Beranda/Kehidupan Setelah Menikah/
Bab 30 Mulai Bersaing
Pagi ini Bisma sudah siap untuk memulai persaingan dengan Hamdan. Dia begitu yakin akan memenangkan hati Kanaya lagi.
"Kamu terlihat bersemangat sekali, mau ke mana?" tanya Bunga melihat wajah Bisma berseri-seri.
"Ada urusan sebentar, Bu." Bisma tidak mungkin menceritakan keinginan untuk mengejar Kanaya.
"Urusan apa? Apa menyangkut wanita?" tanya Bunga curiga.
"Bisa dibilang begitu," sahut Bisma singkat sembari menyunggingkan senyum.
"Kalau memang semua ini mengangkut wanita, Ibu tidak setuju. Terlebih, wanita yang kamu maksud itu mantan istrimu yang pertama," ujar Bunga ketus. Bunga terlihat lihai menyiapkan makanan di atas meja. Beberapa masakan sederhana yang akan menjadi menu makanan pagi ini.
Bisma tidak menghiraukan perkataan Bunga, kembali duduk sembari menunggu sang Ibu selesai menata meja makan dengan makanan.
"Sebagai anak Ibu, darah dagingku. Harusnya kamu ikuti apa ucapan Ibu agar hidupnya baik dan bahagia," imbuh Bunga melihat tidak ada respon apa pun dari sang Anak.
Bunga melanjutkan mengambil piring dan menaruh makanan di atas piring Bisma. Mulutnya tidak berhenti menceramahi sang Anak agar mau menjadi putra yang berbakti pada kedua orang tua terlebih padanya.
"Iya, Bu. Aku akan berbakti pada Ibu, tapi untuk urusan wanita. Bisma mau cari sendiri, tolong jangan memperlakukanku seperti anak kecil, Bu. Aku sudah dewasa, jadi Ibu gak usah ikut campur dengan urusan asmaraku," kata Bisma tegas. Pria itu mulai berpikir, hubungan asmara atau rumah tangganya sirna karena dia selalu mendengarkan apa kata Ibunya.
"Kamu mau jadi anak durhaka?" tanya Bunga kesal.
"Siapa di dunia ini yang mau jadi anak durhaka, Bu? Bisma rasa tidak ada yang mau, tapi kalau cara Ibu melarangku tanpa ada alasan yang jelas, aku rasa Bisma tidak perlu nurut." Bisma menjelaskan sesuai fakta yang ada.
Setelah mendapatkan jatah makan, Bisma langsung menyantap sarapannya. Tidak perlu menunggu lama, sebab dia memang harus pergi secepatnya untuk menemui Kanaya.
"Aku sudah selesai makannya, aku pergi dulu," kata Bisma berlalu pergi setelah meneguk susu yang sudah dibuatkan oleh Bunga.
Kali ini, Bisma tidak boleh lengah. Dia harus sampai di rumah Kanaya terlebih dulu sebelum keduluan Hamdan. Bagaimanapun, pria itu harus menunjukkan keseriusannya juga perubahan agar wanita yang menjadi mantan istrinya tersebut mau memberikan kesempatan lagi. Dia mengendarai sepeda motor dengan kecepatan tinggi, tidak peduli dengan ramainya lalu lalang kendaraan yang sedang melintas.
Sesampainya, Bisma melihat Kanaya tengah berbicara dengan Ara. Lantas saja pria itu dengan cepat menghampiri.
"Aku datang untuk mengantarkanmu ke manapun yang kamu inginkan, Kanaya." Bisma mulai mengucapkan bujuk rayunya.
"Kamu ngapain pagi-pagi sudah ada di sini, Bisma? Kamu kesambet?" tanya Ara dengan nada meledek.
"Seperti yang sudah dikatakan dari awal, aku mau menunjukkan keseriusanku untuk rujuk dengan Kanaya lagi." Bisma menjelaskan maksud dan tujuannya. Sebenarnya hal itu tidak perlu, sebab yang bertanya Ara bukan Kanaya.
"Oh! Jadi kamu benar-benar serius? Aku kira bercanda. Lantas, bagaimana dengan ibumu?" tanya Ara penasaran. Sedangkan Kanaya sudah tidak terlalu peduli, mau banyak bertanya rasanya juga enggan.
"Kalau perihal ibu, tenang saja. Tidak perlu khawatir, dia sudah merestui. Lagian, kamu siapa? Kenapa kamu menginterogasiku seperti itu? Apa yang aku lakukan juga tidak ada sangkut pautnya denganmu." Bisma mulai menyadari betapa bodohnya dia melayani omong kosong Ara.
"Jelas ada, Kanaya sahabatku. Jadi ya ... jelas ada hubungannya karena kebahagiaan dia, kebahagiaanku juga." Ara menjelaskan secara detail agar Bisma mau mengerti.
"Aku tidak habis pikir padamu, seharusnya kamu fokus dengan dirimu saja. Kenapa harus repot-repot mengurusi Kanaya?" cetus Bisma.
Ucapan itu sontak membuat Ara kesal, jadi mereka akhirnya berselisih. Melihat sahabatnya sedang asik adu mulut. Kanaya memilih pergi dari pada melerainya.
"Aku rasa mereka memang cocok deh, apalagi kalau sedang berantem begitu." Hamdan tiba-tiba muncul entah dari mana.
"Hamdan!" seru Kanaya melihat Hamdan sudah berdiri tepat di sampingnya.
"Kenapa kamu kaget? Kayak melihatku seperti hantu saja." Hamdan terkekeh melihat ekspresi Kanaya yang lucu.
"Bukan gitu, gak nyangka saja kalau kamu akan ke sini," kata Kanaya malu-malu. Dengan wajah berseri-seri yang ada, pantas saja wanita itu merasa malu.
Hamdan menghentikan langkah kaki Kanaya, lalu memandang sorot mata wanita itu dengan tajam.
"Seperti yang aku katakan, aku akan bersaing dengan Bisma dengan cara sehat untuk mendapatkan cintamu utuh. Bukan lagi dengan bayang-bayang masa lalu. Aku serius, tulus dan akan selalu memperjuangkanmu sampai titik penghabisan," kata Hamdan. Entah dari mana pria itu mendapatkan ucapan seperti itu. Biasanya dia pemalu, tapi sejak mengutarakan isi hatinya. Hamdan lebih berani lagi sekarang.
"Duh ... aku jadi terharu," kata Kanaya menganggap ucapan Hamdan hanya sebatas guyonan.
"Mulai hari ini, aku dan Bisma mulai bersaing. Jadi, aku harap kamu bisa menyeleksi dengan baik antara aku dan dia. Siapa pria yang lebih pantas untuk kamu cintai, dan aku yakin ... pria itu cuma aku." Hamdan berbicara dengan penuh percaya diri yang tinggi.
"Jangan terlalu berharap kamu, Hamdan. Sudah pasti aku yang dipilih sama dia. Kamu hanya orang baru di dalam hidup Kanaya." Bisma ternyata meninggalkan perselisihan dengan Ara ketika melihat saingannya datang.
"Gak usah banyak bicara deh, lebih baik sekarang Kanaya saja yang menentukan. Tinggal kita buktikan saja, siapa diantara kita yang pantas. Jadi, apakah kamu mau aku antar, Kanaya? Atau kamu lebih memilih diantar oleh Bisma?" tanya Hamdan menatap lekat wajah Kanaya.
Menurut kalian, siapa yang dipilih Kanaya?Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (336)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
sangat bagus karena cerita ini hampir mirip dengan adegan saya saat mau menikah 🤭🤭
11/05/2022
0bagus
05/05
0perfect🥰
04/05
0Lihat Semua