logo text

Bab 14 dertiende

Ghali langsung menyusul ke kantor polisi. Setelah memastikan Gwen aman bersama Maretta. Lelaki itu meminta Maretta dan Gwen kembali ke rumah.
"Maretta, kau bawa Gwen pulang. Gua menyusul Beni ke kantor polisi," pintanya pada Maretta tadi sebelum dia berlalu.
Ghali juga masih sempat menghampiri Gwen dan sekejap menatap, lalu memeluknya dan dia juga menyampaikan sedikit arahan untuk gadis itu.
"Istirahatlah, jangan keluar rumah sendiri dan jika ada apa-apa cepat hubungi, okay," tuturnya dengan nada lembut berbisik, Gwen mengangguk mengerti tanpa menjawab.
Ghali juga memerintahkan penjagaan di rumah itu diperketat. Dikhawatirkan Vallidas mengerahkan anak buahnya untuk menyerang karena mendengar Branco ditahan.
Ketika sampai di kantor polisi, Ghali pun langsung menuju ke tempat Branco ditahan. Wajah datar dan tanpa senyum Ghali disambut kekehannya Branco yang sepertinya masih dalam pengaruh alkohol.
Tercium bau khas minuman memabukkan itu dari dengusan napasnya. Cidera di hidung lelaki itu sudah ditangani, perban tampak telah menutupi hidungnya yang terlihat agak membengkak.
"Gua sebenarnya tidak ada urusan sama kau tapi gua berurusan dengan Vallidas," ucap Ghali ketus. Branco kembali terkekeh.
"Orang selalu berurusan dengan orang hebat itu. Vallidas. Lelaki yang digilai banyak wanita dan gua, gua ini bukan siapa-siapa. Selalu saja kesepian."
Perkataan Branco di sela-sela kekehannya itu membuat Ghali mendengus kasar. Lelaki yang masih setengah mabuk itu kini duduk terpekur. Matanya menatap Ghali yang juga menatapnya dingin.
"Tapi gua menyayangi lelaki itu. Bahkan gua juga merelakan wanita tercinta gua menjadi miliknya," ucapnya dengan suara parau. Ghali menarik ujung bibirnya sebelah.
"Tapi dia membunuh wanita itu," ucap Ghali pelan. Branco menggeleng, lalu tertawa hambar.
"Vallidas tidak pernah membunuh wanita itu, tidak. Dia sangat mencintainya. Teman kau, Barend yang telah melakukannya." Ucap Branco. Mata lelaki itu menatap jauh, seakan menerawang dan Ghali pun terkesiap.
"Tidak mungkin. Kau jangan bermulut besar. Tidak mungkin Barend membunuhnya. Dia suaminya dan dia sangat mencintai istrinya," tegas Ghali keras, Branco menatapnya.
Ghali menatap lekat Branco yang kini menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tegas. Lelaki itu pun dengan mata geriapnya menatap Ghali.
"No, man. Tidak seperti itu," tukas Branco, Ghali menatapnya lekat.
"Barend menikahi Mima hanya karena dia ingin menangkap Vallidas. Barend tahu, Mima terjebak dalam hasrat cinta terhadap Vallidas. Orang yang seharusnya Mima tangkap," lanjut Branco dengan nada tegas.
Ghali pun terlihat menyelingar di tempat duduknya. Matanya menatap Branco dan meneliti kebenaran ucapannya itu, instingnya bekerja untuk mencari semua jawabannya.
"Vallidas teramat mencintai Mima, man. Do you know that? Bahkan dia membiarkan wanita itu membunuh Amoora, model cantik yang selalu mengejarnya." 
Ucapan Branco yang walaupun diselingi oleh nada kekehan dan juga sedikit bernada orang setengah mabuk terdengar tidak mengada-ada.
"Ehm, kau tahu banyak ternyata," ucap Ghali pelan, lelaki itu merasakan yakin bahwa Branco berucap sangat jujur dan apa adanya.
Ghali dapat menangkap itu semua dan melihat jelas kejujuran di mata dan wajah lelaki itu. Ghali seakan-akan dipermainkan keadaan dan lelaki itu melengung.
"Lalu, siapa yang membunuh Barend?" tanya Ghali setelah lama terdiam, suaranya tidak terlalu keras dan seperti bertanya pada diri sendiri.
Raut wajah penuh tanya Ghali pun menatap Branco yang tampak menatapnya dengan wajah penuh senyum, mata lelaki itu tampak menyorot sendu.
"Setelah Barend membunuh Mima yang ternyata tidak pernah bisa mencintai lelaki itu. Barend juga mengarahkan senjatanya ke arah Vallidas yang terlihat pasrah," tutur Branco berucap lincah, Ghali menatapnya serius.
"Dia seolah tidak peduli lagi dengan dirinya dan juga keselamatannya yang terancam. Vallidas hanya merengkuh tubuh wanita tercintanya yang telah tidak bernyawa lagi," tutur Branco dengan nada pelan dan sedikit bergetar, Ghali sampai terjengat menatap lelaki berwajah sangar itu.
Branco menatap Ghali dengan napas sesak. Lelaki bertubuh tinggi besar itu tidak mampu menahan kesedihannya. Air mata bergulir perlahan.
"Gua juga mencintai Mima. Sangat mencintainya tapi gua sudah merelakannya untuk Vallidas karena wanita itu juga mencintai Vallidas," tuturnya pelan, suaranya semacam rajukan anak kecil yang sedang kesal bercampur sedih.
Ghali menatap Branco, lelaki itu sekilas terhanyut oleh kesedihan lelaki berwajah garang itu, lalu dia kembali mengulang pertanyaan yang tadi belum terjawab.
"Siapa yang membunuh Barend?"
Seolah tersadar, Branco menatap Ghali setelah mengusap matanya yang berair. Lelaki itu sedikit tersentak dengan pertanyaan Ghali. Branco pun mengulas senyum masam.
Wajah sangar lelaki itu terlihat berubah-ubah. Terkadang marah, malu dan juga pasrah, efek minuman masih terlihat di sana tapi ucapannya sangatlah masuk akal.
"Pamela, sahabat Mima. Kalau kau mengenal baik Mima, maka kau juga pasti mengenal Pamela," tuturnya tegas, tidak ada sedikit pun ragu dalam ucapannya itu
Ghali benar-benar kaget. Sejenak dia tercenung menerima kenyataan yang barusan didengarnya. Pikirannya berputar mengingat akan sosok lembut Pamela yang depresi setelah kematian Mima dan Barend.
Wanita itu kini menjadi penghuni salah satu tempat rehabilitas kejiwaan di kota kecil bagian selatan, sedikit jauh dari pusat kota ini.
"Pamela datang begitu saja di sana. Membidikkan senjatanya tepat ke arah dada bagian kiri Barend. Lelaki itu mati seketika."
Tatapan mata Branco menerawang, seolah-olah sebagian pikiran dan jiwanya kembali pada waktu pembunuhan itu terjadi.
Air mata bergulir deras dari matanya yang terlihat menyorot sendu, wajah garang lelaki itu sepertinya kehilangan kekuatan dan aura marahnya.
"Gua berada di sana dan gua menyaksikan semua kejadian itu tapi gua tidak bisa cerita pada siapa pun," lelaki berwajah garang itu bagai merengek dan bahkan tersedu bagai anak kecil.
Ghali bangkit dari duduknya. Berdiri menjulang di hadapan Branco yang tertunduk. Wajahnya terlihat masih agak ragu menerima semua yang barusan di paparkan lelaki yang masih setengah mabuk itu.
Lalu ketika kakinya hendak melangkah keluar. Ghali mendengar Branco terkekeh dan membuat Ghali berbalik menatapnya.
"Ehm, man. Gua lihat kau mencintai gadis yang tadi bertemu sama gua di Family mall. Gadis yang juga kau ikuti ke club gua malam itu. Gadis cantik yang sangat menarik tapi gua rasa dia itu terlalu muda untuk kau."
Ucapan Branco yang diiringi kekehan seolah mengejek. Membuat Ghali terlihat kesal. Wajah datar lelaki itu memperlihatkan aura permusuhan.
"Calm down, man. Gua tidak mungkin suka sama keponakan gua sendiri. Gua cuma bercanda malam itu karena gua tahu kau sedang menguping..."
"Keponakan?"
Ghali memotong cepat ucapan Branco dengan tubuh menegang. Wajahnya tampak bingung dan meminta jawaban serta menjadi tersentak kaget begitu mendengar jawaban bernada pelan Branco.
"Ya, keponakan. Dia itu tentu saja keponakan gua, man. Mima hamil anak Vallidas, itu yang memicu Barend membunuhnya." 

Komentar Buku (72)

  • avatar
    Nurhayeni 03

    sangat bagus aku suka

    06/03

      0
  • avatar
    Autumn Autumn

    sangat sangat bagus

    05/10/2025

      0
  • avatar
    AlpariskiAbil

    wow amazing👍

    15/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru