logo text

Bab 25 emak jatuh dari kursi roda

Part 30
Emak jatuh dari kursi roda
Sebulan telah berlalu setelah pembagian warisan hasil penjualan rumah almarhum Bapak.
Emak masih dirumah Saidah, kondisinya semakin membaik, emak sudah mulai bisa bicara meski terbata bata, tapi masih bisa dimengerti.
Saidah membuka usaha warung dari hasil warisan itu. Sementara Ahmad membuka usaha bengkel. Umar membeli lahan sawit, dan Samsul menabung untuk investasi dimasa depan.
Sementara jannah, ia menebus tanah warisan yang diberikan Bapak yang digadai saat hajatan si Yati. Selebihnya ia membuka usaha nasi uduk didepan rumah kontrakan nya. Ramli kini tak lagi bekerja, ia hanya membantu usaha nasi uduk jannah.
Kehidupan anak anak Mak Syam sudah lebih membaik, terlebih jannah. Ia merasa bersyukur atas adanya warisan itu, ia bisa membuka usaha dan menebus tanahnya kembali. Ia menyesal sempat mengaidakan tanah untuk menggelar pesta hajatan Yati, anak bungsunya itu.
Susah payah ia mencari uang demi membahagiakan anaknya, justru anaknya tak peduli saat ia tak punya tempat tinggal. Mungkin itu karma atas apa yang pernah ia lakukan untuk emak. Tapi, kini ia telah sadar dan insaf.
***
Saidah sedang duduk didalam warung miliknya yang baru sebulan ini ia rintis. Emak duduk di kursi roda dekat Saidah, disela sela ia menjaga toko, Saidah juga menjaga emak.
Emak sudah bisa menggerakkan tangannya, untuk makan dan minum emak sudah bisa sendiri. Saidah juga rajin membawa emak berobat, baik ke dokter maupun ke terapi akupuntur.
Semakin hati semakin terlihat perkembangan emak. Saidah merasa senang dengan kondisi emak yang menurutnya ada harapan untuk sembuh.
Namun, lain halnya dengan emak. Semakin hari ia merasa semakin gelisah. Perasaannya tak enak. Emak juga semakin sering bermimpi bertemu dengan almarhum bapak.
Kadang, jika Saidah sedang sibuk di warung. Emak sendiri dikursi roda, pandangannya sayu, tatapannya seperti menerawang jauh, sesekali ia juga menangis.
"Emak... " Panggil Saidah yang datang tiba tiba.
Saidah tahu emak sedang menangis, tapi ia urung membahas itu, ia tak mau emak semakin sedih.
"Emak, kita makan siang yuk.. Saidah udah siapin tuh didalam" Bujuk Saidah sambil mendorong emak masuk kedalam.
Setiap pagi hingga menjelang siang, emak sering duduk di teras yang berada di dekat warung, Siadah mengajak emak duduk diteras agar emak tidak suntuk didalam kamar sendirian. Karna Saidah juga harus menjaga warungnya.
"Emak.. Mau makan sendiri atau Saidah suapin? "
"Ema..aa..Kan sen.. Dili dah.. (Emak makan sendiri Dah) "
"Yaudah.. Ini sendok sama nasinya ya mak, nanti kalau udah selesai panggil Saidah aja ya, emak ketuk besi kursi roda ini, nanti Saidah kesini ya" Ujar Saidah memberi kode pada emak.
Emak makan nasi sendiri, sementara Saidah kembali menjaga warung. Setelah mak selesai makan, ia hendak shalat zhuhur. Ia mengetuk besi yang ada dikursi rodanya.
Ting... Bunyi besi dipukul oleh sendok.
Tapi Saidah belum juga datang.
Ting.. Ting...
Kali kedua emak memukul besi kursi roda, Saidah juga belum datang.
Emak memukul besi itu ketiga kali.
Ting.. Ting.. Ting.
Saidah belum juga datang.
Sentara Saidah sibuk diwarung melayani pembali yang sedang ramai. Ia tak bisa mendengar bunyi yang berasal dari emak, karna kondisi warung yang berisik dan juga ramai.
Emak merasa ingin buang Air, popoknya lansia yang dipakainua juga sudah penuh. Ia risih dan merasa tak nyaman.
Emak berusaha mengayuh kursi rodanya, tapi tenaganya tak sanggup. Berkali kali emak berusaha mengayuh kursi rodanya, tapi tidak berhasil.
Emak berusaha meraih kursi yang berada diruang tamu, jarak dari kursi dengan emak hanya berjarak satu meter, begitu dekat pikirnya. Emak berusaha memegang kursi yang berada di depannya agar ia bisa duduk dikursi sofa ruang tamu.
Berkali kali emak menjukurkan tangannya, tapi tak bisa menyentuh kursi sofa itu, akhirnya ia mendorong tubuh nya agar mendekati sofa. Berkali kali ia mendorong tubuh nya dan tangannya berusaha menyentuh kursi sofa.
Dorongan emak semakin kuat sehingga tak mampu mengontrol kursi roda, pada dorongan ke tiga...
Bruuuukkkkkk
Tubuh emak jatuh ke lantai disertai jatuhnya kursi roda. Kepala emak menghantam lantai keramik, darah mengalir dari kepalanya.
"Mba... Mba Saidah,ada suara jatuh didalam, kayaknya seperi suara emak" Kata seorang pembeli diwarung Saidah.
"Apa? Emak?? " Seketika Saidah teringat ak gang sejak tadi ia tinggalkan.
Saidah segera berlari kedalam rumah, tak ia hiraukan pembeli yang sedang ramai. Saidah berlari sekencang kencangnya, ketika tiba di depan pintu rumahnya.
"Maaaaaaaakkkkkkkkk????? " Teriak Saidah membuat kaget seisi warung.
Orang orang yang ada diwarung segera berhambur kerumah Saidah yang berjarak lima meter dari warung.
"Astagfirullah.... " Teriak seorang wanita yang melihat kondisi emak yang sudah bersimbah darah dilantai.
Semua yang melihat kejadian itu kaget sekali, mereka berusaha menggotong tubuh emak ke atas sofa.
"Tolong panggilan ambulans..
" Teriak Saidah sambil meraung-raung
"Emakkk.. Maafin Saidah makk.. " Saidah menangis sejadi jadinya ia menyesali telah membiarkan emak seorang diri didalam rumah.
"Yang sabar mba Saidah.. Yang kuat.. " Seorang wanita berusaha menguatkan Saidah.
"Cepat panggil ambulans... " Teriak Saidah semakin kencang.
Ia panik dan shock melihat kondisi emak yang bersimbah darah.
Tak lama, ambulans pun datang, perawat segera menjemput emak dan membawa emak kerumah sakit.
Saidah masih menangis meraung raung didekat emak, perawat yang berada didalam mobil ambulans berusaha menenagkannya.
"Buk.. Yang tenang buk, jangan panik, biar saya yang bersihkan darah ibunya dulu"
Perawat itu dengan cepat membersihkan darah yang mengalir dari kepala emak, setelah dibersihkan perawat itu mengambil kain kasa untuk menutup dengan perban luka di kepala emak.
Gak lama kemudian mereka sudah sampai dirumah sakit, emak segera dimasukkan ke ruang UGD.
"Buk.. Tunggu disini dulu, biar kami yang menangani ibu anda" Ucap perawat sambil menutup ruang UGD.
Saidah masih belum tenang, ia masih menangis sesunggukan.
Dengan tangan bergetar ia mengambil gawai disaku celananya lalu menghubungi Bang Umar.
"Bang... Emak masuk rumah sakit" Ucap Saidah ketika tersambung dengan Bang Umar.

Komentar Buku (278)

  • avatar
    FitriyahAnis

    bagus ceritanya

    10d

      0
  • avatar
    OjanFauzan

    makasih telah membantu aku

    01/08

      0
  • avatar
    bengkulueva

    sedih

    18/04

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru