Bab 3 Ariana

Diusianya yang baru menginjak enam tahun, Ariana kebanjiran tawaran iklan. Sejak saat itu, dia mulai menggeluti dunia entertainment. Hingga di usianya yang ke sembilan belas tahun, saat tengah berada di puncak karir, dia memutuskan untuk menikah muda. Banyak pihak yang menyayangkan keputusannya itu. Namun, Kaisar-- seorang pengusaha muda keturunan konglomerat yang masih berusia dua puluh dua tahun, berhasil meyakinkannya, bahwa menikah bukanlah halangan untuk berkarier.
Satu bulan kemudian Ariana hamil, sang suami menghadiahinya sebuah Resort di Bali. Berita tentang kehamilan juga hadiah mewahnya menjadi topik utama di acara-acara infotainment. Setelah anak pertamanya lahir, Ariana masih menerima tawaran untuk bermain film dan iklan. Hingga lima tahun kemudian, Ariana hamil kembali, lalu Kaisar memintanya untuk berhenti dari dunia entertainment. Meski berat, Ariana pun menuruti permintaan suaminya. Sebagai hadiah atas pengunduran dirinya dari dunia artis, sang suami menyerahkan aset berupa apartement kepada istri tercintanya. Dan kini, Ariana telah memiliki tiga anak, anak ketiganya masih berusia satu tahun.
"Rena, kamu yang dari agen baby sitter?" tanya Ariana.
Gadis yang memakai pakaian seperti suster itu mengangguk seraya tersenyum.
"Dan kamu, Bening?" Pandangan Ariana beralih kepada gadis yang mengenakan kemeja krem dan rok hitam panjang.
Bening mengangguk.
"Ini tetangga ART-ku, Na. Usianya sembilan belas tahun, meski bukan dari agen penyalur, tapi ART-ku bilang dia punya keterampilan mengasuh anak juga." ujar Hesty kepada Ariana.
Ariana mengangguk.
"Oke, satu bulan adalah masa percobaan, jika pekerjaan kalian bagus, kalian bisa kerja di sini."
Bening dan Rena mengangguk.
"Ini Bi Sumi yang akan menjelaskan tugas dan peraturan di rumah ini kepada kalian." Ariana mengenalkan salah satu pembantunya yang telah bertahun-bertahun ikut keluarga suaminya.
Bi Sumi mengajak Bening dan Rena ke belakang untuk menunjukkan kamar mereka.
"Di sini ada 8 ART yang terdiri dari tukang masak, bersih-bersih, tukang kebun dan sopir. Sekarang ada kalian jadi 11 orang. Nyonya Ariana gak suka pemalas, jadi kalian harus serius kerja di sini," terang Bi Sumi, ART yang paling tua sekaligus yang paling dipercaya, dia sudah ikut keluarga Kaisar sejak masih muda.
Bening dan Rena mengangguk.
•••••
Sebuah mobil mewah memasuki garasi, lalu keluar seorang lelaki berparas tampan, dengan tubuh tinggi dan berpakaian rapi. Saat masuk ke rumah, Sofia, anak keduanya yang diasuh oleh Bening segera menghambur ke pelukannya.
"Papa, aku punya mbak baru," ujar Sofia kepada Kaisar.
Kaisar tersenyum ke arah Bening, sedang Bening mengangguk dengan canggung.
Sumi dan dua pekerja yang lain menata makanan di meja makan. Bening terkesima melihat aneka jenis makanan yang terhidang. Padahal yang makan hanya Kaisar, Ariana, dan kedua anaknya, tapi makanan hampir memenuhi meja.
"Mereka gak mungkin menghabiskan semua makanan itu kan, Bi?" tanya Bening kepada Sumi.
"Tentu aja, ya paling nanti kita yang makan," jawab Bi Sumi.
Kaisar, Ariana, Daffin--anak pertama mereka yang berusia sebelas tahun, juga Sofia menikmati hidangan makan malam yang tersaji. Sedang Rafka, anak ketiga mereka sudah tertidur pulas di kamarnya.
"Sayang, besok aku mau ke Bali, mengecek keadaan Resort kita di sana?" ujar Ariana kepada Kaisar.
"Bukannya baru tiga hari yang lalu kamu dari sana?"
"Iya, tapi ada sesuatu yang harus aku selesaikan, paling hanya dua hari."
Kaisar memandang istrinya, lalu mengangguk pelan. Sebenarnya lelaki itu tak terlalu suka jika Ariana terlalu sibuk di luar, tapi dia tak ingin membuatnya kecewa.
Akhir-akhir ini, Ariana menjadi lebih sering ke Bali, bahkan bulan ini, waktunya lebih banyak dihabiskan di Pulau Dewata itu.
"Mama ke Bali sama siapa?" tanya Daffin.
"Tentu aja sendiri, sayang."
Daffin menatap ibunya sekilas, lalu kembali melanjutkan makan dengan keraguan menyelimuti pikirannya.
••••
Ariana sampai di Bali. Dengan tergesa dia memasuki sebuah kamar pribadi di resort miliknya. Di dalam, seorang lelaki berwajah blasteran telah menunggu.
"Kenapa lama sekali, sayang. Aku rindu," ucap lelaki bernama David sambil melingkarkan kedua lengannya di pinggang Ariana.
Ariana melepaskan tangan lelaki itu. "Kita perlu bicara."
"Ada apa?" tanya David sambil membelai wajah Ariana.
"Kupikir, kita harus selesai sampai di sini."
Lelaki itu mengernyitkan dahinya. "Apakah kamu ingin mengubur kembali impianmu,? impian kita?"
Ariana tak menjawab. Rasa bersalah terhadap suami dan anak-anak menyelimuti hatinya.
"Kamu masih muda, Ariana! Kamu berhak mendapatkan kebahagiaanmu," ujar lelaki itu berusaha meyakinkan.
"Tapi ...."
David menempelkan jari telunjuknya di bibir Ariana. "Aku sudah menghubungi seorang produser, casting yang kamu lakukan akan lebih mudah."
Ariana masih ragu.
"Kamu akan menjadi bintang Holywood, sayang." Lelaki itu kembali meraih pinggang Ariana.
•••••
Dua hari telah berlalu.
Rafka, bayi Kaisar dan Ariana terbangun dari tidurnya dan menangis. Rena yang baru saja beranjak untuk makan kembali lagi lalu menggendong bayi lelaki itu.
"Cup cup cup, jangan nangis, ya."
Rena membuatkan susu untuk Rafka.
"Duuh, baru aja mau makan sudah bangun lagi. Sekarang kamu kok makin rewel sih," gerutunya.
Botol susu Rafka kotor semua, Rena malas membersihkan dan mensterilkannya. Dia hanya mencucinya dengan air. Wanita itu membuat susu lalu memberikannya kepada Rafka.
Bening menjemput Sofia dari sekolahnya. Gadis kecil itu sudah menunggu. Saat melihat mobil yang menjemputnya dia melambaikan tangan.
"Mbak, kita tunggu kak Daffin dulu, ya." pinta Sofia kepada Bening.
"Tapi kak Daffin kan pulangnya jam tiga, masih dua jam lagi."
"Enggak, kok, kak Daffin sudah pulang."
Tak lama, Daffin muncul. Sofia melambaikan tangannya.
"Kakak Daffin kok pulang cepat?" tanya Bening.
"Iya," jawabnya pendek. Anak lelaki berusia sebelas tahun itu memang agak pendiam.
"Mama sudah pulang Mbak?" tanya Sofia.
"Belum," jawab Bening.
"Katanya cuma dua hari." Sofia cemberut.
Daffin mengalihkan pandangan ke luar, perasaan marah dan kecewa bercampur aduk dalam hatinya.
Sesampainya di rumah, Daffin langsung berlari ke kamar dan mengunci pintu.
"Sofia, ganti baju dulu, ya. Nanti makan siang." Ujar Bening.
Sofia mengangguk lalu masuk ke kamarnya.
"Bening!" Panggil Rena.
"Iya Ren, ada apa?"
"Kamu bisa pegangin Rafka dulu bentar? Rewel banget dari semalam, aku lapar nih."
"Oh ya, sini."
Rena menyerahkan Rafka kepada Bening. "Tolong bikinin susu, ya, kayanya dia ngantuk."
Bening menuju kamar Rafka, dia kaget melihat botol susu Rafka kotor semua, bahkan ada sisa susu di botol yang sudah berhari-hari tak dibersihkan.
Bening membersihkan semua botol susu lalu mensterilkannya. Setelah itu membuat susu dan memberikannya kepada bayi berusia 12 bulan itu. Bening turun mencari Rena dengan menggendong Rafka yang masih minum susu.
"Bi, lihat Rena gak?" tanya Bening kepada Sumi.
"Tadi bibi lihat masuk ke kamarnya. Kok Rafka sama kamu?"
"Iya, Bi, katanya Rena tadi lapar jadi mau makan dulu."
Bening menuju kamar Rena yang juga menjadi kamarnya. Rena tengah tiduran sambil bermain ponsel.
"Ren, kok bisa botol Rafka kotor semua?"
Rena kaget. "Ah iya, itu dari tadi Rafka rewel jadi nyusu terus dan aku belum sempat mencuci botol-botolnya."
"Tapi aku lihat ada botol yang berisi susu basi yang entah dari hari kapan."
"Masa sih, gak mungkin! Sudah, sini berikan Rafka padaku."
Rena mengambil Rafka lalu meninggalkan Bening.
Malamnya, Kaisar pulang dari kantor, saat hendak naik tangga dia berpapasan dengan Bening.
"Bening, nyonya sudah pulang?"
"Belum, Tuan," jawab Bening.
Lelaki dengan rahang kokoh itu menarik napas panjang dan mengembuskannya kasar, bergegas dia naik tangga menuju kamarnya.
Malam itu, Rafka demam dan tidak mau minum susu. Bayi itu muntah-muntah. Rena berusaha menenangkannya tapi Rafka tetap menangis. Kaisar yang mendengar putranya menangis segera menghampirinya.
"Kenapa, Ren?"
"Rafka demam, Tuan."
"Demam?" Kaisar menempelkan telapak tangannya di dahi Rafka.
"Iya, kita ke rumah Sakit sekarang."
Kaisar membawa Rafka ke Rumah Sakit dengan Rena.
Dokter memeriksa Rafka, lalu seorang perawat memasangkan infus di lengan bayi lelaki itu.
Ariana pulang dari Bali, setelah tahu putranya di bawa ke Rumah Sakit dia bergegas menyusul.
"Rafka gimana, Sayang?" tanya Ariana kepada Kaisar sesampainya di Rumah Sakit.
"Sekarang baik-baik aja, dia sudah tidur."
Dokter memanggil Kaisar dan Ariana ke ruangannya.
"Jadi anak saya kenapa, dokter?" tanya Ariana.
"Anak ibu minum susu formula?"
"Iya, dok."
"Kemungkinan botol susu yang digunakan anak ibu tidak steril, jadi bakteri masuk ke tubuhnya hingga membuatnya demam dan muntah-muntah."
Setelah mendengarkan penjelasan dokter, Ariana dan Kaisar memanggil Rena yang sedang menunggu Rafka.
"Rena! Apa Rafka minum susu dari botol yang tidak disterilkan?" tanya Ariana.
Rena terkejut mendengar pertanyaan Ariana. Dia memang malas, seringnya hanya mencuci botol saja tanpa mensterilkannya. Padahal dia berasal dari agen penyalur baby sitter yang sudah diberi keterampilan merawat bayi.
"Saya ... selalu mensterilkannya, kok, nyonya," jawab Rena gugup.
"Dokter bilang, penyebab Rafka demam dan muntah-muntah itu karena botol susu yang tidak steril!" Suara Ariana meninggi. Kaisar berusaha menenangkan dengan memegangi lengan Ariana dan mengusap punggungnya.
Rena terpojok, dia takut dengan apa yang akan dilakukan Ariana kepadanya. Dia berpikir keras mencari alasan.
"Itu ... kemarin Bening yang memberinya susu. Waktu itu saya lapar, lalu meminta Bening membuatkan susu, mungkin dia memakai botol kotor yang belum dibersihkan." Rena berusaha menimpakan kesalahannya kepada Bening.
"Apa?"
Hari berikutnya, Rafka sudah boleh dibawa pulang. Setelah sampai di rumah, Rena langsung membawa bayi itu ke kamar.
Ariana yang masih kesal mencari keberadaan Bening.
"Bening!" panggil Ariana dengan suara tinggi.
Bening yang tengah menemani Sofia bermain di taman tak mendengarnya.
Ariana semakin kesal karena Bening tak juga muncul. Dia kembali berteriak dengan suara yang lebih keras.
Samar, suara Ariana di dengar oleh Bening. "Sofia, kayanya mama manggil Mbak Bening. Mbak masuk dulu, ya. Nanti mbak panggil Bi Sumi buat nemenin."
Sofia mengangguk. "Jangan lama-lama, ya."
Setelah meminta Sumi untuk menemani Sofia, Bening bergegas menemui Ariana. "Iya, Nyonya. Maaf tadi saya sedang di luar."
Wajah Ariana memerah karena marah. "Sini kamu!"
Bening mendekat.
Ariana menarik lengan Bening. "Kemarin kamu buatkan susu untuk Rafka?" tanya Ariana dengan kesal.
"I-iya, Nyonya," jawab Bening dengan takut

Komentar Buku (82)

  • avatar
    HumairaArsyila

    ceritanya sangat bagus

    02/02

      0
  • avatar
    Tina Kartinawati

    bagus banget ceritanya

    24/11

      0
  • avatar
    Anisa AmeLya

    semangat terus ya, aku paling suka cerita yg berbau wanita tangguh, jdi motivasi buat aku. terimakasih

    21/08/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru