Sekarang keduanya berada di rumah Brayen, tidak mungkin pria itu ke sekolah dengan luka lebam seperti ini, dia malas sekali menjadi trending topik sekolah. Pembantu paruh baya itu memberikan sebaskom air es di meja depan mereka, dan menaruh kain disana juga. Tak lupa air sirup agar keduanya tak haus. "Ini Den! Bibi permisi dulu ya!" Brayen mengangguk. "Makasih bi, oh iya nasi goreng pagi masih ada?" Wanita itu terdiam sebentar. "Habis deh kayaknya Den, mau bibi buatkan lagi?" "Boleh deh, kebetulan laper lagi, kamu mau gak la? Nasi goreng buatan bibi enak loh," ucap Brayen, bertanya pada Laura tapi gadis itu menggeleng. "Lala gak mau, kakak baik aja." Brayen Kembali melihat pembantunya. "Ya udah kalau gitu satu ya bi!" "Baik den, bibi permisi dulu," pamitnya yang langsung pergi setelah itu. Laura menatap pembantu itu, lalu menatap kekasinya. "Sejak kapan kakak baik punya pembantu?" "Beberapa hari yang lalu," balas Brayen, pria itu Sekarang mengambil kain itu lalu mencelupkan di tempat yang berisikan air es tersebut. "Biar Lala aja!" ucap Laura yang hendak mengambil benda itu. "Gak usah gue bisa sendiri, maafin gue ya la!" ucap Brayen yang membuat gadis itu tak mengerti apa yang kekasinya itu ucapakan. "Maaf untuk apa?" tanyanya bingung. "Maafin karena gue Lo jadi ikutan mau celaka." Brayen menempelkan kain itu dan meringis sakit disana. "Ini bukan salah kakak baik kok, jadi kakak baik gak usah minta maaf kayak gitu." "Tapi kehidupan gue kayak gini la, selalu bermasalah ... Gue cuma takut Lo yang kenapa-kenapa," ucap Brayen penuh rasa khawatir, karena papanya banyak yang iri membuat dia selalu berada dalam bahaya, maka dari itu mereka selalu menyelipkan senjata api atau senjata tajam untuk berjaga-jaga. "Lala gak takut kok, karena Lala yakin kakak baik pasti nolong Lala," ucapnya penuh percaya dengan senyuman polos. "Tapi gue selalu ada di sisi Lo la, gue buka superhero yang yang datang kapan saja jika Lo manggil, gue cuma manusia biasa," ucap Brayen, gadis ini selalu percaya padanya membuat dadanya sesak. Laura bagai bayi polos yang berlindung seorang monster, tanpa dia tau kalau Monster itu akan memberikan keburukan atau kebaikan padanya. "Lala percaya sama kakak! Kakak akan selametin Lala kapanpun itu," ucapnya yang sangat percaya padanya. "Tapi Lo hampir mati tadi." "Tapi kakak baik udah berusaha mau selamet Lala kan?" tanya gadis itu membuat Brayen tak dapat berkata-kata lagi, mungkin Tuhan benar-benar baik padanya hingga mengirimkan malaikat ini padanya. Duduk pria itu berpindah posisi, dia sekarang menatap wajah Laura, lalu melihat pipinya yang terkena tamparan, waduh ada warna merah di sana, Brayen segera mengompres pipi itu. "Maaf untuk semuanya, maaf kalau gue selalu kasar sama Lo, maaf atas sikap gue selama ini, gue gak bisa bayangkan kalau gue kehilangan lo, mungkin gue gak akan tau apa itu cinta dan kasih sayang. Gue janji la! Gue akan selalu jagain Lo, sampai maut ngejemput gue, Allah sebagai saksinya sekarang!" Setelah mendengar itu, Laura memeluk tubuh Brayen. Ia sudah bertanya mengapa mereka tidak pergi ke sekolah, dan pria itu sudah memberikan jawabannya. "Lala seneng, perjuangan Lala gak sia-sia selama ini." Tiba-tiba pintu terbuka memperlihatkan Mahendra yang mematung juga didepan pintu, karena syok dengan dua orang yang sedang berpelukan itu. Padahal dia sudah ngebut ke sini untuk melihat kondisi dua orang itu, tapi ternyata mereka malah sedang bermesraan. "Papa ganggu ya?" tanya Mahendra yang masih mematung, dua orang itu sudah berubah posisi, bahkan Laura menghapus air matanya karena terbaru dengan ucapan Brayen yang tadi. "Gak kok---" "Jelas ganggu banget la, pa! Papa itu main buka pintu tiba-tiba aja," potong Brayen yang memarahi ayahnya itu, padahal sang papa yang punya rumah kenapa malah di omelin. "Lah kan yang punya rumah papa," ucap Mahendra yang mengoreksi. "Tapi papa ganggu aja," ucap Brayen, yang mendapatkan pukulan di paha mendadak. "Kakak baik gak boleh ngomong gitu!" ujar Laura, pria ini selalu saja memancing emosi orang, kalau sampai Mahendra marah besar dan kejadian dulu terulang lagi bagaimana? "Kalian gak apa-apa?" Mahendra kini duduk di kursi yang hanya kuat satu orang. "Gak apa-apa kok om, cuma kayaknya Kakak baik harus kerumah sakit deh, soalnya perutnya tendangan, Lala takut kenapa-kenapa aja." "Gak usah lebay! Gue gak apa-apa," ucap pria itu yang kembali mengompres lagi pipinya. "Kamu yakin gak mau di periksa?" tanya Mahendra yang khawatir, dia mendengar kabar ini dari dua anak buah pria itu dan setelah mendengarnya dia segera pulang untuk melihat kondisinya. "Papa juga, Brayen gak apa-apa. Jangankan tendangan sekali, yang berkali-kali aja Brayen masih idup," ucapnya yang seperti menambah ke sombongan disana, sekaligus memberikan sindiran pada ayahnya. Mahendra hanya menggeleng heran dengan tingkah anaknya itu. "Papa kayaknya yakin sebenernya penyerangan itu untuk papa." Sang anak merenung, dia bahkan tak berpikir kesana. "Apa papa tau siapa dalangnya?" "Papa tau, dia selama ini ngincar hidup papa, biar dia bisa menjabat, tapi sayang usahanya selalu gagal. Beruntung kamu gak kenapa-kenapa Brayen," ucap Mahendra sambil memegangi pundak Brayen. "Ini sebenarnya berkat Laura, kalau dia gak nelpon tepat waktu mungkin...." Brayen menggeleng, dia tak akan pernah membayangkan kalau dua anak buahnya terlambat mungkin, mereka sudah tiada sekarang. "Tapi kakak baik yang suruh telepon," bela Laura, dia tidak patut dipuji atas tindakan yang tidak ia buat secara sendirian. "Lo bisa diem gak sih?" tanya Brayen sewot. Mahendra menatap keduanya, apa dua anaknya ini belum resmi pacaran kenapa pria itu tetap memanggilnya Lo seperti itu? "Kalian belom jadian?" tanya Mahendra yang ingin tau. "Udah," balas Brayen cepat. "Terus kenapa bahasanya tetep kayak gitu?" "Mulut Brayen kaku pa, jadi ya udahlah gak udah diperpanjang!" ujar Brayen yang pusing, ia pernah menjijikkan pasangan yang berbicara pacaran, seperti yang, beb, honey atau lain semacamnya, sehingga mungkin karma dia juga tak bisa berbicara lebih romantis pada gadis yang dicintainya. "Kamu ini aneh, papa dulu sama mama kamu belum nikah aja udah manggil ayah-bunda tau." "Brayen bukan kalian!" "Lebih romantis sama Lala! Gak ada lagi gadis kayak dia, yakin da papa." Laura tersenyum. "Kakak baik romantis kok om, cuma caranya aja yang beda." "Tapi tetep aja kalau bahasa kalian kayak gitu gak ada yang percaya kalau kalian pacaran," ucap Mahendra. "Biarin biar mereka taunya kita mau nikah aja!" ucap Brayen. Tiba-tiba telepon Laura berdering, dia memeriksa ponselnya dan itu dari mamanya, apa wanita ini tau dia tidak sekolah, tapi tau dari mana? "Siapa la?" tanya Mahendra. "Mama om." "Angkat sana!" ujar Brayen yang membuat gadis itu berpamit untuk mengangkat telepon itu.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
sangat baik
21d
0wow cool bet dah
23d
0keren cerita nya
23/08
0Lihat Semua