Mata memejam, kepala bersandar di dinding, memeluk kedua lutut, tanpa peduli akan dinginnya lantai yang menusuk kulitnya. Velin tetap pada posisi duduk di lantai tanpa alas. Ia menangis dalam diam. Saat berbicara dengan Natasya beberapa waktu yang lalu, Velin berusaha menahan air matanya agar tak jatuh meskipun setetes. Ia tidak ingin Natasya menyaksikan air matanya. Lebih baik terlihat kuat dan tegar, walau hati rapuh sekalipun. Namun, kini cairan kristal itu mengalir tanpa bisa ia bendung lagi. Alasannya, karena saat ini ia tengah kembali masuk ke dalam bait-bait kenangan masa lalu. “Ya Tuhan,” monolog Velin. Velin semakin terisak. Penderitaan yang ia alami saat masa SMA adalah neraka yang ia ciptakan sendiri. **** Velin menatap wajahnya di cermin kecil yang selalu dibawa ke mana pun dan selalu berada dalam tas.. Menyaksikan kesempurnaan setelah mengoles pelembab di wajah putih mulusnya, dan liptink di bibir ranum. Di atas meja terdapat kotak kecil bersampul merah muda, juga setangkai bunga mawar merah. Hari ini, Velin memutuskan mengutarakan perasaannya kepada Arga, cowok yang terkenal tampan dan menjadi idola para murid cewek bahkan setengah cewek. Perasaan suka kepada Arga sudah terlalu lama dipendam oleh Velin, setahun. Dan itu terlalu menyiksa batin. Mengungkapkan adalah yang terbiak menurut Velin saat ini, meskipun ia tidak yakin hasilnya. Diterima atau ditolak! Walau hati kecil Velin yakin Arga akan menolaknya. Bagaimana mungkin Arga yang notabenenya seorang casanova mau menerima cewek yang sama sekali tidak populer seperti dirinya? Namun, tekad Velin sudah terlalu bulat dan tak bisa dicegah lagi. “Sempurna.” Velin menyimpan cermin ke dalam tas. Mengambil kotak kecil serta bunga mawar, lantas keluar kelas mencari Arga. Saat dalam perjalanan, tepatnya koridor, Velin bertemu dengan Natasya, seseorang yang tidak jauh beda darinya, tidak terkenal dan terlalu asing. “Vel,” panggil Natasya. “Ya?” Natasya menghentikan langkahnya. “Seseorang menitipkan ini untuk kamu.” Natasya menyodorkan cokelat kepada Velin. Velin mengernyitkan keningnya. “Siapa?” tanya Velin seraya mengambil cokelat itu. “Murid baru.” “Bisa diperjelas?” Natasya menghela napas. Velin terlalu mengabaikan sekitarnya, padahal cowok yang dimaksud Natasya teman sekelas mereka. “Sean.” Pada akhirnya Natasya memberitahu juga. Velin mengangguk. “Makasih bilang ke Sean, ya.” Sembari berlalu begitu saja. Natasya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia belum selesai bicara, tetapi Velin main pergi begitu saja. “Mungkin lain kali,” monolog Natasya. Tidak ada pilihan selain meninggalkan koridor sekolah. Velin sendiri sudah berada di lapangan basket.. Di depannya berdiri seorang cowok yang tinggi menjulang, Arga. Cowok itu masih memakai pakaian olahraga, bahkan keringatnya masih menetes dari dahi menuju wajah, serta napas masih tersengal-sengal dan berusaha diatur. “Ada apa?” Suara maskulin Arga terdengar mengalun indah di rungu Velin. Velin mendongak. Seketika wajah tampan Arga terpampang nyata, dan mata elang si idola menghanyutkan dalam hitungan sesaat. “Kalau gak ada yang penting, gue cabut!” Terucap dengan nada datar. Menyebalkan! Jari-jari Velin mengerat pada kotak kecil, cokelat dan juga pada bunga mawar. Melirik kanan dan kiri, lalu mendengkus. Lapangan basket terlalu ramai dan risiko dipermalukan akan sangat besar. Namun, tekad Velin untuk mengutarakan perasaannya pada Arga tak bisa ia tunda lagi. Akan sangat menyesakkan dada jika terus dipendam sepanjang masa. “A–aku suka sama kamu.” Velin tergagap. Keringat dingin mulai mengalir, dan wajahnya memerah layaknya tomat, karena terlalu malu. Tatapan mata Arga begitu menusuk layaknya belati. Seandainya bisa membunuh, mungkin Velin akan jatuh tak bernyawa dalam sekejap. Lalu, cowok itu tertawa terbahak-bahak. Velin telah menciptakan gosip baru yang luar biasa untuk hari ini. Lihat saja bagaimana teman-teman sekolahnya merekam momen dirinya menembak Arga dengan ponsel mereka. Velin tahu, dunianya akan kembali terusik dan akan lebih mengerikan dari sebelumnya. “Lo sadar sama omongan lo barusan? Lo suka sama gue?” Tawa Arga kembali terdengar. Lantas, merebut secara paksa kotak kecil beserta bunga dan cokelat yang ada di tangan Velin. Memijak tanpa iba, tanpa peduli dengan mimik terluka sang cewek malang. Velin menahan tangisnya. Dia harus kuat. “Lo harus sadar. Cewek kayak lo gak layak untuk menjadi cewek gue. Lo harus bangun dari mimpi. Ngehalu boleh, tapi ingat, jatuh itu sakit loh.” Masih tak ada sahutan dari Velin. Matanya mulai memanas, tetapi sebisa mungkin menahan tangis. “Sampah!” ucap Arga. Sudut bibirnya naik, menampilkan segaris senyum sinis. Dan kini Velin tak dapat membendung air matanya. Sampah? Ah, sehina itukah dirinya hanya karena mengungkapkan perasaan pada Arga? Velin menyesal dengan keputusannya. Keputusan yang salah dan mengerikan. “Minggir lo!” Arga mendorong Velin hingga membuat cewek itu terduduk di lantai. Setelah kepergian Arga, mendadak sunyi, tanpa suara. Bahkan satu persatu penghuni lapangan basket ikut pergi menyusul Arga. Velin menunduk, menangis dalam diam, menatap kotak kecil yang isinya sebuah gelang ukir. Velin yakin, gelang itu sudah tak berbentuk lagi. Bunga mawar yang tadinya begitu cantik malah terlihat tragis karena kelopaknya berguguran, lalu cokelat yang berserakan. Seharusnya,, Velin memendam saja perasaannya tanpa perlu mengutarakan. Untuk apa mengutarakan jika akhirnya seperti ini. Namun, siapa yang patut dipersalahkan? Toh, ini keputusan Velin? Masih dalam suasana sedih, tiba-tiba uluran tangan mengarah tepat di depan wajah Velin. Refleks Velin mendongak. Wajah asing tersenyum padanya, tetapi entah kenapa senyum itu sangat mengerikan. “Gue bantu.” Nada suara terdengar dingin, lebih dingin dari nada suara Arga. Velin ragu, tapi tetap saja meraih tangan itu. “Ditolak?” tanya cowok itu sembari membatu Velin berdiri. Bahkan tanpa canggung menghapus air mata yang mengalir di pipi putih mulus itu. Velin mengangguk. “Rasanya sakit?” Lagi, Velin mengangguk. Seketika senyum sinis tercetak di bibir cowok itu. Velin merinding saat mengetahuinya. “Gue Sean, siswa baru.” Velin melotot. Ia ingat nama itu! Cokelat yang Natasya berikan kepadanya dari cowok bernama Sean. “Gue punya sesuatu buat lo.” Menarik tangan Velin, menuju gudang sekolah. Lantas sang bidadari hati di sana. Takdir baru yang mengerikan! “Selamat datang di neraka!” teriak Sean dari luar. “Buak pintunya!” Teriakan bercampur air mata menemani Velin. Sean menulikan pendengarannya. Dan iblis telah terbentuk dalam hitungan detik! **** Velin menghapus air matanya. Dia mengingat semuanya, mengingat bagaimana awalnya ia menjadi target kekejaman seorang Sean. Cokelat adalah saksi segalanya! Bagaimana Sean memperlakukannya dengan kasar bahkan hampir melenyapkan nyawanya. Selama beberapa tahun. Ya, masa SMA menjadi masa penindasan bagi Velin. “Sayang, lo udah bangun?” Velin terkejut saat suara berat khas orang bangun tidur terdengar di telinganya. Ia mendongak, Sean berada di depannya dengan mimik campur aduk. Khawatir dan tentu aura horornya tak lepas begitu saja. Velin refleks berdiri berjalan menuju ranjang. Sean mengernyitkan kening bingung. Dia bertanya dengan lembut, lalu kenapa kekasihnya itu seolah ketakutan? “Sayang, ada apa?” Velin menggeleng, naik ke atas ranjang lalu pura-pura tidur. Sean tersenyum. Mengacak rambut Velin gemas. “Tidurlah.” Lantas sebuah kecupan manis dari bibir plum Sean. Mendarat Di kening Velin. Velin menahan diri untuk tidak memaki Sean. Untuk saat ini, ia ingin berdamai dengan keadaan.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (31)
chanelAep
alur cerita ok, kita kayak di bawa pada usia muda ,shiip👍
alur cerita ok, kita kayak di bawa pada usia muda ,shiip👍
23/05/2022
2boleh lah
26/10
0baguss ceritanya
11/06/2025
0Lihat Semua