logo text

Bab 33 zweiunddreißigste

Setelah beberapa hari tinggal di rumah Vallidas, Pamela terlihat lebih segar. Mata wanita itu terlihat bersinar dengan bibir selalu mengulas senyum.
Kelegaan dan kebahagiaan juga begitu terlihat di wajahnya yang tampak berseri. Binar kecantikan masih jelas terlihat di wajahnya.
Branco jadi sering kalibberbasa basi untuk selalu berdekatan dengan Pamela yang membuat wanita itu terkadang jadi tersipu malu.
"Dia jadi terlihat begitu cantik dan aku jadi jatuh rindu."
Begitu mungkin suara hati Branco yang terlihat dirundung rindu jika sehari saja tidak menemuinya dan dia akan berlama-lama mengajak wanita itu berbincang.
Vallidas, Ghali dan Gwen menyadari akan hal itu. Mereka tentu membantu Branco untuk selalu berkesempatan berduaan dengan Pamela.
"Aku rasa uncle Branco menyukai aunty Pamela," tutur Gwen suatu hari, Ghali tersenyum.
"Kau menyadarinya, sayangku," timpal Ghali, Gwen mengangguk.
"Ya, tentu. Aku juga kemarin sore sempat bicara dengan daddy dan dia itu ternyata memperhatikan juga," ujar Gwen dengan tawa geli. Ghali juga ikut tertawa.
"Lalu, apa kata daddy?" tanya Ghali sambil menatap sayang istrinya.
"Ehm, tentu saja dia suka melihatnya. Daddy juga berharap mereka bersatu dalam ikatan perkawinan dan hidup bahagia," jawab Gwen dengan wajah berseri dan bibir penuh senyuman.
Semakin lama, hampir setiap waktu mereka juga menangkap interaksi yang penuh perhatian dari keduanya, walaupun masih terlihat malu-malu.
Seperti pagi ini. Dengan alasan Gwen tidak enak badan karena sepertinya mulai terlihat tanda-tanda mengandung.
Pamela pun terpaksa mengangguk ketika Branco siap mengantar wanita itu untuk cek kesehatannya yang dilakukan secara berkala.
Dengan wajah penuh senyum Branco berjalan di sisi Pamela dan terlihat siaga untuk menjaganya dan pemandangan itu tentu menggelitik Gwen dan juga Ghali.
"Mereka itu terlihat seperti remaja yang sedang kasmaran. Lihat pipi aunty, bersemu merah saat uncle menaut tangannya," ucap Gwen diiringi tawa geli.
"Remaja tua yang telat kasmaran," cetus Ghali ringan. Gwen melirik suaminya itu, lalu memukul pelan lengannya.
"Kau ini, malah mengejek!" seru Gwen ketus, Ghali tersenyum.
"Tidak, sayang. Mereka itu memang remaja tua yang telah kasmaran," tutur Ghali santai, Gwen pun berdecak.
"Lalu kau sendiri bukannya remaja tua yang telat kasmaran juga?"
Sebuah suara berat terdengar ikut memecah pagi itu. Ghali berdecak sambil menatap siapa yang datang dengan wajah datar dan menatapnya sinis.
"Aku lebih muda dari Branco, ayah mertua," ketus Ghali. Vallidas pun terkekeh.
"Untung saja gadis kecilku yang cantik ini mau menerimamu. Kalau tidak, kau pun akan bernasib sama dengan Branco," ucap Vallidas tenang sambil berlalu.
Ghali menatap sinis kepergian Vallidas, lalu wajah keruhnya menatap Gwen yang malahan tersenyum melihatnya kesal.
"Seandainya dia bukan ayahmu dan bukan kakek dari bayi lucu yang kini ada di dalam perutmu itu. Aku akan.."
"Akan apa?" potong Gwen cepat. Ghali menatap istrinya dengan tatapan sedikit ragu.
"Akan apaaa...?" tanya Gwen lagi sambil menatap manja suaminya yang terlihat serba salah ditatapi seperti itu.
"Aku akan membawa anaknya ini pergi dari rumah ini," ucap Ghali sambil memeluk tubuh mungil Gwen yang langsung balas memeluknya.
"He's my daddy, Ghali," bisik Gwen dalam pelukan hangat suaminya itu.
"He's my daddy too, dear," tegas Ghali lembut tepat di telinga Gwen yang menghadirkan senyum manis di bibirnya.
Gwen mengeratkan pelukannya. Menghirup dalam aroma maskulin yang mengguar dari tubuh lelaki yang dicintainya itu.
Merasakan dengan segenap jiwanya kehangatan pelukan lelaki itu, lalu menikmati kenyamanan dan ketulusan di dalamnya.
"Aku selalu merasa aman dan juga nyaman dalam pelukanmu ini," ungkapnya dengan senyum, Ghali mengecupi dengan sayang puncak kepala istrinya.
Gwen tahu, di balik sikap Ghali dan ayahnya yang kadang terlihat dan terdengar sangat keterlaluan. Terkadang saling mengejek atau berbicara santai sekehendak hati.
"Dua lelaki keras kepala dan kaku kesayanganku ini sebenarnya juga saling memberi perhatian, saling menyayangi dan juga saling peduli," tutur hati Gwen dengan senyum.
Gwen tahu pasti, Ayahnya itu telah mengenal Ghali lama sebelum dia mengenalnya. Bahkan katanya, almarhumah ibunya itu sudah menganggap Ghali sebagai adiknya.
"Aku tahu, sangat tahu. Kau sebenarnya begitu menyayangi daddy. Begitu pun sebaliknya tapi kalian terkadang saling gengsi untuk mengakui," ucap Gwen pelan sambil mencium dada suaminya, lalu mengelusnya perlahan.
Ghali tidak menanggapi ucapan istrinya. Lelaki itu lebih fokus pada sentuhan tangan nakal istrinya yang membuatnya tidak mampu untuk menahan diri.
Namun, ketika tangan itu mulai naik mengusap bagian belakang lehernya, Ghali pun segera saja menahannya dan dia pun merangkum tangan itu, lalu segera saja mengecupnya.
"Aku harus survey proyek, dear. Jangan meminta jatah sekarang," ucap Ghali pelan, dia berusaha meredam gairahnya yang seakan-akan sudah sampai di kepalanya.
Gwen tersenyum menanggapi ucapan Ghali yang sebenarnya telah didera gairahnya. Wanita itu terus saja menggodanya.
"Ehm, tidak. Aku tidak meminta jatah tapi aku akan memberikan jatah, suamiku. Apa kau serius tidak menginginkannya?" ketus Gwen dengan tatapan sinis.
Ghali pun cepat saja menggeleng pasrah, lelaki itu berusaha untuk keluar dari hasrat yang telah lebih dulu merundungnya.
"Bukan begitu, sayang," ucapnya pelan.
"Aku harus..."
"Ya sudah, kalau kau tidak mau. Aku juga tidak masalah. Cepat pergi sana. Aku juga akan pergi."
Dengan cepat Gwen pun memotong ucapan Ghali sambil mendorong tubuh besar suaminya itu. Ghali bergeming, matanya membulat sempurna.
"Kau akan pergi ke mana?" tanya Ghali cepat sambil menatap garang Gwen yang siap beranjak.
Tangannya cepat menangkap lengan istrinya itu dan dengan satu hentakan membawa tubuh itu masuk ke dalam pelukannya.
"Mau pergi ke mana?" ulangnya lagi dengan menatap istrinya.
"Ke Family mall," jawab Gwen singkat, wanita itu menentang tatapan Ghali.
"Untuk apa ke sana?" tanya Ghali cepat, terlihat sekali dia penasaran.
"Aku akan melihat Rey bernyanyi. Dia mengabari akan mengisi acara di Family mall hari ini," jawab Gwen santai. Ghali menatapnya tajam.
"Kau bukan akan ke proyek dan tidak menginginkan jatahmu. Ya, sudah. Aku juga akan pergi ke Family mall, bertemu dengan Rey," ucap Gwen dengan nada pelan seakan menggoda suaminya yang terlihat mulai kesal.
"Lalu, ehm kalau aku menginginkan jatahku, bagaimana?" tanya Ghali dengan nada sedikit keras.
Gwen menempatkan telunjuknya di bibirnya, lalu tersenyum menggoda. Dia tidak berkata apapun, wanita itu pun malah melepaskan diri dari pelukan lelaki itu
"Gwen, answer me," teriak Ghali.
Gwen terus saja tersenyum sambil dia tak henti menggeleng-gelengkan kepalanya. Tubuh mungil itu pun mendekatkan diri ke tubuh besar suaminya itu, lalu dia berbisik pelan dan manja.
"Tentu saja aku tidak akan pergi ke mana pun."

Komentar Buku (72)

  • avatar
    Nurhayeni 03

    sangat bagus aku suka

    06/03

      0
  • avatar
    Autumn Autumn

    sangat sangat bagus

    05/10/2025

      0
  • avatar
    AlpariskiAbil

    wow amazing👍

    15/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru