logo text

Bab 32 ENDING : RAMALAN TAK SEPENUHNYA BENAR

"Pa!"
Mahendra menatapnya dengan wajah masih kesal, dia sungguh dikerjain oleh bocah kecil ini. "Apa?"
"Biasa aja dong pa!"
"Kamu udah bikin papa, sedih Brayen. Nangis papa tau."
"Papanya aja yang cengeng."
"Anak sialan kamu ya!"
"Jangan bilangin Brayen masih hidup ya!"
"Maksud kamu?"
"Demi si penjahat itu, dia harus mati terlebih dahulu. Buat kematian Brayen seakan-akan nyata, setelah semua selesai baru Brayen bereskan!"
"Termasuk Laura?"
"Dia sudah pergi pa, ke kampung halamannya."
"Anak itu pasti kembali Brayen."
"Dia gak akan datang, kalau gak ada yang bilang sama dia tentang masalah ini," ucap Brayen yakin.
"Tapi kalau dia datang?"
"Bilang Brayen udah gak ada."
"Kamu menyiksa dia Brayen," ucap Mahendra yang tak setuju.
"Hanya sebentar, tolong kuatkan dia!"
Tak lama beberapa suster masuk, itu suruhan dokter. Bagaimana pun mereka harus mengobatinya.
"Dokter!" ucap Brayen yang membuat pria paruh baya itu menoleh.
"Bius saya untuk waktu yang lama!" ujar pria itu, yang membuat sang Dokter menatap Mahendra. Jika ini memang rencana yang terakhir, maka mereka harus melakukannya. "Lakukan dokter!"
Sesuai perintah pasien, mau gak mau dokter itu melakukannya, tentu saja dengan sogokan uang. Anggap saja dia anggota dari rencana.
FLASHBACK (OFF)
.
.
.
Beberapa hari telah berlalu, mantan ketua DPRD itu sudah mati karena hukumannya membuat Brayen puas, lukanya masih basah dan dia terpaksa meminum obat demi kesembuhannya, demi gadis itu.
Sekarang tak ada lagi yang menganggu hidup mereka, walau ia tak tau kedepannya.
Tak lama pintu terbuka memperlihatkan pelayan rumah Brayen tersenyum sambil membawa sepiring nasi goreng di nampan.
"Duh seneng deh liat Aden lagi."
"Saya juga seneng bi."
"Jangan bohong lagi ya den, dosa."
"Bohong juga kan demi kebaikan bi."
"Kebaikan sih kebaikan tapi kasian tuh non Laura nangis histeris gitu, kehilangan Aden. Duh bibi juga kasian banget liat dia udah frustasi kayak gitu."
Tak lama Brayen memperlihatkan ponselnya, menampilkan foto Laura yang dia Pasang sebagai wallpaper ponselnya, ia mengambil foto itu di Instagram gadis cantiknya.
"Cantik tidak?" tanya Brayen.
"Duh siapa lagi sih yang ngalahin kecantikan dan manisnya non Lala. Apalagi denger cerita dari Aden mungkin gak ada lagi wanita non Lala di dunia ini, yang sabar banget," ucap pelayan itu membuat Brayen tersenyum. "Ya udah bibi permisi dulu ya den mau nyuci piring, cepet sehat ya!"
"Sehat kok kalau bibi sering-sering bikin makanan yang enak."
"Dulu bibi itu koki den, cuma sekarang udah tua makannya di pecat dan jadi pembantu kayak gini."
"Iya deh percaya."
Pintu kembali tertutup membuat Brayen segera menyantap makanannya, tak lama ia memikirkan sesuatu, anak laki-laki itu segera menelpon sang papa.
"Halo Brayen!?" sapa Mahendra yang tengah membulak-balikan kertas data penduduk.
"Pa! Sore main ke rumah Lala yuk!"
"Bareng papa?" tanya Mahendra yang mulai serius.
"Iya, Brayen mau minta restu sama mamanya."
"Loh emang mama Laura gak restuin kalian?" tanyanya heran.
"Iya, karena penampilan Brayen mungkin."
"Kenapa gak bilang aja papa kamu ini seorang gubernur? Papa yakin langsung dapet restu kalau kamu Ngomong kayak gitu," ucap sang papa dengan sombongnya.
"Udahlah pa intinya papa sore pulang! Oke!"
"Iya, iya, nanti papa beli makanan dulu biar nyogok? Gak sekalian beli mas kawin? Biar jadi mantu gitu."
Brayen kesal. "Restu aja belum dapet gimana mau ngawinin? udah papa pulang aja dulu!"
"Iya, iya."
Telepon ditutup membuat, Brayen menghembuskan nafas kasar. Tak lama dia mengambil sesuatu di laci, sebuah kotak cincin berwarna biru dengan benda di dalamnya yang memiliki permata yang sama, pria itu mengumpulkan uang jajannya selama ini dan berhasil membeli cincin itu seharga sejuta setengah.
.
.
.
Sorenya benar saja Brayen, Mahendra, bahkan Raka dan Pino ikut mengunjungi rumah Laura. Dan ternyata yang membuat Maura membuat dia terdiam heran.
"Ada apa ya?"
"Ma! Siapa?" tanya Liam, tak lama pria itu terkejut dengan kedatangan Mahendra disini.
"Ya Allah pak gubernur! Ada apa datang kemari?"
"Gubernur?" tanya Maura yang heran, dia tidak tau apapun tentang kota ini dan tentu saja ia heran, sedangkan Liam menang bekerja berpindah-pindah tempat, dia jika bekerja juga tak ketinggalan informasi jadi dia tau semua info kota yang ia kunjungi.
"Mari masuk pa! Masuk!" ujar Liam yang menyuruh sang isteri untuk minggir, membuat Maura tak mau pindah.
Beruntung hanya barang seperti pakaian dan beberapa batang lain yang dibawa sedangkan kasur dan sofa tetap masih ada.
Semuanya duduk termasuk, Maura. Dia sudah dengar semuanya dari sang anak dan dia sedikit kesal kenapa anak itu tidak benar-benar mati saja?
"Begini pa, maksud kedatangan kami kemari untuk meminta restu atas hubungan anak-anak kita," ucap Mahendra yang membuat dua orang itu bingung.
"Anak kita? Jadi Brayen anak anda?" tanya Liam yang tak menyangka.
"Iya, dia anak saya," balas Mahendra dengan ramah.
"Papanya kelihatan baik-baik tapi anaknya, kayak preman pasar, anda yakin itu anak Anda?" tanya Maura yang masih tak setuju wajah tau Brayen itu anak pejabat.
"Mah! Udah dia itu anak gubernur! Jangan macam-macam kamu!" ucap Liam yang membuat Maura terdiam, ya memang ribet kalau menyatu dengan jabatan.
"Maafkan istri saya, dia memang seperti itu, lahir di keluarga yang baik menjadikan, gak suka orang macam nak Brayen ini," ucap Liam Dengan sopan.
"Gak apa-apa, saya maklumi kok. Sebenarnya dia seperti ini karena ulah saya yang jahat, dia kehilangan sosok itu dan saya selaku kasar pada dia karena kematian istri saya yang meninggal setelah dia lahir, jadi saya harap jangan menghakimi dia seperti ini."
Mendengar hal itu Maura merenung, kisahnya cukup pilu tapi apa benar?
Pintu terbuka menampakkan Laura yang menggunakan baju santai tanpa heran dengan kedatangan mereka semua kemari, padahal dia ingin berjalan-jalan bersama Mira tadinya.
"Loh om, kakak baik? Kalian ngapain disini!" tanya Laura yang bingung.
Liam melihat anaknya. "Laura sini nak!"
Mendengar hal itu Laura berjalan kearah mereka. "Ada apa pa?"
"Mereka mau silahturahmi ke sini. Oh iya ma! Bikin minum sana!" ujar Liam yang mau gak mau Maura pergi membuat minum untuk mereka.
"Duh jadi ngerepotin," ucap Mahendra yang tak enak.
"Gak apa-apa. Laura Brayen kelihatan serius sama kamu, apa kamu mau?"
Laura terdiam sebentar. "Lala mau pa, cuma mama...."
Wanita itu kembali setelah membawakan minuman. "Saya setuju, cuma Brayen bisa gak bahagiain anak saya? Pakai duit orang tua aja bangga."
"Ma! Maaf sekali lagi."
"Insyaallah hidup Laura terjamin, saya memiliki restoran yang cukup banyak dari hasil kerja saya sebagai pemimpin rakyat, dan saya sudah menulis harta warisan pada Brayen, dia juga sudah belajar cara mengatur restoran yang baik, bahkan beberapa restoran pernah ia pegang selama seminggu dan hasilnya memuaskan," ucap Mahendra, yang seakan bukan memperkenalkan anaknya melainkan memperkenalkan karyawannya.
Maura terdiam sebentar, sebagai ibu sosialita ia memang perlu pamer. Dan calon menantunya ini cukup bagus, tapi hanya penampilannya saja yang membuat dia tak duka. "Ya udah deh kalau kalian suka sama suka mama bisa apa?"
"Alhamdulillah," ucap semuanya kompak, tak lama Brayen memberikan sebuah kotak cincin didepan mereka.
"Ini sebagai hadiah, gak mahal kok cuma untuk pengikat doang," ucap Brayen yang sedikit deg-degan, ia sangat grogi tadi padahal sudah sering kemari dan bertemu orang tuanya, tapi entah kenapa bersama Mahendra dan yang lain jadi berbeda.
Laura mengambil itu dan membukanya, tak lama ia tersenyum. "Bagus banget kakak baik."
Mahendra bangkit, dari posisinya. "Lala sayang kamu deket Brayen! Kasih cincinnya suruh pakaikan ke jari kamu!"
Mendengar hal itu Laura berjalan mendekat, entah kenapa ini bukan seperti mendapatkan restu saja sudah seperti lamaran sungguhan.
Cincin itu diberikan pada Brayen dan pria itu pasangkan Ke jari manis kirinya. Sebuah jepretan lensa kamera membuat semuanya menoleh.
"Raka! Pino! Sini kalian ambil foto!" ujar Mahendra yang membuat dia anak buah itu datang kearahnya lalu mengambil ponselnya itu.
Kelima orang itu mengambil posisi, untuk berfoto. Setelah hitungan dari Raka foto itu jadi, mereka berganti gaya agar banyak fotonya.
"Wah aku ketinggalan apa nih?" tanya Mira yang baru datang, lantas saja ia tunggu tak kunjung nongol, ternyata lagi lamaran toh.
"Mira sini foto!" ujar Laura, yang membuat jiwa eksis itu ingin ikut juga berfoto ria.
Setelah selesai mengambil gambar, Pino dan Raka mengambil foto Selfi, agar menjadi kenang-kenangan.
Tiba-tiba Brayen mencium Laura didepan banyak orang, dan itu gak lepas dari kamera. Sedangkan Maura hanya terkejut melihat itu, gadis polosnya ternodai.
Setelah bibir itu terlepas, Brayen menatapnya. "La, gue harap kebahagiaan ini selamanya."
Dan selesai, ternyata ramalan itu tak sepenuhnya benar, kalau kita memang percaya pada takdir Tuhan, insyaallah kita akan menemukan jalan.
TAMAT

Komentar Buku (739)

  • avatar
    AdeliaKamila

    sangat baik

    21d

      0
  • avatar
    HermawanHermi

    wow cool bet dah

    23d

      0
  • avatar
    Sambe LadaEstachia

    keren cerita nya

    23/08

      0
  • Lihat Semua

Selesai

Rekomendasi untuk Anda