Bab 24 Makan Malam

Kaisar mengirimkan orang untuk menemui kedua orang tua Bening. Dirinya hendak merenovasi rumah mereka. Dia juga mengeluarkan semua pakaian Ariana dari lemari, memberikannya kepada para pembantunya.
Nyonya Liana tengah mempersiapkan acara untuk makan malam keluarga besarnya besok. Dirinya hendak memperkenalkan Bening kepada mereka. Kaisar sengaja menghampiri ibunya yang tampak sibuk dengan smartphonenya.
"Mam." Lelaki itu duduk di sebelah ibunya.
Nyonya Liana yang baru selesai menelepon, meletakan ponselnya lalu memutar tubuh menghadap putra semata wayangnya. "Ada apa, Nak?"
Kaisar meraih kedua jemari tangan ibunya. "Makasih, ya, Mam. Mami sudah melakukan banyak hal untukku."
"Ini sudah kewajiban Mami. Mami sadar, tidak ada yang lebih penting dari kebahagianmu," ujar Nyonya Liana seraya mengusap pipi putranya.
"Tapi Mam ... mungkin setelah ini akan lebih sulit. Apa Mami siap dengan berbagai macam reaksi orang-orang nanti?"
Nyonya Liana menghela napas panjang. Dirinya sadar, dengan menerima gadis miskin seperti Bening, maka dirinya harus siap dengan segala omongan dan cemoohan.
"Mami banyak belajar dari Bening, bahwa bukan statuslah yang menjadikan manusia itu terhormat dan mulia, tapi kebaikan hati dan sikap, itulah yang membuat manusia mulia dan terhormat. Meski ... tidak semua orang beranggapan seperti itu."
Nyonya Liana mengambil secangkir teh, meminumnya, lalu meletakannya kembali di meja. "Insya Allah Mami siap. Mami akan berusaha yang terbaik untuk kalian."
Kaisar tersenyum, lalu memeluk erat ibunya. "Jika papi ada di sini, dia pasti bangga sama Mami."
••••
Selesai salat isya, Bening menemani Sofia belajar. Bocah kecil itu kini sudah kelas tiga SD.
"Mbak, Kakak Daffin bilang, Mbak Bening mau jadi Mama Sofia, ya?"
Bening tersenyum, kemudian mengelus rambut legam anak itu. "Sofia senang gak kalau Mbak Bening jadi mama Sofia."
Gadis kecil berambut panjang itu mengangguk, tetapi raut wajahnya tampak sedih. "Mbak ... mbak mau janji?"
"Janji apa, Sayang?"
"Janji, kalau mbak sudah jadi mama Sofia, mbak gak akan ninggalin kami seperti mama Ariana." Sofia menunduk, bulir-bulir air susul menyusul dari netranya.
Bening mengangkat wajah anak itu, lalu menghapus air matanya. "Mbak janji, gak akan ninggalin kalian. Kita semua hidup bersama, bahagia, insya Allah." Bening memeluk bocah yang selama hampir empat tahun dia rawat.
Kaisar yang menyaksikan mereka di pintu tersenyum. Ternyata Sofia masih mengingat kejadian saat ibunya pergi. Hingga kini, tak ada kabar dari Ariana, atau sekedar menanyakan keadaan anak-anaknya. Wanita itu tenggelam dalam mimpi semunya.
Bening menuruni tangga saat waktu menunjukan pukul dua puluh lewat sepuluh menit. Dirinya dikagetkan dengan suara seseorang yang memanggilnya.
"Tuan, ngagetin aja."
"Kamu jalan kok sambil melamun."
Bening tertawa kecil. "Tuan belum tidur?" Gadis itu berjalan mendekati lelaki yang berdiri di ujung tangga.
"Baru juga jam delapan. Oh, ya, kita kan mau nikah, kenapa masih memanggilku tuan? Panggil aku mas, aa, abang atau ... sayang, gitu. Yang penting bukan Tuan."
Bening tersenyum. "Iya deh, Mas Kaisar."
Gadis itu memanggilnya demikian karena Kaisar keturunan Jawa.
"Nah, gitu dong. Oh ya, ayo siap-siap!" Perintah Kaisar.
"Buat apa?"
"Aku ingin mengajakmu pergi, gak lihat kalau aku sudah siap begini?"
"Kalau gitu, saya ganti baju dulu."
"Gak usah." Kaisar menarik lengan Bening ke luar, lalu membawanya ke mobil dan pergi.
"Kita mau kemana Tuan? Eh, Mas?"
"Makan malam di luar."
"Tapi, masa saya pakai piyama kaya gini?"
Kaisar hanya tersenyum, tak menjawab pertanyaan Bening. Gadis itu mulai kesal.
"Tuan! Eh, Mas, kok diem aja sih?"
"Aku lagi nyetir, Bening. Udah diem aja."
Kaisar memberhentikan mobilnya di depan sebuah toko pakaian dengan desain yang aesthetic. Bukan sembarang toko, selain menyediakan brand lokal, di sana juga dijual pakaian dari brand-brand terkenal luar negeri. Toko itu adalah salah satu bisnis Nyonya Liana.
Saat Kaisar masuk, beberapa karyawan langsung menyambutnya.
"Bantu dia untuk memilih yang pas!" Titah Kaisar.
Dua orang wanita mengajak Bening untuk memilih-milih pakaian. Akhirnya dia mengambil sebuah dress berwarna hitam dengan high hells berwarna senada.
Kaisar mengambil beberapa pakain untuk Bening yang menurutnya bagus. "Bungkus semua!"
Bening keluar dari ruang ganti dengan memakai dress pilihannya. Rambutnya yang legam tergerai indah. Sapuan make up natural membuatnya terlihat semakin cantik.
Ini bukan kali pertama Kaisar terkesima dengan penampilan Bening, sebelumnya dirinya pernah dibuat takjub saat hendak pergi ke pernikahan Neneng.
"Ayo!"
Kaisar mengajak Bening ke sebuah restoran mewah. Seorang pelayan wanita mengantar keduanya ke sebuah meja yang sudah dipesan secara khusus. Kaisar menarik sebuah kursi untuk Bening. Lalu keduanya duduk saling berhadapan.
Lelaki itu hampir tak bisa mengalihkan pandangan dari gadis di depannya.
"A-ada apa?" tanya Bening melihat Kaisar yang terus menatapnya.
"Enggak, kamu cantik."
Bening tersipu mendengar jawaban Kaisar.
Seorang pelayan membawa nampan berisi appetizer dan langsung menghidangkannya.
"Enak gak?" Tanya Kaisar.
Bening tersenyum dan mengangguk.
"Aku senang. Setelah semua waktu yang dilalui, akhirnya kita akan menikah," ujar Kaisar. Lelaki itu berdiri dan berjalan ke belakang Bening. Dia mengeluarkan sebuah kalung dan memakaikannya di leher gadis itu. Kemudian duduk kembali.
Bening menyentuh kalung dengan desain sederhana namun berharga fantastis itu. "Makasih. Sebenarnya ...." Bening hampir mengucap kata 'Tuan' tetapi segera dia ralat. "Sebenarnya Mas gak perlu memberi ...."
"Ssst!" Kaisar menempelkan jari telunjuk di bibirnya. "Kamu pantas mendapatkannya."
Saat keduanya melanjutkan makan, seorang lelaki datang menghampiri. Itu adalah Peter, sepupu Kaisar.
"Jadi ini calon yang dibilang tante Liana? Cantik." Lelaki itu memandang Bening sambil meletakan tangan di dagunya.
"Lu di sini." Ujar Kaisar.
"Ya, bareng pacar gue. Tuh, cantik juga kan? Putri pemilik apartemen mewah di jakpus, dia juga lulusan luar negeri." Pamer Peter.
Bening merasa tak nyaman dengam sepupu Kaisar, tapi dia berusaha tersenyum dan tak menanggapi. Kaisar yang paham apa yang dirasakan Bening langsung menimpali sepupunya.
"Dipacarin mulu, dinikahinnya kapan?"
Peter tertawa mendengar ucapan Kaisar. "Oke deh, sampe ketemu besok di acara makan malam ya, gue pasti datang." Peter melirik ke arah Bening lalu tersenyum mengejek.
Selesai makan, mereka berjalan-jalan sebentar. Keduanya duduk di sebuah bangku yang menghadap ke jalan.
"Bening, kamu senang?"
Bening mengangguk. "Tentu saja. Mmm ... acara makan malam besok, pasti banyak yang datang kan?" Gadis itu sedikit khawatir.
"Jangan khawatir, terapkan saja semua yang diajarkan mami. Gak apa-apa, mereka baik, kok. Meski mungkin akan ada yang tidak suka."
Bening mengangguk.
••••
Hari ini Nyonya Liana begitu sibuk, dia menyiapkan pesta barbeque di taman untuk keluarga besarnya dalam rangka mengenalkan Bening sebagai calon istri Kaisar. Dia pun sudah memberi tahu keluarga yang lain bahwa gadis itu bukan dari golongan seperti mereka. Dirinya berharap semua keluarga menghormati keputusan Kaisar dan menerima Bening.
Hari beranjak sore, wanita berusia lima puluh tahunan itu memilihkan pakaian untuk Bening, kemudian memberi wejangan apa saja yang nanti harus dilakukan.
Bening memerhatikan Nyonya Liana yang sibuk memilih-milih baju. Gadis itu mendekat, lalu memeluknya dari belakang.
"Heiii ... ada apa?" Tanya Nyonya Liana.
"Nyonya, terima kasih ... sudah menerima saya yang bukan siapa-siapa ini."
Nyonya Liana memutar tubuhnya lalu meletakan kedua tangannya di kedua pipi gadis itu.
"Kamu pantas mendapatkannya. Saya senang, serasa punya anak perempuan. Dulu, saya gak bisa seperti ini dengan Ariana. Hmm, ayo coba yang ini." Nyonya Liana menyerahkan sebuah dress berwarna merah. Setelah Bening memakainya, wanita itu mengernyit kemudian menggeleng. Keduanya memilih baju yang lain sambil tertawa dan bercanda.
Di dapur, Sumi dan pekerja yang lain tak kalah sibuk. Dia menyiapkan berbagai macam keperluan untuk nanti malam. Rena menghampiri lalu duduk di kursi samping Sumi.
"Rafka tidur?" tanya Sumi.
Rena menjawab dengan sebuah anggukan. "Bi, beruntung banget, ya Bening. Bisa menikah sama orang kaya."
"Sudah takdir dari yang di atas," jawab Sumi. Tangannya sibuk mengelap piring-piring di meja. "Bantuin, nih."
"Saudara Nyonya Liana banyak ya Bi?"
"Nyonya Liana cuma punya satu saudara perempuan. Orang tuanya sudah meninggal. Kalau suaminya punya saudara dua, ada yang tinggal di luar negeri. Dulu Bibi ikut keluarga Tuan Kaisar waktu dia masih kecil, gak kerasa sekarang sudah punya tiga anak."
"Tapi anak-anaknya pasti pada ikut kan Bi? Kali aja nanti ada yang naksir sama aku, aku mau dandan cantik, ah." Rena senyum-senyum sendiri.
Sumi menggeleng melihat tingkah gadis yang duduk di sebelahnya.
Tak lama Bening ke dapur, bermaksud membantu.
"Eeh, gak usah. Kamu siap-siap aja sana!" Ujar Sumi.
"Gak apa-apa, Bi. Baru jam segini, kan mulainya jam delapan."
"Hei Bening! Apa rahasianya bisa ditaksir Tuan Kaisar?" Tanya Rena masih penasaran.
"Apa ya? Gak ada rahasianya, sih," jawab Bening sambil tersenyum.
"Ya ampun ini bocah. Sudah bantuin aja ini." Sumi menyodorkan piring dan lap kepada Rena.
Rena meraih piring dan lap itu dengan kesal. "Kamu sudah gak pernah bertemu Fathan? Buat aku aja ya kalau kamu gak mau." Gadis itu terkekeh.
"A Fathan," gumam Bening.
Bening masuk ke kamar. Kini dia tidak sekamar lagi dengan Rena di kamar pembantu. Dia sudah memiliki kamar sendiri di lantai dua. Gadis itu mengambil ponsel, lalu mencari kontak Fathan. Ragu, apakah dirinya harus menghubunginya atau tidak. Namun, dia mengurungkan niatnya, ingin fokus dengan acara nanti malam.
Keluarga Kaisar mulai berdatangan. Nyonya Liana menemani mereka ngobrol sambil memanggang daging bersama.
Di kamar, Bening tampak gugup. Kekhawatiran mulai menyelimuti dirinya. Khawatir tak diterima, khawatir membuat malu, dan sederet kekhawatiran lainnya.
Gadis itu berdiri di depan cermin. Dengan mengenakan dress putih dari brand terkenal luar negeri yang dipilihkan Nyonya Liana, dia tampak cantik. Siapa yang akan menyangka bahwa dia hanya anak seorang pertani miskin dari kampung.
Ponsel yang berdering membuyarkan lamunannya. Sebuah nama muncul di layar ponsel. Buru-buru dia mengangkat teleponnya.
"Halo."
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Hening.
"Emm ... Bening."
"Ya."
"Aku dengar dari Rena, malam ini ... kamu akan dikenalkan ke keluarga besar dia."
Fathan benar-benar tak ingin menyebut nama Kaisar. Dia tahu seharusnya tak menghubungi Bening. Namun, dia tahu bahwa saat ini gadis itu pasti tengah gugup dan khawatir, jadi dia menelepon untuk memberi semangat. Meski jauh di lubuk hatinya, hal ini begitu menyakitkan.
"Iya, tapi ... aku takut," jawab Bening.
"Jangan takut. Kamu itu baik, cantik, pinter. Jangan merasa rendah diri, semua manusia sama di hadapan Tuhan. Jika nanti ada yang membuatmu tak senang, bertahanlah, tunjukan bahwa kamu bukan gadis lemah."
Suara ketukan di pintu menghentikan pembicaraan mereka.
"A Fathan, aku harus segera turun."
"Ah, ya. Semangat ya."
Bening menutup teleponnya lalu membuka pintu.
Di tempat kostnya, Fathan terduduk. Meletakan ponsel dengan perlahan. "Selamat ya Bening. Mungkin ini yang terbaik bagimu." Pemuda itu mencoba menahan perih. Dirinya sadar, tak bisa memberikan seperti apa yang Kaisar berikan untuk gadis yang dicintainya.
••••
Bening keluar dari kamarnya, lalu mendekat ke arah Kaisar yang sudah bersiap dengan mengenakan setelan jas.
"Gugup, ya?"
"Iya."
"Gak apa-apa, tenang aja."
Keduanya keluar, semua mata tertuju kepada mereka. Hal itu membuat Bening semakin gugup. Kaisar menggenggam tangan Bening, agar gadis itu sedikit merasa tenang. Nyonya Liana mendekat, kemudian mengenalkan Bening kepada yang hadir.
"Semuanya, kenalkan, ini Bening, sekarang sedang menempuh pendidikan di Universitas Indonesia. Mohon doanya dari semua, insya Allah mereka akan menikah tiga bulan lagi."
Beberapa yang hadir tampak tersenyum senang, ada yang memuji kecantikan Bening, akan tetapi ada juga yang tersenyum sinis melihat gadis itu.
Bening mencoba berbaur, mengobrol bersama mereka. Ternyata keluarga besar Kaisar tak semenyeramkan yang dibayangkannya, mereka baik, hingga saat itu tak ada yang menyinggung latar belakang keluarganya.
Peter dan Naina menghampiri Kaisar. "Boleh juga calonmu, Mas. Tak terlihat seperti mantan pengasuh," ujar Peter.
"Tentu saja, karena Bening itu spesial," timpal Kaisar.
Peter dan Naina saling pandang. Saudara kembar itu tersenyum. Naina berjalan menghampiri Bening yang t
engah berdiri bersama Sofia.
"Hai, Bening. Aku Naina, sepupu Kaisar."
"Oh, hai, aku Bening."
"Sofia, bisa tolong ambilkan tante minum? Sekalian buat calon mamamu, ya," Pinta Naina.
Sofia mengangguk, lalu berlari hendak membawa minuman.
Naina menatap Bening dari ujung kaki hingga kepala. "Pakai pelet apa?" Bisiknya di telinga Bening.
"Pelet? maaf aku gak pakai yang seperti itu," ucap Bening seraya tersenyum tak mengerti.
"Soalnya, sepupuku itu sejak dulu seleranya tinggi, tapi sekarang kok bisa anjlok gini, ya," ujar Naina dengan mengangkat satu ujung bibirnya.
Bening diam saja, tak ingin meladeni wanita itu.
"Ini, Tante." Sofia membawa dua gelas minuman di kedua tangannya. Lalu menyerahkannya kepada Bening dan Naina.
Kaisar melambaikan tangan kepada Bening.
"Tuh, dipanggil," ujar Naina menunjuk Kaisar dengan dagunya.
"Kalo gitu, aku permisi dulu, ya." ujar Bening.
Naina mengangguk. Saat Bening berjalan melewatinya, dia sengaja memajukan kakinya hingga Bening tersandung lalu terjatuh dan gelas yang dibawanya pecah.
-Bersambung-

Komentar Buku (82)

  • avatar
    HumairaArsyila

    ceritanya sangat bagus

    02/02

      0
  • avatar
    Tina Kartinawati

    bagus banget ceritanya

    24/11

      0
  • avatar
    Anisa AmeLya

    semangat terus ya, aku paling suka cerita yg berbau wanita tangguh, jdi motivasi buat aku. terimakasih

    21/08/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru