Bab 4 Derde

Pagi ini Gwen pun harus kembali duduk di dalam mobil dan bersebelahan dengan lelaki berwajah tampan tetapi datar.
Tatapan sinis lelaki itu menyambut paginya yang seharusnya ceria karena matahari menyinarinya begitu cerah dan hangat.
"Pagi indah dan hangat ini menjadi kelam kelabu seolah-olah tersaput kabut mendung karena wajah sinisnya itu," gerutu Gwen dalam hati sambil melirik sedikit ke arah lelaki di sebelahnya.
Lalu dengan nada ketus dan tak bersahabat seperti hari kemarin, lelaki itu pun memerintahkan gadis itu untuk turun.
"Apa tidak bisa lembut sedikit saja pada seorang perempuan, dasar orang aneh," gerutu Gwen sambil melangkah menuju ruangannya.
"Pagi cantik," sapa George ramah yang ternyata sudah lebih dulu datang.
Senyum ramah lelaki berperawakan kurus dengan mata biru itu membuat Gwen tersenyum simpul, dia selalu suka dengan sikap lembut dan ramah lelaki penuh perhatian itu.
"Sudah beberapa hari kau datang sepagi ini dan terlihat tidak kelelahan, tidak berkeringat, tampak segar dan senyummu ehm.."
"Kenapa dengan senyumku?" tanya Gwen cepat dengan sedikit khawatir.
Gadis itu tidak menghiraukan pertanyaan George. Dia malah sibuk meredakan getaran yang muncul di hatinya.
"Senyummu cantik, selalu cantik tetapi ada sedikit berbeda karena ada kilatan di mata bulat indah ini," jawab George sambil menunjuk mata bulat bening Gwen.
"Kau itu, George. Masih pagi begini sudah merayu, aku bisa-bisa nanti jadi besar kepala," tutur Gwen dengan senyum.
"Aku tidak merayu, Gwen. Kau memang cantik," tukas George cepat.
Gadis itu segera mengerjap dan membuat George semakin dirundung rasa sukanya, lalu tanpa sadar tangan Gwen meraba dadanya dan ada getaran yang semakin terasa.
"Aduh, kenapa aku jadi berdebar tak karuan seperti ini, tidak seperti biasanya," gerutu hati Gwen sedikit heran.
"Aku tegas sekali lagi, Gwen. Kau itu cantik!" seru George menegaskan.
Gwen memukul pelan bahu George yang membuat lelaki itu tertawa pelan. Gwen pun ikut mengumbar tawa ringannya.
"Kau itu bisa saja," cetus Gwen di sela-sela tawa ringannya.
"Aku serius, Gwen!" seru George sambil menatap Gwen yang masih tertawa.
Gadis itu seolah-olah ingin meredakan getaran yang meletup di hatinya, getaran aneh yang baru dirasakannya itu.
"Aku rasa getaran ini bukan karena George karena dia memang sering seperti itu," Gwen membatin dengan wajah mulai bersemu merah.
Mata gadis itu menatap George dengan senyum yang membuat lelaki itu terlihat semakin terjatuh dan merasakan kasmaran.
"Kapan kau siap menerimaku, Gwen. Aku sudah menunggu hampir satu tahun ini?" tanya George serius sambil terus menatap lekat wajah gadis di hadapannya yang kini kian bersemu merah.
George tidak peduli dengan tatapan rekan kerjanya yang mulai berdatangan, mereka menatapinya yang sedang menunggu jawaban Gwen.
Gwen menatap George dengan bibir mengulaskan senyum, gelengan tegas kepala gadis cantik itu pun membuat George berdecak.
"Aku sudah menyiapkan hati ini, sayang. Kau tahu, sudah cukup lama. Tolonglah jangan membuatku menunggu terlalu lama," ucap George dengan suara setengah merengek.
Membuat mereka semua yang mendengar ucapan George mengulum senyum dan George pun terlihat sama sekali tidak peduli.
"Gwen, tolong jangan menolakku nanti kalau aku frustasi bagaimana?" suara George pelan terdengar memohon.
Gwen tertawa lagi dan segera terhenti tawanya itu begitu mata bulatnya yang cantik itu menangkap sosok yang sedang menatapnya lekat.
"Ya, Tuhan!" jerit hati Gwen, debaran itu bertambah ramai, dia sampai takut ada yang mendengarnya.
Gwen menatap tanpa kedip sosok yang terlihat begitu gagah dengan stelan jas mahalnya, lelaki yang berdiri di ambang pintu masuk.
Gwen terpukau karenanya dan dadanya juga terasa begitu bergemuruh beriringan dengan getaran yang semakin meletup hebat.
"It's because of you, Ghali." Gumam Gwen sambil meraba dadanya.
Matanya masih terus menatap lelaki berjas biru tua itu. Lelaki yang kini berjalan menghampirinya dan mengundang tatapan dari semua yang ada di sana, termasuk George yang menatapnya dengan mata menyorot tajam.
"Ikut gue."
Suara ketus itu terdengar dengan tangan yang menarik tangan Gwen yang sedikit kewalahan mengikuti langkah kaki lebar lelaki itu.
"Ya, ampun. Apa tidak bisa pelan sedikit?" Gwen hanya bisa berucap dalam hati.
Lelaki itu membawanya memasuki ruangan yang paling ujung. Ruangan yang malam itu ditakutinya. Gadis itu meringis, menahan rasa takut yang hadir di hatinya.
"Aduh, kenapa juga harus ke ruangan ini?" tanya batin Gwen lagi.
"Duduk!" perintahnya ketus.
Gwen pun segera menurutinya. Sementara lelaki itu duduk tenang di kursi besar yang ada di belakang meja dan Gwen menatapnya dengan wajah sedikit takut.
"Mulai hari ini kau jadi sekretaris gua dan ruangan kau di sini. Meja kau itu, deket jendela," ucap Ghali dengan mata menatap begitu lekat Gwen yang juga sedang menatapnya.
Gadis itu diam, lalu dia pun mengangguk tanpa bertanya. Gadis itu bangkit dari duduknya dan hendak beranjak.
"Mau ke mana?" tanya Ghali yang membuat Gwen pun kembali memutar tubuhnya dan sedikit gugup menjawab.
"Aku ehm, aku hanya akan mengambil tas," tutur Gwen gugup dengan tatapan takut-takut.
"Jangan lama-lama, banyak pekerjaan yang harus gua jelaskan. Tolong tidak usahlah mengobrol dulu dengan kekasih tampan kau itu," tegas Ghali cepat.
"Kekasih? Kekasih yang mana, aku tidak punya kekasih," ketus Gwen cepat yang membuat Ghali menatapnya.
"Syukurlah, ayo cepat. Gua tunggu, segera!"
Ucapan Ghali yang terdengar lega hanya ditanggapi anggukan saja oleh Gwen. Gadis itu pun bergegas keluar dari ruangan.
Semua rekan-rekan kerjanya seolah-olah sedang menunggunya dan tatapan mereka tampak jelas menyiratkan banyak pertanyaan.
"Kenapa mereka semua menatapiku?" tanya batin Gwen bingung.
Terlebih George yang tatapannya itu segera saja dihindari oleh Gwen. Jennie teman baiknya segera menghampirinya.
"Gwen, apa kau kenal dengan CEO baru itu?" tanya Jennie yang diangguki semua rekan kerjanya.
Gwen menatap semua rekan kerjanya, lalu dia pun mengangguk ragu-ragu karena sebenarnya masih merasa bingung.
"Apakah dia adik dari CEO kita yang sebulan lalu meninggal dunia?" tanya Jennie penasaran sambil menatap Gwen.
Gwen mengangguk kembali, masih dengan rasa ragu yang jelas memenuhi pikirannya yang segera saja berputar mengingat nama lelaki yang saat ini memintanya untuk menjadi sekretarisnya itu.
"Nanti waktu makan siang kita bicara lagi. Aku harus bergegas," ucap Gwen sambil mengambil tasnya.
Kemudian dia segera melangkah menuju ruangan di ujung itu, langkahnya pun tampak tergesa tanpa menoleh lagi ke belakang.
"Kenapa kau harus seruangan dengan lelaki itu, apa tugasmu di sana?" tanya George yang menghadang langkah gadis itu.
Belum sempat Gwen menjawab pertanyaan George sebuah suara ketus menggema dari ruangan ujung. Membuat Gwen dan George terkesiap.
"Gwen, gua bilang cepet!"

Komentar Buku (72)

  • avatar
    Nurhayeni 03

    sangat bagus aku suka

    06/03

      0
  • avatar
    Autumn Autumn

    sangat sangat bagus

    05/10/2025

      0
  • avatar
    AlpariskiAbil

    wow amazing👍

    15/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru