CHAP 40

Di perjalanan Shena bingung dia mau dibawa kemana. Mana Bang Putra hanya diam - diam saja. Motornya berhenti di depan resto mewah, banyak sekali mobil - mobil yang terparkir disana.
Shena menelan ludah saat melihat tempat itu tidak cocok dengan pakaiannya. Turun dari motor kaki Shena mundur ke belakang. Putra heran melihat tingkah Shena.
"Kenapa mundur?", tanya Putra
Shena tersenyum malu, "Hehehe keknya gak pantes deh bang Shena disini".
Putra menggelengkan kepalanya dan melepas helm yang masih terpakai di kepala Shena.
"Gak pantes gimana nya?. Kamu sudah cantik kok", pujian Putra.
Melayang rasanya Shena ketika dipuji Putra. Aduh matanya tak bisa berkedip saat mendengar pujian itu.
"Sudah siap.... Eh kenapa bengong?", tanya Putra
"Eh gak ada bang".
Putra mengambil tangan Shena untuk digandeng. Benar - benar melupakan status mereka. Bagaimana kalau mahasiswa lain melihat Shena dan dosen muda ini ngedate di restoran ini.
Sampai di meja yang sudah di pilih, Putra menarik kursi yang akan di duduki Shena. "Nih silahkan duduk".
Hm Shena rasanya ingin berteriak dan mau bilang makasih ke Yuri. Berkat dia semua lancar...
Pipi Shena yang bulan kayak mochi memerah... Dia tak sanggup lagi menahan rasa baper ini.
Putra memanggil pelayan disana. Saat pelayan itu datang, mereka sudah membawa makanan yang begitu banyak dan mewah. Shena heran sejak kapan dia memesan makanan ini. Kenapa tiba - tiba sudah ada.
Shena memperhatikan semua makanan yang sudah diletakkan oleh pelayan di meja.
"Sudah makan aja", ucap Putra melihatnya.
Shena jadi malu...
Karena sudah penasaran sekali Shena bertanyalah ke Putra, "Ini abang yang pesan atau memang begini sistem restonya?".
"Oh... ini sudah saya booking pas kamu chat saya", ucap Putra.
Duh bagusnya gak perlu tanya lagi lah. Takutnya Bang Putra malah tanya kata kangen itu.
"Kenapa kamu chat saya bilang kangen?", Putra bertanya sambil memakan stick daging.
Mendengar yang di katakan Putra itu, Shena jadi keselek makanan. Dia batuk - batuk... Putra dengan cepat mengambilkan minum untuk Shena.
"Duh makannya pelan - pelan saja", ucap Putra.
Dia juga membantu mengelap mulut Shena yang berantakan dengan makanan.
Shena terkejut melihat perlakuan yang diberi Putra kepadanya. Benar - benar membuat jantungnya tidak aman.
Selesai itu Shena permisi dulu ke toilet. Dia berlari karena sudah tak tahan lagi mendapatkan perlakuan yang sangat so sweet itu.
Mencuci mukanya sambil berkaca, "Shen dia cowok yang lu mau. Tapi kenapa lu malah malu - malu".
Baru teringat, dia langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celana. Menghubungi Yuri dan meminta saran hal apa yang harus dilakukannya.
"Halo Ri"
Yuri yang akan memakai baju cosplay anime kaget mendapatkan telpon dari Shena.
"Halo apaan sih. Lu bikin gua kaget"
"Sorry. Gua bingung nih"
"Bingung kenapa?"
"Tadi gua menerima semua moment romantis dari bang Putra dan sekarang gua gak tau harus bilang apa. Gua malu banget"
Yuri mendengar kata sahabatnya itu memaklumi karena Shena baru pertama kali jatuh cinta ke orang.
"Oh lu lakuin sewajarnya aja lah. Senyum kek atau bilang Iya bang. Jangan liatin kalau lu salah tingkah", ucap Yuri.
Saat telponan sama Yuri, Shena menerima telpon masuk dari Bang Putra.
"Ya udah Ri, makasih ya. Ni bang Putra kayaknya lagi cariin gue"
"Lah elu dimana nyet?", tanya Yuri
"Ini di toilet resto. Dah Bye", Shena menutup telpon dari Yuri.
Selesai telpon, Shena langsung balik duduk ke meja Bang Putra.
Bang Putra memperhatikannya saat Shena duduk.
"Lama sekali?", tanya Bang Putra.
"Iya bang tadi ada telpon masuk", jawab Shena.
Putra memaklumi kalau Shena jawab dengan jujur.
Disaat makanan mereka mulai habis, Putra menanyakan sesuatu ke Shena.
"Hm... Shena. Kalau boleh tau kamu sudah punya pacar?", tanya Bang Putra.
Duh kata Yuri, laki - laki kalau sudah nanya status itu tandanya dia suka sama kita. Eh tapi jangan ke pedean dulu.
"Shena belum pernah pacaran bang", ucap Shena sambil tertawa malu.
"Seriusan?", muka bang Putra seperti tidak percaya dengan apa yang dikatakan Shena.
"Iya bang..."
Bang Putra terdiam dan melanjutkan makannya. Shena jadi mikir apa dia ada salah saat bicara. Kenapa Bang Putra terdiam.
Makanan ku belum habis sedangkan bang Putra sudah bersih makanan di piringnya.
"Shen besok saya mau keluar kota. Nah saya ada kelas nih besok, jadi tolong bantu saya ya"
Sebenarnya besok Shena mau rebahan istirahat tapi gimana cara nolaknya.
"Shen kok diam?. Kamu gak bisa ya?", tanya Bang Putra
Duh ditanya lagi...
"Gak bang. Shena bisa", gak ada pilihan selain menerima...
Selesai makan Bang Putra langsung mengantar Shena pulang.
.....
Dua hari kemudian
Di atas kasur dengan dibaluti selimut tebal. Roby terbaring sakit tak berdaya. Badannya panas tinggi hingga kepalanya terasa pusing. Yuri yang sebagai istri panik melihat suaminya sakit seperti itu.
Untuk bangun dari kasur saja tak bisa. Tapi Roby agak memaksakan diri untuk bangun karena dia harus berangkat ke kantor. Baru saja duduk kepalanya sudah sangat sakit.
"Sayang... jangan dipaksa. Kamu istirahat saja ya", ucap Yuri sambil membantu suaminya baring.
Roby keras kepala, dia masih saja memberontak mau pergi ke kantor. "Gak aku bisa kok. Paling kalau minum obat langsung sembuh".
"Gak boleh. Kalau kamu gak mau dengerin aku juga. Aku bakalan bilang ke Mami", Yuri terpaksa mengancam suaminya.
Roby terdiam mendengar ancaman Yuri....
"Sebentar lagi dokter pribadi kamu datang. Kamu sabar saja disini ya", ucap Yuri yang berada disamping suaminya.
Sembari menunggu, Yuri memasakkan sup ayam kesukaan suaminya. Dengan tidak ada campuran micin, sup ini juga terasa sangat enak.
.
.
Mengantarkan sup ke kamar suaminya, tak lama kemudian terdengar bunyi bel dari bawah.
"Yang aku ke bawah dulu ya. Ada tamu", ucap Yuri pamit sebentar kepada suaminya.
Saat dibuka pintu ternyata itu Shena. Tak hanya sendirian dia menunggu bersama dokter pribadi Roby.
"Eh dokter mari masuk", ucap Yuri
"Gua gak disuruh masuk nih?", kata Shena dengan muka yang bete.
Yuri tertawa dia juga menarik tangan Shena untuk masuk ke dalam rumah.
Tiba di kamar, suaminya sudah menggigil. Dokter melihat keadaan Roby langsung kaget sekali.
"Astaga ini sejak kapan seperti ini?", dokter bertanya kepada Yuri.
"Ini baru dok, sekitar jam 5 pagi tadi selesai solat subuh", ucap Yuri.
Dokter dengan cepat mengecek keadaan Roby. Muka dokter seperti panik dan khawatir sekali.
Selesai mengecek dokter keadaan Roby. Dokter meminta Yuri untuk berbicara empat mata.
Di luar kamar, dokter membicarakan keadaan suaminya Yuri.
"Begini Yuri... untuk kondisi Roby sekarang, saya memprediksikan dia terkena penyakit demam berdarah dan diharuskan untuk rawat inap di rumah sakit"
Yuri mendengar apa yang di katakan dokter cukup kaget, kenapa tiba - tiba suaminya bisa terkena penyakit demam berdarah.
"Dok kalau boleh tau kenapa suami saya bisa terkena penyakit demam berdarah ya?", tanya Yuri.
"Untuk hal itu bisa jadi Roby terlalu kecapean atau bisa penyebab lain nya", ucap Pak dokter.
"Lalu bagaimana, apakah Yuri setuju jika Roby kita rawat inap di rumah sakit?", tanya Dokter.
Demi kesehatan suaminya, Yuri merelakan semuanya.
"Oke dok, saya setuju", ungkap Yuri.
Selagi dokter menghubungi ambulan, Yuri masuk ke dalam untuk menyiapkan keperluan suaminya nanti.
Shena yang duduk di Sofa kamar Yuri, dia heran kenapa Yuri langsung mengemasi baju - baju suaminya.
"Yuri lu mau kemana?", tanya Shena
"Mas Roby harus di rawat jadi gua mau siapin barangnya dulu", jawab Yuri
Shena terkejut dengan apa yang di katakan Yuri, "Lah ini seriusan?"
"Serius"
Selesai membereskan pakaian suaminya, Yuri meminta Shena untuk keluar kamar dulu. Sebab dia mau mengganti pakaian suaminya.
Dibawah ambulan sudah sampai, Yuri membuka kamar dan petugas rumah sakit membantu mengangkat suaminya untuk turun ke bawah.
Shena yang berada disana membantu Yuri untuk menenangkan diri. Mengingat kandungan Yuri masih rentan.
Sampai di bawah, Yuri akan menemani suaminya dalam ambulan, sedangkan Shena di suruh Yuri untuk mengunci rumah dan membawa mobilnya sampai ke rumah sakit.
Mobil ambulan jalan, Shena pun mengikuti mobil ambulan dari belakang.
Shena sangat kasian dengan sahabatnya itu. Padahal kemarin mereka masih baik - baik saja. Tapi musibah datang dengan cepat melanda mereka.
...
Sampai di rumah sakit, petugas medis langsung berlarian membawa Roby masuk ke ruang UGD. Yuri selalu menemani suaminya kemanapun berada.
Setelah semuanya selesai, Roby sudah berada di dalam ruang nginap. Yuri baru bisa menelpon Mama dan Maminya. Mengabari keadaan yang sekarang.
Mendengar perkataan dokter bahwa Roby akan di rawat lama. Jadi Yuri berinisiatif untuk menggantikan suaminya sementara di kantor.
Mama dan Mami sudah sampai di rumah sakit. Selagi ada Mama dan Mami, Yuri minta izin untuk pulang dulu membersihkan badannya.
.
.
Yuri mengendarai mobilnya dengan di dampingi Shena. Dia bercerita bahwa hal ini di luar dugaannya.
"Gua gak nyangka banget kalau semua ini bakalan terjadi. Padahal tadi pagi itu sehat - sehat aja loh", ucap Yuri pada Shena yang berada di sebelahnya.
"Gua juga gak nyangka kalau begini. Apa karena suami lu trauma liat lu pakai baju kurang bahan kemarin", kata Shena.
"Gilak gak lah... dia suka gua pakai begitu. Mungkin dia benaran kecapean, soalnya dia ambis banget kerjanya"
"Sekarang mau kemana nih?", tanya Shena
Yuri memberitahu kalau dia ingin membantu suaminya kerja. Apalagi kalau di rawat lama seperti ini, siapa yang akan mengontrol karyawannya.
Shena sempat tak setuju dengan keputusan yang di ambil Yuri. Tapi Yuri masih bersikeras untuk melakukan hal tersebut.
Mereka menyempatkan diri untuk pulang ke rumah dulu, setelah itu langsung pergi ke kantor Roby.
"Lu seriusan ni ri?", tanya Shena
"Seriusan lah gua. Lu juga harus tau siap aja karyawan kantor gua", ucap Yuri dengan penuh keyakinan.
Karena Yuri sudah begitu, jadi Shena hanya bertugas mendukung sahabatnya saja.
...
(kantor)
Karyawan kantor menyapa Yuri dengan ramah. Shena cukup salut dengan sikap karyawan kantor Roby.
Ketika mau memasuki ruangan, salah satu asisten Roby yang laki - laki menghampiri Yuri.
"Permisi buk. Ada yang bisa saya bantu"
"Oh kamu Jon. Begini saya mau mengontrol kerja karyawan hanya sebentar sebab bapak lagi sakit", ucap Yuri pada Jon ( Asisten Roby)
Jon heran padahal Roby kemarin masih baik - baik saja. "Maaf buk, kalau boleh tau bapak sakit apa ya?"
"Bapak di rawat, dia terserah DBD"
"Astaga semoga bapak cepat sembuh ya buk. Kalau begitu biar saya bantu ya buk", ucapnya pada Yuri
"Dengan senang hati", balas Yuri.
Shena terkesan melihat kinerja karyawan Roby yang sangat mantap.
Masuk ke dalam ruangan. Yuri di arahkan untuk mengecek semua berkas yang sudah selesai. Setelah itu dia mengecek data yang ada di komputer suaminya.
Sedangkan Shena duduk manis di Sofa yang sangat empuk.
Saat Yuri sedang sibuk - sibuknya. Tiba - tiba ada wanita yang begitu seksi dan kurang sopan masuk ke dalam ruangan. Shena yang awalnya santai langsung tegak berdiri di belakang sahabatnya.
"Heh anak kecil... ngapain lo disini?", tanya wanita itu dengan nada yang cukup tinggi.
"Manusia gatel... terserah gua mau ngapain aja disini. Apa urusannya sama lo", balas Yuri.
"Elu juga Jon. Ngapain juga lu bantuin dia iyu kan tugasnya bos", dia malah ikut memarahi Jon.
Saat Jon ingin berbicara, Yuri menyuruh Jon untuk diam.
"Eh bukan urusan lo, dia ngapain disini ya. Lagian gua lebih setuju suami tersayang gua punya asisten yang sopan dan baik hati seperti Jon. Ga kayak lo kegatelan sama suami orang", ucap Yuri dengan sedikit julit.
Disini posisinya Shena bingung apa yang sedang terjadi. Dia tak mengenali siapa wanita yang sedang berhadapan dengan Yuri.
Untuk menenangkan suasana, Jon mengatakan kepada Yuri kalau tugas suaminya hari ini biar dia saja yang menyelesaikan.
Shena disamping Yuri otomatis mendengarkan apa yang dikatakan Jon. Jadi dia meminta Yuri untuk pulang saja dari pada ribut di kantor suaminya.
"Yok Ri pulang aja. Lu gak punya banyak waktu untuk ladenin tante ini", ucap Shena
Sarah emosi dengan yang dikatakan Shena, "Heh lu siapa sih?. Bilang gua tante... lu sama aja kayak dia bocah tapi dah ngebet nikah".
Emang miring ni otak perempuan, Shena menahan emosinya dan membimbing Yuri untuk keluar dari ruangan tersebut.
Sebelum keluar ruangan Yuri memberi pesan kepada Sarah, "Eh perempuan gatel. Lu liat aja ya posisi lu bakalan hancur. Gua akan memimpin perusahaan ini ke depannya. Terserah lu mau ngatain gua tapi ingat aja nasib lu besok".
Setelah puas mengatakan hal itu, Yuri dan Shena langsung pergi dari kantor.
Melihat sahabatnya masih emosi, Shena mengambil alih untuk mengendarai mobil Yuri.
"Sini gua yang bawak aja. Gua tau kalau lu lagi emosi pasti bawa mobil brutal", ucap Shena sambil merebut kunci yang ada di tangan Yuri.
Shena membantu Yuri untuk masuk ke dalam mobil. Sebab kondisi dia lagi hamil ini yang sangat mengkhawatirkan.
Setelah semuanya beres akhirnya mereka pergi juga.
Shena mikir kalau dia langsung ke rumah sakit pasti nanti Yuri masih cemberut. Kalau suaminya melihat Yuri bete marah - marah bukannya sembuh malah tambah sakit. Jadi Shena membawa Yuri ke tempat favorit mereka saja.
...
Sampai disana Shena memesan semua makanan yang sering di pesan Yuri saat moodnya sedang hancur.
Menunggu pesanan datang, Yuri menerima telpon dari Mami Roby. Pasti ini tentang kejadian tadi...
"Halo Mi"
"Sayang kamu dimana?", tanya Mami
"Maaf ya mi, tadi aku pas selesai dari rumah langsung pergi keluar dulu sama Shena", ucap Yuri dengan nada yang rendah
"Oh tidak apa - apa. Oh iya mami mau nanya nih sama kamu"
"Nanya apa mi?", jawab Yuri
"Kamu kenapa ke kantor nak?. Tadi Mami liat di CCTV kamu ada di kantor", tanya Mami
"Itu mi... Yuri mau kontrol kerja Mas Roby, apalagi kalau mas Roby sakit seperti ini. gak ada yang kontrol", jawab Yuri.
"Nak Mami kasih tau ya. Lebih baik kamu jangan masuk ke dunia kerja Roby. Mami gak mau kamu kecapean, apalagi kamu lagi hamil seperti ini"
Ya namanya orang tua mana ada yang mau anaknya sakit kecapean. Jadi Yuri menuruti aja dulu apa yang di katakan Mami. Supaya tak terjadi perdebatan...
Setelah Yuri mengiyakan kata Mami. Telepon pun di akhiri dan pesanan mereka tiba.
"Supaya mood lu balik... sekarang makan semua ini ya", ucap Shena
Tanpa rasa menolak Yuri langsung menyantap makanan yang ada di depan matanya.
"Lu memang sahabat gua yang paling the best", ucap Yuri.
Setelah rasanya mood Yuri membaik, Shena menanyakan siapa perempuan yang berdebat dengan Yuri di kantor tadi.
"Kalau boleh tau dia siapa sih?", tanya Shena dengan penuh hati - hati.
"Oh dia namanya Sarah. Dia itu asisten suami gua di kantor", jawab Yuri dengan singkat.
"Asisten?. Gua kaget loh liat pakaian dia tadi"
"Ya begitulah namanya perempuan penggoda suami orang. Gua dari awal ketemu dia itu udah kesal banget. Masa ya pas gua dinner sama laki gua di resto mewah. Jumpa lah sama dia, masa dia katain gua anak kecil. Trus gua gak pantes sama Roby. Gila - gila aja dia"
"Tapi gua jujur ya. Dia itu badannya bagus loh", ucap Shena
"Shena.... lu mah", Yuri kesal mendengar pujian Shena kepada wanita itu
"Eh bukan gitu maksudnya.... Kalau boleh tau suami lu aman kan kerja sama dia?", tanya Shena mulai melenceng nih
"Ya aman lah... suami gua cintanya cuman buat gua. Bapak CEO yang ganteng dermawan itu setia sampai mati sama gua", jawab Yuri
"Bagus lah... gua dukung lo kok"
...
(rumah sakit)
Karena sudah sore jadi Shena tak bisa menemani Yuri berlama - lama di rumah sakit. Jadi dia memberi kunci rumah ke tangan Yuri dan kunci mobil juga.
Setelah Shena pergi akhirnya Yuri sendirian lagi menjaga suaminya di rumah sakit. Mami dan Mama tadi sudah pulang duluan karena banyak urusan kantor.
Roby tertidur dengan nyenyak sampai tak sadar kalau istrinya berada disampingnya. Karena tak mau menganggu suaminya tidur, maka Yuri bersihkan kamar nginap yang ada di ruangan suaminya. Selesai itu dia langsung tertidur...
.
.
.
.

Komentar Buku (685)

  • avatar
    PutriMelisa Dwi

    Semangat melanjutkan tulisannya🥰

    14/04/2022

      4
  • avatar
    AmeliaResti

    keren

    26/08

      0
  • avatar
    HidayahNur

    bagus critanya smngt ya 👍👍

    19/08

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru