logo text

Bab 11 Semu dan Pertikaian

"Rasaku mendalam, meskipun kamu lerai dengan berbagai cara." –Sean Varza Nasution
***
Velin mengerjap berkali-kali dari tidur nyenyaknya, lantaran bias cahaya mentari yang menyembul dari balik tirai jendela warna biru muda menusuk tepat pada netranya.
"Aish ...." Ia mengacak rambut kasar. Setahu dirinya, gorden itu telah tertutup hingga tak mampu memberi celah pada bias mentari yang menggilai pagi.
Lalu?
"Hai, Sayang. Sudah siang, bangun dong."
Belum sepenuhnya mata terbuka, suara bariton menyapa tepat pada rungu.
Mata menajam sepenuhnya, mengarah pada lelaki yang masih berdiri di dekat jendela. Tangannya begitu lihai merapikan gorden menjadi lebih rapi dan satu padu.
Ternyata!
Velin spontan terduduk di ranjang. Meremas selimut kuat hingga membuat buku-buku jari memutih. Bagaimana bisa manusia yang memiliki kelainan jiwa itu bisa berada di kamarnya?
"Bangun, Honey! Lo sudah melewatkan sarapan pagi, loh." Berjalan mendekat ke arah ranjang. Duduk menepi tepat di depan Velin.
Tidak ada sahutan dari Velin. Perempuan penikmat cokelat itu terlihat seperti orang bodoh yang larut pada beberapa ekspresi.
Marah, tetapi tak sanggup untuk bertindak! Diam, tapi terasa memberontak!
Sean adalah penyakit yang perlu dibasmi!
"Bagaimana kamu bisa masuk ke kamarku?"
Senyum manis terpancar di bibir Sean. "Mili yang membuka pintunya. Emm ... sedikit ancaman, sih."
Velin mencoba mengendalikan emosinya.
"Dan sedikit informasi, Mili sudah berangkat ke Jogjakarta, tepatnya jam enam pagi tadi. Dan dia sengaja enggak membangunkan lo, karena gue melarang. Lalu meninggalkan sesuatu buat lo." Sean menunjuk nakas di mana sebuah kotak warna merah tergeletak indah.
Air mata Velin mengalir. Kenapa Tuhan seolah tidak membiarkan dia bernapas tenang? Terlalu lelah berhadapan dengan derita yang ujung-ujungnya menambah kebencian.
Jika takdir tak sudi menciptakan kebahagiaan, setidaknya biarkan ia menjadi asing dan tak terlihat. Bukan menjadi bagian dari drama mematikan seorang manusia yang bermain-main pada hati.
"Saat bangun, sepasang kekasih harus saling memberi morning kiss, bukan menangis." Tangan terulur menghapus air mata yang masih mengalir.
Velin menangis dalam diam.
Ada yang sakit, tapi tak berdarah!
Ada yang perih, tapi tidak terluka!
Seperti jutaan sembilu, menyerang dari jarak jauh.
"Lo jelek saat nangis," tukas Sean sembari mendaratkan kecupan singkat di bibir Velin.
Dan detik berikutnya, tubuhnya terjungkal ke lantai.
Velin menendang sekuat tenaga!
"Apa yang kamu lakukan!" Velin mengusap bibirnya berulang kali, dan cukup kasar, seolah bekas bibir Sean meninggalkan virus yang mematikan jika dibiarkan bertahan lama.
Air matanya semakin deras.
"Dasar maniak!" Gelar baru untuk Sean yang disematkan oleh Velin.
Sean berdiri dari posisi terjungkalnya. Rahangnya mengeras sempurna, bersamaan dengan iris netra yang memerah karena amarah yang tertahan! Ia kembali mendekat pada Velin, tapi Velin lebih dulu berlari keluar kamar.
Langkah Sean melebar, mengejar sang pujaan hati yang memberontak.
"Jangan mendekat!" peringat Velin. Sebuah pisau dapur mengarah pada Sean yang jaraknya sekitar semeter.
Sean mematung. Menatap pisau dapur itu tajam. Alis sebelahnya naik, lalu menyeringai.
"Lo yakin bisa melukai gue?" Sean melangkah maju secara pelan.
Velin masih bertahan. Ucapan Sean ada benarnya. Apa ia bisa melukai Sean?
"Aku akan melukai diriku sendiri!" pekik Velin, memutar arah pisau menuju ke nadi tangannya. "Bagaimana menurutmu?" Menantang sebisa mungkin meskipun masih terisak.
Ia harus bertahan, mencoba kuat saat ketakutan memulai mendominasinya.
Sean melemas. Tulangnya seolah meleleh seperti jeli.
"Please, jangan!" mohonnya seperti orang bodoh. Tangan mengarah ke depan, memberi isyarat agar Velin tidak gegabah.
"Jangan mendekat!" Velin sudah siap menekan pisau di nadinya. Itu bukan ancaman melainkan peringatan yang harus didengar oleh Sean.
"Oke. Tapi, gue mohon jangan lukai diri lo."
"Aku mohon, menjauhlah, jika tidak aku akan mengakhirinya seperti ini."
Sean mencoba bergerak, dan Velin menekan pisau, hingga terdengar meringis karena ulahnya sendiri.
"Stop, sialan!" Sean mundur.
Dan sejurus mendekat pada televisi, meraih lalu membanting ke lantai.
Velin yang terkejut, terduduk di lantai, pisau terlepas dari tangannya. Ia meringkuk di sudut lemari pendingin saat Sean mendekat.
"Tidak satu pun yang boleh melukai lo, kecuali gue." Menarik rambut Velin hingga membuat perempuan itu menengadah padanya. "Tidak ada yang boleh menyakiti lo, selain gue!"
Seringai mendominasi Sean, dan isak tangis seolah menjadi alunan sedih yang menggelitik hati, lalu membuat siapa pun terenyuh hingga mati.
***
Langkah mungil Velin berhenti tepat di depan toko bunga tempatnya bekerja. Terlalu siang sebenarnya, namun tidak ada pilihan lain selain datang bekerja, walau sudah terlambat. Ia memiliki tanggung jawab, meskipun nantinya akan mendapatkan omelan panjang lebar dari atasannya.
Ia menghela napas sebentar sebelum tangannya mendorong pintu kaca itu.
Hal utama yang menyambutnya adalah Gafa yang sedang menghitung rangkai bunga.
Senyum manis terpatri di bibir Gafa, dan Velin membalas dengan senyum kikuk.
"Kenapa datang terlalu siang? Kamu sakit? Kalau sakit, sebaiknya tidak usah bekerja." Gafa menghentikan aktivitasnya dan lebih fokus pada Velin.
Velin mendekat. "Aku–"
"Vel, Mbak Miska menyuruhmu ke ruangannya." Ela yang entah datang dari mana memotong ucapan Velin.
Velin mengangguk.
"Maaf, Mas. Aku harus menemui Mbak Miska." Kemudian meninggalkan Gafa dan Ela.
Ketika sampai di depan ruangan Miska, Velin mengetuk pelan pintu bercat cokelat itu, dan kemudian mendorong.
Di dalam sana, Miska duduk di kursi kebesaran sembari memainkan ujung rambutnya yang ikal.
"Mbak memanggil saya?" tanya Velin takut-takut.
Miska mengarahkan atensi sepenuhnya kepada Velin.
"Kamu hebat, ya!"
Velin mengernyitkan keningnya. Ucapan ambigu Miska sungguh tak mudah ia mengerti untuk saat ini.
"Kemarin, kamu membuat pelanggan kecewa! Tidak mengantarkan bunga pesanan mereka! Kamu tahu, mereka menyerbu toko ini dengan telepon yang tidak putus-putus."
Velin menggigit bibir bagian dalamnya. Memejam sesaat.
Ia salah! Namun, Sean adalah biang dari segala masalah yang ada.
Haruskah ia mengatakan kepada Miska?
"Kamu tahu berapa kerugian yang aku alami?" Miska berdiri dari kursi kebesarannya, mendekat pada Velin yang masih mematung.
Velin menggeleng. "Lebih dari gaji bulanmu?"
Sial!
Itu berlebihan!
Namun, Velin tidak bisa mengeluarkan protes apa pun. Ia hanya menunduk tanpa berani menatap wajah Miska.
Jari-jarinya saling bertautan, mencoba meredam ketakutan! Ia yakin, Miska sedang menatapnya horor saat ini.
"Kamu ke mana saja, kemarin?"
Velin tidak menyahut.
"Jawab aku? Kamu ke manakan bunga yang seharusnya kamu antar untuk pelanggan?" Miska berucap lantang tepat di depan wajah Velin. Velin mundur selangkah bahkan hampir terjungkal karena terlalu terkejut.
Syukur ia masih bisa menyeimbangkan tubuhnya.
"Jawab aku!"
"Maaf," cicit Velin pelan.
"Kamu terlalu besar kepala akhir-akhir ini? Kesalahanmu sungguh tidak bisa aku toleransi lagi. Kamu membuat kepercayaanku padamu, lenyap!"
Mata indah itu berkaca-kaca. Meskipun Velin menahannya, tetap saja cairan kristal itu jatuh tak tertahan.
"Pulanglah. Jangan datang lagi." Miska merogoh saku roknya dan memberikan amplop putih kepada Velin.
Wajah putih itu menengadah. "Maksud Mbak apa?"
"Kamu dipecat!"
Velin semakin terisak! Menatap Miska yang kembali duduk di singgasananya.
Air mata semakin mendesak keluar! Takdir apa lagi yang tercipta?
"Itu pintu keluar! Silakan pergi!" Miska menunjuk pada pintu.
"Mbak, aku minta maaf. Tolong, jangan —"
"Ah, satu lagi, tolong jangan ganggu tunangan saya! Kamu paham 'kan?" potong Miska.
Velin meremas amplop putih itu. Otaknya membeku sesaat hingga tubuhnya limbung dan seketika dunia menjadi gelap.
"Velin!"
***
"Takdir buruk sepertinya sangat ingin mengambil alih hidupku. Mengurungku pada kedalaman air mata!" –Velin Ashakira

Komentar Buku (31)

  • avatar
    chanelAep

    alur cerita ok, kita kayak di bawa pada usia muda ,shiip👍

    23/05/2022

      2
  • avatar
    Syahriell Pandevie

    boleh lah

    26/10

      0
  • avatar
    AlyfiaNhazwa

    baguss ceritanya

    11/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru