CHAP 14

Pagi hari di lorong sekolah, Yuri berjalan sendirian menuju ruang OSIS. Dia melakukan kegiatannya di pagi hari memantau kerja timnya.
Duduk di mejanya sambil menilai sebagaimana susunan acara Camping bulan Juni besok. Salah satu anggotanya memberi tau sebuah kabar.
"Yuri... lu jangan terlalu mesra di luar sekolah. Takut nanti guru ngeliat"
Yuri bingung dengan perkataan anggotanya. "Mesra?. Gua perasaan gak ngapa - ngapain deh".
"Lu gak liat di akun lambe sekolah?"
"Gak emang apa?", tanya Yuri dengan raut wajah mulai panik
"Mending lu liat deh". Yuri langsung membuka sosial medianya. "Mending lo harus hati - hati deh"
"Bentar belum nemu", kata Yuri
"Lu liat post jam 23.00 kemarin"
"Ah nemu juga. Astaga paparazi...", Yuri mulai kesal.
"Lu masih beruntung karena gak ada guru yang follow akun itu. Kayaknya ada yang gak suka sama lo deh", jawab anggotanya
Dia mikir selama ini tidak pernah mencari masalah dengan orang lain tapi kenapa ada yang jahatin dia ya.
Tak lama kemudian Shena datang sambil berteriak memanggil nama Yuri.
"Yuri... Yuri..", dia masuk ke dalam ruang OSIS
Dengan napas naik turun karena sudah berlari, akhirnya ketemu juga sama orang yang lagi trending di sekolah.
"Kemana aja sih lu gua telpon gak diangkat?", tanya Shena
"Tenangin diri dulu. Tarik napas.... buang", ucap Yuri menenangkan Shena yang masih kurang stabil nafasnya.
"Gua dari tadi disini. Emang kenapa sih?", tanya Yuri
Sambil mengeluarkan ponselnya, dia menunjukkan postingan yang di lihat Yuri tadi. "Tolong jelaskan ini sama gua".
"Oh ini... nanti deh gua jelasin. Yok ke kantin dulu", menarik tangan Shena keluar ruangan.
Sepanjang mereka berjalan orang - orang pada melihat Yuri. Pada hal kan itu cuman foto biasa.
Sampai di kantin, Shena langsung mengintrogasi Yuri.
"Sekarang lo jawab aja. Apa maksud dari foto ini?", tanya Shena
Meminum segelas jus mangga, Yuri berusaha menjelaskan kronologi foto itu. "Hm jadi gini, itu foto abang sepupu gua. Ya jadi biasa aja kan kalau bersaudara begitu?"
"Iya juga sih". Tapi Shena mikir lagi Yuri kan gak punya abang. "Eh lu kan gak punya saudara laki - laki ya dan sepupu lu kan semua perempuan. Kan lu pernah bilang".
"Enggak dia saudara jauh gua. Jadi kalau ketemu angkap banget", jawab Yuri.
"Trus gimana ini postingannya?. Apa kita cari admin lambe?", tanya Shena
Kebetulan Shena mengatakan itu sepertinya bagus juga. Biar Yuri tau siapa orang yang paparazikan dia pas jalan sama Roby.
"Oke kita ke ruangan admin sekarang"
Mereka meninggalkan kantin dan langsung pergi ke ruangan lambe. Saat sampai ruangan awalnya mereka tidak dibolehkan masuk tapi karena diancam Yuri. Jadi di perbolehkan.
"Yang tidak berkepentingan di larang masuk", ucap penjaga ruangan
"Mending lu izin kan kita masuk. Atau akun lambe kalian gua bobol dan laporkan ke guru", ancaman Shena
"Emang kalian bisa apa?", kata penjaga ruangan
"Lu gak tau yang kasus akun lambe tahun lalu siapa yang bongkar?". Shena langsung menunjuk Yuri, "Ini orang nya. Dan bagusnya lo bolehin kita masuk sih. Dari pada nasib lo sama kayak anggota lambe yang di DO".
"Okay masuk", penjaga ruangan mempersilahkan mereka masuk.
Dalam ruangan terlihat cuman ada 2 orang. Di antara keduanya pasti ada salah satu yang menjadi paparazi.
Yuri memanggil kedua orang ini untuk duduk bersama nya.
"Hai... boleh gua ngomong ke kalian?"
Terlihat muka mereka cukup pucat dan panik. Karena Yuri bukan orang sembarangan di sekolah.
"Boleh Yuri", ucap salah satu dari mereka.
Dalam ruangan itu ada sofa untuk tamu. Mereka berempat duduk saling berhadapan. Shena memulai pembicaraan.
"Kalian liat berita yang baru di posting itu kan?", tanya Shena sambil mengeluarkan ponselnya.
Tapi mereka belum mau menjawab pertanyaan Shena.
"Oke kalau kalian lupa ni gua tunjukin", Shena menunjukkan postingan itu ke mereka.
Terlihat dari mimik wajah keduanya panik.
"Yaudah kalau kalian gak mau jawab gak papa. Tapi ingat ya, gua kan ketua OSIS plus orang terpercaya sekolah. Data - data kalian ada di gua dan yang paling harus lo tau kalian kerja begini gua yang gaji. Jadi lo kasih tau siapa yang posting ini", kata Yuri dengan nada yang sudah mulai tegas
Akhirnya ada juga yang ngomong, "Okay gua ngomong... Jadi tadi malam itu gua di chat sama nomor yang gak di kenal. Nah dia kirimin foto ini sama caption. Dia ngancem admin lambe kalau gak mau post foto ini, akun kita bakalan di hapuskan. Gua panik karena akun ini cuman satu - satunya pencarian kita".
"Dari tadi dong ngomong. Sekarang gua mau liat nomor nya", kata Shena
"Duh gua takut Shen nanti dia marah gimana?", tanya salah satu admin
"Tenang ada gua disini. Kalau kalian di apa - apain gua yang bakal tolongin", jawab Yuri untuk meyakini mereka
Dia memberikan ponselnya yang berisi chat dari tukang paparazi. Yuri langsung mengecek nomor itu di aplikasi khusus miliknya. Dan akhirnya ketahuan..
"Anjir.. ini nomor Boby", kata Yuri
Shena kaget kenapa bisa Boby. "Seriusan lo boby?".
"Serius gua... ni nomornya itu tertera identitasnya itu nama Boby", jawab Yuri sambil menunjukkan ponselnya.
"Gila gak habis pikir gua. Apa maksud dia?", kata Shena
Dalam pikirannya, Yuri tau maksud dari Boby. Pasti dia itu iri dengan apa yang di gapainya sekarang. Ditambah kelakuan Yuri yang selalu menolak ajakan dia.
"Okay sekarang kita diamin aja. Karena menurut gua gak terlalu besar ya masalah nya", ucap Yuri sambil berdiri untuk pergi
"Lah diamin gimana?. Lu udah dipermalukan sama dia Ri", kata Shena
"Gak papa... sekali - sekali bikin dia berhasil gak papa lah ya", dengan melihatkan muka santai nya. " Oh iya kalian tolong hapus postingan itu ya. Nanti kalau dia ngamuk bilang aja ada singa betina yang nyuruh", ucap Yuri sebelum keluar ruangan.
Mereka mengangguk dan langsung menghapus postingan. Yuri dan Shena keluar ruangan dengan muka yang tidak terjadi apa - apa.
Saat berjalan ke kelas, terlihat ada Boby yang sedang main basket. Shena menyenggol tangan Yuri untuk melabrak Boby di lapangan.
"Yuri ayok kesana", kata Shena
Yuri tetap tidak mau melihat ke arah lapangan. Dia berjalan elegan dengan tatapan tetap ke depan.
"Gak usah. Kotor tangan gua kalau nampar dia", ucap Yuri
Shena heran dengan perkataan sahabatnya itu, kenapa jadi bijak gini.
Ternyata Boby melihat Shena dan Yuri berjalan di lorong depan lapangan. Dari tatapannya seperti Boby sangat marah dan kecewa.

Komentar Buku (685)

  • avatar
    PutriMelisa Dwi

    Semangat melanjutkan tulisannya🥰

    14/04/2022

      4
  • avatar
    AmeliaResti

    keren

    26/08

      0
  • avatar
    HidayahNur

    bagus critanya smngt ya 👍👍

    19/08

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru