logo text

Bab 36 Haikal Oh Haikal

Vidi menggoyangkan tangan pengasuhnya berkali-kali. Tapi, tetap saja tidak ada jawaban yang ia tunggu. Bocah mungil punya akal cerdik, ia meninggalkan Kak Dina sendiri di dalam kamar. Ia mengintip dari balik pintu.
"Loh, Vidi mana? Vidi! Vidi!" teriak Dina panik. Ia mencari ke semua sudut kamar. Berharap menemukan bocah pintar itu.
"Kakak!" teriak Vidi di belakang Kak Dina.
Kak Dina terperanjat hampir terjatuh. Ia meremas dan memeluk kencang bocah iseng di depannya.
Vidi masih tertawa puas berhasil mengerjai Kak Dina. Suara dari mulutnya hampir tidak bisa keluar. Kak Dina ikut tertawa seraya mengambil tas dan sepatu Vidi.
"Kakak, gak papa, kan?" tanya Vidi tertawa sedikit.
"Ah kamu, jangan gitu lagi! Kak Dina kan jadi panik," keluhnya kesal.
"Habis Kakak malah melamun," protes Vidi.
"Maaf, Kak Dina kurang tidur," sahut Kak Dina santai.
Ara tampak sibuk membawa berkas-berkas amplop coklat di tangannya. Beberapa kali benda itu terjatuh dari tangannya. Vidi dan Dina sedari tadi mengamati sambil berpandangan.
"Mama, sini aku bantu," ucap anak kecil manis.
Ara terdiam kaget melihat putranya menumpuk berkas yang berserakan di lantai. Lalu melihat Dina yang masih berdiri di tengah anak tangga.
"Oh, makasih, ya? Biar Mama aja, kamu nanti telat ke sekolah," kata Ara seraya melirik Dina.
"Udah semua kok, Ma. Lain kali hati-hati ya, Ma!" ucap Vidi sembari mendaratkan kecupan tipis di tangan mamanya.
Vidi menggandeng tangan Kak Dina. Lalu melambaikan tangan ke belakang. Dina masih tidak percaya hingga menahan napas cukup lama.
"Terima kasih ya, Vidi? Sudah lama kamu tidak mencium tangan Mama," lirih Ara sedih.
Di sela lamunannnya, Haikal tiba-tiba mengirim pesan singkat.
Drttt... drttt...
Haikal : Ra, nanti bisa ketemu?
(Haikal mengirim pesan singkat)
"Haikal? ada apa, ya?" gumam Ara.
Ara duduk di ruang tamu, tatapan netranya tidak lepas dari ponsel. Ia berpikir harus membalas begaimana pesan dari Haikal.
Ara :Gak bisa, Mas. Agendaku nanti padat sampai malam.
Haikal :Aku mau membahas putra kita.
Ara :Siang nanti habis makan siang, ya.
Haikal :Oke, Sayang.
Ara : Sayang?
Haikal : Iya. Emang salah?
Ara : Gila kamu, Kal.
Haikal :Hahaha
"Sepertinya omongan Dina lama-lama terbukti. Apa aku harus segera mencari pengganti Haikal?" gumamnya lagi.
***
"Vidi, sini sebentar!" seru Bu Vina.
Vidi turun dari ayunan, berlari menuju ke tempat Bu Vina. Kak Dina mengikuti bocah itu dari belakang.
"Vidi, mau gak ikut lomba pidato?" tanya Bu Vina seraya melirik Dina.
"Aku mau," jawab Vidi mantap.
Bu Vina mengelus rambut anak didiknya lalu menggandeng duduk bersama di dalam kelas. Kak Dina masih mengekor dari belakang.
"Oke, mulai besok latihan sama Bu Vina, ya? Jam istirahat kita gunakan untuk latihan, gimana? Kak Dina nanti ikut mendampingi lho ya," ucap Bu Vina.
"Iya, Bu Vina," sahut Vidi dan Kak Dina kompak.
Di luar kelas yang sepi, Kak Dina menyangga dagu memikirkan kembali omongan majikannya. Dia sekilas teringat Haikal pernah meledeknya karena tidak bisa bahasa inggris.
"Dulu Pak Haikal banyak bercanda, sering godain istri dan anaknya. Beda banget sama yang sekarang," gumam Dina.
"Sekarang seperti tertekan karena nenek lampir, hihi," gumam Dina sambil terkekeh.
***
Ara terlihat sangat sibuk di ruang kerjanya. Beberapa orang keluar masuk ke dalam ruangannya. Ponselnya bergetar terus, tapi ia abaikan.
"Jam berapa ya ini?" Ara melihat jam tangannya yang bermotif daun.
Ara dari dulu penyuka tanaman dan bunga. Semua barang yang ada di rumahnya bercorak daun atau bunga. Itu yang membuat rumahnya segar dan serba hijau.
"Ya ampun, ada banyak pesan masuk dari toko cabang di Jawa Barat," gumamnya pelan.
"Haikal telepon berkali-kali, ck!" dengus Ara.
"Sebentar lagi makan siang. Pantas Haikal menelepon terus," gumamnya lagi.
Ara melanjutkan pekerjaan kantornya sembari mengecek kemajuan bisnis penjualan toko kuenya. Menjadi pengusaha kue membuat Ara kerepotan sebenarnya. Tapi, keuntungan yang didapatkan sangat luar biasa.
Drttt... drttt...
Haikal : 10 menit lagi aku sampai di kantormu.
Ara : Gak usah, Mas.
"Duh, cari perkara aja nih orang." Ara memegang kepalanya.
"Mas Haikal, sampai sini bentar lagi. Kalau Sonia tahu gimana?" kata Ara panik.
Ara membuka amplop naskah satu per satu, tapi pikiran tidak bisa fokus. Ia mengamati jam dinding menjadi semakin panik. Jarum jam serasa berputar cepat.
"Bu Ara, di bawah ada yang mencari," ucap salah satu karyawan kantor.
"Oh, iya... tolong kamu lanjutkan pekerjaan saya, ya! Saya paling cuma satu jam," titah Ara gugup hingga hampir menyenggol cangkir di atas meja.
"Bu Ara sehat? Apa perlu saya panggilkan Dokter?" ucapnya lagi.
"Enggak, saya gak papa. Oke, saya tinggal dulu, " pamit Ara pada salah satu keryawan.
"Tapi, Bu Ara juga kelihatan pucat sekali. Apa tadi belum sarapan?" ucapnya sambil khawatir.
Langkah Ara tidak seperti biasanya. Ia hampir beberapa kali tersandung karena gugup yang ia rasakan. Ruang kerjanya di lantai empat membuatnya setiap hari menggunakan lift.
Sebentar lagi lift yang dinaiki Ara tiba di lantai bawah. Pintu lift terbuka, tampak dari belakang seorang pria berpostur tinggi, besar, dan memakai pakaian kantor rapi. Jelas sekali itu Haikal, mantan suaminya. Sudah lama sekali rasanya tidak melihat pria itu berdiri menunggu di gedung kantor.
"Dia beneran ke sini, Aku khawatir kalau ada Sonia," batin Ara mencengkeram tas kencang.
Haikal membalikkan badan lalu menebar senyum manis ke arah ara. Ponsel masih menempel di telinganya. Entah dengan siapa dia menjalin komunikasi.
"Ra, bentar! Nanti aku ke sini lagi. Klien ku gak sengaja ada di dekat kantormu, jadi aku mau ke sana sebentar. Kamu gak keberatan, kan?" tanya Haikal seraya tersenyum.
Ara terpaku tidak merespon kata-kata yang dilontarkan Haikal. Ia tidak sadar memandang mantan suaminya tanpa berkedip sedikit pun. Haikal malah menggodanya.
"Heh, kamu kenapa?" Haikal menepuk pelan pipi Ara dengan sebatang cokelat.
"I-ini apa?" tanya Ara bingung memegang cokelat di pipinya.
"Cokelat buat kamu. Biar hari-harimu selalu manis. Dah ya, bentar!" kata Haikal berjalan cepat sambil melambaikan tangan.
Ara masih bingung dengan situasi saat itu. Haikal yang tiba-tiba pergi lalu cokelat yang tiba-tiba juga ada di pipi. Ia menggaruk kepala lalu berjalan di depan gedung kantor. Tanpa sengaja melihat Haikal berbicara sangat serius dengan dua orang pria. Haikal sesekali melirik mantan istri yang tepat di depannya.
"Ara, aku malah jadi salah tingkah dan gugup. Kamu sampai terpesona gitu sama aku," gumam Haikal pelan menahan rasa bahagia.
Setelah beberapa menit, Haikal kembali menemui Ara. Netra Haikal tertuju pada baju kerja yang dikenakan Ara sangat cantik dan cocok menurutnya. Sebatang cokelat juga masih digenggamnya erat.
"Maaf ya, Ra? Kamu lama nunggu, ya?" ucap Haikal sambil menelungkupkan tangan.
"Gak papa kok, Kal. Kamu kan juga ada urusan penting," sahut Ara menunduk.
"Ra, jangan panggil Kal! Panggil Mas dong, aku kan lebih tua dari kamu," kata Haikal merajuk.
Ara memalingkan muka lalu mengipasi wajahnya yang tidak gerah. Haikal menyadari mantan istrinya mulai tidak nyaman.
"Ya udah, mau ngobrol di mana? Sekalian kita makan siang bareng," tanya Haikal sambil melirik kanan kiri.
"Kalau di kantin aku aja, gimana? Soalnya habis ini aku ada acara di kantor," sahut Ara.
"Oke, kita ke sana sekarang?" tanya Haikal.
Ara mengangguk, keduanya jalan bersama menuju kantin. Semua tidak seindah yang Haikal bayangkan. Beberapa pasang netra tampak berbisik dan melirik Haikal dengan sinis. Haikal menghentikan langkahnya, disusul Ara juga berhenti.
"Kal, kok berhenti? Kantinnya masih ada di depan sana," heran Ara seraya mengernyitkan dahi.
"Ra, gimana kalau di luar kantor aja? Aku gak nyaman di sini, Ra," kata haikal sambil menoleh ke orang-orang di sekelilingnya.
Ara ikut menoleh ke kanan dan kiri lalu melemparkan senyum. Tak perlu lama, mereka membalas senyum Ara.
"Pakai mobilku aja, ya?" tawar Haikal sambil mengambil kunci di saku celana.
"Kal, aku gak enak sama Sonia. Nanti dia bisa salah paham lagi," ujar Ara masih menoleh ke kanan kiri.
"Kalau gitu pakai mobilmu aja, gimana?" usul Haikal.
Ara berpikir sejenak lalu mengiyakan usul Haikal. Mereka mencari tempat yang nyaman dan jauh agar Sonia tidak tahu.
"Ra, bisa berhenti sebentar?" pinta Haikal.
"Ada apa?" tanya Ara sembari menepi ke pinggir jalan.
"Aku saja yang nyetir, kamu duduk istirahat," kata Haikal tidak tega melihat Ara yang terlihat capek.
"Udah biasa kok, Kal. Bahkan, malam juga aku pulang sendiri," balas Ara.
Haikal terdiam sejenak. Rasa bersalah dan menyesal semakin tebal menyelimuti dirinya. Lalu ia memalingkan muka.
"Kita cari tempat agak jauh, ya? Aku khawatir kalau Sonia akan tahu," ucap Ara.
"Iya, semakin jauh aku semakin suka," kekeh Haikal membekap mulutnya.
Ara membuang muka lalu berdehem untuk menghilangkan rasa gugupnya. Ia masih mondar mandir tak tahu arah. Dalam pikirannya hanya ingin mencari tempat yang lumayan jauh.
"Oke, di sana aja!" tunjuk Haikal ke kafe depan taman bermain anak.
"Iya, sana aja. Sebentar, ini ramai banget," keluh Ara.
Akhirnya, mereka sampai di kafe. Turun dari mobil, memesan makanan dan minuman. Obrolan pun dimulai.
"Ra, kamu tahu kalau Vidi pintar bahasa inggris?" tanya Haikal sambil memandang wajah ayu Ara.
"Iya, aku kan mamanya," sahutnya singkat.
"Aku kaget, kok bisa, ya? Soalnya kan masih kecil, " heran Haikal.
"Kal, dia kan anakmu. Jadi, wajar kalau pintar bahasa inggris kayak kamu," jelas Ara.
Tak lama kemudian, pesanan mereka datang. Jam makan siang membuat mereka lahap menyantap makanan yang dihidangkan. mereka ngobrol santai sekaligus sambil menikmati hidangan pencuci mulut.
Hingga ada pertanyaan yang seharusnya tidak Haikal tanyakan.
"Ra, apa kamu setiap malam tidak merindukan belaian dan sentuhan dari lelaki? "
Ara terbelalak menatap wajah Haikal dengan kaget. Ia geleng-geleng kepala dan berdecak heran. Lalu memalingkan muka ke samping. Haikal masih menatap netra Ara lekat. Bahkan, tidak berkedip sedikit pun. Suasana menjadi hening seketika.

Komentar Buku (62)

  • avatar
    Adit

    agak seru dan menarik

    21/06

      0
  • avatar
    tridevi pratiwiNi komang

    bagus banget beneran bisa dapet diamond disini?

    05/04

      0
  • avatar
    Mahreen fazoyyaFalisha

    penuh lika liku🥲

    01/09/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru