"Ekhem... Ekhem... Ekhem..." Adrian berdehem tiga kali selagi membuka pintu kamar Elang dengan gerakan sepelan mungkin. Antara tidak mau mengganggu putranya yang sedang belajar atau tak ingin kedatangannya diketahui oleh si empunya kamar. Wajar saja, sebelumnya Adrian tak pernah menunjukkan perhatiannya pada Elang. Ini saja atas perintah yang berkedok saran dari Naomi. "Eh, Pa? Ada apa ke kamar Elang? Tumben?" Sang putra yang mengetahui kehadiran Adrian di kamarnya, segera membalikkan kursi putarnya, menatap penuh tanda tanya. Kembali berdehem, Adrian sebenarnya sedikit kesal dengan pertanyaan Elang. Memangnya seorang papa tidak boleh masuk kamar anak sendiri seenaknya? Harus minta izin dulu, begitu? "Papa cuma mau memastikan kamu belajar dengan benar," sahut Adrian masih dengan nada datarnya. Sungguh tidak mencerminkan sikap seorang papa yang seharusnya hangat pada anak. Sementara Elang, hanya ber'oh' singkat, kemudian dengan ragu membalikkan kursinya menghadap meja belajar. Sejujurnya, Elang ingin diperhatikan oleh Adrian, mendapati papanya datang ke kamar sungguh membuatnya senang. Yah, walaupun sikap sang papa begitu kaku. "Kalau begitu, papa kembali ke kamar ya. Kamu belajar lagi aja." Adrian sudah memegang gagang pintu bersiap membukanya dan keluar, ketika suara Elang menghentikan pergerakannya. "Papa kan seorang CEO, pasti jago ekonomi. Ajarin Elang dong, Pa!" "Eh?" Adrian kontan menoleh pada Elang yang menatapnya dengan muka memelas, tapi terlihat sangat tampan. Memang, buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya, sempat pula Adrian memuji dirinya sendiri dan tentunya sang anak. Menggaruk keningnya yang tak gatal, Adrian coba menelaah apa sebenarnya yang sedang Elang inginkan darinya. Baiklah, mungkin dengan mengajarinya Ekonomi, aku bisa sedikit lebih akrab dengan putraku sendiri, Adrian menyakinkan dirinya dalam hati. "Tentu dong, papa kamu ini seorang CEO handal." Adrian mulai tersenyum bangga yang disambut Elang dengan senyuman pula. Berjalan mendekati meja belajar Elang, Adrian pun mengamati dengan seksama pelajaran yang tengah dipelajari sang anak, sebelum akhirnya dia mengangguk sendiri. "Ini gampang. Papa yakin setelah belajar sama papa kamu pasti dapat nilai tinggi." Alis kanan Elang meninggi, antara percaya dan tidak dengan bualan Adrian, yang menurutnya lumayan ada kemajuan. Papanya mulai banyak bicara dengannya meski agak terasa kaku. "Seriusan, Pa?" tanya Elang dengan senyum simpul. Kedua pria beda generasi itu pun sibuk, Adrian bagian menjelaskan layaknya guru yang lihai, mencoret-coret di buku latihan sang anak dan sesekali menjelaskan dengan gayanya layaknya sedang rapat di kantor, sedang Elang mendengarkan dengan serius, sesekali dia mengangguk paham. Ada terbersit rasa bangga, punya papa seorang Adrian Putra Kelana, yang gagah dan pintar. Namun kemudian, Elang sedikit mencelos, jika teringat dengan kehidupan mereka. Seandainya papa dan mamanya tak pernah bercerai. Tanpa sepengetahuan Adrian maupun Elang, di sela-sela pintu kamar yang sedikit terbuka, ada Naomi yang menempelkan badan beserta kupingnya demi menguping kegiatan apa yang terjadi di dalam. Pasalnya, sudah hampir 10 menit Adrian masuk kamar Elang tapi tak kunjung keluar. Apa yang sebenarnya pria itu lakukan di dalam? Tidak puas cuma menguping, Naomi pun melongok kepalanya ke dalam. Tampaklah olehnya dua orang pria sama gantengnya sedang asyik bertanya jawab seperti dalam sesi diskusi. Ternyata mereka bisa akrab juga ya. Nggak salah kalau tadi aku terkesan memaksa dia untuk menengok Elang ke kamar. Hihi. Naomi menutup mulutnya dengan tangan demi menahan cekikikan. Adrian dan Elang tidak boleh tau, kalau dia sedang menguping, eh mengintai, eh pokoknya itulah. "Kamu lanjut belajar ya, ingat jangan kemalaman. Papa balik ke kamar dulu." Adrian berujar setelah dirasa cukup waktunya mengajarkan Elang. Putranya itu juga bukan murid yang bebal kok kalau diajarin dengan benar. Adrian yakin Elang bisa. Tak lupa, dia menepuk pundak Elang seakan memberi semangat. "Sip, Pa." Elang menaruh tangan sejajar pelipis seperti sikap hormat dengan senyum bak layar terkembang. Adrian pun membawa langkahnya keluar kamar, dan ia dibuat terkejut ketika matanya menangkap sosok Naomi yang sedang bersandar di dinding tepat depan pintu kamar. Bukan masalah Naomi tiba-tiba ada di situ, tapi pose kedua tangan yang dilipat di dada itu membuat bagian dada Naomi yang kecil namun berisi itu menyembul. Adrian dibuat menelan ludah serat, lalu melarikan pandangan dari Naomi. "Kamu ngapain di sini?" "Aku cuma mau lihat kalian aja kok. Kenapa? Nggak boleh?" Tidak menjawab, Adrian memilih berlalu dari sana menuju kamarnya. Tidak boleh dia berlama-lama memandang Naomi apalagi ke bagian yang menyembul itu. Fungsi otak Adrian akan langsung seperti listrik disambar petir, konslet. "Kamu juga ngapain masih di sini? Minggir! Aku mau tutup pintu." Entah sejak kapan, Elang berdiri di depan pintu, pakai mengusir Naomi segala lagi. Tentu saja hal itu memercik api kemarahan Naomi, ia sontak mendelik. "Yeee, nggak kamu suruh juga aku memang udah mau pergi. Bapak sama anak, sama aja." Naomi pergi namun sebelum itu dia membuat gerakan seperti mau menyikut orang, dan matanya ditujukan ke arah Elang. Menyusul Adrian masuk kamar, Naomi dibuat heran karena tidak mendapati sang suami di dalam. Celingak-celinguk ke sana ke mari, dengan alis yang berpaut. "Ke mana ngilangnya? Cepat banget? Perasaan benar deh orangnya masuk ke kamar, tapi kenapa nggak ada ya? Apa jangan-jangan dia ini ada keturunan...? Gerhhh." Naomi bergidik ngeri hanya dengan membayangkannya. "Keturunan apa? Jin? Dedemit? Atau apa maksud kamu?" Adrian tiba-tiba muncul dari belakang. Rupanya sejak tadi, Adrian bersandar di dinding dekat pintu, makanya sama Naomi tidak kelihatan. Berbalik, Naomi menatap Adrian dengan memaksakan senyum kecut. Apalagi saat Adrian semakin mendekat dan mengikis jarak antara mereka. ***
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (122)
Valda
kl update yang cepett ya soalnya cerita nya bagus bangetttt
kl update yang cepett ya soalnya cerita nya bagus bangetttt
08/05/2022
0bagusss cepetan lanjut😄
18/04/2022
4seru bangt
07/06
0Lihat Semua