Gwen menatap lekat ponselnya yang berdering beberapa kali. Nama Ghali terpampang di layar ponselnya, sekejap gadis itu hanya menatapnya. Dengan malas gadis itu menjangkau ponselnya, kemudian menggeser tombol hijaunya perlahan dengan malas. "Hallo," sapanya berusaha untuk setenang mungkin, padahal hatinya berdebar tidak karuan. "Di mana?" tanya suara di seberang, kali ini suara itu terdengar melembut tidak ketus seperti biasa. "Masih dikantor. Ada apa?" tanya pelan berusaha untuk meredam debaran hatinya. Ada senyuman terukir di bibir Gwen. "Keluarlah, cepat pulang. Gua sudah mengirimkan pakaian yang harus dipakai. Berdandanlah yang cantik," ucap Ghali cepat, lalu lelaki itu pun segera saja memutuskan hubungan begitu saja. "Maksudnya?" tanya Gwen seakan-akan melayang di udara. "Dasar, kebiasaan sekali!" serunya menggerutu. Gwen berdecak kesal tetapi tak urung melangkah keluar dari ruangan, setelah membereskan berkas dan juga barang miliknya. "Dia selalu saja tak terbantahkan," gerutunya sambil melangkah. Menelusuri koridor kantor dengan langkah yang agak tergesa, lalu ketika seseorang tersenyum ke arahnya dan membukakan pintu mobil untuknya. Gwen pun hanya membalas senyuman itu dengan anggukan. "Fargo, kenapa Ghali tidak menjemputku, ke mana saja dia seharian ini?" tanya Gwen sambil menatap Fargo yang begitu fokus memandang jalan. "Aku tidak tahu, Gwen. Ghali tadi hanya memintaku menjemputmu dan mengantarkanmu," jawab Fargo dengan nada sopan. "Aku dimintanya untuk pulang, berpakaian dan juga berdandan, lalu aku harus pergi ke mana?" tanya Gwen sambil menatap Fargo yang sekilas menoleh ke belakang. Lelaki itu kembali tersenyum. "Kau berpakaian dan berdandanlah dulu. Aku akan menunggumu, lalu aku akan mengantarkanmu ke tempat tujuan," tutur Fargo sambil menatap Gwen melalui kaca spion. Gadis itu berdecak. "Dia itu selalu begitu. Misterius, tidak mudah aku mengerti," gerutu Gwen yang ditanggapi senyum Fargo. Ketika mobil sampai di halaman rumah dengan segera Gwen memasuki rumah. Dia mencari-cari Maretta yang ternyata tidak dapat ditemuinya. "Ke mana Maretta, aku sedang membutuhkannya dia malah tidak ada," ucapnya sambil melangkah menuju kamarnya. Rumah tampak lenggang, tak ada seorang pun di sana. Gwen bergegas masuk ke kamarnya yang juga sepi. Hanya sebuah dress cantik berwarna broken white tergantung di kamarnya. Dia tahu, dress itulah yang harus dipakainya. "Ehm, cantik sekali dressnya. Terima kasih, Ghali," ucapnya dengan senyum. Gwen sebentar membasuh dirinya, lalu berpakaian dan dia pun berdandan ala kadarnya. Tidak sampai setengah jam dia telah berada di hadapan mobil mewah yang siap dikemudikan oleh Fargo. "Kau akan mengantarkan aku ke mana?" tanya Gwen yang mulai takut karena mobil berjalan mengarah keluar kota, Fargo tidak menjawab. Gwen menjadi merasa khawatir dengan cepat gadis itu mengambil ponselnya dan menghubungi nomer Ghali. "Hallo, kenapa Fargo membawaku keluar kota?" tanya Gwen cepat, begitu nada sambung terdengar. "Ikuti saja. Gua tidak bisa jemput, masih sibuk menyiapkan tempat," jawab Ghali di seberang sana. "Tempat? Apa kau mau mengajakku makan malam lagi?" tanya Gwen cepat, dahi gadis itu mengernyit dengan matanya sedikit memicing. "Makan malam yang kemarin saja gagal," gerutu hati Gwen kesal. "Kencan. Sudah, belum beres di sini," cetus Ghali sambil menutup sambungannya. Gwen tersenyum. Gadis itu tersipu. Rona merah terlihat begitu jelas menjalari pipinya, lalu tampak seakali senyuman malu-malu juga menghiasi terus bibir gadis itu. "Kencan? Dapat ide dari mana lagi dia?" tanya hati Gwen dengan debaran yang tak menentu. Sepanjang perjalanan Gwen hanya memandangi suasana di kiri kanannya, mobil melaju tak terlalu cepat menuju ke daerah pegunungan. Udara sejuk menyambutnya dengan pemandangan khas perbukitan yang hijau dan menyejukkan mata. Gwen tak henti mengulas senyum. "Indah sekali pemandangannya, hijau dan udaranya juga begitu sejuk," celotehnya, Fargo tersenyum mendengarnya. Gwen disambut seorang wanita dan juga lelaki berpakaian formal di depan sebuah hotel megah berbintang lima. "Apa betul ini tempatnya, Fargo?" tanya Gwen pelan seakan-akan tak percaya, Fargo hanya tersenyum. Gwen menatapi hotel megah dan mewah di depan matanya, ini baru pertama kalinya bagi Gwen. Dia sedikit bingung mengedarkan pandangannya. Hotel dengan lobby yang sangat luas dan Gwen menatap dengan ramahnya para pegawai yang mengangguk sopan ke arahnya. "Selamat datang di hotel kami, nona dan selamat menikmati pelayanan kami, senang sekali rasanya nona bisa menginap di sini," ucap salah seorang pegawai wanita dengan nada ramah dan sopan. Gwen hanya mengangguk dan tersenyum menatap mereka, dia masih merasa takjub dengan mewah dan megahnya hotel itu. "Hotel punya siapa ini? bagus sekali" tanya hatinya sambil matanya menatap berkeliling. "Saya senang sekali tuan Ghali akhirnya mau juga menginap di hotel ini," ucap pegawai wanita itu lagi dengan begitu ramah penuh senyuman. "Biasanya tuan Ghali tidak pernah mau menginap, hanya berkunjung. Makanya tadi kami agak kaget, ketika beliau mengabari akan menginap di sini dan ternyata bersama calon istrinya juga, kami sangat senang sekali. Silahkan Nona." Wanita itu pun berbicara sangat ramah dan sopan sambil menemani Gwen menuju ke sebuah kamar di lantai paling atas, lalu dia membukakan pintunya sambil mempersilahkan Gwen masuk. "Ya, Tuhan. Aku serasa mimpi, ini mewah sekali," hatinya berseru kagum. Gwen mengangguk sopan, sebagai ucapan tanda terima kasih, lalu kakinya melangkah ragu ke dalam kamar sangat luas yang tampak temaram. Harum bunga begitu semerbak, merebak wangi memenuhi penciumannya. Gwen mencoba untuk meredakan debaran yang tak henti bertalu begitu ramai di dadanya. "Hei, duduk." Belum selesai Gwen mengagumi kamar luas dan mewah itu dengan harum yang begitu semerbak. Ghali tampak berdiri dengan gagah dan lelaki itu menyapanya dengan nada lembut. Tidak bernada ketus seperti biasanya. Hati Gwen tergelitik dan rona merah pun segera menebar di wajah cantiknya. "Cantik sekali," ucap Ghali senada pujian sambil dia menatap lekat Gwen yang seakan-akan ingin sekali menyembunyikan wajahnya yang semakin merona merah. Gwen merasakan aliran hangat menjalari wajah dan hatinya. Debaran jantungnya yang berpacu lebih cepat, membuatnya tanpa sadar meraba dadanya. "Ya, Tuhan. Mimpi apa aku semalam?" tanya hati Gwen berulang kali. Gwen mendudukan dirinya dengan perlahan di kursi yang ditunjuk Ghali. Lelaki itu memegang tangannya, seolah menuntunnya. Gwen tersipu dengan senyum cantiknya. "Kita makan dulu. Baru setelah itu, ehm, aku akan menunjukan sesuatu padamu." Ucapan Ghali membuat bibir Gwen menyungging senyum simpul. Gadis itu yakin tadi tidak salah mendengar, Ghali berkata begitu lembut. Dia menatap lekat lelaki dihadapannya yang sibuk menata meja yang berisi bermacam hidangan yang sebenarnya sudah rapi. "Apa kau suka hidangannya?" Pertanyaan Ghali membuat Gwen sedikit terkesiap. Gadis itu mengerjap, lalu dia mengangguk dengan senyum yang tidak hilang terukir di bibirnya. "Terima kasih," ucap Gwen pelan dan tulus.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
sangat bagus aku suka
06/03
0sangat sangat bagus
05/10/2025
0wow amazing👍
15/07/2025
0Lihat Semua