Yang Sean tahu, Velin itu miliknya. Yang ia yakini sepanjang hidup tanpa peduli jika banyak orang di luar sana mencoba mematahkan dalil yang terlontar dari mulutnya. Selagi hatinya bahagia, kenapa harus memedulikan pendapat insan yang tidak ada sangkut-paut dalam takdirnya. Terlalu memusingkan dan bisa-bisa membuatnya menghakimi mereka dengan cara menghilangkan nyawa. Sean sangat membenci jika miliknya disentuh apalagi berniat merebut darinya. "Abang mau ke mana? Periksa jiwa, ya?" Seira melemparkan pertanyaan membuat Sean menghentikan langkahnya tepat di samping sofa yang di duduki sang adik. "Tahu aja lo, ya." Senyum Sean mengembang sempurna layaknya orang bodoh. Seira memutar bola matanya. "Abang benaran gila ternyata. Mana ada orang yang ketemu psikiater bahagia?" "Ada. Gue pastinya." Senyum masih dipertahankan oleh Sean dari wajahnya. Ia terlalu bahagia hari ini. Alasannya sederhana, karena semalaman dia dan Velin menghabiskan waktu berbicara via telepon. Kekasihnya itu berjanji akan menemaninya bertemu Natasya. Saking bahagianya, Sean melupakan kenyataan jika Velin bekerja di tempat praktik Natasya. "Sana pergi, deh. Sekalian periksa otak juga. Siapa tahu aja otak Abang bergeser karena terlalu bahagia." "Perlukah? Apa Natasya bisa melakukannya?" Oke, Sean bukan hanya perlu psikiater, tetapi perlu mekanik untuk membongkar isi kepala dan ditata ulang. Seira menggelengkan kepala karena pemikiran konyolnya. "Dadah Seira. Sampai jumpa nanti malam." Sean menunduk lalu mengecup pipi Seira singkat. Kemudian berlari secepat kilat untuk menghindari amukan si bungsu yang kadang bisa emosi layaknya harimau betina. "Yak, gue doain, Kak Velin lagi jalan sama orang lain." Teriakan Seira hanya ditanggapi Sean dengan lidah menjulur keluar. "Ada apa, Sei?" Hardan yang baru dari dapur menatap Seira dengan bingung. Ia sedang memasak,, tetapi karena suara Seira yang melengking membuat lelaki yang tidak lagi muda itu menyempatkan diri keluar dari tempat paling ia sukai setelah kamar. Spatula masih di tangannya bersamaan dengan celemek warna pink. Seira mengulum senyum sebelum menjawab pertanyaan papanya. "Abang tuh, bikin kesal aja pagi-pagi." Hardan memutar tubuhnya, menurutnya itu tidak penting. Bukankah itu selalu terjadi setiap hari? "Papa," teriak Seira menyusul Hardan ke dapur. "Teriak sekali lagi, jatah sarapan makan siang dan makan malam kamu bakal papa kurangi." "Papa itu papanya Sei atau kepala asrama, sih? Galak amat." Seira mengerucut bibirnya kesal. Hardan tersenyum simpul, lalu melanjutkan kegiatannya memasak seperti biasa. Aktivitas yang ia lakukan sejak istrinya meninggal beberapa tahun lalu. Demi kebahagiaan kedua anaknya, Hardan rela memosisikan dirinya sebagai seorang ibu di rumah. **** Sean berjalan penuh semangat sembari bersiul, menaiki satu per satu anak tangga yang membawanya menuju flat Velin. Pagi ini terasa sangat berbeda, berhubung Velin menyetujui permintaan tanpa paksaan sama sekali. Biasanya, Sean harus mengeluarkan urat leher sekaligus aura horor yang mengerikan baru kekasihnya itu mengiyakan yang ia mau. Mengingat percakapan mereka tadi malam membuat Sean tersenyum. Kebahagiaannya sangat sempurna, layaknya mendapatkan harta warisan dari papanya. "Aku akan mengakuimu sebagai kekasihku, jika kamu bersedia terapi hingga sembuh." Kalimat itu yang membuat Sean tadi malam tidak bisa tidur nyenyak. Ia berharap pagi segera datang sehingga bisa mengunjungi Natasya untuk terapi pertama kalinya setelah tahap konsultasi. "Gue bakalan nurutin apa mau lo, tapi dengan syarat lo harus nemanin gue tiap terapi." "Pasti. Aku bakalan nemanin kamu terapi sampai sembuh." Masih jelas di pendengaran Sean hingga kini kalimat manis yang Velin ucapkan di telepon itu. Bahkan malam telah berlalu, tetapi kalimat itu masih jelas menghantui Sean. "Gue benar-benar gila." Sean menepuk kepalanya dua kali untuk menyadarkan diri dari kisah tadi malam. Pagi ini, ia harus membuat cerita yang lain dan harus lebih indah. Sean mengetuk pintu flat milik Velin setelah sampai. Sekali, dua kali hingga tiga kali tidak ada sahutan dari sang empunya rumah. Sean mengernyitkan keningnya, bertanya-tanya tentang keberadaan kekasihnya itu. "Apa dia masih tidur? Ini sudah jam sembilan pagi," kata Sean sembari menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sean kembali mengetuk dan lagi tanpa sahutan. Karena tidak sabar, Sean merogoh saku celananya untuk mendapatkan kunci cadangan flat Velin. Dan saat pintu terbuka, hanya keheningan yang menyambut Sean. Flat itu gelap tanpa cahaya, berhubung jendela belum terbuka dan lampu belum dinyalakan. Rasa khawatir bercampur curiga menghampiri pikiran Sean. Segera menuju kamar berharap Velin di sana, tetapi nihil. Kamar kosong tanpa penghuni. "ke mana dia?" Sean frustrasi, berlari menuju kamar mandi, dan lagi-lagi kosong melompong. "Astaga, ke mana Velin?" Sean keluar dari Flat seraya mengambil ponsel untuk menghubungi Velin. Tersambung, tetapi tidak dijawab. "Yak! Lo bakalan gue hukum, Vel." Sean segera menuju mobilnya, lalu mengendarai menuju tempat Natasya. Sean sedikit ngebut, pikirannya berkecamuk sesaat. "Ayolah Sean, positive thinking. Mungkin saja Velin udah berangkat duluan." Sean menghela napas pelan lalu tersenyum. Senyum akan mengobati keraguan hatinya, dengan begitu semua akan baik-baik saja. Velin pernah mengatakan itu padanya, tetapi Sean lupa kapan. Sean hanya butuh 15 menit untuk sampai di tempat praktik Natasya. Sean tidak mengulur waktu sama sekali, sehingga setelah keluar dari mobil langsung masuk ke dalam menemui Natasya. Meskipun dia berusaha berpikir positif, tetapi hatinya tetap saja khawatir. Satu-satunya kekhawatirannya adalah Velin yang dibawa pergi oleh Arga. "Nat, Velin sudah datang?" Sean melontarkan pertanyaan tanpa basa basi kepada Natasya yang sedang sibuk mengamati berkas di depannya. Natasya mendongak, kening mengerut seketika. "Belum. Kenapa? Ah, bukannya dia datang bareng lo? Tadi malam izin kayak gitu ke gue." Sean menghela napas. Rahangnya mengeras bersamaan dengan jari-jarinya yang mengepal erat. "Dia tidak ada di rumah. Gue pikir dia duluan ke sini." Sean mengacak rambutnya frustrasi. "Mungkin dia—" "Gue pamit," potong Sean begitu saja. "Terapinya?" Natasya berteriak agar Sean bisa mendengar, berhubung lelaki itu berjalan lebih cepat menuju pintu keluar. "Gue gak terapi kalau Velin gak ada." Sean meninggalkan tempat Natasya dengan pikiran berkecamuk. Dia baru saja merasakan kebahagiaan yang utuh, tetapi tiba-tiba badai datang begitu saja. "Lo di mana, Vel." Sean menyetir mobilnya membelah jalan raya sembari terus melirik kanan dan kiri, berharap bisa menemukan sosok Velin. Getaran ponsel di kantong celana membuat Sean menepikan mobilnya, mengambil benda canggih itu, sebuah pesan WhatsApp dari nomor asing. Sean mengerutkan keningnya karena pesan itu berupa sebuah foto. "Gue penasaran, sungguh." Sean segera membuka chat itu, dan detik berikutnya Sean meninju dengan cukup kuat dashboard mobilnya. Bagaimana Sean tidak emosi, Chat berisi foto Arga dan Velin yang saling merangkul dengan keterangan, liburan di vila Bandung. Hati Sean hancur seketika. Rasa perih menjalar menyesakkan setiap deru napas hingga ia tak sanggup berpikir waras. Ucapan Velin tadi malam layaknya pisau tumpul yang menggerogoti dagingnya secara perlahan. Jika ia tahu akan berakhir seperti ini, untuk apa ia meluluhkan hatinya? Lebih baik membuat Velin cacat sehingga tak seorang pun mendekat. Tidak ada waktu untuk bersantai apalagi memercayai orang lain untuk mengurus urusannya. Lebih baik bergerak sendiri dan mengakhiri rasa yang memerih di ujung hatinya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (31)
chanelAep
alur cerita ok, kita kayak di bawa pada usia muda ,shiip👍
alur cerita ok, kita kayak di bawa pada usia muda ,shiip👍
23/05/2022
2boleh lah
26/10
0baguss ceritanya
11/06/2025
0Lihat Semua