Bab 7 Zesde

Ghali mengerjapkan kelopak matanya beberapa kali, lelaki itu pun mencoba untuk menyesuaikan pandangan matanya dengan cahaya ruangan.
Tangannya terangkat tinggi melewati kepalanya untuk meregangkan otot-otot tubuhnya, mulutnya menguap seakan-akan ingin melepaskan lelahnya.
"Pagi cepat sekali datang, aku masih mengantuk," gerutunya sambil masih sesekali dia memicingkan matanya.
Suara orang-orang berbincang membuat dia segera memasang pendengarannya. Setelah dia kembali menguap lebar, lelaki itu pun mengangkat tubuhnya menjadi posisi duduk.
"Siapa juga sepagi ini sudah asyik bercengkrama, apa mereka tidak bisa berpikir ini masih pagi dan mengganggu orang tidur?" gerutunya lagi kesal.
Tangannya menggapai kemeja yang semalam disampirkannya di senderan sofa dan dia pun memakainya dengan cepat.
Sedikit malas lelaki itu pun membawa langkahnya menuju sumber suara. Rasa penasarannya muncul begitu saja.
"Jadi kau serius, malam tadi ditemani bossmu itu?"
Suara seorang lelaki yang terdengar penuh tanya. Seolah nadanya itu sarat akan perasaan cemburu yang terdengar sangat jelas di sana.
"Ya, dia menemaniku!" seru Gwen sangat tenang.
"Ehm, dia menemanimu dan tidur bersamamu? tanya suara lelaki itu penasaran.
Ghali segera menghentikan langkahnya, dia pun menyandarkan tubuhnya di dinding dan mencari tahu apa yang mereka bicarakan.
"Ya, dia tidur di sofa. Kenapa?" ucap Gwen dengan suara ketus. Ghali mengernyitkan keningnya.
"Apa bossmu itu tampan?" tanya suara lelaki itu lagi, kali ini nada cemburu dan gusar berpadu di sana.
"Ya, tentu saja. Dia tampan dan muda. Apa kau ada keperluan lain, selain menanyakan hal itu?"
Suara ketus terdengar lagi, terlihat raut tidak suka membaur di wajah cantik gadis itu dan Ghali pun tersenyum membayangkannya.
"Ehm, aku hanya. Ehm, eh, maksudku aku ini hanya mengkhawatirkanmu saja," ucap lelaki itu tampak serba salah.
"Mengkhawatirkanku?" tanya Gwen ketus, Ghali tersenyum samar mendengarnya.
"Ya, tentu. Aku mengkhawatirkanmu, Gwen!" tegas lelaki itu, Ghali berdecak.
"Apa maksudnya orang ini, mengkhawatirkan gadis yang jelas-jelas sedang aku lindungi," gerutu Ghali ketus, lelaki itu terlihat kesal.
Ghali segera menghampiri mereka, bersamaan dengan tangan lelaki itu yang begitu lancang hendak menyentuh wajah cantik Gwen.
Tangan itu melayang, lalu terkepal dan perlahan-lahan turun karena sebelum tangan jahil itu sampai menyentuh wajah Gwen.
Bibir Ghali dengan sangat cepat mendarat ringan di pipi mulus Gwen yang membuat gadis itu tersentak dengan membelalakan matanya.
Lelaki muda yang duduk di hadapan Gwen terpaku sementara Ghali terlihat tenang dan tidak peduli, lalu suara berat dan serak lelaki itu pun sangat jelas terdengar.
"Selamat pagi. Sudah ada tamu sepagi ini. Gwen, gua rasa kita harus sarapan dan kau. Eh, siapa nama kau?"
"Rey," jawab lelaki muda yang seumuran Gwen itu singkat, setelah dilirik sinis oleh Ghali.
"Rey. Okay, kau mau ikut sarapan di sini bersama kami?" tanya Ghali ringan dengan raut wajah datar tak bersahabat.
Rey menggeleng. Mata lelaki muda itu pun lekat menatap Gwen yang kini diam tertunduk. Pipi gadis itu bersemu merah yang pastinya karena ciuman Ghali tadi.
Tangan gadis itu terlihar agak bergetar. Ketika dia menuangkan kopi ke mug, lalu mengangsurkan ke hadapan Ghali. Lelaki itu hanya meliriknya sekilas.
"Thank you!" gumam Ghali sambil beralih menatap Rey yang kini terlihat canggung.
Ghali menarik tangan Gwen pelan, ketika gadis itu hendak bangkit dari duduknya. Mata legam lelaki itu lekat menatap gadis yang perlahan mengangkat wajahnya ragu-ragu.
"Duduk!" cetus Ghali dengan wajah datar tetap menatap Rey seakan-akan memberi peringatan.
Rey dengan raut wajah memerah karena rasa kesal memperhatikan Ghali. Lelaki itu pun segera saja beranjak keluar dari rumah, meninggalkan Ghali dan Gwen yang kini saling menatap.
Ghali tidak peduli, lelaki itu malah dengan santai menyesap kopi yang tadi diberikan Gwen dengan sangat nikmatnya.
Sementara itu, Gwen hanya menatap kepergian Rey dengan senyum tipis. Lambaian tangan lelaki itu pun tidak dibalasnya.
"Siapa Rey?" tanya Ghali ketus tanpa menatap ke arah Gwen yang kini terlihat gugup.
"Tetangga," jawab Gwen singkat.
"Tetangga?" tanya Ghali, Gwen cepat mengangguk.
"Dia sering datang ke sini?" tanya Ghali lagi seakan-akan menyelidik, Gwen kembali mengangguk.
"Ya!" jawab Gwen lagi untuk menegaskan.
"Dia sangat baik dan sering sekali membantuku," lanjut Gwen cepat, Ghali menyesap lagi kopinya tanpa lepas menatap gadis itu.
"Bukan kekasih?"
Pertanyaan Ghali kali ini membuat Gwen pun menatapnya dan menghentikan tangannya yang sedang menyuapkan roti isi.
Dengan wajah ragu Gwen menggeleng, dia sedikit merasa takut ketika menatap kilatan aneh yang terpancar di mata legam itu.
"Ehm, bu-bukan. Hanya teman saja, aku tidak punya kekasih," sahut Gwen agak terbata, wajah datar Ghali mengangguk.
"Dia terlihat marah waktu gua tadi mencium kau. Gua merasa dia suka sama kau dan dia terlihat sekali cemburu."
Ucapan Ghali membuat Gwen tergugu. Gadis itu bukannya tidak tahu. Selama ini, dibalik sikap baik Rey, ada perasaan di sana. Perasaan yang terlihat sangat jelas.
Lelaki yang hanya berbeda usia satu tahun lebih tua darinya itu. Begitu terus terang memperlihatkan rasa suka dan juga cemburunya tetapi anehnya, Gwen malah tidak suka dengan sikap lelaki itu.
"Ya, aku tahu itu tapi aku sebenarnya tidak suka dengan sikap Rey yang sok perhatian itu. Dia juga jadi terlalu sering mengatur."
Ucapan Gwen yang diiringi rasa kesal, membuat Ghali menarik sebelah sudut bibirnya. Lelaki itu menatap Gwen dengan tatapan dinginnya.
"Kenapa dia harus mengatur?" tanya Ghali ketus. Gwen menghela napas.
"Bisa tidak, sih. Sedikit berbicara dan juga menatap dengan lembut, aku ini seperti tawanan ditatapi dan ditanyai seperti itu," gerutu hati Gwen.
Lelaki di hadapannya masih terus menatapnya, Gwen menggeleng dan lelaki itu pun cepat bangkit dari duduknya, lalu dia berdiri.
Kemudian dia beranjak menuju kamar mandi, di mana sebelumnya, tangan lelaki itu mengacak ringan rambut Gwen sambil berkata dengan suara penuh perintah.
"Gua mandi dulu dan kau juga harus segera mandi. Jadi cepat habiskan sarapannya. Kita harus segera bertemu Benigno."
Gwen hanya menatap Ghali dengan sorot mata bingung yang memasuki kamar mandi. Gadis itu pun bangkit dari duduknya, lalu mendengus kesal.
"Kemarin Vallidas, sekarang Benigno. Besok siapa lagi. Bingung, kenapa jadi sekalu banyak nama orang aneh yang tidak kukenal," gerutu Gwen kesal.
"Dan lagi, kenapa juga dia harus menjagaku seperti ini? Sampai harus menginap segala. Ada apa, sih? Masa hanya gara-gara aku melihat dia memukuli orang sampai harus seperti ini."
Gwen membawa langkahnya menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya sambil menggerutu. Gadis itu terlihat menggelengkan kepalanya sambil membuang napas kasar.

Komentar Buku (72)

  • avatar
    Nurhayeni 03

    sangat bagus aku suka

    06/03

      0
  • avatar
    Autumn Autumn

    sangat sangat bagus

    05/10/2025

      0
  • avatar
    AlpariskiAbil

    wow amazing👍

    15/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru