Beranda/Sebening Cinta Si Gadis Desa/
Bab 13 Guna-Guna
Kaisar mendekati Bening yang tengah menyelesaikan makan siangnya.
"Sudah kenyang?" tanyanya.
Bening mengangguk. "Makasih. Sebenarnya Tuan gak perlu melakukan ini," ujarnya.
Kaisar duduk di sebelah Bening, matanya tertuju kepada gadis yang juga tengah menatapnya.
"Anggap saja sebagai permintaan maafku karena membiarkanmu pergi dari rumah dengan keadaan seperti itu. Ya sudah, yuk kita pulang. Anak-anak merindukanmu."
"Tapi, Tuan ...." Bening menunduk.
"Kamu gak usah khawatir soal mami," sambung Kaisar seolah tahu dengan yang dirasakan Bening.
Saat mereka berbincang, datang pelanggan yang akan mencuci mobilnya.
"Itu ada mobil datang, ayo," ajak Kaisar. Dia melepaskan jas, lalu melipat lengan kemeja putihnya.
"Tuan mau apa?"
"Tentu saja membantumu mencuci mobil."
"Tapi nanti tuan basah lagi."
Kaisar menarik napas lalu berjalan mendekat ke mobil. Lelaki itu mengambil selang dan mulai menyemprotkan air ke mobil. Tangannya memberi isyarat agar Bening segera mendekat. Bening tersenyum, ini adalah kali pertama dirinya melihat sisi lain dari Kaisar. Lelaki yang biasanya irit bicara dan jaim itu, kali ini menjelma menjadi pribadi yang berbeda.
Matahari mulai turun menuju peraduan saat gadis berparas manis itu meminta izin untuk berhenti bekerja kepada Pak Ilham. Tak punya pilihan lain, lelaki paruh baya itu mengiyakan. Meski dirinya senang dengan Bening yang memang rajin dan bertanggung jawab.
Sesekali Fathan mencuri pandang ke arah Bening dan Kaisar. Ada rasa perih menjalar ke dada saat melihat mereka berdua. Tanpa banyak bicara, dia langsung memacu motornya untuk pulang.
Untuk kedua kalinya, pakaian Kaisar menjadi basah. Bening mengajaknya ke tempat kost untuk berganti pakaian.
Kaisar berjalan membuntuti Bening, matanya bergerilya mengamati tempat kost yang tidak terlalu besar itu.
"Tuan tunggu di sini, saya ke kamar A Fathan dulu untuk pinjam baju," ujar Bening sesampainya di depan kamar.
"Tunggu, aku ikut."
Bening mengetuk pintu kamar Fathan, tak lama pemuda itu membuka pintu.
"Ada apa?" tanyanya tak seramah biasa.
"Bisa pinjam baju gak? Baju Tuan Kaisar basah."
Fathan melirik ke arah Kaisar. "Oke."
Pemuda itu membuka lemari pakaian, memilihnya, lalu mengambil sebuah baju. Dirinya tersenyum melihat keadaan baju itu.
"Nih Om bajunya." Fathan memberikan baju itu dengan melemparnya kepada Kaisar yang sigap menangkapnya.
"Om?" Tanya Kaisar kesal sambil menggaruk belakang kepalanya, sedang Bening menahan senyum dengan tangannya.
"Ganti bajunya di dalem aja," perintah Bening.
Kaisar pun masuk ke kamar Fathan. Lelaki itu melepas bajunya yang basah, lalu membuka baju yang masih terlipat dan langsung memakainya.
Kaisar keluar, lalu menyerahkan baju basahnya kepada Bening.
Saat Bening melihat Kaisar, dia langsung tertawa, begitu juga dengan Fathan.
"Kenapa kalian tertawa?" tanya Kaisar heran.
"Tuan, itu kenapa kepalanya masuk ke situ?" tanya Bening seraya tertawa.
Baju yang diberikan Fathan adalah T-shirt yang sudah robek bagian belakang lehernya. Bukannya masukan kepala ke lubang leher, tanpa sengaja Kaisar memasukan kepalanya ke bagian yang robek.
Kaisar melihat-lihat baju yang dipakainya. "Euh, kamu sengaja, ya?" Kaisar hendak menjitak kepala Fathan, tetapi pemuda itu segera menghindar sambil tertawa.
Kaisar masuk lagi ke dalam, lalu melepas bajunya. Dia membuka lemari pakain dan mengambil sebuah kemeja kotak berwarna biru.
Fathan ikut masuk ke dalam. "Jangan yang itu!" cegah Fathan.
Kaisar tak menggubris dan hendak memakainya. Fathan mendekat dan menarik kemeja miliknya.
"Baju jelek kaya gini aja gak boleh dipinjam," ujar Kaisar.
"Kalau jelek jangan pinjam!"
Bening yang mendengar kegaduhan langsung masuk. "Ada apa sih bertengkar gitu?"
"Temanmu nih, pelit banget. Masa gak boleh pinjam yang itu," jawab Kaisar.
"Ini baru beli, belum pernah dipake. Tuh lihat label harganya aja belum dilepas," timpal Fathan.
"Nanti kuganti lima." Kaisar merentangkan jari-jarinya.
Bening menutup matanya dengan tangan saat tersadar bahwa Kaisar tak memakai baju. "Cepat pake baju dulu, Tuan!"
"Tuh kan suruh pake baju." Kaisar mengambil kemejanya dari tangan Fathan.
Fathan menarik napas kesal, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa.
Selesai salat isya, Bening pamit kepada Fathan. Dia mengucapkan terima kasih karena telah membantunya selama sebulan ini.
Pemuda itu harus merelakan gadis yang disukainya pergi. Meski berat, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa. Fathan membalas Bening yang melambaikan tangan kepadanya. Hidupnya yang beberapa waktu lalu semakin berwarna dengan kehadiran Bening, kini seperti hampa kembali.
Sambil menyetir, sesekali Kaisar melirik ke arah Bening dan tersenyum. Bening yang menyadari hal itu segera bertanya.
"Ada apa Tuan, apa ada sesuatu di wajah saya?" Bening mengusap-usap wajahnya.
"Enggak ada apa-apa. Oh ya, HP-mu kemana?"
"Hilang, Tuan."
"Oh, pantesan. Tenang saja, nanti aku akan memberikannya lagi."
****
Sebuah rumah dengan gaya tradisional khas jawa tampak asri dengan halaman yang luas. Sebuah mobil minicooper berwarna merah masuk kemudian berhenti di depannya.
Seorang perempuan dengan celana jeans robek dan T-shirt ketat turun dari mobil itu. Setelah melepas kaca mata hitamnya, dia berjalan menuju pintu lalu mengetuknya. Tak lama, seorang perempuan berpakaian kebaya membuka pintu. Saat melihat siapa yang datang, dia tersenyum lalu memeluknya sejenak.
"Ke mana aja, Nduk, baru ke sini?" tanya Wanita paruh baya yang bernama Selasih, dia adalah kakak dari ibu Nadia.
"Maaf Budhe, baru bisa ke sini lagi," jawab sang keponakan.
"Hayuk masuk."
Keduanya pun masuk ke dalam rumah. Selasih yang merupakan seorang dukun sudah memiliki firasat bahwa keponakannya akan datang.
"Ada sesuatu?" tanyanya. Perempuan berkonde itu membuatkan teh melati untuk keponakannya.
"Budhe, aku belum berhasil. Ternyata, ibunya saja enggak cukup," ungkap Nadia.
Selasih tertawa, "Sudah kubilang itu tak akan berhasil, lelaki itu memiliki hati dan perasaan yang kuat, tak mudah goyah jika belum merasakan mantra dariku."
"Berarti, dia harus diberi juga?"
Selasih mengangguk. "Budhe akan memberimu sesuatu. Tenang saja."
Malamnya, Selasih menyuruh Nadia untuk mandi kembang. Perempuan yang bekerjasama dengan setan itu memberi jampi-jampi kepada keponakannya. Setelah selesai, Selasih meminta tujuh helai rambut Nadia.
"Bakar ini, lalu masukan ke dalam minuman lelaki itu. Dijamin, dia akan klepek-klepek kepadamu."
Nadia menerima sebuah bungkusan kecil dari kertas berwarna putih, dia tersenyum, dan mulai membayangkan Kaisar bertekuk lutut mengemis cintanya.
"Dia lelaki yang menikah dengan artis itu?" tanya selasih.
"Iya, Budhe. Dia orang yang kusukai sejak kecil. Dan ... dia juga presiden dari Wijaya Group. Perusahaan besar yang bisa mengangkat derajat keluarga kita."
****
Mobil Kaisar memasuki halaman rumahnya. Ada rasa rindu menggelayut dalam hati Bening. Dan rindu itu akan segera terobati. Sofia menyambut Bening dengan sederet pertanyaan. Tentang kemana saja dia, tinggal dimana dan sederet pertanyaan lainnya yang membuat orang mendengarnya pusing.
"Nanti dong tanya-tanyanya, ya," ujar Kaisar kepada Sofia.
Semua penghuni rumah itu berkumpul menyambut Bening, kecuali Nyonya Liana. Wanita berusia lima puluh tahunan itu berdiam diri di kamarnya. Dalam hatinya, dia juga senang Bening kembali, tapi dia terlalu gengsi untuk menyambutnya, terlebih untuk minta maaf.
Kaisar berjalan-jalan di taman, dirinya merasa lega karena Bening sudah kembali. Lelaki itu duduk di bangku taman.
"Tuan."
Kaisar menoleh. "Kenapa lama sekali?" tanyanya seraya mengalihkan pandangan ke pemandangan di depannya. "Duduklah."
Seperti biasa, Bening duduk di ujung bangku.
Kaisar menarik napas. "Sudah kubilang aku nggak ada virusnya."
Kaisar merogoh saku. "Ini." Kaisar mengeluarkan sebuah telepon genggam. "Sudah kuisi kartu, pencet nomor satu, akan langsung muncul nomorku."
Bening hanya diam, merasa tak enak jika harus diberi lagi. Dirinya merasa bersalah karena tak benar-benar menjaga ponsel yang diberikan Kaisar sebelumnya.
"Sudah, gak usah merasa gak enak, ambil aja." Kaisar meraih tangan Bening dan meletakan HP di telapak tangannya.
"Makasih, Tuan. Saya gak akan melupakan kebaikan Tuan."
Kaisar tersenyum mendengar perkataan Bening.
••••
Keadaan rumah kembali seperti semula. Keesokannya, pengacara keluarga Kaisar datang ke rumah. Kaisar membawanya ke ruang kerja di lantai dua.
"Ada info apa?" tanyanya.
Pengacaranya mengeluarkan sebuah amplop coklat besar dan meletakannya di meja.
"Apa ini?"
"Silakan dibuka, Pak," ujar pengacara.
Kaisar membuka amplop itu dan mengeluarkan isinya.
"Aku tidak memintamu memata-matai mereka, yang aku inginkan adalah agar semua segera selesai."
"Iya, Pak saya mengerti. Tapi ada yang aneh, beberapa waktu yang lalu surat gugatan cerai dari Bu Ariana sudah masuk, tapi belum lama ini dia mencabutnya kembali. Oleh sebab itu saya meminta seseorang menyelidikinya, tapi tak ada yang mencurigakan. Berdasarkan foto-foto ini, Bu Ariana masih bersama lelaki itu. Tapi, entah apa alasannya dia mencabut gugatan cerainya."
Kaisar mengambil salah satu poto di meja. Dia menyipitkan mata, berusaha mengingat lelaki yang bersama Ariana.
"Tak perlu menunggu lagi, layangkan surat perceraian ke pengadilan dengan segera," ujar Kaisar seraya meletakan kembali foto itu di meja.
"Baik, Pak."
Pengacaranya meminta izin untuk pulang, kemudian keluar ruangan.
Kaisar menyandarkan tubuhnya di sofa seraya tersenyum sinis.
"Sudah kuduga kamu pergi bersamanya. Jika itu membuatmu bahagia, tolong jangan kembali lagi ke sini, Ariana," gumam Kaisar.
••••
Selesai makan malam, Kaisar beserta ibu dan anak-anaknya berkumpul di ruang keluarga. Sofia memanggil Bening untuk membantunya mewarnai gambar, gadis dengan senyuman manis itu segera menghampiri dan duduk di karpet bersebelahan dengan Sofia. Kaisar yang sedari tadi berbaring di Sofabed, mendadak bangkit lalu duduk.
"Ehm." Kaisar berdeham mencari perhatian Bening, tapi gadis itu diam saja.
"Ehm." Dia kembali berdeham. Namun, Bening masih fokus memerhatikan Sofia yang sedang mewarnai.
"Ehm." Kaisar berdeham lebih keras.
"Kamu kenapa, Sar? Serak? Sumi, ambilkan permen pelega tenggorokan!" Nyonya Liana berseru kepada Sumi yang tengah di dapur. Tak lama, Sumi pun datang dengan membawa permen pelega tenggorokan.
"Ini Nyonya." Sumi menyodorkan beberapa bungkus permen kepada majikan perempuannya.
Nyonya Liana menyodorkan permen itu kepada Kaisar. "Nih."
Kaisar menggaruk kepala yang tak gatal. Dia tidak serak, hanya ingin cari perhatian.
"Ini ambil, apa perlu mami bukain bungkusnya." Nyonya Liana kembali menyodorkan permen itu.
Dengan terpaksa Kaisar mengambil permen itu dan memakannya.
Rafka yang malam itu belum tidur menangis karena kepalanya terantuk meja saat belajar berjalan. Kaisar menggendongnya berusaha menenangkan, hingga akhirnya tertidur. Kaisar pun mengantarkan putra bungsunya ke kamar.
••••
Seorang perempuan menekan bel pintu, wajahnya menampakkan sedikit gelisah. Dirinya berharap sang Tuan rumah akan membiarkannya masuk. Sumi membuka pintu, dia cukup terkejut melihat siapa yang datang.
"Neng Nadia."
"Malam, Bi. Tante Liana ada?" tanya Nadia, matanya melirik-lirik ke dalam rumah.
"Ada, sebentar, ya."
Sumi menemui Nyonya Liana, memberitahukan bahwa Nadia datang.
"Nadia? Ada apa malam-malam begini?" Perempuan paruh baya itu menyuruh Sumi agar membiarkannya masuk.
"Tante," ujar Nadia dengan raut muka memelas.
"Nadia, kemana aja kamu? Tante kangen. Hayuk duduk sini " Nyonya Liana yang tadi seperti enggan bertemu, tiba-tiba berubah menjadi ramah.
Nadia duduk di Sofa lalu berpelukan dengan Nyonya Liana. "Aku juga kangen, Tan."
Nadia melirik je arah Bening yang tengah menemani Sofia. Matanya menatap tak suka.
'Ternyata dia sudah kembali lagi ke rumah ini,' ucapnya dalam hati.
Kaisar yang baru saja menidurkan Rafka terkejut melihat Nadia yang sudah ada di rumahnya.
"Ngapain kamu di sini?" Tanya Kaisar yang masih berdiri di ujung tangga.
"Eh, Kaisar, jangan gitu. Nadia kan temanmu," sela Nyonya Liana.
Nadia berdiri, wajahnya kembali memelas. "Aku minta maaf, Kaisar. Aku mengaku salah."
Kaisar melangkah lalu duduk di sebelah Nyonya Liana. "Jangan minta maaf padaku, tapi minta maaflah kepada Bening."
Bening melirik kepada Kaisar, mencoba memberi kode dengan menggeleng bahwa itu tidak perlu. Kaisar tak menggubris, malah kembali menyuruh Nadia minta maaf.
Dengan terpaksa, Nadia menuruti permintaan Kaisar. Perempuan berusia tiga puluh tahun itu menghampiri bening.
"Maafin aku ya, Bening. Waktu itu, aku sudah salah sama kamu." Nadia memeluk Bening.
'Jangan merasa menang dulu, Bening. Aku melakukan ini bukan untukmu, tapi agar Kaisar menerimaku kembali di rumah ini," ucap Nadia dalam hati.
Nadia melepaskan pelukannya kemudian kembali duduk di sofa.
"Sumi, buatkan teh, ya." perintah Nyonya Liana.
"Biar aku aja yang bikin, ya Tan." Pinta Nadia.
Perempuan bertubuh sintal itu beranjak ke dapur.
Daffin yang sejak tadi di kamar, ke luar dan duduk di sebelah Sofia. Dia mulai iseng menggoda adiknya dengan mencoret gambar yang sedang diwarnai Sofia.
"Kakaaaaaak," pekik Sofia dengan cemberut.
Daffin malah tertawa dan mencoret lagi gambar adiknya. Sofia hendak memukulnya tapi Daffin menghindar dengan berlari. Sofia pun mengejarnya.
"Ya ampun, tu anak. Kalau dah ketemu pasti begitu." Nyonya Liana menggeleng.
Di dapur, Nadia tengah menyiapkan teh. Setelah menuang air panas dan gula, dia mengambil sendok dan mengaduknya. Pandangannya menyapu sekitar, setelah memastikan tak ada siapa-siapa, dia mengeluarkan sebuah bungkusan kecil, lalu memasukan isinya ke salah satu gelas. Tak lupa dia mengaduknya kembali.
Nadia tersenyum merasa akan segera mendapat kemenangan. "Setelah ini, aku akan segera menjadi Nyonya Kaisar," gumamnya.
Nadia segera membawa nampan berisi tiga cangkir teh itu dengan hati-hati. Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (82)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
ceritanya sangat bagus
02/02
0bagus banget ceritanya
24/11
0semangat terus ya, aku paling suka cerita yg berbau wanita tangguh, jdi motivasi buat aku. terimakasih
21/08/2025
0Lihat Semua