjanji ingin menemui dokter, padahal dia telah membanggakan dirinya bisa melobi untuk bertemu dokter walau sudah siang. Sekarang, Naomi sudah marah padanya? Apa yang harus dia lakukan untuk membujuk wanitanya? Adrian bukan pria yang pandai membujuk wanita. "Apa yang harus aku beli untuk membujuknya?" Adrian melupakan sesuatu. Naomi tidak perlu dibelikan ini itu apalagi barang mewah untuk membujuknya. Naomi hanya butuh Adrian dan permintaan maafnya secara tulus. Memijit kepalanya yang pening, Adrian lalu memutar stir menuju ke rumah alih-alih pergi ke pusat perbelanjaan. Ia hanya perlu minta maaf. "Sayang, Naomi, kamu di mana?" Adrian berlari masuk rumah sambil berteriak. Suara teriakannya membahana sampai Bi Inah yang berada di dapur keluar karena mendengarnya. "Bik, Naomi, dia udah pulang, kan? Dia di mana sekarang, Bik?" "Nyonya pulang langsung masuk ke kamar, Tuan." Tanpa berlama-lama, Adrian berlari menuju kamar. Naomi memang di kamar, tapi dia berpura-pura tidur untuk menghindari Adrian. Malas harus cekcok dengan suaminya itu. Padahal seharusnya ada berita baik yang ingin dia sampaikan. "Sayang, maafkan aku ya, tadi aku meninggalkan kamu di rumah sakit dan berangkat ke kantor." Adrian berjongkok di depan Naomi yang berpura-pura tidur. Sebisa mungkin, Naomi mengatur nafasnya agar teratur, agar Adrian percaya dia tertidur, sementara dalam hatinya ada perasaan kecewa yang menggebu-gebu. "Sayang, aku benar-benar menyesal. Tolong, maafkan suamimu ini." Tangan Adrian terulur hendak mengelus pipi Naomi, tapi dia mengurungnya, khawatir Naomi marah, sebagai gantinya dia merapikan rambut yang berantakan menutupi wajah wanitanya. Aku punya kabar baik untuk kamu, Mas. Tapi, aku marah karena sikapmu tadi. Naomi berkata dalam hati seraya meremas selimut tanpa sepengetahuan Adrian. "Naomi, aku akan terus minta maaf seperti ini, sampai kamu memaafkan aku." Adrian sudah pula berganti posisi menjadi berlutut. Dipandanginya Naomi yang sudah benar-benar tertidur. Baru seperti ini saja Naomi sudah mengabaikannya, bagaimana kalau sampai Naomi tahu fakta yang sebenarnya? Apa Naomi akan langsung pergi meninggalkannya begitu saja? ***
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (122)
Valda
kl update yang cepett ya soalnya cerita nya bagus bangetttt
kl update yang cepett ya soalnya cerita nya bagus bangetttt
08/05/2022
0bagusss cepetan lanjut😄
18/04/2022
4seru bangt
07/06
0Lihat Semua