Beranda/Sebening Cinta Si Gadis Desa/
Bab 4 Terancam Dipecat
Di kamar Rafka, Rena gelisah. Dia takut kalau semuanya terbongkar. Gadis itu mondar mandir berjalan dengan jantung yang berdebar.
"Aku harus gimana? Gimana kalau Bening bilang bahwa aku tak mencuci botolnya?" gumamnya.
Dia mengambil botol-botol susu Rafka, memerhatikan barangkali ada yang kotor. Setelah memastikan semua bersih, dia kembali meletakkan botol-botol itu.
****
"Bagaimana cara kamu membuat susu untuk Rafka?" tanya Ariana.
Bening mengernyit. "Sesuai takaran, Nyonya."
"Botolnya! Apa kamu pakai botol yang kotor?"
"Tidak, Nyonya. Saya mencuci dan mensterilkan semua botol yang kotor."
"Semua?" tanya Ariana heran.
Bening mengangguk.
"Kenapa semua botol kamu yang cuci?"
"Itu ... karena semua botol susu Rafka tidak ada yang bersih, waktu saya mau buat susu, saya bersihkan dulu semuanya," terang Bening.
Ariana menatap Bening, lalu berpikir sejenak. "Panggil Rena sekarang!" Perintahnya.
Bening mengangguk lalu menuju kamar Rafka untuk memanggil Rena.
Rena begitu kaget saat ada yang membuka pintu kamar. "Bening? Ngapain kamu ke sini?" Tanyanya dengan gugup.
"Nyonya menyuruhku untuk memanggilmu."
"Ada apa?"
Bening menjawab dengan mengangkat bahunya.
Rena semakin gelisah, dengan berat hati dia mengikuti Bening untuk bertemu Ariana.
Bening dan Rena menghadap Ariana yang sudah menunggunya di lantai bawah.
"Rena!"
"Ya, Nyonya." Rena menunduk dengan khawatir.
"Bening bilang semua botol Rafka kotor. Apakah Rafka minum susu di lima botol sekaligus?" tanya Ariana.
Rena gelagapan. "Itu ... itu karena ... Rafka sedang grow spurt, jadinya pengen minum susu terus," kilahnya. "Tapi saya selalu membersihkan botolnya tiap selesai minum, Nyonya."
"Benar kamu selalu membersihkannya setelah Rafka minum?"
"Benar, Nyonya. Saya tidak bohong."
Bening menoleh ke arah Rena, dia tahu kalau perempuan di sebelahnya ini sedang berbohong.
Ariana menghela napas. "Aku tidak tahu yang sedang berbohong di sini siapa. Tapi yang ketahuan membuat Rafka sakit akan dipecat!" Ancam Ariana.
"Tidak, Nyonya. Saya sudah mengikuti pelatihan merawat bayi, tidak mungkin saya melakukan itu. Saya akui, saya memang salah menitipkan Rafka kepada Bening, mungkin dia tidak tahu cara membuat susu yang benar. Maafkan saya, Nyonya." Rena terus beralasan.
Bening menggeleng tak percaya kalau Rena akan berbicara seperti itu. "Rena bohong, Nyonya. Sayalah yang membersihkan botol-botol itu dan mensterilkannya," ujar Bening.
"Tidak Nyonya, saya tidak bohong," timpal Rena.
"Sudah! Aku tidak mau dengar kalian berdebat," bentak Ariana.
Bening dan Rena terdiam menunduk.
"Satu jam lagi aku temui kalian. Renungkan, dan akui siapa yang salah! Kalau tidak, kalian berdua aku pecat hari ini juga." Ariana pergi meninggalkan kedua pengasuhnya.
Tanpa sepatah kata pun, Rena langsung pergi meninggalkan Bening menuju kamar. Dia benar-benar khawatir akan kehilangan pekerjaannya.
Bening segera menyusul Rena ke kamar.
"Kenapa kamu bohong, Ren?" tanya Bening.
Rena menoleh. "Kamu yang bohong!"
Bening menggeleng. "Kenapa kamu tidak mau mengakui kesalahanmu? Aku yakin Nyonya Ariana akan memaafkanmu kalau kamu jujur dan minta maaf."
Rena menatap tajam ke arah Bening. "Aku gak salah, kamu yang salah!"
"Astaghfirullah." Bening benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Rena kenapa begitu bersikeras tidak mengakui kesalahannya.
Satu jam kemudian, Ariana memanggil kembali Bening dan Rena. Kali ini Kaisar ikut menemaninya. Dia bertanya kembali tentang kejadian yang sebenarnya. Rena terus menyangkal, dan menyakinkan bahwa dia tak bersalah.
Kaisar meminta Ariana untuk memaafkan para pengasuhnya saja, tetapi Ariana tetap ingin tahu siapa yang melakukan kesalahan, karena ini menyangkut keselamatan anaknya.
"Karena di antara kalian tetap tidak ada yang mengaku, kalian berdua saya pecat hari ini juga!"
Bening terkejut dengan kalimat yang diucapkan majikannya. Belum sebulan dia bekerja, tapi terancam kehilangan pekerjaannya karena kesalahan orang lain.
"Kemasi barang-barang kalian, dan ini gaji selama kalian di sini."
Ariana meletakan lembaran uang berwarna merah di meja.
"Tapi, Nyonya," bisik Bening. Gadis itu merasa sedih, tak menyangka harus keluar dari pekerjaannya dengan cara seperti itu. Bukan hanya itu saja, dia juga khawatir membuat kedua orang tuanya kecewa.
"Aku tidak butuh pengasuh seperti kalian. Lebih baik kalian segera pergi," ujar Ariana. Kaisar hanya diam melihat istrinya memecat pengasuh anaknya. Dia sangat tahu tabiat istrinya yang tegas.
"Nyonya, Bening tidak bersalah." Tiba-tiba Sumi datang dari dapur.
"Maksud Bi sumi? Coba jelaskan!"
Sumi memanggil salah satu pekerja di rumah itu. Susi--ART bagian bersih-bersih itu pun datang. Bi sumi menyuruh Susi untuk mengatakan apa yang di dengarnya waktu itu.
"Waktu itu kebetulan saya lewat depan kamar mereka. Saya dengar Bening bertanya kepada Rena kenapa semua botol susunya kotor, bahkan ada susu basi di botol lain," jelas Susi.
Rena begitu terkejut dan tidak menyangka bahwa saat itu ada yang mendengar percakapannya dengan Bening. Kebohongannya telah terbongkar, tak ada cara lain lagi untuk berkilah. Dengan tiba-tiba, Rena berlutut di hadapan Ariana.
"Maafkan saya Nyonya, saya salah. Tolong jangan pecat saya Nyonya." Rena menangis sesenggukan.
"Kamu! Berani-beraninya berbohong kepadaku!" Ariana melayangkan tangannya hendak menampar Rena, tapi segera dicegah oleh Kaisar.
"Ariana, jangan begini. Dia sudah mengakui kesalahannya. Sudahlah."
Dada Ariana naik turun karena marah. "Pergi dari sini!"
"Nyonya, tolong jangan pecat saya. Ibu saya sedang sakit. Maafkan saya nyonya." Rena memelas.
Rena bersimpuh di kaki Ariana.
"Rena, bangun! Jangan seperti itu," Perintah Kaisar.
Rena tak menggubris, dia masih bersimpuh sambil menangis sesenggukan.
"Sudahlah, Sayang, kita maafkan saja. Nanti kita pasang CCTV di kamar Rafka agar bisa memantaunya." Bujuk Kaisar.
"Tapi ...."
"Ssttt ... sudah, ya." Kaisar menempelkan jari telunjuknya di bibir.
Ariana menarik napas, berusaha membuang amarahnya.
"Oke, kali ini kamu kumaafkan. Tapi kalau kamu melakukan hal yang membahayakan Rafka lagi, aku tidak akan segan-segan mengusirmu dari sini."
Ariana beranjak menaiki tangga diikuti oleh Kaisar.
Bening bernapas lega akhirnya kebenaran terungkap. Dia pun senang karena tidak jadi dipecat.
****
Setelah memastikan Sofia tidur, Bening pergi dan hendak kembali ke kamar. Saat melewati sebuah ruangan yang pintunya sedikit terbuka, gadis itu tak sengaja mendengar Ariana tengah berbicara di telepon.
"Aku belum siap meninggalkan keluargaku," ucap Ariana setengah berbisik.
Awalnya Bening tak ingin menguping, tapi dia penasaran dengan kalimat yang diucapkan Ariana barusan. Batinnya bertanya-tanya kenapa Ariana berkata seperti itu, apakah Ariana berniat meninggalkan keluarganya, Bening semakin penasaran.
"Nanti kita bicarakan lagi." Ariana menutup teleponnya.
Dengan bergegas Bening pergi saat Ariana hendak keluar dari ruangan itu.
Bening masuk ke kamar. Tampak bantal dan selimutnya berserak di lantai. Di ranjang, Rena pura-pura tidur dengan menutupkan selimut ke kepalanya.
Bening mengambil selimut dan bantal, lalu menaruh kembali di kasur. Saat hendak berbaring, Rena mengambil selimut dan bantal Bening lalu melemparnya lagi ke lantai.
Bening menarik napas dengan kesal. "Kamu kenapa sih?"
Rena tak menjawab, dia menutupkan selimut ke kepalanya lagi. Hatinya begitu jengkel kepada Bening, sebenarnya dia juga iri, karena gadis itu lebih bisa mengambil hati orang-orang seisi rumah.
Bening berdiri, menarik selimut dan bantal Rena lalu melemparnya ke lantai.
"Hei!" jerit Rena.
"Apa?"
"Ambil gak?"
"Ambil sendiri!" ujar Bening.
Rena bangkit lalu tiba-tiba menyerang dengan menjambak rambut panjang Bening. Bening tak mau kalah, dia pun menjambak rambut Rena. Kini keduanya saling jambak.
"Dasar cewek kampung!" ejek Rena.
"Kamu pikir, kamu bukan orang kampung, hah?" Bening menarik rambutnya lebih keras.
Rena mengaduh, dia pun nenarik rambut Bening semakin keras. Meski dua-duanya kesakitan, tapi tak ada yang ingin mengalah.
Karena suara gaduh dari kamar mereka, Bi sumi dan beberapa pekerja yang lain datang ke kamar. Mereka kaget melihat Bening dan Rena yang sedang saling jambak.
"Astaghfirullah, kalian ngapain malem-malem kelahi kaya gini? Kaya anak kecil aja!" tegur Sumi.
"Dia duluan, Bi," ujar Bening.
"Dia yang nyebelin, Bi," timpal Rena.
"Bilang aja kamu iri."
"Iri apa? Jangan kepedean, deh."
Sumi menggeleng.
"Sudah, sekarang lepaskan!" perintah Sumi.
"Dia yang lepas duluan," ujar Rena.
"Gak, dia dulu yang duluan," timpal Bening.
Keduanya tak ada yang mau mengalah.
"Sudah! Ayo, bareng-bareng lepasinnya." Sumi memberi aba-aba agar keduanya saling melepaskan rambut yang mereka jambak. "Ayo, satu, dua, tiga, lepas!"
Bukannya dilepas, keduanya malah menarik rambut lawannya semakin keras. Alhasil, keduanya mengaduh kesakitan.
Sumi menggeleng. "Kalian mau seperti ini sampai pagi?" Sumi memberi kode kepada yang lain untuk memegangi Bening dan Rena.
"Sekarang lepaskan," perintah Sumi lembut.
Akhirnya mereka pun melepaskan rambut yang mereka genggam. Tampak rambut keduanya acak-acakan.
Sumi menarik napas lega. "Sekarang kalian tidur!"
Bening dan Rena mengambil bantal dan selimut masing-masing di lantai. Keduanya saling menatap dengan tajam.
"Ayo tidur!" Perintah Sumi lagi.
Rena naik duluan ke ranjang. Dia berbaring di tengah-tengah kasur. Diikuti Bening.
Bening yang merasa sempit, mendorong tubuh Rena dengan kakinya.
"Aah." Rena mengaduh.
"Geser, dong!" tukas Bening.
Rena menggeser tubuhnya, lalu berbaring saling memunggungi.
****
Ariana mematut diri di depan cermin, dia memadukan sebuah dress hitam dengan blazer berwarna abu. Sebuah tas hitam dengan merk terkenal dia pilih untuk menunjang penampilannya.
"Mau kemana pagi-pagi begini, sayang?" tanya Kaisar.
"Aku ada urusan, gak akan lama kok."
"Ini kan hari minggu, anak-anak mungkin ingin jalan-jalan."
"Sama kamu dulu, ya." Ariana mengecup singkat pipi Kaisar, lalu segera pergi.
Kaisar hanya menggeleng tak bisa berbuat apa-apa.
Biasanya, kemana pun Ariana pergi selalu di antar sopir, tapi akhir-akhir ini dia sering menyetir sendiri.
Sofia mengajak Kaisar jalan-jalan ke taman, dia pun mengiyakan, lalu mengajak juga Rafka dan para pengasuhnya.
"Daffin." Kaisar mengetuk pintu kamar putra sulungnya.
Daffin membuka pintu.
"Kamu baik-baik, aja?"
Daffin mengangguk.
"Kita jalan-jalan ke taman, yuk. Naik sepeda," ajak Kaisar.
"Mama ikut?" tanya Daffin.
"Enggak, mama pergi."
"Ke mana?"
"Ada hal penting yang harus mama lakukan. Sudah yuk siap-siap, papa tunggu di bawah."
Kaisar meninggalkan putra sulungnya kemudian menuruni tangga.
'Pasti menemui lelaki itu,' batin Daffin.
Mereka pun sampai. Karena hari libur, taman cukup ramai. Kaisar berputar-putar mengelilingi taman bersama Sofia. Sedang Daffin duduk di bangku sambil bermain ponsel.
Rafka yang sedang belajar jalan tampak senang bermain di rumput.
Bening dan Rena sudah baikkan, sesekali mereka mengobrol sambil menjaga Rafka.
Bening menatap ke arah Daffin. Sejak bekerja di rumah itu, Bening jarang melihatnya, paling hanya saat makan atau berangkat sekolah. Padahal menurut Bi Sumi, dulu Daffin adalah anak yang meski sedikit pendiam, tapi anaknya ramah dan ceria. Namun, sejak beberapa bulan yang lalu lebih sering mengurung diri di kamar. Bening merasa bahwa anak laki-laki itu tengah menyembunyikan sesuatu.
"Kakak!" seru Bening kepafa Daffin. Kakak adalah panggilan Daffin, semua yang bekerja di rumah memanggilnya demikian.
Daffin menoleh.
"Sini!" Bening melambaikan tangan.
Dengan malas, Daffin menghampiri, lalu ikut duduk di rerumputan.
"Aku kalau lihat kakak, jadi inget adikku di kampung," ujar Bening.
"Mbak punya adik?" tanya Daffin.
Bening mengangguk. "Seumuran kakak."
Mereka pun mengobrol, sesekali Daffin tersenyum mendengar cerita Bening.
Tak lama, Kaisar dan Sofia datang. Gadis kecil itu langsung menyambar botol air mineral dan meminumnya.
"Haus, ya?" tanya Bening sambil mengelus rambut kuncir Sofia.
"Baaanget," jawabnya dengan ekspresi menggemaskan.
****
"Sampai kapan aku harus menunggu, Sayang?" David memainkan rambut Ariana lalu menghirup wanginya.
Ariana menunduk, lalu mengusap air mata yang tiba-tiba meluncur dari netranya. Hatinya bimbang, antara memilih keluarga atau kembali meraih impiannya untuk berkarir.
"Besok aku akan berangkat ke Amerika," ujar David.
"Kenapa secepat itu?"
"Pekerjaanku menunggu. Kamu tak ingin ikut?"
Ariana menatap lelaki itu lekat.
David adalah mantan kekasihnya semasa SMA, lelaki itu pindah ke Amerika bersama keluarganya dan menetap di sana. Dirinya kembali ke Indonesia karena ada urusan pekerjaan, juga untuk menemui cinta lamanya.
Awalnya Ariana tak memedulikan lelaki berdarah Indonesia-Amerika itu, tapi David tak menyerah, dirinya terus menghubungi Ariana meski tahu Ariana telah berkeluarga.
David tahu, bahwa sejak kecil Ariana memimpikan bisa berkarir di Holywood, dan itu dia jadikan senjata, David menjanjikan Ariana untuk bisa bermain film di sana. Ariana pun luluh, dan akhirnya menjalin hubungan dengan lelaki itu.
"Sepertinya aku tak bisa ikut denganmu, anak-anakku masih membutuhkanku." Mata Ariana berkaca-kaca.
"Aku tak akan memaksamu. Tapi ... kapan pun kamu berubah pikiran, hubungi aku. Aku akan selalu menunggumu."
●●●●Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (82)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
ceritanya sangat bagus
02/02
0bagus banget ceritanya
24/11
0semangat terus ya, aku paling suka cerita yg berbau wanita tangguh, jdi motivasi buat aku. terimakasih
21/08/2025
0Lihat Semua