Bab 19

"Apa pernikahan kamu tak bahagia, nak?"
Ditanyai soalan seperti itu, putri mana yang akan langsung menjawab yang sebenarnya kalau pernikahannya tidak baik-baik saja?
Tidak mungkin. Naomi sama saja menambah beban luka di hati ayahnya kalau sampai dia menjawab begitu.
Tidak. Naomi tidak akan tega mengatakan yang sejujurnya. Biarlah dia berbohong saja.
"Ayah, kita ngomongnya di dalam ruangan ayah aja ya," ajaknya seraya menggandeng lengan sang ayah, menggelayut manja di sana. Sudah lama dia tak mesra dengan ayahnya seperti sekarang ini.
"Baiklah, ayo!"
"Nah, gitu dong." Naomi menyengir lebar menampilkan barisan giginya yang kecil. "Masa putri ayah datang nggak disuruh masuk, kasih minum dulu. Naomi juga haus tau." Ia juga sengaja membuat muka kecut dan bibirnya mengerucut.
Sesampainya di dalam ruangan sang ayah, Naomi hanya meminta minuman yang sama dengan ayahnya, yakni kopi. Ia tak mau menambah beban dengan memesan minuman yang macam-macam.
Sembari menikmati kopi, pikiran Naomi melanglang buana, mencari jawaban atas pertanyaan ayahnya. Ya, Naomi tau dia tak akan menjawab sejujurnya soal dia tak bahagia, tapi bagaimana mengatur kata-kata untuk meyakinkan ayah kalau dia bahagia?
Ayah tak boleh tau kalau sebenarnya dia tak baik-baik saja.
"Ayah sendiri, gimana perasaannya? Udah beneran sehat? Kenapa ayah nggak istirahat aja di rumah dulu?"
Naomi memulai percakapan dengan bertanya kabar ayah dahulu. Memang dia juga ingin tau kabar orangtua itu. Luarannya memang terlihat baik, dalamnya siapa tahu?
Ayah adalah penyimpan rahasia yang sangat baik.
"Ayah sehat, Alhamdulillah berkat suami kamu."
Terkedu Naomi saat ayah menyebut suaminya. Memang kenyataannya begitu, kan? Ayahnya sehat berkat bisa melakukan operasi dan itu atas biaya yang dikeluarkan oleh Adrian.
Haruskah Naomi sujud syukur di depan suaminya itu?
"Ya, tapi kan seharusnya ayah masih harus istirahat dulu. Tidak perlu segera bekerja, sampai ayah benar-benar pulih, baru deh boleh berangkat kerja." Naomi mulai cerewet.
"Naomi, sudah berapa lama sih kamu jadi putri ayah? Kamu pasti tau bagaimana ayah sangat giat soal pekerjaan."
Naomi melebar bola matanya kemudian mengangguk. Ya dia paham betul.
"Iya, itu kalau kondisi ayah baik-baik saja." Suara Naomi penuh penekanan. Ia ingin sang ayah tahu agar dia tak perlu memporsir kesehatan sendiri demi pekerjaan. Untuk apa beliau bekerja keras? Kuliahnya sudah selesai, tinggal menunggu jadwal wisuda. Untuk mencukupi kebutuhan keluarga tirinya? Cih, Naomi sedikitpun tak rela.
Ayahnya bahkan tak pernah bercerita soal penyakitnya. Naomi mungkin tidak akan tahu sampai waktu itu penyakitnya benar-benar kambuh sampai mengharuskan operasi.
"Kamu begitu cerewet pada ayah padahal kamu juga belum jawab pertanyaan ayah, Naomi."
"Pertanyaan yang mana ya?" Naomi pura-pura tak ingat seraya tersenyum samar.
"Soal apakah rumah tangga kamu bahagia? Ayah akan sangat membenci diri ayah sendiri kalau sampai pernikahan kamu tak bahagia dengan Adrian. Semuanya salah ayah, seharusnya kamu tak menanggung ini semua."
Membuang mukanya, Naomi juga menghela nafas kasar. Ayah tak perlu lagi mengungkit ini. Karena kalau perlu diungkit-ungkit, Marsya lah penyebab semuanya terjadi.
Karena siapa Adrian datang ke rumahnya? Pasti karena ingin mencari wanita untuk dinikahi dengan iming-iming membantu melunaskan hutang.
Ahh, sakit kepala kalau dipikir-pikir.
"Soal rumah tangga aku, ayah tak usah khawatir. Aku baik kok, yah. Lihatlah, badanku tambah sehat, karena di sana ada bi Inah yang masakin aku makanan enak."
"Lalu bagaimana dengan Adrian? Apa dia baik padamu? Juga bagaimana dengan putranya?"
Naomi diam sesaat sebelum akhirnya mulai bercerita soal keluarga barunya itu.
"Adrian baik kok orangnya. Dia tipe pekerja keras juga seperti ayah, bahkan dia sudah masuk kerja sekarang. Oh ya, putranya Adrian itu ternyata sudah remaja, yah. Sudah anak SMA. Agaknya dahulu Adrian menikah muda."
"Begitu ya? Lalu, apa kamu sudah bertemu dengan orangtuanya?"
Orangtua Adrian? Naomi ingat Bi Inah pernah cerita.
"Orangtuanya tinggal di luar kota, Yah. Itupun dia cuma memiliki mama, papanya telah meninggal."
Ayah mengangguk paham.
"Alhamdulillah kalau kamu berbahagia dengan pernikahannya. Ayah turut bahagia."
"Makasih, Yah." Naomi tersenyum di balik penderitaannya. Lagi pula, dia nggak menderita-menderita banget kok. Ada Bi Inah di rumah yang membuatnya tak sendirian. Masakan Bi Inah juga enak-enak.
Setelah berbincang-bincang hangat lainnya, Naomi pun pamit pada ayahnya. Tak lupa dia mencium tangan orangtua yang sangat disayanginya itu.
Ayah yang kuat ya, sehat terus.
Doa Naomi dalam hatinya. Andai saja dia bisa membawa ayah tinggal bersama di rumah Adrian. Tapi, itu sangat tidak mungkin.
"Naomi pulang ya, ayah. Assalamualaikum."
Di bawah, tepatnya di depan kantor tempat mobil Tristan terparkir, Naomi mendapati pria tampan itu tengah asyik mematut layar ponselnya. Saking asyiknya, kehadiran Naomi yang membungkuk di samping jendela mobil tak disadari oleh Tristan.
"Serius banget? Lagi liatin foto pacar ya?" Goda Naomi.
"Eh... Nyonya. Sudah selesai? Maaf saya nggak sadar. Ayo Nyonya silakan masuk." Tristan yang terlambat menyadari kehadiran Naomi, jadi merasa serba salah. Tersenyum tak enak hati, Tristan lalu mempersilakan Naomi masuk.
Naomi pun masuk duduk di kursi depan.
"Kamu nggak bosan ya kerjaan kayak gini? Nggak ada niatan ganti profesi? Kamu ganteng loh, pintar, pasti bisa dapat pekerjaan lebih baik dari ini."
"Saya betah kerja dengan bos Adrian."
"Begitu ya? Ya udah deh kalau gitu."
***

Komentar Buku (122)

  • avatar
    Valda

    kl update yang cepett ya soalnya cerita nya bagus bangetttt

    08/05/2022

      0
  • avatar
    Dhea Audri Vanesa

    bagusss cepetan lanjut😄

    18/04/2022

      4
  • avatar
    Coy123Supri

    seru bangt

    07/06

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru