logo text

Bab 10 Perjodohan

Kinan berjalan ke depan cermin sebelah lemari pakaiannya. Ia diam menatap pantulan wajahnya, dengan tatapan kosong. Wajah cantiknya telah dipoles oleh sentuhan make up dari tangan profesional. Rambut sebahunya disulap menjadi sanggulan modern, berhiaskan sirkam rambut dengan permata yang menyilaukan. Ia mengenakan knee length a line dress berwarna biru donker, dengan renda di sekitar dada. Sepatu hak setinggi 5 cm berwarna silver kecoklatan terpasang manis di kakinya.
"Apakah ada yang kurang Nona?" ujar penata rias Kinan yang kini berdiri di sebelahnya.
Kinan tersenyum tipis sembari menggeleng.
Terdengar suara decitan pintu terbuka, diiringi langkah kaki seseorang yang hentakan haknya menggema di kamar Kinan. “Kamu cantik sekali Kinan, Ben akan menyukaimu,” kata wanita itu.
Seorang pria yang berjalan di sebelah wanita itu mendekati Kinan, dan berkata, "Putri Ayah sudah besar, kamu cantik sekali."
"Terimakasih, Ayah juga sangat menawan malam ini," balas Kinan dengan senyuman manis di bibirnya yang sekarang beroleskan lipstik berwarna peach.
Malam itu hanya kepada Ayahnya ia bisa tersenyum. Sesosok pria berhati lembut dan penuh pengertian. Satu - satunya orang di keluarga yang ia hormati, setelah mendiang neneknya. Namun, sisi lembut Ayahnya juga kelemahan yang paling besar jika berhadapan dengan Bundanya.
Bunda Kinan adalah seorang wanita yang penuh ambisi dan kaku, apalagi jika menyangkut masalah prinsip ia sulit ditentang. Bahkan masalah mimpi dan bagaimana Kinan hidup, ia sendiri yang menentukan tanpa mempertimbangkan pendapat putrinya sendiri.
Sejak Kinan berumur tujuh tahun Andini atau Ibunda Kinan, sudah menjejalkan pelajaran untuk orang dewasa. Dari pelajaran etika, tata krama, dan pelajaran menjadi seorang wanita terhormat. Bahkan ia tidak menoleransi sedikitpun jika Kinan melakukan satu kesalahan. Bahkan hukuman yang Kinan dapatkan bisa melukai fisik.
Seperti acara yang telah mereka adakan malam ini. Yaitu acara perjodohan Kinan dengan seorang putra pengusaha perhotelan di Bali, bernama Beneddict Antonio Surya. Acara itu juga adalah rencana dari otak Andini. Kinan sendiri sudah mencoba menyuarakan pendapatnya untuk menolak, namun Andini tetap melakukan perjodohan itu. Bahkan Ayah Kinan, Bahrudin tidak dapat berbuat apa - apa karena ia sangat mencintai istrinya dan menuruti perkataan Andini.
"Kinan tegakkan badanmu dan dagumu, jangan sampai kamu melakukan kesalahan. Bertahun - tahun kamu belajar sudah cukup untuk tidak merusak malam ini," kata Andini, Ibunda Kinan.
"Baik Bunda akan Kinan usahakan," jawab Kinan dengan senyum yang dipaksakan.
"Kamu sudah siap kan? Ayo kita keluar, tamu sudah menunggu di meja makan," ucap Ayah Kinan sembari mengulurkan tangannya untuk menggandeng putri semata wayangnya itu.
Kinan mengangguk, lalu menyambut uluran tangan Ayahnya. Lantas, mereka berjalan keluar dari kamar Kinan untuk menuju ke meja makan.
Ketika menuruni tangga, Andini terus mengawasi Kinan agar tidak menimbulkan suara dari hak tingginya dan berjalan dengan anggun.
Kinan yang diawasi, juga merasakan tatapan mengintimidasi Ibundanya dari belakang. Beberapa kali ia menghembuskan nafasnya yang terasa berat. Ingin sekali ia marah, dan menangis, namun ia hanya bisa menurut.
Ketika berada di posisi tertekan seperti itu, Kinan terpikirkan dua sahabatnya Ran dan Sunny. Hanya dua orang itu yang bisa menerima dirinya, dan membuatnya bersikap apa adanya. Bersama mereka, ia bisa mengungkapkan segala isi pikirannya tanpa dibatasi oleh apapun dan takut kepada sesuatu. Ia bersyukur karena ia memiliki orang yang mendukung keputusan, yang ia buat sendiri.
Sejak dulu, Kinan memang tidak pernah mendapatkan keinginannya sendiri. Ia bisa masuk ke sekolah swasta biasa juga karena ia kabur di hari pendaftaran sekolah internasional bergengsi di Indonesia. Kala itu ia mendapatkan hukuman berat yang mengharuskannya menghafal seluruh kosa kata bahasa jepang dalam seminggu, karena ia akan dikirim ke Jepang. Kejadian itu membuat Ayahnya untuk pertama kali menentang Ibundanya, hingga akhirnya ia batal ke Jepang. Ia bisa masuk ke sekolah yang sekarang karena sekolah itu milik teman Ayahnya. Saat itu juga seluruh pendaftaran untuk sekolah negeri telah di tutup.
Kinan, Ayahnya dan sang Ibunda sampai di ruang pertemuan, yaitu berada di ruang makan keluarga besarnya. Ruangan itu berukuran 6x8 meter dengan desain yang artistik. Beberapa lukisan abstrak terpasang di ruangan, coraknya melebur bersama ruangan bermodel vintage itu. Meja marmer yang berada di tengah, bersilaukan lampu kristar yang menjadi ikon di tengah ruangan. Desain minimalis namun memanjakan mata dan nyaman.
Ben beserta orang tuanya sudah duduk di posisi masing - masing. Namun ketika mendapati Kinan dan orang tuanya mendekat, ia lantas berdiri dari duduknya, menghampiri gadis itu.
“Aku sering melihatmu di sekolah, apa kabar?”
“Baik," jawab Kinan singkat.
“Oke, ayo duduklah di sebelahku,” kata Ben sembari mengulurkan tangannya kepada Kinan.
Kinan tidak merespon tawaran barusan, hanya menatap uluran tangan itu dalam diam. Sekalipun sejak tadi ia mencoba ikhlas untuk menjalani perjodohan itu tetap ada perasaan terganggu. Ia sangat tahu bagaimana reputasi Ben di sekolah yang suka berganti wanita, dan lingkungan pergaulan bebas pria itu. Alasan kuat yang membuatnya langsung menolak perjodohan itu ketika pertama kali diberitahukan. Namun bagaimanapun ia menolak, hasilnya tetap sama jika Ibundanya ikut andil dalam urusan itu. Mau tidak mau, suka tidak suka, ia harus menjalani perjodohan itu. Sebuah perjodohan bisnis hanya untuk meraup lebih banyak rupiah.
Andini geram, melihat Kinan tidak merespon uluran tangan Ben. Kemudian ia menarik lengan Kinan secara paksa dan memberikannya pada Ben.
"Mohon maklumi Kinan, dia jarang berinteraksi dengan laki - laki," ujar Andini.
Ben tersenyum, "Tidak masalah Bunda, nanti juga terbiasa. Aku akan bersikap baik padanya," balasnya kemudian.
Kemudian Ben membawa Kinan menuju meja makan, dan menarik kursi untuk gadis itu duduk. Kedua orang tua Ben yang duduk di hadapan Kinan terlihat bahagia.
"Kamu cantik sekali hari ini, Kinan," tukas Lasmi, Mama Ben.
"Terimakasih tante."
"Jangan panggil tante dong, Ben aja manggil Bunda kamu dengan sebutan Bunda. Panggil aku Mama atau Bunda, sayang."
Kinan mengangguk.
“Lama tidak bertemu Rud, apa kabar proyek terakhirmu?” tanya Surya, Ayah Ben.
“Berjalan sesuai rencanaku, kau sendiri apa kabar baru menghubungiku setelah setahun pertemuan terakhir kali di Kanada,” balas Bahrudin, Ayah Kinan.
“Aku bersama tim sangat sibuk Rud, biasalah klien banyak mau... dan maaf baru bisa menghubungimu. Sebenarnya aku mencarimu ketika ada reuni SMA di Magelang, kenapa tidak datang?”
“Nenek Kinan sakit, kami harus pulang kampung sayang sekali tidak bisa datang.”
“Aku waktu itu juga hadir sebentar," balas Surya.
"Sebelumnya terimakasih sudah mau menghadiri undangan kami," kata Ayah Kinan kemudian membuka pertemuan secara resmi.
"Terimakasih juga sudah mengundang kami. Kami merasa terhormat bisa menjalin hubungan erat, lebih dari hubungan bisnis," tukas Surya.
Setelah kedua pihak keluarga bertegur sapa singkat, appetizer mulai dibawakan oleh pelayan dan dihidangkan di depan mereka. Appetizer pertama adalah sup jamur dan crab rangoon.
"Baiklah, sebaiknya kita makan dulu, nanti baru mengobrol serius setelah menyantap pencuci mulut," kata Bahrudin.
Semua orang yang berada di meja setuju, dan mulai mencicipi makanan yang sudah terhidang di meja. Mereka makan dengan tenang, sembari sesekali membahas obrolan ringan.
***

Komentar Buku (49)

  • avatar
    WardanaAradea

    Cerita yang menarik, keep up!

    19/04/2022

      1
  • avatar
    AjisAli

    bagus

    13/04

      0
  • avatar
    Tia Raa

    bgus

    25/03

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru