logo text

Bab 20 Kerikil-Kerikil Tajam

Kaisar sampai di rumah saat malam telah larut. Lelah, lelaki itu langsung menuju kamar dan tertidur. Keesokan paginya, Nyonya Liana mengetuk pintu kamarnya untuk meminta penjelasan. Dengan malas, Kaisar membuka pintu, lalu duduk di tepi ranjang, menyiapkan diri menerima omelan dari ibunya.
Tanpa diduga, Nyonya Liana tak mengomel seperti biasa, dia duduk di sebelah putranya lalu menggenggam jemarinya.
"Kaisar, Mami bisa mengerti apa yang sedang kamu rasakan. Terkadang, cinta itu memang lucu. Dia tak mengenal perbedaan. Kadang datang saat tak diharapkan, dan pergi saat dibutuhkan. Terkadang juga, cinta bisa mengalahkan logika." Wanita itu menghela napas panjang dan mengembuskannya pelan.
"Kaisar, dulu ... Mami pernah jatuh cinta dengan anak seorang tukang kebun. Kami memang tak pernah saling menyatakan perasaan, tapi kami bisa merasakan perasaan masing-masing. Saat itu, kakekmu mengenalkan mami dengan seorang
lelaki dari keluarga terpandang. Lalu kami menikah, dan lahirlah kamu."
Kaisar menatap kedua netra ibunya yang berkaca-kaca. "Apa Mami bahagia?"
"Tentu saja. Tentu saja Mami bahagia, memiliki kehidupan yang baik, semua orang menghormati keluarga kita. Jadi, Kaisar ... hidup bersama dengan orang yang kita cintai itu bukan jaminan bahagia. Kita bisa bahagia dengan hal apapun yang tidak kita duga sebelumnya."
Kaisar mulai paham maksud ibunya, dia melepaskan genggaman wanita yang telah melahirkannya itu. "Tapi aku gak bisa, Mam. Aku sudah membulatkan tekad menikahi Bening."
"Kaisar!" sentak Nyonya Liana.
••••
Di kampung Bening, menyebar berita bahwa gadis itu akan dinikahi majikannya. Beberapa ada yang menganggap Bening beruntung, ada yang iri, ada pula yang berpikir bahwa Bening menggoda Kaisar hingga tertarik padanya. Hal tersebut membuat gadis bermata teduh itu merasa tak nyaman.
Akhirnya, dia memutuskan untuk kembali ke Jakarta lebih cepat. Gadis itu membereskan pakaiannya, esok pagi dia akan berangkat.
"Bening!" Mira yang baru pulang kerja memanggil gadis yang tengah mengambil pakaian di jemuran.
"Baru pulang, Mir?"
"Iya. Eh, Bening, kata adikmu mau berangkat lagi ke Jakarta besok pagi, bukannya masih dua hari lagi ya?"
"Iya, sih, tadinya. Tapi ... aku malas dengerin gosip orang-orang, mending cepet balik sana lagi lah."
"Tapi ... kamu beneran mau nikah sama dia, kan?" Selidik Mira.
"Gak tahu, Mir." Bening meletakan keranjang pakaian, lalu duduk di bangku, gadis itu menenggelamkan wajahnya di atas meja.
"Kenapa, sih? Kalau aku jadi kamu, sudah kuiyain waktu Tuan Kaisar mengatakan akan menikahimu. Hidupmu sudah terjamin. Gak apa-apalah duda beranak tiga, yang penting, baik, sayang, kaya, ganteng lagi," ujar Mira seraya terkekeh.
Bening mengangkat kepalanya, lalu tersenyum tipis. "Ada banyak perbedaan antara aku dan dia, Mir. Apakah aku bisa diterima dikeluarganya? Di lingkungannya? Aku percaya padanya, dia tulus. Tapi ... menikah itu bukan perkara aku hidup dengan dia, berdua. Tapi tentang menyatukan dua keluarga."
Tak sengaja, Pak Maman mendengarkan percakapan putrinya dengan Mira di samping rumah. Dia tersenyum, berpikir bahwa anaknya kini sudah dewasa.
"Iya juga, sih. Trus, perasaanmu sendiri gimana, Bening?" tanya Mira.
Bening menatap sahabatnya. Bibirnya tersenyum, tapi matanya mengembun. "Aku tidak tahu. Apakah ini cinta, atau sekedar rasa iba dan penghormatan." Gadis itu kembali membenamkan wajahnya di atas meja.
Mira mengusap-ngusap punggung gadis itu. "Apapun keputusanmu, aku akan mendukungmu. Aku cuma bisa berdoa, semoga Allah memberikan yang terbaik untukmu."
••••
Keesokan paginya, Bening bersiap akan kembali ke Jakarta. Dia meraih ponsel di nakas lalu mengusap layarnya.
Beberapa pesan dari Kaisar menanyakan kapan dia akan ke Jakarta. Bening tersenyum, lalu membalasnya bahwa hari itu dia akan segera kembali. Gadis itu membuka Timeline, melihat status Fathan yang menyebutkan akan kembali ke Jakarta karena harus masuk kuliah. Gadis itu pun mengirimkan pesan padanya.
[Sama dong, aku juga ke Jakarta hari ini. Hati-hati, ya]
Pesannya telah centang biru, yang berarti sudah dibaca. Namun, tak ada balasan. Bening baru sadar, bahwa seharian kemarin dirinya tak melihat Fathan. Bahkan chat pun tak ada. Dia berpikir bahwa mungkin teman masa kecilnya itu sedang sibuk. Padahal, pemuda itu tengah memendam rasa kecewa, sakit hati, dan cemburu.
"Bening, ada yang mencarimu." Bu Nani duduk di tepi ranjang yang terbuat dari kayu.
"Siapa, Bu? Mira?"
"Bukan. Seorang perempuan, ibu-ibu, cantik, tampaknya orang kaya."
Bening mengernyit.
"Sana samperin dulu, ada di luar."
Bening segera bergegas ke luar.
"Nyonya Liana?" Bening tak bisa menahan rasa keterkejutannya.
Nyonya Liana menatap gadis itu lekat.
"Si-silakan duduk, Nyonya." Bening mengusap-usap bangku dengan tangannya.
Nyonya Liana duduk di bangku, tampak merasa kurang nyaman.
"Maaf, keadaannya seperti ini," ujar Bening.
"Gak apa-apa." Perempuan yang memakai syal bulu itu tersenyum tipis.
"Maaf, ada apa Nyonya jauh-jauh sampai ke sini?" tanya Bening sedikit khawatir.
"Bening, emm ... langsung saja ya ke inti permasalahannya ...." perkataan Nyonya Liana terjeda karena ibunya Bening ke luar membawakan minum.
Bu Nani meletakan segelas air di meja. "Ini teh ibunya Tuan Kaisar?"
Nyonya Liana mengangguk seraya tersenyum.
"Saya, ibunya Bening." Bu Nani mengusap-usapkan tangan ke dasternya sebelum mengajak bersalaman.
Nyonya Liana meraih tangan Bu Nani. "Senang bertemu dengan ibu."
"Aduh, saya teh jadi gak enak. Maaf ya keadaannya seperti ini. Sok mangga diminum, saya tinggal dulu ke belakang."
Nyonya Liana mengangguk, dan ibunya Bening masuk lagi ke dalam.
"Bening."
"Ya, Nyonya."
"Emm ... begini. Saya tahu kamu gadis yang baik. Pekerjaanmu juga, saya suka. Tapi ... ada satu hal yang ingin saya minta dari kamu."
Bening menatap wanita di hadapannya.
"Saya ingin minta tolong, supaya ... kamu menjauhi Kaisar," ucap Nyonya Liana. Dirinya pun merasa tak nyaman mengatakan hal ini, tapi dirinya tak bisa membiarkan putra semata wayangnya menikah dengan gadis yang tak selevel dengannya.
Bening menunduk, dia sudah menduga bahwa hal ini akan terjadi. Dia berusaha tersenyum, meski ada bagian hatinya yang terasa teiris.
"Nyonya tenang saja, saya memang tidak berniat kembali lagi ke tempat Nyonya," ucap Bening diiringi senyuman yang dipaksakan.
Nyonya Liana mengeluarkan sebuah amplop tebal dari tasnya. "Ini, ambilah. Jumlahnya cukup besar, jadi kamu bisa mempergunakannya untuk membuka usaha. Saya permisi dulu."
Wanita itu bangkit dari duduknya, lalu melangkah meninggalkan Bening.
"Nyonya." Bening memanggilnya. Wanita berusia lima puluhan itu menghentikan langkahnya.
Bening berdiri, mengambil amplop tebal di meja lalu berjalan ke arah Nyonya Liana. Gadis itu meraih tangan wanita di hadapannya, lalu meletakan amplop tersebut di tangannya.
Bening tersenyum. "Nyonya, saya ucapkan terima kasih atas kebaikan Nyonya selama ini, tapi maaf, saya tidak bisa menerima uang ini."
Bening melepaskan tangannya, lalu berjalan masuk ke dalam rumah.
Nyonya Liana menatap amplop di tangannya, lalu beralih ke punggung gadis itu hingga akhirnya menghilang di balik pintu.
Bening masuk ke kamar, dia mengeluarkan kembali pakaiannya. Dirinya berusaha menahan tangis, tapi tetap saja akhirnya bulir-bulir itu jatuh saling susul menyusul.
Bu Nani masuk ke kamar putrinya, melihat Bening yang menangis dia menebak pasti telah terjadi sesuatu.
"Ada apa, Nak?" Bu Nani mengusap punggung anak gadisnya.
Bening mengusap mata dan pipinya. "Bu, gak apa-apa kan kalau Bening gak ke Jakarta lagi?"
Bu Nani mengernyit, tapi melihat putrinya seperti itu dia segera menyadari. "Iya, Nak, gak apa-apa. Kamu di sini aja temani ibu."
Gadis itu merangkul sang ibu dan menangis di pelukannya.
••••
Kaisar baru saja pulang dari kantor. Hari ini dia pulang sedikit lebih cepat. Lelaki dengan rahang kokoh itu bersandar di sofa sambil melonggarkan dasi. Sofia yang baru turun dari tangga langsung melompat ke arahnya.
"Papa, kapan Mbak Bening ke sini?" tanyanya.
"Katanya hari ini, tunggu aja ya. Mungkin sebentar lagi juga datang."
"Asyiiiiik! Sofia mau tunjukin boneka baru."
Kaisar tersenyum. "Oma mana?"
"Oma pergi dari pagi."
Kaisar mengenyitkan dahinya. "Bi, Bi sumi."
"Iya, Tuan." Wanita paruh baya itu tergopoh menghampiri.
"Mami ke mana?"
"Pagi-pagi setelah Tuan berangkat kerja, Nyonya pergi tapi gak bilang mau kemana."
"Sama siapa?"
"Diantar Pak Imam."
••••
Senja menyapa, Kaisar melongok ke jendela. Baik Bening atau pun ibunya belum juga ada yang sampai. Lelaki itu mengeluarkan ponselnya, setelah menemukan kontak yang dicari, dia menempelkan benda itu ke telinganya.
"Halo."
"Halo, Mam. Lagi dimana?"
"Di jalan, sebentar lagi sampe."
Setelah menutup teleponnya, lelaki itu mencari kontak Bening dan menghubunginya. Tak diangkat, dia pun mencoba mengirimkan pesan.
[Bening, sudah sampe mana? Kok lama banget?]
Di kampungnya, Bening baru saja menyiapkan makanan di meja. Adiknya datang ke dapur lalu memberikan ponselnya.
"Teh, dari tadi HP-nya bunyi terus."
Bening membuka layar ponselnya, tampak beberapa pemberitahuan panggilan dan pesan dari Kaisar. Gadis itu tak membukanya, tetapi langsung mematikan benda itu, dan meletakan sembarang di dapur.
••••
Nyonya Liana kembali ke rumah, langsung disambut oleh Kaisar dengan rentetan pertanyaan.
"Mami capek, Kaisar."
"Mami cukup jawab habis dari mana, sudah. Gitu aja, Mam."
Nyonya Liana melepas syal bulunya. "Mami ada urusan. Biasalah, untuk masa depan kita juga. Udah ya, Mami capek." Wanita itu meninggalkan putra semata wayangnya menuju kamar.
Waktu menunjukan hampir pukul sepuluh malam, lelaki itu semakin gelisah, khawatir terjadi sesuatu kepada Bening.
"Aku harus menghubungi siapa lagi?" gumamnya.
Berpikir sejenak, kemudian lelaki itu menyambar kunci mobil, melajukannya menuju sebuah tempat.
Tak butuh waktu lama, dirinya sudah sampai di tempat yang dituju. Lelaki itu berdiri di depan pintu, kemudian mengetuknya. Tak lama, seorang pemuda membuka pintu, dia tampak kaget.
"Ada apa?" Tanyanya.
"Biarkan aku masuk dulu." Tanpa dipersilakan, Kaisar langsung masuk.
"Fathan, aku ingin bertanya padamu soal Bening. Barangkali, dia ada menghubungimu."
"Kenapa bertanya padaku? Bukankah kamu calon suaminya?" Dada Fathan terasa menyesak.
"Dengarkan aku dulu. Rencananya, hari ini dia akan ke Jakarta, tapi sampai sekarang belum sampai, dan gak bisa dihubungi."
Fathan terkejut mendengar ucapan Kaisar. Dia mengambil ponselnya dan berusaha menghubungi Bening, tapi tidak aktif.
"Kamu punya nomornya Mira, kan? Coba hubungi dia!" Saran Kaisar.
Fathan mencari kontak Mira, lalu menghubunginya. Setelah dua kali panggilan tak diangkat, akhirnya Mira mengangkat teleponnya.
"Apa sih Than telepon malem-malem? Ngantuk tahu!" ujar Mira di seberang telepon.
"Mir, Mira, kamu tahu Bening di mana?" tanya Fathan.
"Tahu."
Kaisar dan Fathan menarik napas lega.
"Di mana?"
"Rahasia." Gadis itu tertawa.
"Miraaaaa. Serius nih."
"Ada di rumahnya."
Kaisar dan Fathan saling pandang. "Bukannya mau ke Jakarta hari ini?" tanya Fathan.
"Iya, tadinya. Tapi tadi pagi ibunya si Om Kaisar datang. Bilang kalo Bening harus jauhi anaknya. Bening juga mau dikasih uang banyak, tapi sama bening gak diterima. Kasihan deh, tadi nangis gitu pas cerita ke aku."
Kaisar mengusap wajahnya. "Mami," geramnya.
Kaisar kembali ke rumah. Berjalan menuju kamar ibunya, kemudian mengetuk pintu. Cukup lama dia menunggu, tapi Nyonya Liana tak keluar. Lelaki itu pun kembalike kamarnya.
Kaisar berpikir tentang apa yang harus dia lakukan. Jika sudah seperti ini, akan sulit membujuk Bening untuk kembali, kecuali Nyonya Liana yang meminta, tetapi itu pun tidak mungkin.
Keesokan paginya. Kaisar turun dari tangga menuju ruang makan. Hari ini dia sengaja tak berangkat ke kantor. Nyonya Liana yang melihatnya spontan bertanya. "Kamu gak berangkat ke kantor?"
Kaisar menggeleng. "Mam, aku ingin bicara."
"Ada apa? Kayanya serius banget."
"Kenapa Mami meminta Bening untuk menjauhiku?"
Nyonya Liana terkejut Kaisar mengetahui hal itu. "Kamu tahu dari mana?"
"Itu gak penting, Mam." Kaisar menarik napas panjang. "Kenapa Mami lakukan itu?"
"Tentu saja untuk kebahagiaanmu. Kalau kamu menikah dengannya, apa kata orang nanti? Seorang presiden Wijaya Group menikahi pengasuh anaknya. Kamu mau jadi bahan olok-olokan?"
"Untuk kebahagiaanku? Kebahagian seperti apa? Lagi pula, kenapa kita harus peduli apa kata orang?"
"Kamu tidak mengerti, Kaisar."
"Ya, aku memang tidak mengerti. Tidak mengerti kenapa orang-orang seperti kalian senang membeda-bedakan manusia hanya karena statusnya." Kaisar beranjak meninggalkan ibunya.
-Bersambung-

Komentar Buku (82)

  • avatar
    HumairaArsyila

    ceritanya sangat bagus

    02/02

      0
  • avatar
    Tina Kartinawati

    bagus banget ceritanya

    24/11

      0
  • avatar
    Anisa AmeLya

    semangat terus ya, aku paling suka cerita yg berbau wanita tangguh, jdi motivasi buat aku. terimakasih

    21/08/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru