Bab 83

"Urusan penting apa sih? Perasaan kita tuh nggak akrab-akrab banget, jadi mana mungkin kamu punya urusan penting sama aku." Naomi memasang muka jengkel. Pria ini memang harus diginikan, biar tak seenaknya datang ke rumah orang.
Alasan sepupu? Hei, Mas Adrian bisa mengamuk besar walau sepupunya yang datang ke rumah menengok istri tercintanya.
Namun, bukannya sadar diri, cengiran Leo bertambah lebar di wajahnya. Ingin saja Naomi menggetok kepala itu.
"Nih buat kamu!"
Naomi mengamati dengan seksama bingkisan yang sedari tadi Leo sembunyikan di belakangnya. Wajahnya menaruh curiga.
"Apalagi ini? Aku nggak nerima barang pemberian dari orang lain selain suami aku ya." Tolaknya.
"Kamu lupa kalau ya kalau aku ini orang suruhannya Tante Nawang? Ini dari dia, makanan dibuat khas untuk kamu."
Tante Nawang? Maksudnya mama Mas Adrian? Naomi masih menatap curiga ke arah Leo. Bisa jadi, kan, ini cuma akal-akalan dia aja, biar ada alasan bisa datang ke sini. Apa mereka memang sedakat itu? Leo sama Mamanya Mas Adrian? Mengingat Mas Adrian sangat membenci pria di depannya ini.
"Bohong aja kamu. Kamu pikir aku percaya gitu aja dan nerima bingkisan ini? Aku bisa lapor Mas Adrian ya biar kamu digebukin. Mau?" Ancam Naomi dengan mata melotot tajam.
Namun Leo sama sekali tak takut. Malah Naomi terlihat lucu kalau berpura-pura galak begitu.
"Kamu nggak percayaan banget sih? Ngapain juga aku bohong? Oke deh, kalau nggak percaya juga, aku telpon Tante Nawang sekarang. Kita buktiin." Leo merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel.
Nelpon mama Mas Adrian? Sejenak Naomi jadi bimbang. Bagaimana kalau memang bingkisan itu dari mama mertuanya? Apa kata beliau kalau sampai Leo menelpon demi membuktikan kebenarannya dan mengadu kalau dia tidak percaya? Naomi bisa mati kutu di hadapan mama mertuanya nanti.
Aduh, gimana ini? Jadi serba salah.
Sementara itu, Leo sudah memencet layar ponsel lagaknya seperti orang hendak menelpon betulan. Demi apapun, dia hanya menggertak saja. Mana mungkin dia beneran menelpon Tante Nawang cuma karena masalah sepele begini.
Melihat itu, Naomi tak punya pilihan lain, selain menerima saja. Dia pun dengan cepat mengambil bingkisan dari tangan Leo.
"Oke... Oke. Aku percaya. Ini bingkisannya udah aku ambil. Puas?" Leo memang tersenyum puas, sedangkan Naomi menahan gondoknya. Sepertinya akan susah dia melawan Leo, karena pria itu selalu berdalih disuruh oleh Tante Nawang.
"Ya udah, dengan begini, tugas kamu udah selesai, kan? Kamu bisa pulang sekarang."
Dari dalam, terdengar langkah kaki yang mendekati pintu. Naomi langsung bisa menduga kalau itu pasti langkah kaki Desy. Sahabatnya itu, kan, kepoan orangnya. Ah, kenapa Leo datang disaat Desy ada di rumah? Bagaimana kalau Desy juga mengira yang macam-macam?
"Naomi, kok lama banget sih?" Desy melongok ke luar dan tanpa sengaja bersitatap dengan Leo yang juga melihat ke arahnya. Sepertinya Leo kaget mendengar ada suara orang lain di rumah itu.
Rupanya Naomi sedang ada tamu.
"Loh, ada tamu toh? Kok nggak diajak masuk?" Melihat ketampanan Leo, Desy langsung berbinar matanya. Dia menyenggol siku Naomi seolah sedang protes. Ada pria tampan kok nggak dikenalin sama aku? Begitulah kira-kira kata hati Desy.
"Nah, teman kamu aja tahu, kalau ada tamu itu disuruh masuk dulu. Kasih minum dulu." Leo tersenyum ke arah Desy, yang langsung membuat sahabatnya itu bagai terbang ke langit ke tujuh.
Dasar! Leo pasti sengaja.
"Nggak boleh. Mending kamu pulang aja deh." Naomi kekeh mengusir Leo.
Desy tidak tahu apa-apa. Bagaimana kalau Leo kelamaan pulang gara-gara terus ditahan oleh Desy? Bagaimana kalau sampai Mas Adrian pulang, dan Leo masih di sini? Naomi mau beralasan apa?
Lagi, Desy menyenggol Naomi.
"Naomi, kamu kok gitu sih? Nggak baik tahu ngusir tamu. Kamu lupa, kata dosen agama Islam kita, tamu itu ibarat rezeki. Kalau kita usir, sama aja kita menolak rezeki yang datang pada kita." Desy sampai membawa-bawa dosen agama segala. Naomi juga tahu teori itu, tapi ini berbeda.
Leo bukan rezeki yang seharusnya kita syukuri. Kehadiran Leo di rumah ini cuma akan membawa musibah.
Seperti dua orang yang sudah saling kenal, Leo membenarkan ucapan Desy dengan menjentikkan jemarinya di depan muka Naomi.
"Nah itu. Pinter nih teman kamu." Bahkan keduanya saling kode-kodean. Ish, Desy pasti kesenangan sekarang.
"Makasih, kamu juga tampan. Siapa namanya?" Desy bertanya tanpa sungkan. Astaga. Naomi yang kebingungan dibuatnya. Antara menerima Leo masuk ke rumah atau dia akan mengusir Leo sekaligus Desy dari rumahnya.
"Leo. Nama aku Leo."
"Duh, namanya aja udah ganteng. Ayo masuk Leo ganteng." Seperti yang punya rumah, Desy mempersilakan Leo masuk. Naomi berusaha menahan, tapi Desy yang tidak tahu apa-apa, ditambah sepertinya dia menyukai Leo, membuat Naomi frustasi. Dia tak mungkin mengusir keduanya.
Naomi hanya bisa berdoa, semoga Mas Adriannya pulang terlambat hari ini. Aamiin.
Membiarkan Leo dan Desy di ruang tamu, Naomi berlalu ke dapur seraya menenteng bingkisan yang katanya dari mama mertuanya. Awas saja kalau Leo berbohong soal ini dan juga foto kemarin itu. Sampai dia tahu Leo bohong, pria itu akan menyesal seumur hidup.
Tiba di dapur, Naomi langsung mengambil sebotol air dari dalam lemari pendingin, menuangnya ke gelas lalu meneguknya dalam sekali teguk.
"Bik, buatin minuman segar terus antar ke depan ya."
"Mas Leo jadi masuk, Nyonya?"
Naomi menghela nafas panjang seraya mengangguk lemah. Mau bagaimana lagi? Toh sekarang, yang jadi tuan rumah adalah Desy.
"Jangan sampai Mas Adrian tahu soal ini ya, Bik. Cukup aja Mas Adrian tahunya Desy yang datang."
"Iya Nyonya. Bibik paham kok." Naomi tersenyum tipis. Untung saja, Bi Inah memihak padanya jadi ada yang bisa dimintain tolong.
Melangkah gontai ke ruang tamu, Naomi menjatuhkan tubuhnya ke sofa di samping Desy. Gadis sahabatnya itu tampak bahagia sekali berbincang-bincang dengan Leo, seperti teman lama, padahal baru kenal.
"Naomi, kenapa kamu nggak bilang sih, kalau suami kamu punya sepupu yang tampan dan berbakat kayak Mas Leo ini?" Desy merajuk.
Apa itu tadi? Mas Leo? Dia tidak salah dengar, kan? Lalu, memangnya kenapa, kalau Mas Adrian punya sepupu bernama Leo? Apa Desy berencana hendak menggaetnya?
"Aku juga baru kenal sama dia, Des. Gimana mau ngenalin sama kamu. Lagian, kamu kayaknya nggak cocok deh sama dia. Udah, entar aku cari yang lain aja. Jangan dia."
"Kok gitu sih? Dia tipe aku banget, Naomi." Desy berbisik-bisik, tapi masih kedengaran oleh Leo. Pria itu hanya menyengir menanggapinya.
Tiba-tiba, dari arah depan, terdengar bunyi mobil yang datang. Kontan, itu membuat jantung Naomi seakan mau rubuh.
Jangan bilang kalau itu Mas Adrian yang pulang?
***

Komentar Buku (122)

  • avatar
    Valda

    kl update yang cepett ya soalnya cerita nya bagus bangetttt

    08/05/2022

      0
  • avatar
    Dhea Audri Vanesa

    bagusss cepetan lanjut😄

    18/04/2022

      4
  • avatar
    Coy123Supri

    seru bangt

    07/06

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru