"Aku udah selesai mengambil rapot kamu, sekarang aku pulang. Nih rapotnya." Naomi memberikan rapot bersampul biru dengan lambang burung Garuda itu ke tangan Elang. Acara pengambilan rapor telah pula selesai, sekarang mereka berada di luar kelas. Elang mengambil rapotnya dengan raut kebingungan. Ada sesuatu yang mau dia katakan pada Naomi, tapi sepertinya itu memalukan sekali. Di belakangnya juga teman-temannya sudah tak sabaran. "Hmm, Naomi, ada yang mau aku katakan," ucap Elang ragu, kemudian menoleh ke belakang. Alis Naomi berkerut, lalu kepalanya bergerak mengikuti arah pandang Elang pada teman-temannya di belakang sana. "Kenapa?" ketusnya. "Mereka ... mau bersalaman sama kamu," ungkap Elang dengan malu-malu. "Oh, begitu, ya udah sini salaman." Apalagi yang bisa Naomi lakukan selain menerimanya? Daripada nanti dibilang sombong dan sok cantik, lalu Elang akan malu pada teman-temannya? Tidak ada ruginya juga, kan? Naomi pun mengulurkan tangannya pada satu persatu teman Elang. "By the way, kita panggilnya apa nih? Naomi atau kakak?" tanya teman Elang yang sifatnya super kepo itu seraya menyenggol siku Elang. Yang disenggol, mukanya seperti udang rebus. "Terserah. Asal jangan panggil mama aja." Naomi menjawab santai dengan bahu yang terangkat naik. "Kok gitu?" "Ya iyalah, emang sejak kapan aku nikah sama papa kalian? Ck!" Naomi berdecak yang disambut tawa cekikikan teman-teman Elang. "Wah, selain muda, cantik, mama baru kamu asyik juga ya." "Enak banget jadi lo, Lang." "Iya, beneran deh, gue jadi pengen punya mama lagi." Mendengar celotehan teman-teman Elang yang menurutnya ngawur itu, Naomi hanya menggeleng kepala. "Ya udah ya, aku pulang sebelum papa kamu nelpon dan ngamuk-ngamuk," pamit Naomi yang dengan sengaja menyebut kata ngamuk-ngamuk sambil memandang ke arah teman-teman Elang, seolah kalimat itu ditujukan untuk mereka. Biar mereka tau, Adrian, papanya Elang gitu seperti apa orangnya. Bagai gayung bersambut, ucapan terakhir Naomi menimbulkan tanda tanya besar bagi teman-teman Elang. Terlihat dari kerut-kerut bak gelombang magnitudo di dahi mereka. Dengan serempak memandang Elang guna meminta penjelasan. "Nggak usah kepo ya." Belum sempat bertanya, Elang sudah memberikan jawaban dan tak lupa jelingan tanda tidak suka. Sudahlah. Sebatas itu saja teman-temannya tahu soal keluarganya. Elang tidak suka apapun informasi soal keluarganya jadi konsumsi publik mengingat papanya, Adrian, termasuk pria terpandang di kalangannya. Sementara itu, Naomi sudah pula masuk ke mobil dan duduk di samping Tristan yang sedang bermain handphone. Asyik sekali sampai Naomi masuk tak disadari oleh Tristan. Timbul rasa penasaran di hati Naomi. Apa Tristan lagi chatting sama kekasihnya ya? Terniat hatinya hendak menggoda pria berkumis tipis itu. "Cieee yang lagi chatting sama pacarnya, serius banget," ucapnya seraya mencondongkan badan ke arah Tristan tanpa rasa sungkan membuat Tristan yang terlambat menyadarinya refleks menjauh. "Oh, Nyonya, sudah selesai? Maaf saya nggak sadar." Tristan segera menyimpan kembali ponsel yang sejak tadi dia recoki, seolah takut Naomi bertanya-tanya tentang itu. Padahal sudah terlambat, Naomi sudah bertanya saat masuk tadi, ia saja yang tak dengar. Cekikikan Naomi begitu melihat reaksi Tristan, dia pun kembali menegakkan badannya. "Nyonya bilang apa tadi?" "Kenalin aku sama pacar kamu dong. Dia pasti cantik dan manis, kan?" Terkesiap Tristan mendengar pertanyaan Naomi, lalu mengulang pertanyaan Naomi dengan alis berkerut. "Pacar saya, Nyonya?" "Ya pacar kamu lah. Kamu tadi asyik bermain handphone pasti lagi chatting sama pacar kamu, kan?" tebak Naomi dengan senyum sumringah. Tak sabar hendak bertemu wanita pujaan hati Tristan, pasti cantik dan muda seperti dirinya. Setelah paham maksud pertanyaan Naomi, cepat Tristan menggeleng. Tidak, dia bukan sedang berkirim pesan dengan pacar. Teman wanita saja dia tidak punya, apalagi kekasih hati. Tristan memijat pelipisnya, mentertawai kesalahpahaman yang sedang terjadi. "Saya bukan lagi chatting sama pacar kok, Nyonya. Tadi itu saya sedang berkirim pesan dengan teman lama," terang Tristan. "Tapi teman lamanya perempuan, kan?" Naomi memang suka menebak-nebak sambil mengerling manja. Kembali menggeleng kepalanya. "Bukan, Nyonya. Teman lama saya seorang laki-laki." Meski dahinya berkerut karena tak habis pikir, tapi Naomi pura-pura memahami saja. Tidak ada masalah juga sih kan kalau asyik chatting sama teman lama dan orang itu seorang pria. "Tapi, kamu punya pacar, kan? Siapa namanya? Pasti cantik deh." "Nggak punya, Nyonya." Kali ini Naomi kehabisan kata-kata, ia ternganga dengan mata nyaris melotot. "Masa sih cowok setampan kamu nggak punya pacar?" Tristan hanya bisa tertawa canggung seraya mengangkat bahunya. Bukan sebuah kesalahan juga kan kalau seorang pria berumur 29 tahun tak memiliki pacar? Jodoh seseorang tidak ada yang tahu. Pacaran juga belum tentu menikah. Sudah menikah juga bisa bercerai. "Saya sungguh belum punya pacar, Nyonya." "Kalau kriteria wanita idaman kamu, gimana? Kali aja aku punya teman yang bisa dicomblangin sama kamu?" "Nggak perlu, Nyonya." "Nggak apa-apa, Tris. Bilang aja, sama aku santai aja, aku nggak bakalan ngadu sama Adrian kok." Tristan memilih diam dan fokus menyetir dibanding meladeni pertanyaan Naomi yang sudah menjurus ke hal-hal pribadinya. Selama ini memang Adrian tak pernah menanyakan apapun soal kehidupan pribadinya, sebatas pekerjaan saja. Karena Tristan diam, Naomi tak bertanya-tanya lagi. Pikirnya, mungkin Tristan belum bersedia bercerita dengannya, tapi Naomi bertekad ia akan mencarikan wanita untuk diperkenalkan dengan Tristan. Bagaimana kalau Desy? Tristan yang kalem akan cocok sama Desy yang ceriwis. Aku coba deh nanti. Naomi senyam-senyum sendiri sembari melirik Tristan. ***
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (122)
Valda
kl update yang cepett ya soalnya cerita nya bagus bangetttt
kl update yang cepett ya soalnya cerita nya bagus bangetttt
08/05/2022
0bagusss cepetan lanjut😄
18/04/2022
4seru bangt
07/06
0Lihat Semua