"Kalian beneran akan pulang hari ini?" Naomi dan Adrian sudah bersiap di kamar mereka, ketika Mama Nawang tiba-tiba muncul dari balik pintu. Beliau terlihat sedih dan kecewa sekaligus. Baru semalam mereka bertemu, sekarang harus berpisah? "Iya, Ma. Adrian juga punya pekerjaan yang harus diselesaikan." Melihat mama mertuanya sedih, Naomi berusaha menenangkan, diraihnya jemari wanita itu dan menggenggamnya erat. "Mama tenang aja ya, Naomi dan Mas Adrian akan sering ke mari kok saat ada waktu luang," ujarnya dengan tersenyum. "Kamu serius, Dear?" Naomi mengangguk mantap. Dia juga senang kok kalau selalu bertemu Mama Nawang. Atau sesekali, biar mama mertuanya yang ke Jakarta. Itu kedengarannya lebih bagus, karena bisa menginap berhari-hari. Mama Nawang, kan, tidak bekerja seperti Adrian yang harus tiap hari. Sebagai pebisnis kosmetik, beliau hanya bekerja dari rumah saja, sesekali datang ke kantor untuk mengecek produk. "Baiklah, kalau begitu, hati-hati di jalan ya. Segera kabari, begitu kalian sampai." Adrian dan Naomi memasuki mobil yang sudah menunggu di depan rumah. Naomi segera melambai setelah masuk ke mobil seolah berat meninggalkan mama mertuanya sendirian. Naomi sangat bahagia Mama Nawang menyayanginya. "Mas, aku kangen mama. Kapan-kapan kita ke sini lagi ya." Giliran Naomi yang membuat muka sedih seraya menyandarkan bahunya ke bahu Adrian. Sontak Adrian menatap tak habis pikir istrinya. Belum 10 menit mobil ini membawa mereka pergi dari rumah mamanya, masa Naomi sudah kangen dengan wanita itu? Yang benar saja. Adrian yang anak kandungnya tak begitu. Apa Naomi begitu bahagia seperti memiliki seorang ibu? Ah, Adrian mendadak merasa bersalah. "Tentu saja, sayang." Ia hanya bisa mengusap lembut puncak kepala Naomi dan mengecupnya. "Oh ya, Mas. Bagaimana dengan Tristan? Dia ada menghubungi kamu? Dia tiba dengan selamat, kan?" "Tristan?" Adrian lupa soal asistennya itu, karena tadi malam kepalanya penuh dengan aktivitas percintaan panas mereka. Kini, ketika Naomi bertanya soal Tristan, dia jadi bingung sendiri mau jawab apa. Namun, Adrian berusaha mengontrol ekspresi kebingungannya. "Oh, Tristan tiba dengan selamat tadi malam. Sekarang dia sedang meeting menggantikan aku." Naomi mengangguk perlahan. "Bagus deh kalau gitu. Mas, kamu jangan keras-keras ya sama dia. Kasihan juga kalau semua urusan pribadi kamu dilimpahkan sama dia." Adrian merasa tertohok atas ucapan Naomi barusan. Apa Naomi tahu kalau Tristan mendadak pulang kemarin karena mengurus urusan pribadinya? Atau wanitanya itu hanya menebak saja? Kenapa bisa pas sekali? "Nggak lah. Aku nggak mungkin setega itu sama Tristan. Aku tidak menggajinya bekerja 24 jam kok." Adrian tersenyum tipis. "Bagus deh. Ngomong-ngomong, aku mau tiduran dulu ya, Mas." Naomi masih terus menyandarkan kepalanya di bahu Adrian hingga ia tertidur lelap. Capek karena aktivitas panas tadi malam masih terasa di tubuhnya, ditambah pagi tadi juga. Angin sepoi-sepoi dari jendela mobil yang terbuka sedikit makin membuat Naomi terlelap dalam mimpi. Melihat Naomi telah tidur, Adrian mengecek ponselnya. Tidak ada panggilan atau pesan dari Tristan. Apa asistennya itu berhasil membujuk saksi? Ah, Adrian penasaran. "Bagaimana Tris? Kamu jadi bertemu saksi mata itu?" Adrian mengirim pesan pada Tristan. Tak butuh waktu lama, ponselnya bergetar menandakan Tristan membalas pesannya. Namun, pesan dari bawahannya itu membuat rahangnya mengeras. Rasa penasarannya tak bisa langsung terjawab. "Akan saya ceritakan setelah kita bertemu di kantor, Bos." Ia pun makin ingin cepat sampai Jakarta dan pergi ke kantor menemui Tristan. Setibanya di Jakarta. "Sayang, kamu masuk dulu ya. Aku harus ke kantor untuk menemui Tristan. Soal meeting dia tadi pagi." Adrian tidak turun dari mobil membuat Naomi heran. Sepenting apa sih meeting tadi sampai Mas Adrian harus langsung ke kantor? Pertanyaan tersebut muncul di benaknya, tapi karena Mas Adrian tampak menunggunya masuk ke rumah, Naomi pun mengangguk dan masuk. Ada apa ya? Kenapa rasanya ada yang aneh sama Mas Adrian? Sepertinya dia tengah menyembunyikan sesuatu dari aku. Padahal kita berjanji untuk saling bercerita satu sama lain setiap ada masalah. 1 jam kemudian setibanya di kantor. Turun dari mobil yang mengantarnya dari Bandung, Adrian melangkahkan kaki lebar-lebar menuju ruangannya. Ia pun menelpon Tristan agar segera menuju ruangannya. "Bagaimana? Apakah kamu berhasil?" tanya Adrian to the point. Dia sudah datang jauh-jauh dari Bandung, tak sempat istirahat, ia ingin mendapat jawaban yang memuaskan. Ia tak ingin, Regina mendatanginya lagi karena masalah ini. Yang lebih penting, dia tak ingin Naomi tahu segalanya dan memilih pergi meninggalkannya. Rahang Adrian mengeras, karena Tristan belum juga buka suara. Adrian makin penasaran. Tristan sendiri, ingatannya kembali pada kejadian tadi malam, saat dia menemui wanita paruh baya saksi kecelakaan beberapa tahun lalu. "Apa benar sekitar 5 atau 6 tahun lalu, ibu pernah melihat sebuah mobil menabrak seorang wanita di jalan?" Si ibu langsung mengiyakan. Tidak ada alasan dia untuk mengatakan tidak. "Apa ibu ingat bagaimana mobilnya dan siapa pengemudi di dalam mobil tersebut?" Si ibu pun tanpa ragu bercerita, kalau hari itu dia baru pulang dari pasar dan tanpa sengaja melihat sebuah mobil menabrak seseorang. Dia menyebut merk mobil dan warnanya, dan penumpang di dalam mobil adalah pasangan yang sepertinya tengah cekcok. Mobil tersebut kabur tanpa membantu korban yang tertabrak. Si ibu pulalah, yang menelpon ambulan agar segera menjemput korban, tapi beliau tak bisa ikut ke rumah sakit. Beliau juga baru mendengar keesokan harinya kalau korban meninggal dunia. "Saya tidak ingin tahu alasan ibu tidak melapor saat kejadian itu, tapi kalau sekarang ibu ada niatan untuk melapor ke kantor polisi atau mengatakan pada media, saya mohon untuk ibu urungkan saja." Si ibu tampak terkejut. Kenapa? Kenapa tidak boleh melapor tindakan kriminal? Seolah paham si ibu sedang bingung, Tristan pun menjelaskan. "Korban yang meninggal waktu itu adalah ibunda dari istri atasan saya. Lalu, yang menabrak tapi terlambat bertanggungjawab itu adalah atasan saya sendiri bersama istri pertamanya. Benar, mereka tengah cekcok. Dan sekarang, atasan saya sudah bahagia bersama istrinya, tanpa istrinya tahu penyebab ibundanya meninggal. Jadi, yang ingin saya katakan adalah, kalau ibu melaporkan pada polisi, bisa jadi rumah tangga atasan saya dan istrinya akan hancur berantakan. Atasan saya tidak mau hal ini terjadi. Biarlah, dosa karena kejadian itu dan berbohong pada istrinya menjadi tanggung jawabnya daripada dia harus membiarkan istrinya pergi. Memang kedengaran egois, saya pribadi juga tidak setuju, tapi ini demi kebahagiaan mereka. Biarlah mereka hidup bahagia tanpa tahu masalah ini. Sekali lagi, Saya mohon, agar ibu tidak melaporkan ke polisi." Entah sejak kapan pula, Tristan berlutut di hadapan si ibu, memohon dengan tulus. ***
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (122)
Valda
kl update yang cepett ya soalnya cerita nya bagus bangetttt
kl update yang cepett ya soalnya cerita nya bagus bangetttt
08/05/2022
0bagusss cepetan lanjut😄
18/04/2022
4seru bangt
07/06
0Lihat Semua