logo text

Bab 20 Obsesi Love?

"Kenangan itu secuil rindu yang tak ingin di tuju. Akan terkubur dalam lautan nestapa, menjadikannya buih yang hilang tanpa jejak." —Seira Virza Nasution
——
"Pelecehan seksual," cicit Seira pelan.
Sontak, Natasya dan Hafiz terdiam. Tidak ada pembicaraan dalam beberapa menit. Seira mengunci mulutnya rapat, meskipun netranya mulai berembun. Ada bulir-bulir kristal bening mendesak ingin keluar dari sana.
Hafiz yang mengetahui perubahan mimik Seira, menggenggam erat tangan itu. Masih belum berani untuk mengeluarkan sepatah kata. Di otaknya, beberapa pertanyaan seperti menari-nari mendesak ingin segera dilontarkan.
Mengingat situasi, Hafiz mengendalikan mulutnya untuk sementara.
Lain halnya dengan Natasya. Dokter cantik itu menggigit ujung pulpennya. Ia masih mencari waktu yang tepat untuk kembali bertanya. Sumpah, ia sangat penasaran tentang apa yang dikatakan oleh Seira barusan.
"Saat kami pulang dari makam Mama, tiga orang preman menghadang kami." Seira mulai bercerita meskipun tidak diminta sama sekali.
Mengingat masa lalu yang buruk dan terjadi bertahun-tahun itu menjadi benalu, menghempaskan raga hingga mati secara perlahan.
Seira tidak ingin mengingat, tapi keadaan memaksanya untuk kembali terjun pada masa lalu mengerikan itu.
Natasya kembali beraksi dengan pulpennya.
"Apa yang terjadi? Lo—"
"Mereka menginginkan tubuh Bang Sean," potong Seira. Dan, sejurus air matanya mengalir tanpa bisa ia bendung.
Aib yang ia dan Sean tutupi secara rapat, akhirnya diketahui oleh orang lain.
"Maksud lo?" Hafiz bertanya tidak paham. Atau mungkin saja lelaki itu pura-pura tidak memahami arah kalimat itu.
Seira melirik Hafiz. "Bang Sean," menjeda kalimatnya sesaat, "diperkosa." Seira menggigit bibirnya.
Kenapa terlalu menyesakkan?
Pulpen dari tangan Natasya jatuh ke atas meja. Mulutnya menganga bersamaan dengan bola mata yang terbuka lebar.
Natasya pikir, Sean dilecehkan oleh perempuan-perempuan jalang yang biasanya menyukai wajah-wajah muda menggairahkan. Nyatanya, pemikirannya sangat salah. Preman? Dan itu pasti golongan laki-laki bertubuh kekar.
"Jangan bilang kalau Sean di ...." Hafiz menggantungkan ucapannya. Ia tidak sanggup melanjutkan itu semua.
Seira mengangguk. "Satu orang berhasil melakukan hal gila itu dengan Bang Sean."
Hafiz membawa Seira dalam pelukannya.
"Dan ... itu semua demi gue. Semua karena gue. Salah gue! Demi melindungi gue, Bang Sean rela ...."
Seira tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Ia menangis dalam pelukan Hafiz.
Hafiz mengelus rambut indah nan panjang bergelombang itu. Ia tidak tahu jika sahabatnya mengalami hal seburuk itu dulu. Ia kira, Sean hidup dalam kesempurnaan, sehingga bertingkah terlalu mengerikan.
Ternyata, setiap tindakan yang terjadi ada alasan mendasar yang tidak diketahui oleh orang banyak.
"Lalu?" Natasya masih mencari informasi. Tidak peduli dengan Hafiz yang menyuruhnya diam. Sebagai psikiater, ia ingin tahu dasar penyebab semua yang terjadi.
Seira menghapus air matanya. Ia terlalu cengeng jika membahas masa lalu.
"Seseorang menolong kami. Siswi berseragam SMA. Dan, tiga hari setelah kejadian itu, bang Sean memutuskan pindah sekolah."
"Dia memperkenalkan nama?"
Seira mengangguk.
"Lo ingat siapa namanya?"
Seira memejam matanya. Berusaha kembali ke masa lalu. Cukup lama, tapi membawa hasil yang memuaskan.
"Velin!"
Hafiz mengusap wajahnya kasar. Semua terjawab sudah kenapa Sean bisa begitu terobsesi dengan Velin.
"Trauma yang mengakibatkan pada gangguan kejiwaan." Hafiz berucap serius.
Natasya diam. Ia kembali membaca catatan yang ia dapatkan dari cerita Hafiz dan Seira.
"Gila?" tanya Seira bingung. Ia tidak terlalu memahami soal kejiwaan.
Hafiz menggeleng. Senyumnya mengembang sempurna. Jika Seira bertingkah imut seperti itu, ia bisa-bisa menyeret Seira ke kamar dan mencumbui bibir ranum itu.
Pikiran mesum Hafiz mulai beraksi. Terima kasih pada hati yang masih memiliki naluri. Membimbing untuk tidak berbuat jauh.
"Lalu?"
"Kita tanya si plastik aja. Dia lagi berpikir serius."
Seira mengangguk.
"Nat, apa yang lo dapat? Apa ini semacam OCD?"
Natasya menghela napas kasar. "Bukan! Obsessive Compulsive Disorder atau OCD lebih berkaitan erat dengan gangguan fungsi otak yang menyebabkan perilaku berulang, serta perilaku kompulsif."
"Maksudnya?" Kening Hafiz mengerut.
"OCD itu gangguan kecemasan." Natasya mempersingkat kalimat agar Hafiz dan Seira lebih mengerti.
"Lalu? Apa OCPD?" Hafiz kembali melempar pertanyaan. Ia tidak begitu tahu tentang gangguan kejiwaan, tapi setidaknya ia pernah kuliah di sana dan walau hanya sebulan, karena otaknya tak sanggup menerima. Ia lebih memilih menjadi seorang fotografer.
Natasya melirik Seira yang hanya diam tanpa memberi respons lebih.
"Obsessive Compulsive Personality Disorder atau OCPD itu gangguan kepribadian yang sangat perfeksionis. Istilah lain, terlalu terobsesi dengan kesempurnaan. Orang yang mengidap gangguan kejiwaan ini biasanya produktivitasnya terhambat.
"Gue rasa Sean itu mengidap OCPD." Hafiz menebak.
"Bisa saja, sih. Namun, dari cerita kalian, Sean bisa dikategorikan ke dalam OLD."
Hafiz menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia belum sempat sampai ke sana saat kuliah dulu. Sebulan waktu yang sangat singkat!
"Obsessive Love Disorder?" Seira tiba-tiba mengeluarkan suaranya. Ia sedikit tertarik dengan pembahasan yang berlanjut, tentang cinta yang berlebihan dan lebih pantas disebut obsesi.
Natasya mengangguk.
"Plastik, lo gak ngarang, 'kan?"
Natasya melotot. Hafiz benar-benar merusak suasana.
"Gue kuliah sebelum jadi psikiater. Jangan sampai gue remuk jadi serpihan rengginang lo."
Hafiz mengangguk berulang. Diam dan menjadi pendengar setia.
"Obsesi pada satu orang yang menurutnya sangat ia cintai, sangat berlebihan dan juga posesif. Jelas membenci penolakan. Ya ... itulah OLD."
"Berbahaya?" Hafiz seperti orang bodoh saat bertanya. Mimik wajahnya sungguh membuat Natasya ingin mengabadikan itu.
"Berbahaya. Karena OLD selalu melibatkan kekerasan fisik, dan emosional."
Seira menghela napas kasar. "Apa itu terjadi karena trauma?"
"Pemicunya karena kurang percaya diri. Intinya, trauma ikut andil dalam hal ini."
"Jadi, Sean mengidap OLD?" tanya Hafiz memastikan.
Natasya menjilat bibirnya. "Terobsesi, kasar, ketus, posesif, kepedulian muncul saat Velin terluka meskipun tetap menggunakan cara kasar, menjelaskan secara jelas jika Sean mengidap OLD."
Seira meremas paha Hafiz kuat. Otak dan hatinya berpikir keras.
"Sean menjadikan Velin pusat dunianya. Titik poros yang tak ingin ia lepas. Tindakan Velin dulu yang menolong kalian menjadikan kekuatan untuk Sean. Menjadikan pegangan! Obsesinya itu Velin."
"Mengerikan," cicit Hafiz.
"OLD menyangkut pada gangguan kejiwaan lainnya. Erotomania, moodswing, kecemburuan delusional, dan borderline."
"Penyembuhannya? Apa yang harus dilakukan?" Rasa khawatir Seira semakin menjadi. Menggigit bibir bawahnya agar air matanya tak lagi merembes ke pipi.
"Peran keluarga itu sangat penting. Jauhkan dia dari hal yang menjadi obsesinya, agar rasa percaya dirinya tumbuh."
"Velin." Hafiz menghela napas kasar. Entah ke berapa kalinya ia melakukan tindakan seperti itu. "Bukannya Velin itu poros dunianya?"
Natasya mengangguk. "Cara itu ampuh. Ibarat kecanduan, yang bikin dia candu itu harus dijauhi darinya. Lo mau Sean melenyapkan nyawa hanya karena obsesinya yang berlebihan?"
"Cara lain?" tanya Hafiz. Ia masih belum bisa menerima sepenuhnya solusi yang diberikan Natasya.
"Rukiah," jawab Seira asal.
Natasya mengulum senyum. Perempuan yang sangat muda di depannya itu sangat mengemaskan walau ia tahu memiliki sisi buruk yang tersembunyi.
"Itu orang tua zaman dulu. Anaknya mental Illness bukan dibawa ke psikiater atau psikolog, malah dibawa rukiah. Ya ... gak sembuh." Senyum Natasya mengembang. Ia tahu, situasi sedikit rumit, sebab itu ia menyelipkan humor kecil.
"Jangan bertele-tele, Plastik!" gerutu Hafiz.
Natasya menaikkan sudut bibirnya kesal. Hafiz itu benar-benar minta ditabok.
Natasya menghela napas sebelum melanjutkan ucapannya. "Pengobatannya melibatkan kombinasi obat dan psikoterapi. Namun, soal sembuhnya ... sulit untuk memastikan berapa lama waktu yang dibutuhkan."
Seira dan Hafiz saling melirik.
"Kita bahas saat Velin sadar. Termasuk jenis obat dan opsi terapinya. Ini terlalu malam untuk konsultasi." Natasya menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kebesarannya.
Hafiz menyetujui, begitu juga dengan Seira.
"Sei," panggil Natasya.
"Ya?"
"Kalau lelah, tidurlah. Gunakan kamar gue yang ada di lantai atas sebelah kiri."
Seira mengangguk.
"Fiz, antar Seira ke kamar," suruh Natasya.
"Ayo." Hafiz menarik pelan tangan Seira. Lalu menjauh dari ruang tamu itu.
Natasya mengusap wajahnya. Merenggangkan ototnya. Sekilas bayangan masa SMA terlintas samar di ingatannya.
"Aish ... kenapa masa lalu menjadi mengerikan untuk sekarang ini?"

Komentar Buku (31)

  • avatar
    chanelAep

    alur cerita ok, kita kayak di bawa pada usia muda ,shiip👍

    23/05/2022

      2
  • avatar
    Syahriell Pandevie

    boleh lah

    26/10

      0
  • avatar
    AlyfiaNhazwa

    baguss ceritanya

    11/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru