Hari kembali Senin, tak terasa dua hari berlalu begitu saja. Upacara akan segera di mulai, sehingga banyak siswa yang berlari menuju lapangan. Saat ini Brayen mengalungkan bola bekel yang tak sengaja ia temui di kamar mandi, pria itu sama sekali tak perduli punya siapa dan yang punya dimana, yang jelas itu warna merah yang mencolok membuat dia membersihkannya sebelum memainkannya. Ketika langkahnya hampir sampai menuju lapangan, seorang gadis yang seperti terasa begitu familiar berjalan didepannya dengan tubuh sempoyongan. Tubuh itu hampir tumbang, membuat Brayen dengan sigap menangkapnya, dan ternyata benar itu Laura, wajahnya terlihat pucat sekali. "La, Lo gak apa-apa?" Karena saking pusingnya, mata Laura tiba-tiba buram, jadi ia tidak terlalu jelas melihat Brayen. "Kakak baik?" "Iya, ini gue! Lo kenapa?" Laura menggeleng. "Gak tau, tadi pagi tiba-tiba pusing aja." "Terus kenapa Lo malah sekolah?" tanyanya yang tak habis pikir. "Ada ujian dadakan, kalau Lala gak ikut, nanti nilai Lala bagaimana?" tanya Laura, ia tau kenapa bisa pusing begini, apa karena terlalu memikirkan perkataan peramal itu, padahal ia sudah mencoba melupakan tapi ucapan itu bagai kaset rusak yang terus berputar tanpa henti. "Persetan dengan nilai, kalo Lo kenapa-kenapa gimana?" tanya Brayen yang sekarang mulai khawatir, bagaimana tidak, wajahnya pucat begitu. "Gue anter ke UKS ya!" Cukup lama gadis itu terdiam, pada akhirnya ia mengangguk setuju, lagipula ia terlalu pusing untuk mengikuti upacara yang mengharuskan seluruh siswanya berpanas-panasan sekedar untuk menyehatkan badan. Brayen mengantarkan gadis itu menuju UKS, tapi ditengah perjalanan Laura hilang kesadaran sehingga jatuh kelantai membuat Brayen panik setengah mati. "la! Lala! La!" Dengan cepat dia mengakat tubuh itu, menuju ruang kesehatan dan mencari beberapa siswa yang bertugas di UKS sekarang ini. Tubuh Laura diperiksa, oleh dua gadis di sana. Padahal Brayen sedang khawatir tapi mereka yang melihat wajah itu tetap ketakutan melihatnya, walau keduanya akui jika bukan karena kejahatannya mungkin mereka akan memuja ketampanan itu. "Lama banget sih meriksanya? Kalian tuh becus gak sih?" bentak Brayen. Ia heran mengapa dia orang gadis itu tak kunjung menyudahi memeriksa Laura, sehingga ia bertambah khawatir maka dari itu tak kesal. Kedua berbalik menghadapnya Brayen. "A-anu kak, di-dia kayaknya kurang makan, sekarang aja perutnya kosong banget, mungkin itu yang buat dia sakit sekarang." Tak lama Brayen mengeluarkan uang 100rb dari sakunya. "Beliin makan!" ujarnya membuat kedua orang itu menatap satu sama lain. "Ma-makanan apa kak?" tanya salah satu dari mereka. "Terserah, yang penting makanan. Lo berdua banyak omong banget sih?" tanya Brayen yang benar-benar kesal, sudah tau didepannya belum makan katanya, tapi mereka malah bingung ketika disuruh beli makan. Bagaimana jika beneran kerja dirumah sakit mereka, nanti dokter bedah suruh ambil alat operasi, mereka malah ambil alat bengkel, kan aneh. Tak banyak bicara lagi mereka segera pergi meninggalkan, kedua orang itu. Brayen sekarang mendekat kearah Laura, terlihat wajah itu begitu mengkhawatirkan membuat dirinya tidak tenang, seperti di rumah sakit dulu, mungkin gadis ini juga merasakan apa yang dia rasakan, saat dia sakit. Saat Brayen ingin mengelus rambut gadis itu, kedatangan Mira dan Sadewa yang tiba-tiba membuat dia mengurungkan niatnya. "Astaga Lala, Lo kenapa?" tanya Mira dengan nada tinggi, dia sangat terkejut mendengar bahwa sahabatnya ini pingsan dan berada di UKS. Sadewa mendekat kearah Brayen dengan mimik penuh curiga. "Lo apain Lala?" Brayen yang tak terima dituding sontak langsung menatap balik pria disampingnya. "Kalau Lo gak tau apa-apa mending diem!" Mira yang menoleh kearah mereka berdua. "Kak Brayen! Lala kenapa?" "Kurang makan, itu yang bilang cewek-cewek tadi," balas Brayen yang masih menatap tajam Sadewa, jika saja tidak ada sahabat Laura, ia pasti sudah menghajar adik kelas yang kurang ajar ini. Mira kembali menatap Laura. "Aduh la, Lo kok jadi kayak gini sih." "Emang dia kenapa?" tanya Brayen yang sekarang menatap Mira. "Jadi malem Minggu kemaren kita ke pekan raya, terus kita pergi ketempat ramalan gitu. Awalnya Laura gak mau ngomong tentang ramalannya, tapi hari Minggu kemaren dia terus kepikiran dan jadi gini." "Emang apa ramalannya?" tanya Sadewa yang penasaran, sama halnya juga dengan Brayen. Tiba-tiba Mira terdiam, ia lupa kalau kaitan ramalan itu tentang Brayen. Mampus kalau ia cerita semuanya. "Kenapa Lo diam? Apa ramalannya?" tanya Brayen kesal, dia sudah terlanjur penasaran, tapi gadis didepannya ini tak kunjung bicara. Itu sama saja seperti sudah sayang malah di tinggal. "Anu kak, katanya kalau dia tetep ngejar orang dia sukai, nasibnya akan buruk." Deg! Semuanya terdiam, mereka semua tau kalau Brayen lah yang gadis itu sukai. "Tapi itukan cuma ramalan." "Masalahnya kak, aku juga diramal dan itu beneran terjadi." Sadewa tersenyum remeh. "Hidup Lo itu udah cukup buruk, jadi gue harap Lo gak bawa Laura dalam keburukan itu." Karena kesal Brayen menghajar Sadewa sampai terjatuh. "Lo menang!" Setelahnya Brayen pergi dengan pikiran yang berkecamuk, ya dia akui hidupnya terlalu pekat bagai tinta pulpen dan Laura yang seputih kertas sangat sayang baginya untuk dicoret-coret. Setelah pria itu pergi, Mira segera membantu Sadewa bangun. "Kakak gak apa-apa? Mau di ambilin obat?" Sadewa menggeleng. "Gak usah!" Tiba-tiba terdengar suara dari belakang yang membuat dua orang itu lantas mendekat kearah Laura. "La!" Saat mata itu terbuka, Laura seperti mencari seseorang. "Lo lagi nyari kak Brayen?" Laura mengangguk. "Iya, kakak baik dimana?" "Dia udah pergi," balas Sadewa, Laura sekarang melihat hal yang janggal di wajah Sadewa. "Itu di pipi kakak kenapa? Kok biru gitu?" tanya Laura yang heran. "Eeeee---" "Jatuh tadi," balas Sadewa cepat dan dia memotong perkataan Mira. "Yang Lala tau, kalau jatuh gak mungkin kayak gitu. Apa kakak baik nonjok kakak lagi?" tanya Laura. Sadewa menggeleng. "Bukan, ini bukan karena ulah dia." Mira sekarang heran kenapa Sadewa menutupi kejahatan Brayen, mungkin karena terlalu senang kalau pria itu bukanlah pilihan yang terbaik, menjadinya seperti. Tak lama sebuah ketukan membuat mereka menoleh. "Maaf, ini makannya." Laura melihat itu dengan wajah bingung. "Lala gak pesen makan kok." "Kak Brayen yang suruh, makan ya la! Biar cepet sembuh!" ujar salah satu dari mereka, yang langsung pergi setelah menaruh semua makanan itu di meja samping ranjang. Mendengar nama kakak baiknya disebut, Laura segera membuka isi plastik itu dah menemukan berbagai macam makanan, membuat dia yang tadinya tidak nafsu makan, seketika lapar. "Banyak banget, Mira sama kakak OSIS makan bareng ya sama Lala!" "Lo aja la! Gue mah udah kenyang," ucap Mira sambil mengusap perutnya yang sepertinya ada bentuk bundar disana. "Tapi ini banyak banget, sayang kalo Lala doang yang makan," ucapnya dengan muka penuh memohon, karena tak tega pada akhirnya kedua orang itu ikut makan dan dengan cepat wajah Laura berbinar.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
sangat baik
21d
0wow cool bet dah
23d
0keren cerita nya
23/08
0Lihat Semua