Saidah menghubungi Ahmad dan abangnya memberitahukan kondisi emak. Saidah mengambil gawai dalam tas, dan menghubungi Ahmad. "Hallo.. Asalamualaikum.. " "Waalaikumsalam, iya kak gimana kondisi emak? " Tanya Ahmad melalui sambungan telepon. "Ahmad, cepat kesini.. Emak sudah sadar.. Emak sudah bisa buka mata Mad.. " Ucap Saidah sambil tersenyum. "Apa mba, emak sudah sadar? Alhamdulillah ya Allah... " Uajr Ahmad bersyukur atas kondisi emak yang sudah membaik. "Iya Mas, susah dulu ua, mba mau telepon abang dulu, mau kasih tahu kalau emak sudah sadar.. " "Iya.. Mba.. Iya, aku nanti kesana sama Murni." Ahmad begitu senang mendengar emak sudah sadar, ia tak henti berdoa dan bermunajah pada Allah agar emak bisa sembuh. Ahmad segera memberi tahu Murni kalau emak sudah sadar. "Ma.. Emak sudah sadar.. " "Apa? Yang benar Mas? " "Iya ma, tadi barusan Mba Saidah telepon" "Alhamdulillah ya Allah.. " Ahmad dan Murni segera berangkat kerumah sakit untuk melihat perkembangan kondisi emak. Disaat Ahmad sudah bersiap siap kerumah sakit, tiba tiba jannah datang kerumahnya. "Assalamu'alaikum.. " Ucap jannah memberi salam. "Waalaikumsalam " Sahut Ahmad dan Murni kompak. "Siapa ya Mas, kayak suara mba Jannah? " Ucap Murni seperti mengenal suara itu Ahmad yang penasaran segera menuju kedepan pintu. "Mba Jannah..? " Ternyata Benar dugaan Murni, pagi pagi mba Jannah susah datang kerumahnya. "Iya, ini aku mau kasih kunci rumah sama kamu" Jannah rupanya hendak memberikan kunci rumah emak pada Ahmad. "Kunci Rumah? " Tanya Ahmad kaget "Iya Mad, mba sudah dapat rumah kontrakan" Jawab jannah yang masih berada didepan pintu. "Oiya masuk dulu Mba" Ujar Murni mempersilakan iparnya masuk. "Tidak usah Murni, mba cuma mau kasih kunci rumah sama Ahmad" "Oiya mba, emak sudah sadar, tadi mba saidah telepon. Apa mba sudah tahu? " "Belum Mad" "Kami rencana mau jenguk emak, apa mba ikut sama kami sekalian kerumah sakit? " "Mba Nanti malam saja ya Mad, mba mau berberes rumah kontrakan, barang barang mba belum dirapiin, masih berantakan" "Memangnya mba ngontrak rumah dimana? " "Dikampung sebelah Mad, rumah Petak milik juragan Ali, nomor 2" "Oh disitu, nanti kapan kapan aku mampir. " "Ya sudah kalau begitu, mba pulang dulu ya Mad murni.. " "Iya mba, hati hati ya" Jannah segera berlalu meninggalkan rumah Ahmad. Ia harus membersihkan rumah barunya dan juga membereskan barang barang bawaan dari rumah lama yang masih berantakan. Sementara dirumah sakit, Umar dan Samsul sudah berada dirumah sakit untuk melihat kondisi emak. "Bagaimana Saidah, apa emak susah bisa bicara? " Tanya umar pada Saidah. "Sementara ini belum Bang, emak baru bisa membuka mata dan mengangguk, Semoga saja nanti emak bisa bicara lagi" "Iya, amin.. " "Mak.. Ini samsul mak.. " Ucap samsul mengajak emak bicara. Emak hanya bisa menanggapi dengan anggukan, emak masih belum bisa bicara. "Mak.. Mak sudah makan? " Emak hanya mengangguk saja, menandakan emak sudah makan. Ahmad dan Murni akhirnya sampai, ahmad segera menghampiri emak. "Emak.. Emak sudah sadar mak? Ini Ahmad mak. " Ucap Ahmad sambil memegang tangan emaknya. Emak membalas dengan anggukan, syukur ia masih mengenal satu persatu anak anaknya. Meski tak bisa bergerak dan bicara. "Mak.. Harus kuat ya mak, mak pasti sembuh dan bisa pulang kerumah, kitabakan berkumpul lagi, ya mak. " Ahmad berusaha memberi semangat pada emak, meskipun hatinya sangat sedih melihat kondisi ibunya itu. Emak menggangguk, menandakan ia mengerti dan memahami apa yang Ahmad katakan. Keempat anak emak sudah berkumpul, kecuali Jannah. Ahmad mengajak Bang Umar untuk bicara, ia tak ingin pembicaraannya menggangu emak dan yang lain. "Bang, sini dulu, aku mau bicara penting" Ajak Ahmad pada Umar sambil melangkah keluar ruangan. "Ada apa Mad? " "Bang, tadi Mba Jannah kerumahku. Mba Jannah kasih kunci rumah" Ucap Ahmad sambil menyerahkan kunci sama Bang Umar. "Jadi, dia udah dapat rumah kontrakan? " "Katanya udah Bang, kontrakan dikampung sebelah. " "Syukurlah kalau dia udah pindah, jadi siapa yang mau beli rumah gak ribet lagi suruh pindahin barang dia" "Tapi, bang.. Em.. Apa mba jannah kita kasih aja bagian kalau rumah itu laku? " Ahmad mengusulkan agar Mbak nya itu mandapat hak juga dari penjualan rumah itu. "Apa kamu udah berubah pikiran Mad? Bukannya kamu yang usulin agar Jannah tidak dapat bagian? " "Iya sih Bang, tapi emak pernah bilang, jika Jannah meminta maaf pada emak dan menyesali perbuatannya, emak ikhals untuk memberikan Mba Jannah bagian jika rumah itu laku" "Benarkah begitu Mad? " "Iya Bang, lagi pula mba Jannah udah minta maaf sama emak, jadi aku rasa udah sepantasnya kita berikan hak juga untuk mba Jannah. Walau bagaimana pun mba Jannah tetap anak kandung emak, dan saudara kandung kita kan? " "Iya Mad, kamu benar. Jika emak sudah bilang begitu, ya mau bagaimana lagi" "Ya kita doakan saja rumah itu cepat laku ya Bang. " "Amin.. " Jawab Umar mengaminkan doa Ahmad. ___ Seminggu sudah emak dirawat dirumah sakit, kondisi emak pun banyak menunjukkan perkembangan. Tekanan darahnya sudah normal seperti biasa. Dokter indra sudah mengizinkan emak untuk pulang. "Bang, emak pulang kerumahku saja ya. Biar aku yang rawat emak" Saidah meminta ijin pada Bang Umar. "Boleh, itu lebih baik dah, anak perempuan yang lebih tau cara merawat ibunya, apalagi emak kondisi nya masih stroke. " Emak dibawa pulang kerumah Saidah, Umar yang memiliki rejeki lebih diantara saudaranya, ia menyumbangkan sebuah kursi roda untuk ibunya. Sementara saudara yang lain menyumbang uang untuk membantu pengobatan emak selama dirumah Saidah.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus ceritanya
10d
0makasih telah membantu aku
01/08
0sedih
18/04
0Lihat Semua